Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal

Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal
Kesombongan Citra


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Apa lebih baik gue ke kantor papa aja, biar ketemu sama Tio, kalau ngobrol sama Tio bisa bikin mood gue bagus" batin Adel berpikir sejenak. Agar dia bisa mengalihkan pikiran nya saat ini yang membuat dirinya tidak mood


Daripada dia seperti ini terus memikirkan Iqbal yang sudah beristri. "Sri kita ada kelas lagi nggak hari ini?" tanya Adel saat dia sudah selesai menyantap makanan nya.


Sri berpikir sejenak karena dia juga tidak terlalu ingat. "Nggak kakaknya Del, satu mata kuliah doang sih, seinget gue, lu ada kelas tambahan kagak?" tanya Sri memastikan.


"Gue kagak ada kelas tambahan lagi, serius kan udah kagak ada kelas?" Adel kembali memastikan dia tidak sabar ini curhat pada Tio.


"Iya Adelia! Mau kemana emang?"


"Hmmm, gue pulang duluan ya Sri, ini nanti baut bayar, dah Sri" ucap Adel sambil berlalu pergi.


"Huh, kebiasaan itu anak!" gerut Sri, Sri sudah sangat maklum dengan tingkah Adel yang seperti itu, Sri membiarkan Adel pergi, sementara dia melanjutkan kegiatannya. Adel selalu datang dan pergi dengan terburu-buru entah apa yang Adel pikirkan dan kerjakan begitulah pikir Sri temannya.  


Adel berjalan menuju parkir dengan santai. "Hai Del, kayaknya buru-buru banget nih ya" sapa teman sekelas Adel, saat Adel berjalan tergesa-gesa menuju parkiran.


"Hai Rang, nggak juga sih Rang" sahut Adel balik.


"Mau kemana nih buru buru banget?" tanya Rangga.


"Biasa, gue duluan ya Ra" ujar Adel yang meninggalkan Rangga begitu saja tanpa menunggu jawaban dari orang yang menyapanya tadi, tapi Adel dapat melihat jika Rangga menganggukan kepala untuk merespon dirinya.


Adel langsung mengemudikan mobilnya saat sudah masuk kedalam mobil. "Tio lu kerja kagak?" pesan yang Adel kirim pada resepsionis laki-laki yang bekerja di kantor papanya.


Pesan yang baru saja Adel kirim pada Tio langsung centang biru, terlihat di sana Tio sedang mengetik.


"Kerja dong bep, kenapa lu mau kesini?" tanya Tio dari pesan.

__ADS_1


Adel sama sekali tidak risih saat Tio memanggilnya dengan sebutan bep atau apalah, karena sudah biasanya menurut Adel.


"Oke gue kesan serang, otw nih"


"Sip gue tunggu bep, jangan bawa tangan kosong oke" pesan Tio dengan emot tertawa.


"Makan aja lu inget Tio, mana buah tangan segala lagi lo pikir gue mau jemput orang sakit apa" balas Adel. setelah itu dia langsung menyimpan handphonenya dan Adel kembali fokus mengemudi. 


"Kagak sakit juga sih, tapi bertemu pangeran harus bawa buah tangan" balas Tio yang sudah tidak dibuka lagi oleh Adel.


Setelah itu Tio sudah setia menunggu tamu nya untuk datang, siapa lagi kalau bukan Adel, Tio selalu merasa senang jika Adel berkunjung ke perusahaan pak Firman. Tio merasa ada teman yang satu sefrekuensi dengan nya jika bersama Adel.


Obrolan Adel dan Tio sama-sama nyambung untuk mereka berdua, apa saja bisa kedua orang itu bahas. 


"Mana nih si Adel" ucap Tio karena belum melihat kehadiran Adel, biasanya Adel dalam waktu 20 menit akang sampai, tapi sekarang sudah hampir tiga puluh menit Adel belum juga nampak batang hidungnya.


"Gue disini napa?" satu Adel yang entah datang dari mana sudah ada dihadapan Tio.


"Heheh, maaf lo sih kagetan jadi orang" cengir Adel.


"Udah sini duduk nyonya ratu" suruh Tio pada Adel, dia seperti seorang penjaga yang mempersilahkan ratunya.


"Terima kasih Tio" Adel mengikuti gaya bicara Tio.


"Dah lah capek, mana buah tangannya?" ujar Tio sambil menyodorkan tangannya pada Adel, tanda meminta apa yang Tio pesan  tadi.


"Lo itu kebalik harusnya lo sebagai cowok beliin gue yang cewek ini oleh-oleh lah ini malah gue yang suruh beli" Adel memberikan satu kantong jajan yang dia beli di supermarket, Adel memang sempat berhenti di salah satu supermarket dekat kantor papanya, maka dari itu dia sedikit terlambat datang.


"Iya nanti gue beliin deh, sekalian seserahan gimana Del!" 

__ADS_1


Sebenarnya Tio serius dengan ucapannya, tapi selalu saja Adel menanggapinya hanya sebuah candaan.


"Silahkan pak Tio jika anda berani bertemu dengan pak firman" sahut Adel sambil tertawa.


"Woi Tio kagak punya sopan banget ya lo, kasih dudul kek gue" ujar Adel setelah dia sadar jika dirinya sedang berdiri tak diberi tempat duduk oleh Tio.


"Sorry beb gue lupa, tapi bukankah kamu sudah duduk jadi mau duduk dimana lagi? Jadi ceritanya gue apa lo yang amesia? " kata Tio tanpa dosa, karena sebenarnya dia sedang menikmati wajah Adel yang tertawa dengan ceria.


Adel hanya mendengus kesal sambil memakan cemilan yang dia bawa. "Sorry tuan putri jangan ngambek" bujuk Tio


****


Berbeda dengan Tio dan Adel yang menikmati kebersamaan mereka setelah beberapa minggu tidak bertemu, karena Adel disibukan dengan kuliahnya.


Citra yang diasingkan di perusahaan anak cabang milik pak Firman di pulau papua harus bersabar menghadapi para atasan yang begitu angkuh denganya. Tapi dia juga masih bersikap sombong layaknya dia yang berkuasa.


"Kenapa kalian sombong sekali, ingat kalian itu hanya bekerja di perusahaan orang jadi tidak usah sombong!" maki Citra merasa kesal.


Citra kesal karena dia merasa dirinya terus diinjak-injak di anak cabang. "Hei sadar diri Citra bukankah dulu kamu saat menjadi manajer kepercayaan di kantor pusat selalu saja sok berkuasa? Jadi anggap saja kita sama" uca seorang perempuan yang merupakan atasan Citra.


"Ups saya salah kita tidak sama, karena saya tidak kan pernah seperti kamu, ingat Citra kamu itu dalam masa uji coba, kalau lulus ya kamu harus bersyukur, kalau kagak lulus ya saya yang bersyukur, karena tidak akan ada lagi karyawan sombong seperti kamu!" jawab atasan Citra dengan lantang.


"Dan ingat kamu disini bawahan saya, saya bisa memecat kamu, jika kamu tidak benar  bekerja, saya akan melaporkan kamu pada pak Firman, jadi saya beritahu kamu selalu bersikap baik-baik dengan saya" 


Atasan Citra menatap Citra dengan perasaan kesal dan jengah, sudah diturunkan jabatannya masih saja berlaku sombong, bahkan sudah tidak dianggap karyawan PT sejahtera saja masih sombong.


"Kamu ingat Citra harus berlaku baik pada semua karyawan yang ada di kantor cabang ini, walaupun merek bawahan kamu, jika kamu berlaku  semena-mena dengan mereka, maka jangan harap jika kamu dapat mendapatkan kembali gelar karyawanmu dan posisi yang lebih tinggi lagi"


Setelah itu atasan Citra meninggalkan Citra begitu saja. Sebelumnya anak cabang di papua aman, damai, tentram, tapi setelah kedatangan Citra semuanya berubah menjadi kacau balau.

__ADS_1


Pak Firman saja yang mengontrol perkembangan Citra dan Olive di kantor pusat lewat info yang selalu dikirimkan oleh para manajer di anak cabang merasa heran dengan tingkah Citra yang sama sekali tidak ada perubahan, berbeda dengan Olive yang mulai berkembang dan mulai serius dengan pekerjaanya.


"Anda lihat saja nanti siapa yang akan dikeluarkan dari perusahaan ini, saya atau anda" ucap Citra pada diri sendiri, dia begitu yakin jika pak Firman akan mempertahankannya, karena kedekatan pak Firman dengan ayahnya.


__ADS_2