
Happy Reading...
Pukul 16.00
Bel pulang berbunyi. Menghentikan pelajaran untuk hari ini. Para murid segera membereskan peralatan sekolahnya dan bersiap untuk pulang. Satu persatu kelas mulai memuntahkan isinya hingga kosong. Mereka bergegas menuju gerbang utama untuk keluar dari kawasan sekolah.
Sama halnya dengan Rihanna yang buru-buru untuk naik mobil jemputan dan menyuruh sopir untuk segera menjalankan mobilnya. Sopir pribadi keluarga Lawson itu kebingungan karena jelas bukan hanya ada Rihanna seorang yang akan dia jemput sekarang ini. Melainkan ada putri sulung yang sudah tinggal sejak kemarin di kediaman Lawson. Dan itu perintah langsung dari tuannya.
"Tapi bagaimana dengan nona pertama?" Pak sopir memberanikan diri untuk bertanya.
"Jika aku bilang jalan ya jalan!! Kau mau aku adukan sama nenek?" Bentak Rihanna.
Pak sopir langsung menggelengkan kepala takut.
"Kalau begitu ayo jalan!!"
"Ba,baik nona Anna"
Sang sopir akhirnya menjalankan mobilnya dengan perasaan cemas. Bagaimana jika tuannya tau. Lalu dia harus jawab apa. Namun jika Ia menolak permintaan nona keduanya juga, Ia akan berhadapan dengan nyonya tua. Semua orang dikediaman tau jika Rihanna adalah cucu kesayangan. Semoga saja nona pertama tidak marah dengannya dan tidak melaporkannya pada tuan. Dia masih membutuhkan pekerjaan ini.
Calya yang baru saja keluar gerbang, tidak sengaja melihat mobil yang mengantarnya tadi pagi sudah jalan meninggalkannya. Bukannya panik Ia justru tetap pada ketenangannya. Dia sudah menduga jika ada hubungannya dengan Rihanna yang buru-buru meninggalkan kelas. Sengaja meminta pak sopir untuk meninggalkannya sendiri disini. Mengira jika dirinya tidak akan ingat jalan pulang dan akhirnya tersesat. Sudah sebesar itu tapi masih memainkan permainan anak kecil. Dasar emang bocah ingusan, ejeknya dalam hati.
Maka tanpa merasa khawatir, Calya memilih untuk memesan taksi. Tidak ada niatan untuk naik bus sekolah. Lagipula disana pasti ramai, pikirnya.
***
Setibanya Rihanna di kediaman Lawson. Ia langsung menghampiri mamanya yang sedang duduk di ruang tamu. Dengan wajah yang ditekuk, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa dekat mamanya.
"Loh Anna kau sudah pulang" Rose mengalihkan tatapannya pada Rihanna.
__ADS_1
"Hm" Rihanna hanya bergumam singkat.
"Ada apa ini? Kenapa anak mama cemberut? Coba beritahu mama! siapa yang udah membuat putri kesayangan mama kesal seperti ini?" Tanya Rose penasaran saat mendapati suasana hati putrinya sedang terlihat buruk.
Rihanna semakin menekuk wajahnya. Menujukkan bahwa dirinya sangat kesal. Bukan hanya kesal tapi hari ini dia sudah banyak dipermalukan. Dia benci hari ini.
"Anna kenapa diam? Ayo kasih tau mama siapa! Biar mama beri pelajaran orang itu!" Rose kembali berkata. Bersiap akan mencari orang itu jika Rihanna sudah menyebutkan nama.
"Calya, Ma" Jawab Rihanna dengan tatapan benci.
"Anak itu lagi" Teriak Rose, sudah tersulut emosi saat nama Calya disebut. Tatapannya berubah nyalang dengan kebencian sama persis seperti Rihanna.
"Iya Ma. Hari ini Anna dihukum oleh pak Leo dan di permalukan oleh teman-kelas gara-gara dia! Anna benar-benar tidak terima ini, Ma! Pokoknya mama harus bantu Anna!" Adu Anna sambil merengek. Selain itu dia melebihkan perkataannya agar semua kesalahan sepenuhnya pada Calya.
"Keterlaluan! Dimana dia sekarang? Mama akan beri dia hukuman! Beraninya dia berbuat seperti itu padamu!" Rihanna berhasil menyulut api sumbu pada mamanya. Amarah Rose semakin meningkat.
Pak Lan yang berdiri tak jauh dari mereka mendengar semua pengaduan Rihanna. Wajahnya muncul gurat khawatir saat mendengar teriakan amarah dari nyonyanya. Dan itu ditujukan untuk nona Calya. Padahal dia sudah memberi nasehat untuk tidak memprovokasi mereka. Tapi nona Calya sepertinya tidak mendengarkannya. Sekarang ini tuan tidak ada. Siapa yang akan menolongnya. Hanya bisa berharap nona Calya tidak pulang sebelum tuan pulang lebih dulu.
"Kau tenang saja! Papamu hari ini ada lemburan, pasti akan pulang malam" Jawab Rose. Rihanna bernafas lega kemudian tersenyum licik. Sedangkan pak Lan terlihat semakin cemas.
Tak berselang lama, Calya muncul dari balik pintu. Berjalan santai tanpa memperhatikan seseorang yang sedang menunggunya. Rihanna yang pertama menyadari Calya datang menepuk pelan lengan Rose untuk mengisyaratkan jika orang yang ditunggu sudah datang. Maka dengan cepat Rose berteriak menghentikan langkah Calya yang ingin naik ke kamarnya.
"Berhenti kau disitu anak sialan!"
Calya merotasikan mata jengkel. Ada apa lagi ini? batinnya bertanya. Ia memutar badannya agar menghadap kedua orang itu.
"Kau tidak boleh masuk ke kamarmu jika kau belum berlutut minta maaf pada Anna!" Suruh Rose langsung pada intinya. Rihanna yang disampingnya sudah mengangkat dagu dengan pandangan sombong. Senyum kemenangan terbit di bibirnya.
"Minta maaf?" Tanya Calya datar sambil mengangkat satu alisnya. Sepertinya disini ada yang salah. Entah pendengarannya yang kurang jelas atau dua orang ini yang kurang waras.
__ADS_1
"Iya minta maaf atas apa yang kau lakukan padaku!!" Pekik Rihanna melotot tajam.
Calya mendengus dingin, "Katakan apa yang aku lakukan sampai harus minta maaf?" Kembali bertanya sambil menyorotkan mata dinginnya pada Rihanna. Tentu perbuatannya itu membuat Rihanna meringsut ketakutan dan bersembunyi di lengan Rose.
"Ma, dia tidak mau mengakuinya" Adu Rihanna dengan nada pelan seperti orang tertindas.
"Aku menyuruhmu minta maaf pada Anna bukan banyak bertanya! Lebih baik kau lakukan apa yang aku katakan sebelum aku memukulmu!" Bentak Rose. Kesabarannya mulai menipis.
Memukul lagi? Ibu dan anak sama persis. Tidak ada jauh bedanya. Hanya bisa berteriak lalu memukul. Pikir Calya meremehkan.
"Kenapa aku harus minta maaf jika aku tidak bersalah sama sekali?"
Rose memelototkan matanya. Tidak menyangka jika Calya memiliki keberanian padanya. Ia pun kembali mengangkat suaranya yang marah,"Tidak bersalah? Kau sudah membuat putriku dihukum dan dipermalukan! Dan kau masih merasa tidak bersalah?"
Calya menatap lurus Rose dengan tatapan datar dan berani,"Tentu aku tidak merasa bersalah! Kenapa kau tidak bertanya pada putrimu itu apa yang sudah dia lakukan hingga dia dihukum dan dipermalukan?" Melirik sekilas Rihanna yang menatapnya marah.
Mendengar hal itu tetap tidak memberikan rasa percaya pada Rose. Rasa sayangnya pada putrimu membutakan dirinya untuk melihat kebenaran.
"Kau tidak usah mengelak lagi! Aku tau kau yang bersalah! Putriku selalu berperilaku baik disekolah jadi tidak mungkin Ia bisa mengalami itu semua tanpa alasan! Ini pasti perbuatan tercelamu yang ingin membuat putriku dipermalukan!"
Rihanna tersenyum puas saat mamanya lebih percaya dengan dirinya. Sedangkan Calya masih tetap tanpa ekspresi. Tapi tiba-tiba terkekeh geli dan membuat senyum Rihanna menghilang. Dan Rose mengangkat alis kebingungan.
"Kurasa benar kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Aku sempat bertanya-tanya darimana saudara perempuanku mendapat kebodohannya, tidak mungkin kan dari papa?..Tapi saat aku melihat langsung, Pantas saja bodoh! ternyata induknya bahkan lebih bodoh!" ujar Calya menghina.
Setelah itu ekspresi keduanya menjadi gelap. Pancaran kemurkaan terpampang jelas diwajah mereka. Apalagi Rose yang sudah marah dan kehilangan akal. Dia mengangkat tangannya ke udara untuk memberikan tamparan pada wajah Calya. Tapi terhentikan saat terdengar suara dari luar.
Rihanna paling cepat memberikan reaksi. lalu bergerak menurunkan tangan mamanya segara. Dan saat bersamaan papanya muncul di ruang tamu. Dan bertanya dengan suara renyah dan kebingungan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
__ADS_1
Bersambung~