Gadis Cantik But Kejam

Gadis Cantik But Kejam
Episode 16


__ADS_3

Happy Reading...


Tepat jam sebelas malam Calya sampai rumah. Tetap melewati cara sebelumnya, yaitu memanjat untuk kembali ke kamar. Saat sudah masuk ia tidak langsung merebahkan tubuh ke ranjang empuk, melainkan pergi ke kamar mandi. Setelah lima belas menit berlalu, dia pun keluar dalam keadaan fresh dan sudah dilengkapi baju tidur.


Baru saja tubuhnya mengenai permukaan ranjang, ponsel yang berada disebelahnya berdering menandakan pesan masuk. Sebenarnya malas untuk melihat karena dia ingin cepat istirahat. Akan tetapi dia penasaran siapa itu. Di benaknya, dia berpikir jika itu adalah pesan dari orang yang dikenalnya. Namun saat membaca kalimat dari isi pesan, ekspresi penasarannya seketika berubah jadi muka yang sangat datar. Melebihi datarnya tembok.


'Selamat istirahat. Bersiaplah, besok aku akan melihat ketulusan mu lagi nona sangar~'


_Si paling tampan.


Segera mematikan ponsel. Lalu melemparnya jauh ke ujung ranjang. Sambil berdecak kesal dia membenarkan posisi berbaringnya. Wajahnya saat ini benar-benar kusut. Dalam hati dia menyumpah serapah cowok Evander itu yang diduga mengirimkannya pesan.


Sudah berkeliling sana sini untuk mencari tempat makan yang cocok. Ketika sudah menemukannya, cowok itu dengan tidak tau malunya mengaku pada pelayan jika dirinya adalah kekasihnya. Bukankah artinya cowok itu minta di pukul? Namun dengan santainya orang itu memasang senyum tak berdosa. Bahkan mengabaikan ekspresinya yang sudah tak bersahabat.


Lalu puncaknya, saat mereka sudah selesai. Dia akan pulang. Akan tetapi kembali di hentikan. Dirinya langsung memasang wajah kesal yang berlipat-lipat.


"Apa lagi? Bukankah kau sudah selesai?" Tanyanya dengan amat ketus disertai tatapan sengit.


Nathan terkekeh geli, "Selain sadis ternyata kau adalah nona galak ya" candanya sambil menikmati raut kesal Calya.


Hanya ditanggapi dengan muka datar oleh Calya. Percuma membalas, yang ada Nathan akan terus mempermainkannya. Begitulah pikirnya.


"Berikan ponselmu!" Pinta Nathan dengan nada memerintah. Memilih langsung mengutarakan niatnya menghentikan, karena sepertinya Calya sudah diambang batas. Tapi entah mengapa sangat menghiburnya, hehe.


"Tidak ada ponsel" Jawab Calya cepat. Padahal di sakunya jelas ada.


Dan Nathan juga tidak semudah itu percaya. Tidak mungkin di era secanggih ini ada seseorang yang belum punya ponsel. Ditambah Calya dari kediaman Lawson pasti disediakan fasilitas lengkap, pikiranya berasumsi. Tapi tak apa, dia ada banyak cara untuk membuat gadis ini memberikan ponselnya.


"Kalau begitu ayo" Ajak Nathan ambigu. Sudah menggenggam tangan Calya tanpa izin dari orangnya.

__ADS_1


"Ayo kemana?" Tanya Calya mulai jengkel dengan manusia di hadapannya. Seenaknya saja menggenggam tangannya. Sekarang semakin di eratkan tanpa mau menghiraukan dirinya yang minta dilepaskan.


"Tentu saja membelikanmu ponsel" Sahut Nathan dengan ringannya.


"Aku tidak semiskin itu untuk dibelikan olehmu" Sinis Calya. Apa cowok ini tidak waras? Kenapa dia suka seenaknya saja. Makinya dalam hati.


"Ya udah, Kita gunakan uangmu saja untuk beli. Aku tau dimana tempat jualan ponsel bagus di sekitar sini" Lagi-lagi hanya dibalas dengan ringan oleh Nathan.


Rona kemerahan muncul di sekitar wajah Calya yang putih. Seumur umur, ini pertama kalinya ada yang membuatnya kesal hingga rasanya mau hilang kendali. Dan penyebabnya adalah cowok yang sudah menyebalkan sejak di pertemuan pertama mereka.


"Kenapa diam? Ayo, atau Kau tidak rela mengeluarkan uangmu ya? Kalau begitu gunakan uangku saja, kau tidak perlu gan--"


Ucapan Nathan terhenti saat Calya menyodorkannya dengan cepat sebuah benda pipih yang dia minta.


"Kau tidak pandai membohongiku nona" Berkedip nakal ke arah Calya sambil menerima benda tersebut. Dan Calya melengos ke samping disertai dengusan kesal.


"Emang kau rela memukul wajah tampan calon suami masa depanmu~" Gombal Nathan dan langsung mendapat pelototan dari Calya. Seketika tawanya terdengar semakin keras.


"Ini aku kembalikan. Kita sudah punya kontak masing-masing. Akan mudah mengabarimu jika aku sudah tau apa yang aku inginkan" Kembali berkata sambil mengembalikan ponsel Calya. Sedangkan ponselnya sendiri dimasukkan kembali ke dalam sakunya.


Calya menyambar secepat kilat tanpa berkata apapun. Lalu berjalan kembali untuk pulang.


"Kau tidak mau diantar?" Tanya Nathan, berusaha menyamakan langkahnya dengan Calya. Sepertinya dia enggan berpisah.


Calya berhenti lalu memberikan tatapan tajam, "Tidak usah dan berhenti mengikutiku" ucapnya dingin.


"Aku hanya ingin jadi pria gantle yang tidak membiarkan seorang gadis pulang sendiri, Ditambah ini sudah larut malam" Ujar Nathan, seperti menunjukkan dirinya bahwa dia adalah pria sejati.


"Aku bukan gadis lemah" Timbal Calya sambil memutar mata bosan. Walau benar adanya ucapan Nathan, bahwa tidak baik seorang gadis pulang sendiri di tengah malam begini. Namun dia tidak selemah itu. Dia bukan Serina yang mudah ditindas.

__ADS_1


"Benar juga yah...Kau kan gadis sangar. Tidak mungkin takut pulang sendiri. Yang ada nasib mereka akan seperti para pria tadi. Bahkan hantu juga pasti akan takut padamu" Canda Nathan disertai tawa kecilnya.


"Kau sangat menyebalkan!!" Teriak Calya dengan lantang di depan wajah Nathan. Habis sudah kesabarannya. Tidak peduli seperti apa dirinya yang sudah berteriak. Tapi setidaknya kekesalannya bisa berkurang.


Lalu setelah mengatakan itu, Calya berjalan cepat meninggalkan Nathan yang masih tertawa melihat Calya yang menurutnya menggemaskan saat kesal.


Saat tiba di kediaman Evander pun, Nathan masih tersenyum senyum sendiri. Membuat seseorang yang sedang menonton beralih menatapnya. Orang itu tidak bisa menyembunyikan kerutan bingung melihat Nathan yang tidak biasa.


"Kau tersenyum? Sejak kapan? Cucuku, kau masih waras bukan?" rentetan pertanyaan dilayangkan untuk Nathan. Membuat orangnya berhenti lalu menatap pria tua yang sudah putih di seluruh rambutnya, Namun masih terlihat bugar. Dia adalah tuan besar di kediaman Evander. Dan kakek dari Nathan Evander.


"Apa itu pertanyaan?" Balik bertanya dengan intonasi datar. Tidak ada lagi rona bahagia. Sudah kembali ke versinya yang asli. Dingin dan datar.


"Kakek hanya penasaran melihat mu yang tiba-tiba tersenyum. Jadi wajar saja kakek bertanya untuk memastikan" Jawab tuan besar dengan santai. Selama ini tidak pernah dia melihat cucunya tersenyum bahagia seperti tadi. Semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya. Jadi tak heran menganggap senyum cucunya adalah fenomena yang langka.


"Nathan juga manusia" Balas Nathan datar. Tidak ada niatan untuk memberitahu.


"Siapa juga yang bilang kau bukan manusia" Bergumam jengkel dengan jawaban tidak masuk akal dari cucunya. Namun masih di dengar oleh Nathan. Tapi tak sekalipun dia merespon.


"Nathan ke kamar dulu!" Malah memilih pergi tanpa menunggu sahutan dari kakeknya, dia beranjak menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.


"Punya cucu kok segitunya" tuan besar kembali bergumam sendiri. Meradang juga punya cucu yang seperti patung es beku. Tapi apa boleh buat, gitu-gitu dia tetap cucu kebanggaan.


Sedangkan di kamar, Nathan menutup pintu dan kembali tersenyum seperti orang kurang waras yang sempat jadi pertanyaan bagi tuan besar. Dia merogoh ponselnya lalu mengotak atik hingga sebuah pesan sudah dikirim ke seseorang. Berharap mendapat balasan dari orang itu, justru hanya dibaca saja tanpa ada balasan apapun.


Tapi anehnya dia tidak kesal dan tetap tersenyum, bahkan sudah merambat menjadi kekehan geli. Pantas saja kakeknya betanya padanya, hari ini dia memang aneh. Bisa-bisanya dia banyak senyum dan bicara. Apalagi mengingat saat Calya berteriak mengatakan dirinya menyebalkan. Sungguh dirinya tidak tahan untuk tidak tertawa.


Bersambung~


Jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE, DAN HADIAHNYA....HAPPY TERUS SEMUANYA!!

__ADS_1


__ADS_2