
Happy Reading...
BUK BUK
"Hei j*lang sialan! Buka pintunya sekarang juga!!"
"Kami tau kau ada didalam! Cepat keluar atau kau tidak akan selamat malam ini!!"
BUK BUK
Setelah mereka berdua berada di depan pintu kamar Calya, mereka langsung menggedor dengan kasar sambil berteriak marah. Mereka tampak agresif dan brutal. Seolah kemarahan sudah berada dipuncak tertinggi menguasai keduanya.
"Calya!!! Apa kau tuli? Ayo cepat buka pintunya!! Mau sampai kapan kau akan bersembunyi didalam sana!!"
"Awas saja! Jika dalam hitungan ketiga kau tidak keluar!! Maka kau akan tau akibatnya!!"
Nyonya tua mulai menghitung dengan harapan Calya takut padanya lalu membukakan pintunya. Tapi sayang seribu sayang, pintu tak kunjung bergerak. Bahkan untuk mendengar suara dari dalam pun tidak terdengar apa-apa. Mereka seperti berbicara dengan udara kosong. Dan hal itu pula yang membuat mereka wajah mereka semakin berapi.
"Calya!! Jangan main-main denganku! Cepat buka pintunya! Atau kami akan mendobraknya!" Teriak Nyonya tua sangat keras sampai urat lehernya menonjol. Tangannya juga terus menggedor pintunya.
"Benar, Jika pintunya sudah terbuka. Kau tidak akan bisa kabur lagi. Kau harus membayar semuanya karena telah berani mempermainkan kami!" Ancam Rose terdengar tak main-main.
Sementara Pak Lan yang daritadi sudah berdiri dibelakang mereka berdua bingung harus melakukan apa. Pasalnya dia ingin mengeluarkan suara untuk bertanya, tapi dia merasa ragu ketika melihat bagaimana garangnya wajah mereka saat ini.
Tak lama kemudian datang Rihanna dengan pelayan lainnya. Dia bergegas mendekati dua wanita itu dengan nafas tak beraturan akibat berlari menaiki tangga, "Mama, Nenek sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Da-dan...apa ini? Penampilan kalian kenapa bisa seperti ini? Apa ini ada hubungannya dengan Calya? Apa yang diperbuat gadis miskin itu sampai membuat kalian begitu marah padanya?"
Rihanna mengeluarkan serentetan pertanyaan dari mulutnya. Matanya bergulir menatap keduanya bergantian dengan rasa yang ingin tau. Dari awal kedatangan mereka berdua, tak satupun yang memberi kejelasan. Membuat rasa penasarannya berkali lipat apalagi ini berhubungan dengan Calya, gadis miskin yang paling dia benci.
Nyonya tua maupun Rose berhenti sesaat untuk menatap Rihanna. Luapan amarah semakin tersulut mendengar pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, semua pertanyaan itu seakan mengingatkan kembali dengan apa yang terjadi hari ini. Dan pertanyaan terakhirlah yang paling menyulut, karena ada nama Calya yang membuat mereka semakin ingin mencabik-cabik wajahnya. Mereka menganggap jika kesialan hari ini Calya lah penyebabnya.
"Anna bukan saat yang tepat kau bertanya, lebih baik sekarang kau bantu kami agar gadis sialan itu keluar dari kamarnya." Pungkas Rose tidak ingin membuang waktu untuk menjawab semua pertanyaan putrinya. Sekarang ini yang lebih penting adalah meluapkan kemarahannya pada Calya.
__ADS_1
"Ta-tapi ma..."
"Tidak ada tapi tapian Anna. Lebih baik kau dengarkan apa kata mama mu." Potong Nyonya tua tidak sabaran, Rihanna pun terdiam."Dan kau Pak Lan, ambilkan kunci cadangan pintu kamar ini. Cepat tidak usah banyak bertanya!" Perintahnya sambil menatap Pak Lan tajam ketika dia hendak protes.
Maka Pak Lan pun bergerak untuk mengambil apa yang diperintahkan dengan perasaan bimbang. Di satu sisi dia merasa takut membantah ucapan Nyonya tua, tapi di sisi lain dia khawatir dengan nona pertamanya. aura kedua wanita itu terlihat seakan ingin membunuh targetnya.
Sedangkan pelayan lainnya hanya terdiam sambil menatap kepergian kepala pelayan tersebut. Tak sedikit yang saling pandang dan berbisik tentang apa yang terjadi. Mereka hanya bisa memendam rasa ingin tau mereka dalam diam sambil terus menyaksikan kegaduhan yang dibuat oleh kedua majikannya itu.
Selang beberapa saat, Pak Lan kembali dengan tangan kosong. Membuat Nyonya tua mengerutkan kening.
"Pak Lan mana kuncinya?" Tanya Nyonya tua dengan nada tak senang.
Pak Lan berdiri tegak sambil menundukkan pandangannya, lalu dia berkata dengan takut, "Maaf Nyonya, tapi kunci cadangannya tidak ada. Padahal sebelumnya saya sudah menaruhnya dengan kunci cadangan lainnya"
Mendengar jawaban itu, bukan hanya Nyonya tua saja yang merasa geram. Namun Rose juga ikut merasakan hal yang sama.
"Apa kau sudah mencarinya dengan benar, Pak Lan? Kau sedang tidak berbohong untuk melindungi gadis itu, bukan?" Seru Rose sambil memincingkan matanya.
"Kalau begitu dobrak saja pintunya!" suruh Nyonya tua sudah diambang batas kesabarannya.
"A-apa?" Pak Lan tak bisa menahan keterkejutannya saat disuruh mendobrak pintu kamar Calya.
"Pak Lan saya tidak mau mengulangi perkataan saya, jadi lakukan sekarang!"
"Ta-tapi Nyonya tua, bagaimana kalau nona Calya marah dan melaporkannya kepada tuan" Bukannya langsung menuruti, Pak Lan justru menyela dan membuat air muka Nyonya tua tampak semakin gelap. Rose dan Rihanna juga mendelik tidak suka padanya.
"Saya bilang dobrak pintunya sekarang! Apa perlu saya mengatakannya berulang kali pada kalian, ha?!" Bentak Nyonya tua sambil menatap nyalang.
Maka detik berikutnya, Pak Lan langsung memposisikan dirinya di depan pintu dan bersiap untuk mendobrak pintunya.
Bug...
__ADS_1
Bug...
Suara pintu yang dibuka paksa oleh Pak Lan. Berkali-kali dia membenturkan tubuhnya dengan pintu tak membuahkan hasil. Yang ada malah tubuhnya yang terasa sakit.
Sementara dari dalam kamar, Calya sedang duduk santai dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia tampak tidak terganggu dengan suara keras dibalik pintu. Dia juga tidak peduli dengan apa yang terjadi. Justru dia malah asik bermain dengan ponselnya dan telinga yang tertutupi oleh sepasang earphone.
Selain itu, mengapa Pak Lan tak menemukan kunci cadangan pintu kamarnya.Sebab dia sudah mengambilnya tanpa sepengetahuan siapapun. Lalu dia juga tidak khawatir saat pintunya akan di dobrak. Dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Jadi dia menaruh meja riasnya untuk menahan pintu agar tidak terbuka. Cerdas bukan?, sekuat apapun mereka mencobanya, mereka tetap tidak akan bisa membukanya.
"Maaf Nyonya tua, pintunya sangat sulit untuk dibuka" Ujar Pak Lan sambil menahan sakit pada bahunya. Supir dan Satpam yang disuruh untuk mencoba pun tampak kewalahan.
Melihat pintunya yang tak bisa terbuka, membuat Nyonya tua bahkan ibu dan anak itu ingin meledakkan bom kemarahan. Darah mereka terasa mendidih sampai ke puncak ubun-ubun. Mereka bertiga sudah tak kuasa menahan kekesalan mereka karena sudah dipermainkan oleh Calya.
"Dasar kalian tidak becus! Membuka pintu satu saja kalian tidak bisa! Untuk apa kalian makan begitu banyak jika tidak ada gunanya energi kalian itu!!" Teriak Rose memarahi ketiga pria tersebut. Mereka pun hanya bisa menunduk dan terdiam.
Lalu disisi Nyonya tua, karena terlalu marah tanpa sadar nafasnya mulai tersendat hingga dia tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Dalam sekejap pandangannya bahkan sudah kabur. Dan...
Bruk
"Nenek/Ibu/Nyonya tua!"
Seketika semuanya dikejutkan dengan kondisi Nyonya tua yang tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri.
"Cepat bawa ke kamarnya! Dan segera panggilkan dokter kemari!" Titah Rose dengan cepat. Semuanya langsung bergegas mematuhi.
Kemudian Nyonya tua pun dibawa ke kamarnya. Dan Pak Lan segera memanggil dokter pribadi milik keluarga Lawson.
Kini kegaduhan di depan pintu kamar Calya langsung sepi. Dari dalam, Calya menyeringai puas. Ternyata dari awal dia dapat melihat semua yang terjadi. Kamera tersembunyi yang dia pasang terhubung ke ponselnya. Jadi daritadi dia menonton semuanya sebagai hiburan yang menarik.
"Kejutan utamanya masih menanti lho Nyonya tua, ku harap kau tidak mati secepat itu~" Ujar Calya sambil tersenyum mengerikan.
Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, favorit, vote, dan hadiahnya...Happy terus semuaanya!!