
Bismillahirohmanirohim.
"Besok kalau berangkat ke Cianjur hati-hati disana ya nak, namanya juga di daerah orang" pesan Ria pada menantunya.
"Iya ibu, Insya Allah"
Malam ini Ria dan suaminya, pak Heri, sengaja menginap di rumah anak dan menantu mereka, karena besok Iqbal dan Azizah akan berangkat ke luar kota dalam jangka waktu yang cukup lama.
Jadi Heri dan Ria berinisiatif untuk menginap di rumah mereka, agar besok Ibu dan bapak Iqbal bisa mengantar Azizah dan Iqbal sampai di bandara.
"Ibu malam ini mau tidur sama kamu boleh sayang?" tanya Ria memastikan, dia sangat merindukan Azizah.
Dulu sebelum Azizah mengenal Iqbal, ketika Ria dan Heri berkunjung ke rumah Iqbal, Ria sering tidur bersama dengan Azizah, tapi semenjak Azizah menikah dengan Iqbal, dia tak pernah lagi tidur bersama Azizah.
Biasanya jika tidur satu kamar dengan Azizah, Ria akan mendengarkan banyak cerita dari Azizah, cerita yang kadang menyentuh hatinya, menurut Ria jika tidur satu kamar dengan Azizah bukan hanya sekedar tidur.
Tapi sebelum tidur mereka bercerita terlebih dahulu dan cerita yang Azizah pakai selalu menarik dan bisa menambah wawasan bagi Ria.
Apa yang pernah Ria rasakan dulu, hampir setiap malam Iqbal rasakan, rutinitas Iqbal dan Azizah saat akan tidur pasti keduanya bercerita sebentar sebelum melanjutkan kegiatan yang lainnya.
Iqbal yang mendengar ucapan ibunya pada Azizah istrinya langsung bersuara. "Nggak bisa ibu, Zizah harus tidur sama Iqbal!" sahut Iqbal tak terima, mana bisa dia tidur jika tak bersama istrinya.
"Mas, Zizah minta malam ini aja ya, kan besok juga sudah tak disini" bujuk Azizah pada Iqbal dengan tutur kata yang begitu lembut.
Setiap melihat tatapan mata istrinya yang memohon Iqbal tak pernah bisa menolak permintaan Azizah. "Oke mas setuju" pasarah Iqbal.
Iqbal ikut duduk di tempat yang sama dengan istri dan mertuanya. "Tapi ibu memangnya bapak setuju kalau ibu tidur sama Azizah?" Iqbal masih berusaha mencari cara agar Azizah tak jadi tidur dengan ibunya, Iqbal masih tak rela jika dirinya satu malam saja tak tidur dengan sang istri.
__ADS_1
Azizah dan Ria ibu Iqbal sama-sama melihat pada pak Heri, sambil Ria berkata. "Bapak yakin tak mengizinkan ibu tidur dengan menantu kesayangan ibu ini?" Ria bertanya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Kapan bapak pernah melarang ibu tidur dengan Zizah, menantu kesayangan bapak juga? Dari dulu juga ibu sudah sering tidur dengan Azizah" sahut Heri enteng.
Tapi tidak dengan Iqbal, dia membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. "Kok Iqbal jadi curiga ya sama ibu dan Zizah" ucap Iqbal tanpa dosa.
"Iqbal!" tegur kedua orang tuanya secara bersama, Azizah hanya menggeleng tak tahu apa yang sedang suaminya pikirkan tentang dia dan ibu mertuanya.
"Hehehe, nggak bermaksud kok" ujar Iqbal membela diri.
"Sudahlah Zizah, ayo kita ke kamar" ajak Ibu Ria.
Azizah memilih kamar tempatnya pertama kali menempati rumah suaminya, mungkin Azizah ingin bernostalgia di kamar itu.
"Kamar ini tak ada yang menghuni tapi tetap rapi Zizah, apakah kamu merawat semua kamar disini?" Azizah tak menjawab dia hanya mengangguk untuk memberikan sebuah jawaban pada mama mertuanya.
"Apakah Iqbal tak mempekerjakan orang Zizah untuk membantumu, jangan terlalu capek nak, nanti ibu yang bilang sama Iqbal" Azizah menggeleng.
"Baiklah ibu percaya sama kamu, tapi ingat jangan kerja yang berat-berat ya" pesa Ria pada menantu satu-satunya.
Jelas saja Azizah menantu kesayangan karena memang ibu Ria dan pak Heri hanya memiliki satu anak, tapi mungkin jika pak Heri dan ibu Ria memiliki lebih dari satu anak dan semua sudah menikah. Azizah tetap jadi mantu kesayangan.
"Sudah ayo tidur, kamu besok pagi-pagi harus sudah siap-siap ke bandara" ajak Ria merebahkan dirinya, Azizah pun sama.
Ria mengelus kepala menantunya, dia masih ingat bagaimana perjuangan seorang Azizah, yang tak kenal lelah, cobaan terus datang bertubi-tubi pada Azizah.
Tapi gadis itu tak pernah sekalipun mengeluh pada orang lain, dia akan mengadukan segala keluh kesahnya pada sang Rabb.
__ADS_1
"Ibu dapat melihat sekarang Iqbal sepertinya sudah sangat menyayangimu nak, maafkan Iqbal yang dulu belum bisa menerima kehadiranmu dulu disisinya, tapi ibu sangat yakin, Iqbal tak ingin kehilanganmu" batin Ria, dia tatap menantunya dengan dalam.
Dia tahu apa yang terjadi pada Azizah dan Iqbal saat awal pernikahan mereka, tapi Ria tak mau ikut campur terlalu dalam.
"Aku sangat bersyukur memiliki menantu seperti gadis ini Ya Rabb, terima kasih sudah mengirim Azizah dalam keluarga kami, terima kasih sudah menjadikan Azizah bagian dari kami, Alhamdulillah Ya Rabb" ibu Ria begitu tulus disetiap kata-kata yang dia ucapkan dalam benaknya, tak lama ibu Ria menyusul Azizah yang sudah terlelap lebih dulu.
Di ruang keluarga, bapak dan anak laki-lakinya belum bangkit sedari tadi dari sofa.
"Berapa bulan pak Firman menyuruhmu mengurus anak cabang di Cianjur?" tanya pak Heri memastikan pada Iqbal.
"Tak tau jelas bapak, yang pasti dalam waktu lama" sahut Iqbal.
"Bapak sebenarnya tak rela kalian berangkat, tapi ini sudah menjadi tugasmu sebagai orang kepercayaan pak Firman, bapak tak bisa mencegah ataupun menolak" Heri membuang nafasnya kasar.
Heri tak tahu apa yang mengganjal dalam hatinya, tapi yang pasti dia tak ingin akan dan menantunya pergi ke Cianjur, sayangnya dia tak bisa berbuat apa-apa.
Heri sangat menghargai pak Firman, Heri yang memiliki pemikiran yang tidak enak segera menepis itu semua.
"Bapak tenaga saja, Insya Allah Iqbal akan menjaga diri Iqbal dan Zizah selama disana, selagu ibu dan bapak ridho Iqbal yakin kami akan baik-baik disana" sahutnya meyakinkan sang bapak.
Heri bangkit dari duduknya mendekati Iqbal, dia pukul pelan beberapa kali pundak anak tunggalnya itu. "Bapak percaya padamu Iqbal. Sekarang istirahatlah jangan tidur larut malam, besok pagi kamu dan Zizah akan segera berangkat"
Setelah berkata pada Iqbal, pak Heri berlalu pergi menuju kamar yang sudah disiapkan, karena dia juga sudah sangat mengantuk.
"Iya pak" sahut Iqbal dia pun beranjak berdiri menuju kamar utama, dimana dia dan Azizah biasanya tidur bersama, tapi malam ini Iqbal terpaksa tidur sendiri lagi seperti awal-awal dan dan Azizah datang ke rumah ini.
"Apakah aku bisa tidur tanpa Azizah disebelahku" molong Iqbal.
__ADS_1
Kini Iqbal sudah terbiasa setiap akan tidur selalu melakukan apa yang istrinya lakukan, seperti mengibaskan tempat tidur terlebih dahulu atau yang lainya.
Dulu saat sebelum menikah Iqbal hanya terbiasa sebelum tidur mengambil air wudhu, tapi setelah menikah banyak hal lain yang dia lakukan sebelum tidur selain berwudhu.