Gadis Cantik But Kejam

Gadis Cantik But Kejam
Episode 10


__ADS_3

Happy Reading..


Rose membeku seperti patung ketika suara suaminya menyapa pendengarannya. Matanya melebar dengan rasa terkejut yang luar biasa. Hampir saja tangannya mengenai pipi Calya jika Rihanna tidak menghentikannya. Sempat ingin protes kenapa menghentikannya, tapi justru Ia harus berterimakasih pada putrinya karena sudah menyelamatkan dirinya.


Putriku kau memang kesayanganku, dapat menyelamatkan mama mu ini dengan cepat. Jika telat sedikit saja, maka papamu akan marah besar. Pekik batinnya lega.


Di posisi Abram, Dia berjalan mendekat. Dibelakannya pak Lan mengekor dengan kelegaan terpancar diwajahnya. Dalam hati dia bersyukur saat doanya terkabul. Tuannya pulang cepat dan tamparannya nyonyanya tidak bisa mengenai target.


Keberuntungan masih milik anda nona Calya. Batin pak Lan sambil menatap Calya.


"Kalian sedang membicarakan apa?" Abram kembali mengulang pertanyaannya. Maniknya bergulir menatap satu persatu ketiga perempuan itu.


"Ka,kami tidak sedang membicarakan apapun kok sayang!" Sahut Rose cepat. Kesadarannya sudah kembali menguasainya. Ekspresinya dengan cepat berubah. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Sikapnya saat ini diatur setenang mungkin.


Berbeda dengan Rihanna yang tidak bisa mengendalikan rasa gugupnya. Berakting jelas bukan keahliannya. Maka ditundukkan pandangannya agar tidak bertatapan langsung dengan papanya.


"Benarkah? Lalu kenapa kalian berdiri disini jika tidak sedang melakukan apapun?" Abram tidak langsung percaya begitu saja dengan ucapan istrinya. Wajah gugup dari Rihanna ditambah Calya yang masih mengenakan seragam sekolah. Menunjukkan jika dirinya baru sampai rumah. Bukankah sopir menjemput keduanya. Kenapa hanya Rihanna yang sudah memakai pakaian santai?


"Ah itu..kami sedang.."


"Calya apa kau baru pulang? Kenapa tidak barengan dengan Anna?"


Perkataan Rose terpotong saat Abram kembali mengajukan pertanyaan.


Wajah Rihanna berubah pucat dengan rasa cemas yang mendalam. Meninggalkan Calya sendiri di sekolah adalah rencananya. Jika papanya tau akan hal ini maka tamat sudah dirinya.


Sedangkan Calya yang ditanya. Beralih dan menatap langsung wajah papanya. Hendak menjawab tapi keduluan oleh suara ibu trinya.

__ADS_1


"Itu juga yang ingin aku tanyakan padanya, sayang. Kenapa Calya tidak pulang bareng dengan Anna? Padahal Anna sudah memberitahuku jika Ia sudah menunggu lama kakaknya di dalam mobil"


Rose cukup pintar untuk berbohong. Secepat itu membuat alsan yang masuk akal. Sekaligus menyelamatkan putrinya dari masalah.


Pak Lan menundukkkan kepala untuk menyembunyikan rasa kesalnya ketika mendengar alasan nyonyanya. Selalu saja hanya bisa menahan diri untuk mengatakan yang sesungguhnya. Padahal tuannya pasti akan membelanya, tapi tetap saja ketakutannya untuk berbicara jujur lebih besar daripada keberaniannya.


"Aa jadi mama menghentikanku untuk bertanya hal itu.." Ujar Calya ikut berbohong untuk mengikuti alur cerita yang dibuat oleh Rose. Meski harus merasa jijik saat menyebut wanita rubah ini dengan sebutan mama.


"Mama minta maaf tidak bermaksud menunda istirahatmu. Mama hanya ingin tau kenapa kau tidak mau pulang dengan Anna. Apa karena kau belum bisa menerima Anna sebagai adikmu? Aku tau kalian hanya saudara tiri, tapi Anna mengatakan padaku sangat menyayangimu sebagai saudaranya"


Kebohongan kedua dilontarkan oleh Rose. Perkataannya sengaja dibuat perhatian di awal, lalu saat di akhir dilanjutkan dengan perkataan yang mengandung tuduhan untuk memojokkan Calya. Selain itu, pancaran matanya juga dibuat redup agar aktingnya sempurna dimata suaminya.


"Apa benar begitu, Calya?" Tanya Abram sambil menatap tegas putri sulungnya. Sepertinya Ia sedikit percaya atas bualan istrinya.


Mendengar nada intimidasi dari papanya, Rihanna memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya. Dirinya sangat senang saat dirinya merasa lolos dari masalah. Hingga rasa gugupnya juga ikut menghilang. Diliriknya sang mama, lalu diam-diam saling tersenyum licik.


Semuanya tertegun. Apa yang dikatakan Calya ada benarnya. Alasan apa yang membuat Rihanna menunggu begitu lama jika sebenarnya mereka berada dikelas yang sama dan bisa pulang berbarengan. Logika yang terdengar masuk akal dan langsung mengubah persepsi Abram pada Calya. Namun itu tidak diterima oleh Rihanna.


"Itu tidak benar! Mungkin saja kau sengaja berdiam diri di suatu tempat agar aku menunggumu!" Di tengah kepanikan yang menyergapnya, Rihanna mencoba menyangkal.


"Ini pertama kalinya aku tinggal dikota ini. Untuk apa aku membiarkan diriku pulang sendiri tanpa tau arah jalan. Ditambah aku hanyalah seorang gadis yang belum kenal siapa-siapa selain dirimu" Timpal Calya datar. Padahal dia tidak sebodoh itu untuk mengetahui alamat kediaman ini. Ia hanya perlu bilang pada sopir taksi untuk mengantarnya ke kediaman Lawson. Toh siapa juga yang tidak mengenal kediaman Lawson yang tinggal di kawasan elite.


"Dan sekarang hanya tersisa satu opsi, yaitu kau yang sengaja meninggalkanku!" Calya kembali melanjutkan ucapannya sambil menarik satu ujung bibirnya.


"Omong kosong! Dengan alasan apa aku melakukan itu!" Sahut Rihanna lantang dan cepat.


Perseteruan terjadi diantara keduanya. Menjadikan pasangan suami istri itu dan juga Pak Lan terdiam belum ada kesempatan untuk bicara atau menyela.

__ADS_1


"Mungkin karena masalah hari ini!" Skatmat. Rihanna tak bisa lagi mengelak. Mulutnya terdiam kaku tidak bisa memberi sanggahan apapun lagi.


"Masalah hari ini? Masalah apa yang kau maksud Calya?" Akhirnya Abram memiliki kesempatan berbicara.


Sebelum mejawab Calya menatap Rihanna dengan binar penuh arti. Rihanna langsung memberikan respon tatapan tajam dengan harapan membungkam Calya. Namun itu tidak mempan bagi Calya, malahan dia ingin tertawa melihat wajah yang mengancam bercampur ketakutan itu.


"Hari ini adik berteriak tidak jelas saat jam pelajaran. Lalu dia dihukum oleh guru atas tindakannya itu. Tidak tau berteriak karena apa, tapi sepertinya dia menyalahkanku lalu sengaja membalas dengan membiarkan ku pulang sendiri...Inikah kasih sayang yang dimaksud adik, bagaimana kau tega mengatakan itu kesalahanku sedangkan aku tidak tau apa-apa?...Apa sebenarnya adiklah yang tidak suka aku tinggal disini?...jika adik tidak suka maka aku lebih baik kembali ke rumah paman dan bibi saja..." Berkata dengan terisak sambil menundukkan kepala sedih.


Semua ucapan yang dikatakan Calya langsung membuat mata Abram memerah karena amarah. Saat ini dia terlihat menyeramkan dengan emosi menguasai dirinya. Rose yang melihat itu merasa panik sekaligus khawatir pada putrinya.


"Bohong! Semua itu bohong!..Mama ayo katakan pada papa bahwa semua itu bohong! Anna tidak pernah seperti itu!" Rihanna tiba-tiba berteriak histeris sambil menggoyang lengan mamanya dengan keras. Jejak ketakutan terlihat jelas diwajahnya.


Namun tidak ada respon apapun dari mamanya. Rose hanya terdiam tidak tau harus membela apa. Membuat rasa gelisah Rihanna semakin besar. Dengan cepat dia mengalihkan tatapannya pada Calya, dan memberikannya tatapan tajam sambil menunjuk tepat di hidungnya.


"Kau...Kau gadis pembohong! ayo katakan sebenarnya jika kau mengarang semuanya atau aku..."


"Anna cukup!!!" Abram menyela dengan nada membentak. Suaranya terdengar sangat marah memenuhi ruangan. Membuat Rihanna bersembunyi dibelakang mamanya. Air matanya mengalir dengan tubuh gemetar.


"Sampai kapan kau akan terus berbohong dan menyalahkan saudaramu!!" Berteriak kembali sambil melotot pada Rihanna. Hanya menangis tersedu-sedu yang bisa dilakukan Rihanna. Namun tak memberikan belas kasihan pada Abram. Justru Rose yang tak tega dengan keadaan putrinya saat ini.


"Sa,sayang.."


"Sudah diam!! Ini juga kesalahanmu karena tidak benar mendidiknya! Kau malah membelanya untuk berbohong!"


Rose tidak berkata apapun lagi. Tidak ada yang bisa dilakukan dirinya untuk membela putrinya. Maka senyum puas menghiasi wajah Calya tanpa sepengetahuan yang lain.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2