
Happy Reading...
Maka tubuh keduanya kembali menegang kaku setelah mencerna setiap kata dari pria itu. Mulut mereka berdua bungkam seketika dengan pupil melebar sempurna.
"Kenapa kalian diam? Ayo berbicara! Apa kalian mendadak bisu, ha? Dan kau..." Menatap Rose dengan tatapan tajam. "Kau baru bangun sudah berkicau seperti burung. Sekarang kenapa diam? Ayo katakan sesuatu!" Berteriak galak. Lalu dengan kasar menarik rambut Rose hingga mendongak ke atas.
"Akh!"
Saking kuatnya tarikan membuat Rose tak bisa menahan ringisannya. Rambutnya seolah ingin lepas dari kulit kepalanya.
Sedangkan Nyonya tua masih tak berkutik. Tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu menantu kesayangannnya. Dia hanya diam dengan tatapan yang sudah ketakutan.
"Katakan! Apa kalian sengaja dikirim kesini untuk membuat keberadaan kami diketahui? Kau pasti orang suruhan Robert, bukan? Polisi sialan itu pasti sudah putus asa hingga mengirim kalian jadi umpan"
Kerutan bingung tapi samar menghiasi muka Nyonya tua. Otaknya berpikir keras untuk memahami apa maksud perkataan dari pria itu. Robert? Polisi? Apa maksudnya? Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?. Begitulah pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Namun tidak berani dia mengutarakannya. Karena rasa takutnya saat mengetahui para pria di depannya ini ternyata seorang penjahat.
Begitupula dengan Rose. Dibalik menahan rasa sakit kepalanya yang belum dilepaskan. Dalam hati dia juga bertanya-tanya apa yang pria itu bicarakan. Bahkan pertanyaan yang muncul sama persis dengan Nyonya tua.
"Beritahu aku! Apa yang polisi itu rencanakan? Apa dia juga ada disini? Sedang mencari kalian? Ayo jawab! Jika kalian tidak jawab, aku akan mengirim kalian ke neraka!" Pria itu kembali berkata dengan suara mengancam.
Dan ancaman itu langsung membuat keduanya menggelengkan kepala dengan cepat.
"Ka-kami...bukan. Ka-kami bahkan ti-tidak mengerti yang kalian bicarakan" Sahut Nyonya tua sambil terbata-bata.
"I-iya benar. Kami bahkan tidak mengenal siapa Robert. Jadi kami mohon jangan bunuh kami" Rose memohon dengan suara lirih bercampur ketakutan.
__ADS_1
Huh
Pria itu mendengus lalu menghempaskan cengkraman tangannya dari rambut Rose. Sontak rambut Rose menjadi berantakan. Namun bukan itu yang dia pedulikan saat ini. Melainkan dia lega karena rambutnya tidak ditarik lagi. Meski rasa sakitnya masih ada.
Kemudian pria yang baru saja menarik rambut Rose berbalik dan duduk di kursi yang disediakan anak buahnya. Jadi saat ini kondisi mereka sedang berhadapan.
"Apa menurut kalian aku akan percaya semudah itu?" Tanya pria itu sambil mengambil pisau lipat dari tangan anak buahnya. "Dua hari yang lalu, Polisi itu berhasil menangkap sebagian anak buahku. Dia menjadikan seorang gadis umpan lalu membuat dirinya ditangkap oleh anak buahku. Kemudian tak lama para polisi akhirnya menemukan markas kami yang di barat kota dan membuat anak buahku tertangkap semua"
Pria itu terdiam sebentar sambil menatap tajam dua wanita itu. "Aku yakin jika polisi itu sudah mengetahui tempat ini dari anak buahku yang ditangkap. Dan menjadikan kalian umpan selanjutnya untuk menangkap kami, iya kan? Ayo jawab!"
Syut.
Detik itu pula pisau melayang dan hampir menggores pipi Nyonya tua. Menjadikan keduanya syok dengan tubuh menegang untuk sekian kalinya.
"Jika kalian belum juga mengaku! Akan aku pastikan pisau itu tak akan meleset!" Kata pria itu dengan seringai jahat.
"Ka-ka-kami menjawabnya dengan jujur. Kami tidak kenal dengan polisi itu. Ke-kedatangan kami bukan untuk membuat kalian ditangkap. Ka-kami disini untuk mencari seseorang dan itu bukan kalian. Jadi kami mohon lepaskan kami. Kami akan memberikan kalian uang yang sangat banyak jika kalian mau melepaskan kami" jawab Nyonya tua dengan suara bergetar berusaha membuat mereka percaya.
"Tuan, kami mohon lepaskan kami. Kau bisa meminta apa saja pada kami, asalkan tolong lepaskan kami! Aku masih belum ingin mati, huhu..." Mohon Rose sambil menangis tersedu-sedu. Tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Yang penting saat ini dia selamat.
Di luar, Calya menarik dua sudut bibirnya menjadi senyum mengejek. Dia begitu menikmati raut mereka yang ketakutan dan putus asa dari layar iPadnya. Padahal hukuman ini belum seberapa tapi mereka sudah seperti kelinci yang meringkuk ketika akan diterkam singa.
Dan sebenarnya para pria didalam bukanlah ganster sungguhan. Melainkan para bawahannya yang dia suruh untuk mengikuti perintahnya. Dia sengaja mengatur semua ini untuk membalas perbuatan mereka. Jadi polisi yang dimaksud sebenarnya tidak ada. Itu hanya akal-akalannya saja agar bisa menjadi alasan untuk menakuti mereka berdua.
"kau pikir, dengan menggunakan alasan uang untuk melepaskan kalian kami akan langsung mau? Cih, kami tak akan masuk ke dalam jebakan kalian lagi. Kali ini akan ku buat polisi itu hanya menemukan mayat kalian berdua saja disini. Agar mereka tau siapa yang mereka hadapi"
__ADS_1
"Cepat ambil pisaunya!" Teriaknya pada anak buahnya. Membuat dua wanita itu terkejut dengan perasaan tak karuan. Apalagi melihat anak buah pria itu sudah menyerahkan pisau yang tadi ke tangannya.
"Tidak, tidak, kami mohon jangan bunuh kami. Kami tidak bohong. kami pasti akan memberikan kalian sejumlah uang. Berapapun itu asalkan kalian mau melepaskan kami!" Ujar Nyonya tua sudah semakin panik. Sedangkan disampingnya, Rose terus mengeluarkan air mata dengan tubuh yang tak berhenti bergetar.
"Meski kalian tak berbohong sekalipun, tak akan membuat kalian bisa lepas semudah itu. Hari ini kalian sudah ditakdirkan untuk tiada. Salah kalian sendiri datang ke tempat ini! Orang yang sudah datang kesini harus dilenyapkan agar tak seorang pun mengetahui markas kami"
"Bersiaplah kau yang duluan" Tunjuknya pada Rose. Kemudian dia mengangkat pisaunya dan bersiap untuk melemparkanya.
"Ti-tidak jangan..." Belum sempat ucapannya selesai, Rose langsung tak sadarkan diri. Dia pingsan karena tak kuat menahan rasa takutnya.
"Ro-rose ba-bangun. Jangan tinggalkan ibu sendirian" Teriak Nyonya tua semakin panik setelah ditinggal pingsan sama menantunya. Dia tidak mau mati lebih dulu.
"Ck dia pingsan" Pria itu berdecak sebal. Lalu beralih pada Nyonya tua "Kalau begitu nenek tua, kau saja lebih dulu"
Nyonya tua menggelengkan kepalanya saat bidikan pisau itu mengarah padanya. Detak jantungnya semakin menggila. Tenggorokannya terasa berat untuk memohon. Dia terlihat ketakutan hingga tanpa sadar kesadarannya mulai menipis dan akhirnya dia ikut pingsan seperti menantunya.
"Huh dasar lemah. Baru digertak sedikit saja kalian langsung pingsan. Lalu kenapa kalian begitu berani mengusik bos kecil kami?" gerutu pria itu dengan nada sinis.
Tak lama kemudian Calya datang dengan raut datarnya diikuti Key dibelakang. Kai juga sudah berada disana.
"Bos kecil" Semua membungkuk hormat.
Calya menatap mereka sekilas sebelum beralih pada dua wanita itu dengan sorot dingin.
"Letakkan mereka di jalan kota. Setelah itu, biarkan seluruh kota melihatnya!" Kata Calya sambil tersenyum dingin tapi ada kilat kelicikan di dalamnya.
__ADS_1
Bersambung~
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...Happy terus semuanya!!