
Happy Reading...
"Ibu ini bagaimana?..." Gumam Rose pelan namun masih bisa di dengar. Tatapannya kosong mengikuti kepergian Calya.
"Jangan bilang kita sudah tamat Nek!" Rihanna lebih pucat dan lebih takut. Belum siap harus diusir dari rumah ini.
Awalnya Nyonya tua tak bergeming bak patung. Dia seperti kehilangan kata-kata. Namun kembali sadar setelah mendengar gumaman lirih dari dua orang disampingnya.
Dia menatap cucu dan menantunya lalu berkata tegas, "Tidak! Ini belum usai! Pokoknya malam ini kita harus mencuri kartu nama itu. Kita harus mencegah Calya bertemu lagi dengan penyelamatnya. Nenek sendiri yang akan menemui orang itu!"
Rose dan Rihanna saling tatap dalam diam. Tak lama, pancaran redup seketika berubah cerah. Mereka paham maksud ucapan Nyonya tua. Setidaknya masih ada rencana. Begitulah isi pikiran mereka.
***
Di National School.
Setelah jam istirahat dibunyikan beberapa menit yang lalu, semua berhambur keluar kelas. Tak terkecuali Calya. Namun baru keluar dari pintu dia dihadang oleh Eldric. Membuatnya mendesah jengkel.
"Ada apa tuan muda William?" bertanya dengan nada datar.
"Panggil Eldric saja" Timbal Eldric dengan senyum menawan.
"Kita tak sedekat itu" tolak Calya dengan cuek.
"Kita teman sekelas"
"Langsung to the point saja!" Ungkap Calya tak sabaran. Dia tidak suka jadi pusat perhatian. Karena saat ini banyak murid yang berlalu lalang di sekitar kelasnya.
"Aku...aku ingin bertanya tentang materi yang di ajarkan tadi. Bisakah kau meluangkan waktu untuk mengajariku sebentar" Pinta Eldric tiba-tiba.
Alis Calya berkerut sebelah dengan pandangan datar. Dia merasa telah mendengar sesuatu aneh. Tidak menyangka akan medengar kata-kata itu dari mulut Eldric. Laki-laki ini pasti sedang bercanda, begitulah isi pikiran yang melintas di kepalanya
"Sebagai murid kesayangan Pak Leo dan sering mengikuti olimpiade, apakah pelajaran sepele seperti itu perlu diajarkan lagi padamu?" Bertanya dengan nada meremehkan.
Tapi Eldric tak langsung tersinggung. Justru dia tersenyum simpul menanggapinya. Lalu berkata dengan santai, "Aku juga manusia biasa bukan robot yang bisa semuanya"
__ADS_1
"Aku tak ada waktu. Lain kali saja!" Calya langsung memberikan penolakan tanpa ragu. Membuat Eldric mendesah kecewa.
"Lalu..." Sial kenapa perempuan gila itu lagi, umpat Eldric dalam hati tatkala tak sengaja melihat Flicka berjalan kesini. Jika tak secepatnya pergi maka perempuan itu akan menempel seperti lintah. Dan itu sangat menyebalkan.
"Baiklah mungkin lain kali saja. Kalau begitu aku pergi dulu" Berkata dengan cepat lalu melengos tanpa aba-aba.
Calya hanya melirik kepergian Eldric dengan muka datar. Dia kemudian berbalik dan pergi ke arah berlawanan. Tepat sekali, tatapannya bertemu dengan Flicka. Rautnya tak menunjukkan reaksi apapun saat Flicka menatapnya dengan aura permusuhan yang kuat. Hingga Flicka lebih dulu mengakhirinya dan berteriak kencang memenuhi koridor.
"Eldric tunggu aku!"
Calya mendengus dingin. Paham betul arti tatapan itu. Tapi apa pedulinya, dia tak ingin membuang tenaga untuk melayani cewek seperti itu.
Sekarang dia berada di toilet. Dia ingin buang air kecil dan sudah menahannya daritadi. Setelah sekian menit dia keluar. Akan tetapi dia berhenti saat mendengar isak tangis yang terdengar familiar. Karena toilet sedang sepi dia masih bisa mendengarnya walau samar.
Dia kemudian membuka satu persatu pintu toiletnya. Ketika membuka pintu paling ujung, matanya melebar melihat pemandangan di depannya.
"Serina itu kau..."
Ternyata yang Calya lihat adalah Serina yang duduk di lantai dekat closet. Gadis yang dia tolong semalam sekarang dalam keadaan sangat mengenaskan. Seluruh tubuh basah dengan bau yang menyengat. Seperti bau yang terkena bekas air pel. Lalu pipinya lebam dengan sudut bibir yang robek besar. Lebih parah dari semalam. Bahkan dia sudah menggigil hingga kulitnya membiru sebab kedinginan.
Calya berjongkok untuk melihat kondisi Serina. Lalu matanya bergulir untuk mencari kacamata milik Serina. Namun sayangnya saat ketemu, kacamata itu sudah rusak dan patah. Dia mendesah pelan dan menatap kembali Serina.
"Siapa yang melakukannya?"
Saat ditanya, jejak ketakutan langsung terlihat pada wajah Serina. Dia diam seolah bungkam tidak ingin membuka suara. Bukannya tidak ingin mengatakan tapi dia terlalu takut jika dia mengadu pada orang lain, dia akan semakin dibully.
Melihat kebungkaman Serina, Ekspresi Calya berubah gelap. Lalu berkata dengan dingin, "Sebut namanya saja maka aku tak akan bertanya lagi!"
Serina terkejut saat tiba-tiba merasakan hawa intimidasi dari Calya. Auranya begitu kuat seakan menekannya untuk patuh. Layaknya yang mulia raja dan dirinya adalah pelayan yang tidak dizinkan untuk berkata tidak. Bahkan bibirnya bergerak sendiri untuk menjawab.
"F-Flicka Roland"
Setelah mengetahui nama yang melakukannya pada Serina, Calya menepati janji dan tidak bertanya lagi. Namun ekspresinya belum berubah. Dia sangat marah.Ternyata sekolah ini lebih mengejutkan dirinya.
Sekolah yang memiliki citra sangat bagus tidak menjamin muridnya akan memiliki sikap bagus. Di dalamnya masih ada kekurangan yang banyak orang belum ketahui. Bahkan tak ada satupun pihak sekolah yang melakukan tindakan. Sehebat itukah kekuasaan? Hingga mampu menekan orang-orang yang dibawahnya.
__ADS_1
"Sekarang ikut aku!" Perintahnya sambil membantu Serina untuk berdiri.
"Kita akan kemana?" Tanya Serina dengan terbata. Sambil menyesuaikan keseimbangan tubuhnya yang lemas. Mungkin efek terlalu lama basah kuyub.
"UKS" Jawab Calya singkat dan datar. Dan Serina tidak berani membantah dan membiarkan Calya memapahnya kesana.
Sampainya di UKS, Calya meletakkan Serina pada salah satu tempat tidur yang memang tersedia untuk para murid.
"Tunggu disini. Aku akan pergi mengambil baju ganti untukmu. Kau tidak dizinkan untuk menolak" Ujar Calya dengan tatapan tajam saat melihat Serina hendak menolak. Maka Serina hanya bisa pasrah untuk ditolong kedua kalinya oleh Calya. Dan tidak enak hati karena merasa merepotkan.
Calya pun pergi keluar untuk mengambil baju ganti dilokernya. Meninggalkan Serina sendirian disana.
Sementara disisi lain, Nathan berjalan menuruni tangga bersama sahabatnya yaitu Davin. Daritadi Nathan hanya diam dengan raut datarnya. Walau dia selalu seperti itu namun diamnya kali ini sedikit berbeda. Davin sebagai sahabat dari kecil jelas merasakan keanehan itu dan membuat mulutnya gatal untuk bertanya.
"Bro, kau kenapa sih? Dari kemarin kau seperti cowok yang patah hati saja"
Nathan diam seribu bahasa. Fokus pada langkahnya tanpa berniat menjawab sahabatnya.
Davin yang sudah biasa tak merasa kesal, mungkin lebih sedikit jengkel. Tapi dia merasa aneh pada sahabatnya ini. Dari kemarin Nathan memang tampak seperti cowok yang sedang patah hati. Dia jadi lebih sensitif dan mudah emosi. Bahkan dia tak henti-henti mengumpat pada ponselnya. Dia mencoba bertanya berkali-kali tapi selalu tak direspon. Yah, memang seperti itulah Nathan. Harus punya porsi kesabaran yang banyak untuk menghadapinya. Untung dia termasuk orang yang seperti itu.
"Than lebih baik kau cerita aja deh. Siapa tau aku bisa bantu? Apalagi kalau masalah cewek. Aku itu paling jagonya. Gimana..." Ucapan Davin menggantung saat dia menoleh dan tak menemukan sahabatnya ada di samping.
"Brengsek! Sialan kau Nathan Evander!" Umpat Davin dengan suara keras. Tanpa memperdulikan para siswa yang sudah menatapnya.
Sedangkan Nathan yang tiba-tiba menghilang kini sedang berlari mengejar seseorang. Saat dirinya tak sengaja menoleh ke arah kanan, dia melihat bayangan orang yang membuatnya kacau dari kemarin. Maka dia berlari mengejar punggung yang semakin menjauh dan meninggalkan Davin sendirian.
Saat dia sudah dekat dengan orang itu, tangannya bergerak cepat meraih tangan itu lalu membawanya ke ruangan sepi.
Brukk.
Cklek.
Nathan mengunci pintunya lalu menatap seseorang yang berada dalam kungkungannya dan berkata dengan seringai licik, "Hari ini kau tidak bisa lari lagi, nona sangar"
Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE DAN HADIAHNYA!..HAPPY TERUS SEMUANYA!!