
Happy Reading...
Jam istirahat seharusnya dihabiskan untuk bersantai sebelum menyambung kembali pembelajaran. Waktu singkat yang harus di manfaatkan sebaik mungkin. Agar ada rileksasi pada tubuh maupun otak. Tapi sayangnya, Rihanna harus melewatkan waktu berhaga ini demi menuntaskan hukumannya. Mengelilingi luasnya lapangan yang semakin terik.
Peluh keringat terus keluar dari pori-pori. Tak henti-hentinya membasahi tubuhnya. Sudah seperti mandi saja. Disambut Nafas yang sudah tak beraturan. Belum lagi seluruh otot terasa lemas, letih dan lesu. Dan perutnya juga daritadi terus bunyi seakan cacingnya berdemo minta diisi.
Kecepatan larinya tidak secepat di awal. Sekarang sudah mengikis menjadi lambat. Padahal tinggal lima putaran lagi. Tapi sepertinya tubuhnya sudah tidak bisa dipaksakan. Seakan secara alami tau jika dipaksakan itu tidak baik.
Bruk!
Maka ambruk sudah. Tak peduli bajunya akan kotor. Toh Ia punya baju ganti di lokernya. Daripada pingsan lebih baik Ia istirahat sejenak. Mencoba mengumpulkan tenaga.
"Anna!!"
Lehernya berputar otomatis saat suara dikenalnya memanggil. Dari arah belakang Jessie dan Vivian sedang berlari menghampirinya sambil menenteng minuman botolan.
"Pas banget!! Sini! Aku udah kehausan!" Rihanna lansung menyambar minuman di tangan Vivian setelah mereka berada di dekatnya.
"Ya ampun Anna pelan dikit dong!" Seru Jessie. Tak habis pikir, apa sehaus itu sampai merebut kasar minuman dari Vivian.
"Iya Anna. Pelan-pelan aja! Itu minuman emang buatmu jadi tidak ada yang bakal rebut!" Vivian ikut menimpali.
"Hahhh...segarnya!!" Menutup botol yang sudah hampir kandas isinya. Lalu menatap kedua temannya."Kalian tidak tau rasanya berlari sebanyak itu! Capek tau! Serasa mau pingsan! Belum lagi tinggal lima putaran baru selesai! Ih sebelnya!" mencebikkan bibir.
Jessie dan Vivian terdiam. Apa yang dikatakan Rihanna ada benarnya. Lari sebanyak itu siapa juga yang bakal kuat. Kalo cowok ya tidak apa-apa, mereka kan kuat. Kondisi Rihanna yang sekarang wajar saja. Pasti capeknya nggak tertolong. Dia bahkan terlihat mau pingsan jika kami tidak datang bawakan air. Namun ini juga salahnya Rihanna. Siapa suruh berteriak gak jelas di jam pak Leo. Sudah tau pak Leo adalah guru yang garang.
"Terus gimana? kau mau lanjut lari sampai selesai?" Vivian bertanya.
Sebelum menjawab Rihanna menatap ke segala arah untuk memastikan sekitarannya tidak ada orang. Saat menurutnya aman baru dia berkata "Cih tidak usah. Aku sudah tidak kuat. Badanku juga sudah lengket. Rasanya tidak nyaman sekali. Mana bau keringat lagi" Kesal pada diri sendiri setelah melihat kondisi tubuhnya yang sudah tidak fresh lagi.
__ADS_1
"Kalo pak Leo bertanya, bagaimana?" tanya Vivian.
"Ya bilang aja sudah selesai. Lagian juga pak Leo tidak bakalan tau, kecuali kalian yang bocorin" sahut Rihanna menatap dalam keduanya. Seperti tatapan awas kalian jika berani bilang.
"Hehe tenang aja Anna. Kami pasti akan tutup mulut." Jessie langsung memperagakan dirinya mengunci mulut. Begitupun Vivian yang ikut mengangguk memberi tanggapan.
"Bagus! Karena kalian patuh, nanti aku teraktir kalian makan mewah!"
Perkataan Rihanna langsung memberikan semangat 45 pada Jessie dan Vivian. Mereka saling pandang dengan binar antusias. Tersenyum senang sangat lebar. Inilah yang paling disukai oleh keduanya. Rihanna selalu murah hati jika kami memberi bantuan yang tak seberapa. Bikin betah berteman dengannya.
"Ya udah Vi sini bantu aku bangun lalu temani aku ke ruang ganti! Lalu kau jes, belikan aku makan dikantin! Perutku sangat lapar!" Suruh Rihanna dengan enteng. Langsung membuat raut keduanya berubah dan merengut dalam hati.
"Ayo cepat!!" Seru Rihanna lagi dengan tidak sabaran.
Keduanya kemudian gerak cepat melakukan perintah Rihanna dengan kesal. Namun tidak berani menunjukkan secara terang-terangan. Takut Rihanna marah dan acara traktirannya diurungkan. Meski orangnya loyal tapi juga menyebalkan. Selalu seenaknya menganggap kami pelayan. Tapi apa boleh buat? demi bisa merasakan hidup seperti anak konglomerat, jadi pelayan juga rela.
***
"Aku dengar kau pindah ke sini tanpa tes ya?" Calya mengiyakan dengan jawaban singkat.
"Wah kau sangat hebat! Banyak yang ingin pindah kesini tapi harus gagal pada saat tes!"
"Ya, kau juga keren bisa menjawab pertanyaan pak Leo! Dikelas ini walau banyak yang pintar tapi jika di jam pak Leo semuanya tiba-tiba berubah bodoh" Suara keras dari siswi itu mendapat delikan tajam dari beberapa murid yang tersinggung mendengarnya. Seperti tidak suka dikatakan bodoh. Tapi siswi itu membalasnya dengan pura-pura tidak tau. Merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya. Karena itu memang benar adanya. Dan mereka bisa berkata apa untuk menyangkalnya.
"Tapi ada satu orang dikelas ini yang benar-benar jenius. Dia adalah cowok yang paling tampan di seluruh angkatan kelas kita. Dia juga kesayangan pak Leo. itu kenapa Ia ditunjuk untuk mewakilkan sekolah dalam kompetisi sains. Dan aku dengar besok pagi Ia sudah akan kembali masuk"
"Jika kalian jadi pasangan! pasti akan sangat serasi. Tampan dan juga cantik. Iya kan?" Ketiganya mengangguk setuju. Calya mendesah pasrah. Tidak peduli apa yang mereka bicarakan. Dia hanya ingin mendapat ketenangan saja. Tapi sepertinya mereka belum juga mau berhenti. Masih ingin mengajaknya dalam obrolan seru mereka.
"Tapi bicara soal ketampanan. Jelas tuan muda Nathan yang paling tampan. Dia adalah segalanya" berkata dengan bangga sekaligus berkilat kagum.
__ADS_1
"Kau benar. Dia memiliki paket komplit sebagai cowok idaman. Kyaa andai saja orang seperti kita bisa jadi pacarnya!" Semakin berteriak heboh. Membuat Calya meringis karena telinganya berdengung mendengar siswi di dekatnya tiba-tiba berteriak. Ia juga mengumpat kesal dalam hati saat mendengar nama yang beberapa menit lalu sudah mengganggu istirahatnya.
"Omong kosong!"
Semua terdiam saat tiba-tiba ada suara yang terdengar marah dari arah pintu masuk. Semua memusatkan pandangan mereka ke arah suara. Termasuk Calya dan keempat siswi tadi.
"Apa kau tidak punya malu! Beraninya manusia rendahan sepertimu berkhayal ingin menjadi pacar tuan muda Nathan! Apa kau tidak punya kaca dirumahmu?" Ternyata suara itu adalah suara milik Rihanna yang baru saja masuk bersama kedua temannya. Dia berjalan mendekat ke hadapan perkumpulan dimana Calya duduk. Lalu menatap tajam siswi yang terakhir berbicara.
"Hei apa kau tuli tuan putri Anna? Apa telingamu sudah tidak bisa berfungsi dengan baik lagi? Aku mengatakan andai saja bukan berkhayal seperti yang kau tuduhkan!" Timbal siswi itu dengan nada mengejek. Balik menatap Rihanna dengan sinis.
"Kayaknya dia emang beneran tuli! Aku heran kenapa Calya yang sempurna harus punya saudara sepertimu!" temannya melanjutkan untuk membantu. Dia juga kesal dengan ucapan Rihanna.
"Tutup mulutmu! Kau jangan ikut campur! Anna teman kami tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan siapapun! Dia itu tetap nomor satu!" Jessie menyela untuk membela Rihanna.
"Ya kau benar! Tidak bisa dibandingkan dengan siapapun! Huh, Siapa juga yang mau bersanding dengan kebodohannya yang nomor satu itu?" Keempat siswi itu kemudian tertawa mengejek. Begitupula Calya dan yang lainnya juga ikut menahan tawa.
Ekspresi Rihanna semakin buruk. Wajahnya merah terbakar bercampur malu. Dengan tangan yang sudah mengepal kuat di kedua sisi. Tatapannya berkilat tajam dan bibir bawahnya bergetar karena amarah yang tertahan.
"Dasar j*lang! Mulut sialanmu harus diberi pelajaran!!" Semua menahan nafas saat Rihanna akan melayangkan tamparan. Namun..
Hap.
"Tidak bisa melawan lalu ingin memukul orang! Apa kau tidak punya cara lain? Padahal letak kesalahan ada padamu! Seharusnya kau punya malu sedikit!" Ujar Calya dingin sambil menahan tangan Rihanna. Siswi yang ingin ditampar seketika bernafas lega.
Rihanna beralih menatap pemilik tangan yang menahannya. Ia menggertakkan giginya tidak suka saat Calya ikut campur. Maka dengan kasar dia menghempaskan tangan itu dan pergi begitu saja dari sana. Ia tidak bisa berurusan langsung dengan Calya. Bayang-bayang kejadian tadi malam masih menghantuinya. Jika Ia memperpanjang maka tangannya akan menjadi sasaran kedua.
"Awas kalian! Lain kali kami akan membalas kalian semua!!" Sebelum kedua teman Rihanna ikut menyusul. Vivian memberikan ancaman.
"Cih taunya hanya bicara saja! Giliran mau dilawan balik malah kabur! Huu payah!" Ejek siswi yang ingin ditampar Rihanna. "Oh ya! Calya makasih ya kau sudah membantuku. Untung ada kau!" tersenyum tulus.
__ADS_1
"Hmm sama-sama" sahut Calya datar.
Bersambung~