
Happy Reading...
Perkara yang disebabkan Rihanna kini telah usai. Calya pergi ke kamarnya lalu di susul oleh Abram. Hanya tersisa tiga orang yang termenung dengan pikiran masing-masing.
Hingga menjelang saat makan malam terjadi. Bukan Calya saja yang tidak turun. Melainkan Abram juga menyuruh Pak Lan untuk mengantarkan makanan ke ruang kerjanya. Dan memilih untuk makan disana.
"Tuan ini makan malam anda!"
"Terimakasih Pak Lan. Kau bisa keluar" Ujar Abram.
Setelah menjawab, Pak Lan meninggalkan ruang kerja tuannya.
Sedangkan di meja makan yang biasanya diisi oleh empat orang dan bertambah satu dengan adanya Calya, kini terhitung hanya tiga orang saja. Mereka menikmati makan malam dengan suasana yang sedikit berbeda. Ketidakhadiran sang kepala keluarga menunjukkan bahwa dia masih marah atas kejadian tadi sore.
Namun sikap yang ditunjukkan Abram itu, lantas tak membuat ketiganya menjadikannya pelajaran. Mereka justru tetap melimpahkan semua kesalahan pada Calya. Mereka menganggap jika kedatangan Calya adalah sumber masalah di rumah ini. Semenjak kedatangannya tidak ada yang berjalan lancar.
"Harusnya anak itu tidak pernah datang ke sini. Maka kita berempat masih bisa makan malam dengan harmonis setiap malamnya!" Ujar Nyonya tua sinis membicarakan Calya.
"Ibu benar. Sejak kedatangannya, Bram lebih banyak menyayanginya dan selalu memarahi aku dan Anna" Timbal Rose dengan kesal.
"Anna cucu kesayangan nenek, Kau tidak usah bersedih. Kau masih punya nenek. Tak akan nenek biarkan anak kampungan itu merebut papamu. Secepatnya nenek akan mengusirnya dari sini" Nyonya tua mencoba memberikan semangat pada Rihanna. Karena daritadi Rihanna hanya diam melamun sambil memainkan makanannya.
Lalu salah satu di kamar lantai tiga, Calya sudah selesai dengan makan malamnya. Sekarang ini dia sedang duduk di tepi ranjang sambil memandang foto dirinya dengan sang mama di ponsel. Di saat ini, tidak ada Calya dengan wajah datar seperti tembok, hanya ada Calya yang menatap penuh rindu pada sosok wanita di ponselnya. Wajahnya yang tersenyum itu membuat dirinya teringat masa-masa kebersamaan mereka dulu. Yang menurutnya begitu singkat.
__ADS_1
"Ma, Calya rindu" gumamnya lirih. Terdengar begitu sendu. Sambil di usapnya wajah sang mama yang tersenyum ceria dengan usapan lembut.
Kondisi kamar yang dibaluti pencahayaan temaram dari lampu tidur, menjadi saksi bisu jika Calya memiliki sisi lain yang tidak banyak orang tau. Sesungguhnya dia hanyalah gadis yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Akan merasakan kesedihan bila ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Inilah fakta dirinya yang sebenarnya.
Adapun ekspresi dingin dan datarnya yang selalu dia perlihatkan, sebagai topeng untuk menunjukkan dirinya bukanlah orang yang mudah ditindas. Namun dirinyalah yang akan menindas. Sebuah prinsip yang dia tanamkan saat mengetahui kisah pilu sang mama. Menjadi kejam dan tak berperasaan terhadap orang yang berlawanan arah dengannya.
Itulah sekilas tentang Calya, maka kita kembali lagi pada apa yang dilakukan orangnya. Terlalu lama memandangi sang mama, tak mengobati sedikitpun secuil rasa rindu yang memadati dadanya. Justru semakin bertambah sesak sampai rasanya ingin meluap keluar karena tidak ada ruang lagi. Mematikan ponsel, Lalu berdiri dan berjalan ke tempat lemari pakaian. Mengambil hoodie hitam untuk menutupi kaos lengan pendeknya. Dan mengganti sendal dengan sepatu.
Setelah itu berjalan kembali ke arah jendela balkon. Memilih lewat sana untuk keluar. Jika lewat pintu utama tidak akan memberikannya kemudahan untuk bisa pergi begitu saja. Akan datang drama baru lagi dari para aktris gadungan itu. Lebih baik pilih yang aman saja.
Saat tiba di balkon, sebelum turun dia mengamati rute yang akan dia lewati. Dia tersenyum remeh saat terlihat mudah. Dia hanya perlu turun ke balkon lantai dua yang sepertinya kamar papanya dan wanita rubah itu. Lalu turun sedikit untuk mencapai bawah.
Baiklah, sepertinya sangat mudah untukmu! Ini tidak seberapa dibandingkan lantai lima yang pernah kau coba saat menjalankan misi!. Batin Calya memeremehkan.
Bruk.
***
Calya keluar dari minimarket sambil menenteng satu minuman kaleng. Ketika Ia bisa keluar dari kediaman, tujuan pertamanya adalah membeli minuman. Dia butuh sesuatu yang segar untuk membasahi kerongkongannya.
Cklek. Tutup kaleng minumannya terbuka. Lalu mengarahkannya ke bibir dan menenggaknya dengan cepat. Hingga bunyi 'gleg' terdengar.
Di saat Calya asik meneguk minumannya sambil mendongak. Seseorang menabraknya dari depan dan membuat acara minumnya terganggu. Bahkan isi dari minum kalengnya tidak bisa tertelan semua, justru malah tumpah membasahi sebagian bajunya.
__ADS_1
"Maaf, maaf aku tidak bermaksud menabrakmu!" Ujar sang penabrak dengan rasa bersalah.
Calya memberikan pandangan dingin. Dihadapannya berdiri seorang cowok berkacamata tapi tampan dengan postur tubuh yang tinggi. Dialah pelaku yang menabraknya.
"Ku mohon maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja untuk menabrakmu. Apa itu mengenai bajumu? Tunggu disini aku akan membeli tisu untuk membersihkannya!" Sang cowok akan bergegas masuk ke minimarket untuk membeli tisu tapi Calya lebih dulu mencegahnya.
"Tidak perlu" Ucap Calya dingin.
"Tapi bajumu terkena noda minuman.." tutur sang cowok masih berniat bertanggung jawab untuk membersihkannya.
"Tidak apa" Pungkas Calya singkat dan hendak untuk pergi. Tapi tangannya ditahan oleh si cowok.
"Setidaknya biarkan aku bertanggung jawab dengan mengganti rugi minuman mu itu. Tolong tunggu sebentar saja, aku akan ke dalam untuk membelikan mu yang baru!" Pinta sang cowok dengan memelas. Dia tidak mau ada rasa bersalah pada orang lain. Ini juga kelalaiannya karena bermain ponsel saat jalan. Jadi tidak melihat orang didepannya.
Calya melepaskan tangan si cowok lalu kembali menatapnya. "Kau tidak perlu menggantinya. Lagipula aku juga sudah tidak haus lagi. Biarkan aku pergi maka masalah ini selesai!" Dingin.
Sang cowok sedikit merasa terintimidasi dengan aura yang dipancarkan Calya. Maka dengan berat hati dia membiarkan Calya pergi tanpa harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Ketika Calya berjalan pergi, lirikan mata si cowok terus mengikuti dengan pandangan mendalam.
"Cantik.Tapi dingin" gumam si cowok. Hampir tidak bisa didengar.
Di sisi Calya, Ia mendengus kasar atas kejadian yang menimpanya. Tangannya terangkat untuk mengusap berulang kali noda minuman yang mengenai bajunya. Ada rasa kesal dalam dirinya. Entah itu pada bajunya yang kotor atau pada si cowok yang sudah menabraknya.
Dengan tarikan nafas yang dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia berjalan pelan untuk menenangkan dirinya. Tanpa sadar langkahnya sudah menelusuri jalan sepi. Dia mengangkat alis bingung, saat tidak mendapati orang lewat. Tapi secepatnya berubah tidak peduli dan tetap lanjut jalan. Namun beberapa langkah dirinya berhenti sambil menajamkan pendengarannya saat mendengar seseorang berteriak.
__ADS_1
"Tolong!! Tolong aku!!"
Bersambung~