
Happy Reading...
Sesuai perkataannya, Calya tak langsung pulang ke rumah. Melainkan ada urusan penting yang harus diurus. Namun sebelum itu, dia mengatakan pada sopir rumah jika dia tidak bisa pulang bersamanya. Dia juga berpesan jika nanti papanya bertanya maka cukup bilang dia sedang pergi bersama temannya.
Dan sang sopir langsung mengangguk paham. Kemudian Calya baru berjalan ke mobil hitam yang terparkir lumayan jauh dari gerbang. Didalam mobil tersebut sudah ada Key yang menunggunya. Dia membuka pintu belakang lalu masuk ke dalam. Setelah itu mobil pun mulai melaju meninggalkan area.
"Semua berjalan sesuai rencana anda, bos kecil. Dua orang itu sudah memakan umpannya. Sekarang mereka sedang ditangani oleh Kai dan anak buah kita yang lain" Key yang pertama membuka suara. Dia berbicara sambil melirik Calya dari kaca spion.
Di kursi belakang, Calya tetap tenang dengan raut datarnya. Tidak menunjukkan reaksi apapun seperti Key yang antusias. Karena dia sudah bisa menebak semuanya dari awal. Namun meski begitu, bola matanya tetap memancarkan kilatan puas.
***
Sementara dari beberapa jam yang lalu, Nyonya tua sedang mencari alamat seseorang. Pagi tadi dia menghubungi nomor yang ada di kartu nama yang berhasil dia ambil saat Calya tengah tidur. Dan dia juga tidak sendiri, ada Rose yang menemaninya.
"Bu, kita sudah jalan sana sini dari beberapa jam yang lalu. Tapi kenapa kita belum sampai juga?" Tanya Rose frustasi pada sang mertua. Dia sangat kesal, pasalnya mereka sudah berkeliling kesana kemari tanpa tujuan.
Ya, meski Nyonya tua sudah mendapat alamat orang tersebut. Namun tak semudah itu untuk menemukannya. Mereka daritadi hanya berputar-putar di sebuah tempat yang terdapat banyak bangunan. Dan anehnya bangunan itu tampak tua dan tak berpenghuni.
"Ibu juga tidak tau. Dari alamat yang dikirimkan, tempatnya memang disini. Tapi kenapa tempat ini seperti bangunan tua yang sudah lama kosong?" Nyonya tua menatap sekeliling bangunan dengan bingung.
"Ck semua orang juga tau jika ini bangunan tua yang kosong. Untuk apa ibu bertanya lagi!" Sahut Rose dengan ketus. Tangannya terangkat untuk mengipasi wajahnya yang berkeringat. Matahari tepat diatas kepala menyebabkan cuaca semakin terik.
"Apa-apaan nada bicaramu itu Rose. Ibu hanya bertanya kenapa jawabanmu seperti itu" Ujar Nyonya tua tak kalah ketus sambil mendelik tidak suka pada Rose. Dia ikut merasa kesal.
Rose menghela nafas kasar. Jika tidak segera meminta maaf maka mertuanya pasti akan semakin kesal. Bisa merepotkan jika mereka bertangkar ditengah kondisi yang sudah memanas.
"Bu, aku tidak bermaksud berkata seperti itu padamu. Hanya saja, kita sudah disini dari beberapa jam yang lalu. Perutku lapar dan juga haus. Mungkin karena itulah aku berkata omong kosong. Tolong maafkan aku, bu"
__ADS_1
Nyonya tua terdiam memandang menantunya. Ucapannya ada benarnya. Mereka sudah lama disini namun tak kunjung menemukan apa yang mereka cari. Yang ada sekarang mereka sangat kepalaran dan juga kehausan.
Padahal dia sudah merasa menang karena sebentar lagi dia akan berhasil menggagalkan rencana Calya untuk mengetahui pelakunya. Dia berencana untuk bekerjasama dengan orang yang membantu gadis itu. Dengan cara membungkamnya dengan sejumlah uang.
"Bu, apa sebenarnya kita telah ditipu oleh gadis miskin itu? Dia pasti sengaja mengatur semua ini agar kita pergi ke tempat ini dan mengerjai kita"
Wajah Rose terlihat murka dengan kedua tangan mengepal kuat. Seperti sudah yakin jika ini hanya jebakan dari Calya. Sedangkan Nyonya tua, awalnya dia terkejut namun dia mulai menyadari sesuatu dan merasa bahwa ucapan menantunya terdengar masuk akal. Tanpa pikir panjang, dia pun ikut naik pitam. Merasakan darahnya mendidih.
"J*lang sialan itu! Beraninya main-main denganku! Lihat bagaimana aku akan berurusan dengannya nanti setelah pulang!"
"Sekarang kita pulang dulu, Bu! Lebih baik kita pikirkan dirumah caranya bagaimana menghukum gadis tak tau diri itu!"
Saat keduanya akan beranjak pergi dari sana. Tiba-tiba ada yang memukul tengkuk mereka dan membuat keduanya kehilangan kesadaran.
"Bawa mereka"
***
Selang kemudian, Kai yang berada didalam bangunan tua tersebut merasakan ponselnya berdering. Dia langsung memeriksa pesan dari Key. Lalu menjawabnya. Setelah itu dia memberi perintah pada seseorang yang berdiri tak jauh darinya melalui earphone yang terpasang di telinganya.
Orang itu pun mengangguk paham dan segera melaksanakan perintah Kai. Dia menyuruh bawahannya untuk membangunkan dua wanita yang sedang tak sadarkan diri dari beberapa jam yang lalu. Mereka adalah Nyonya tua dan Rose.
Byurr.
Air langsung mengguyur seluruh tubuh mereka. Membuat mereka langsung membuka mata.
"I-ini ada dimana? kalian siapa? Dan apa maksudnya ini? Kenapa kalian mengikat kami?" Rose lebih dulu berteriak marah dengan serentetan pertanyaan. Apalagi melihat kondisi tubuhnya yang basah kuyub dan terikat di kursi. Disampingnya ada mertuanya yang juga dalam kondisi sama.
__ADS_1
Sedangkan orang-orang yang ditanya hanya diam tak menjawab semua pertanyaan itu.
"Menantuku benar, Siapa kalian hah? Kenapa kalian tiba-tiba menyekap kami? Sekarang juga lepaskan kami! Jika tidak kau akan tau akibatnya!" Reaksi Nyonya tua tak jauh berbeda dengan Rose. Dia berteriak marah memenuhi seisi ruangan.
"DIAM!!!"
"Kau yang diam!! Apa kau tidak tau siapa aku? Manusia rendahan sepertimu tidak berhak memerintahku!" Nyonya tua membalas tanpa merasa takut. Justru wajahnya menunjukkan keangkuhan.
Membuat Calya yang masih di dalam mobil mendengus dingin. Iya, dia melihat apa yang terjadi melaui iPad ditangannya. Kai yang berada di dalam bertugas untuk merekam semuanya.
"Katakan! Siapa kalian sebenarnya? Apa kalian adalah orang suruhan Calya, bocah sialan itu? Sekarang beritahu aku dimana dia? Suruh dia keluar biar ku cabik-cabik wajah j*langnya itu!"
Nyonya tua terus berteriak menyebut nama Calya. Mengatakan bahwa dialah dalang dibalik semua ini. Bahkan dia tidak peduli perubahan ekspresi orang-orang itu yang berubah menakutkan. Justru Rose yang ada di samping malah pucat pasi melihatnya.
"Sudah ku katakan untuk diam!!"
Plakkk.
Bertepatan setelah teriakan itu selesai, tamparan keras melayang ke pipi Nyonya tua. Membuat Rose terpaku sambil menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi pada mertuanya. Lalu Nyonya tua juga langsung merasakan suaranya tercekat. Dia lebih terkejut dan tidak percaya. Saking kerasnya dia sampai menoleh ke samping.
"Kau daritadi terus berteriak tanpa henti! Memangnya siapa Calya itu? Kami tidak mengenalnya! Disini seharusnya kami yang bertanya siapa kalian? Kalian telah memasuki markas para ganster kami! Dan kalian pasti datang dengan niat untuk mengungkap tempat ini pada polisi bukan? Ayo ngaku!!" Berteriak garang dengan tatapan melotot tajam.
Maka tubuh keduanya kembali menegang kaku setelah mencerna setiap kata dari orang itu.
Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya ya...Happy terus semuanyaa!!
__ADS_1