Gadis Cantik But Kejam

Gadis Cantik But Kejam
Episode 21


__ADS_3

Happy Reading...


Ketika Calya sudah berlari meninggalkan parkiran, ibu dan anak itu muncul kembali. Mereka berdua langsung mengedarkan pandangan ke penjuru arah. Saat bola mata mereka tak menangkap siapapun selain mereka berdua saja, rona senang terpancar jelas pada wajah masing-masing.


"Ma, sepertinya rencana kita sudah berhasil" Ujar Rihanna dengan perasaan senang yang tidak bisa diungkapkan.


"Sepertinya iya. Mama tidak melihat siapapun disini selain kita berdua. Di mobil pun tidak ada orang" Rose menimpali putrinya sambil kembali memperhatikan sekitar.


"Akhirnya, hari bahagiamu sudah berakhir Calya. Kau tidak akan bisa lolos lagi. Siapa suruh kamu jadi orang yang sok pintar!" Rihanna mencibir. Sepertinya masih kesal dengan kejadian di toko perhiasan. Mulutnya bahkan sangat gatal ingin mencaci maki tapi harus ditahan demi rencana mereka. Sekarang saat Calya tidak terlihat diparkiran, kekesalannya seakan terbayar.


"Kita harus berterima kasih pada nenekmu sayang. Rencana yang dia buat sangat ampuh untuk menyingkirkan gadis miskin itu!" Puji Rose terhadap mertuanya.


Daridulu Nyonya tua tidak pernah main-main pada rencana yang dia buat. Selalu berhasil sekalipun harus bertindak kejam. Dan lebih hebatnya lagi, Abram suaminya tak pernah mengetahui kejahatan ibunya sendiri. Itu mengapa, dia beruntung bisa mengambil hati mertuanya saat itu. Karena jalannya menjadi Nyonya di kediaman Lawson adalah campur tangan dari Nyonya tua.


"Mama benar. Rasanya aku tidak sabar ingin cepat-cepat pulang dan berkata pada nenek bahwa dia sangat hebat" pekik Rihanna girang. Terlihat tidak sabaran untuk memberitahu semuanya pada sang Nyonya tua.


"Tapi kita tunggu sampai langit berubah gelap. Baru kita kembali. Sesampai dirumah, Kau tau kan apa yang harus dilakukan selanjutnya?"


"Mama tak perlu khawatir. Kali ini Anna akan berusaha maksimal mungkin untuk membuat Papa percaya pada kita" Sahut Rihanna percaya diri. Kali ini dia pastikan tidak akan ada kesalahan.


"Bagus. Kau memang putri Mama!" puji Rose seraya tersenyum bangga.


Setelah itu, keduanya pun menunggu malam tiba. Lalu pulang sambil membawa air mata palsu untuk melanjutkan akting mereka dihadapan sang kepala keluarga.


***


Sementara di posisi Calya, dia sudah berlari ke tempat yang jauh dari gedung mall. Hingga langkahnya berhenti di tempat yang sepi. Dia berbalik untuk menghadap sekelompok pria yang mengejarnya.


"Kalian sungguh pekerja keras" Ujar Calya sambil tersenyum remeh.


Sekelompok pria yang berjumlah lima orang itu terlihat mengatur nafas. Lalu salah satu pria sebagai pemimpin menjawab ucapan Calya.

__ADS_1


"Aku akui kau berlari sangat cepat. Tapi hari ini kau sudah ditakdirkan untuk ikut bersama kami. Jadi patuhlah maka kami tidak akan menyakitimu!"


"Berapa nenek tua itu membayarmu? Aku bisa memberimu sepuluh kali lipat!" Calya mengabaikan perkataan pria itu dan mencoba untuk menawar. Bukan karena takut tak bisa mengadapi tapi dia hanya penasaran akan reaksi mereka seperti apa.


Maka sekelompok pria itu saling tatap dengan ekspresi terkejut . Tidak menyangka jika Calya mengetahui siapa yang menyuruh mereka. Namun mereka tak langsung tergiur dengan tawaran yang diberikan, mereka justru tertawa sangat keras.


"Haha...Meski kau mau membayar kami puluh kali lipat pun tak akan membuat kami mengurungkan niat untuk membawamu. Jangankan sepuluh kali lipat, kami bahkan bisa mendapat lebih dari itu jika kami menjualmu"


"Tidak mau, ya? kalau begitu kalian memilih untuk mati!" Ujar Calya dengan dingin.


"Sombong sekali. Kau hanya gadis kecil, bisa apa kau untuk melawan kami. Cepat seret dia!!" Teriak pemimpin itu pada keempat anak buahnya.


Namun menilai seseorang dari tampilan luar saja adalah kesalahan terbesar mereka. Saat mereka bergerak maju untuk membawa Calya. Mereka tidak sadar bahwa gadis kecil yang mereka remehkan melawan dengan gesit. Dan melumpuhkan mereka semua dalam hitungan detik.


"Ba-bagaimana bisa..." gumam pria pemimpin dengan tak percaya.


"Ternyata kemampuan kalian tidak sebanding dengan tubuh kalian" Ujar Calya dengan nada penghinaan. Meski mereka memiliki tubuh kekar ternyata level bertarungnya masih sangat jauh dibawahnya.


Bukk..Bukk..


Suara pukulan dan saling berjibaku hantam nampak mengisi kesunyian tempat itu. Serangan terus menerus datang dari kedua belah pihak. Lima lawan satu bukanlah pertarungan yang seimbang. Jelas itu adalah perbandingan yang sangat jauh. Akan tetapi bukan masalah besar bagi Calya. Satu persatu bisa dia ditumbangkan. Menunjukkan bahwa posisinya saat ini lebih unggul.


"Uh...sstt sialan sakit sekali!" Rintih salah satu pria sambil memegang sudut bibirnya yang robek.


Yang lainnya juga mengalami hal yang tak jauh berbeda. Memar parah dengan seluruh tubuh terasa kesakitan. Tapi sepertinya mereka belum mau menyerah.


"Tak disangka kau pandai bertarung. Tapi kami pasti tak akan melepaskanmu begitu mudah!" Ucap sang pemimpin sambil menahan perih.


"Huh, melepaskan kalian juga bukan keinginanku" Timbal Calya mendengus dingin. Dia juga bukanlah orang yang suka berbelas kasihan pada musuhnya.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan. Rugi sedikit juga tak apa, hanya membuatmu lecet dibeberapa bagian tubuh saja. Asalkan jangan menggores wajah cantikanya!" Setelah pimpinan selesai berucap dengan seringai dibibirnya, mereka serentak mengeluarkan pisau dari saku mereka masing-masing. Jarang mereka akan menggunakan senjata jika sedang menangkap mangsa. Namun lawan yang kuat saat ini mengharuskan mereka melakukannya.

__ADS_1


Bukannya takut, Calya tetap dalam keadaan tenang. Bahkan tak ada celah bagi ekspresi lain untuk melintas pada wajahnya. Selain datar dan dingin. Serta aura yang menakutkan.


"Ayo maju semuanya!!"


Calya kemudian kembali mendapat serangan dari kelima pria itu. Jauh lebih brutal dan tak berperasaan. Mereka tidak takut jika mangsa mereka akan mati. Mereka berpikir jika melumpuhkan Calya adalah perioritas utama. Masalah luka bisa diobati. Itupun jika mati, tubuhnya yang indah masih bisa menghasilkan uang.


Sayangnya, tak satupun diantara mereka bisa melukai Calya. Meski sudah menyerang dengan segenap kekuatan. Yang ada merekalah yang terluka akibat pisau mereka sendiri.


Arrkkhh


Arrkkhh


"Sudah lama aku tak bertarung seperti ini!" Kata Calya sambil tersenyum bengis menatap lawan yang masih tersisa satu. Bahkan seragamnya sudah banyak terkena cipratan darah dengan tangan yang menggenggam pisau milik salah satu pria. Saat ini dia terlihat seperti seorang pembunuh berantai.


Lalu pria yang tersisa hanya sang pemimpin seorang. Dia bergidik ngeri saat melihat keadaan anak buahnya yang sudah tak bernyawa. Lalu tatapannya beralih pada Calya. Tubunya dengan refleks bergetar dan sekuat tenaga dia menahannya. Dia masih tak percaya seorang gadis yang menjadi targetnya akan sangat kejam. Gadis itu bahkan tidak merasa bersalah telah membunuh banyak orang. Tetap tenang seperti sudah biasa melakukannya. Jika dia tidak mengalahkannya saat ini, maka dia juga akan terbunuh.


"Ja-jangan bergerak. Jika kau bergerak aku akan menembakmu"


Ternyata pria itu masih punya senjata lain. Dia memiliki pistol yang juga tersembunyi dalam bajunya. Calya berhenti bergerak saat pria itu mengangkat pistol dan mengarahkan padanya.


"Sudah ku bilang tak akan melepaskanmu. Kau sudah berani main-main denganku. Sekarang ikut aku atau aku akan menem--"


Dor!


Ucapan pria itu terpotong saat dari arah belakang terdapat peluru tiba-tiba melesat dan bersarang tepat dikepalanya. Membuatnya jatuh dan mati ditempat.


Bruk..


"Kalian..."


Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa, LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE DAN HADIAHNYA!!..HAPPY TERUS SEMUANYA!!


__ADS_2