
Happy Reading...
"Sekarang Anna, kau minta maaf sama kakakmu!"
Suara Abram yang lantang dengan intonasi amarah kembali menghiasi ruang tamu. Air mukanya belum juga memadam dari kobaran api yang menyala. Membuat ibu dan anak serta kepala pelayan itu menunduk ketakutan. Mereka tidak pernah melihat Abram yang semarah itu. Dan ini pertama kalinya.
Lalu orang yang menjadi penyebab kemarahan masih bersembunyi dibalik punggung sang ibu. Dengan tubuh gemetaran. Menumpahkan air mata yang belum juga ada habisnya. Ia masih belum percaya jika papanya akan memarahinya dan membentaknya gara-gara gadis miskin itu. Padahal dirinya selalu dimanja dan disayangi.
"Apa yang kau tunggu Anna! Ayo minta maaf!" Suruh Abram lagi. Sangat tidak sabaran melihat Rihanna belum juga merespon perintahnya.
Dalam hati Rihanna mengutuk Calya yang tersenyum sombong kearahnya. Sangat benci kenapa harus dirinya yang harus meminta maaf. Walaupun dirinya yang salah tapi dia tidak mau Calya terus menang darinya.
Rose juga tidak bisa menahan kesalnya saat mendengar perkataan suaminya. Tidak rela anaknya harus meminta maaf pada anak dari wanita yang menjadi saingannya dulu. Harga dirinya tetap akan merasa kalah meski wanita itu sudah tiada. Mungkin saja dirinya akan ditertawakan oleh wanita itu di atas sana. Tapi dia juga bingung, apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan niat suaminya. Melihat marahnya Abram, apa dia akan berani. Baru bicara sebentar saja dirinya dibentak. Bagaimana jika dia memohon untuk Rihanna?
"Papa tidak ingin terus mengulang perkataan papa sendiri. Lebih baik kau cepat mengerjakan apa yang papa perintahkan sebelum papa semakin marah dan menghukum mu!" Untuk ketiga kalinya Abram kembali berbicara. Semakin emosi ketika Rihanna tidak mendengarkannya.
Karena Rihanna merasa takut dengan ancaman papanya. Ia akhirnya maju sedikit untuk berhadapan dengan Calya. Tanpa menatap Calya dia membuka mulutnya.
"Aku minta maaf" berkata dengan pelan namun masih bisa didengar oleh semuanya.
"Minta maaf yang benar! Lihat orangnya, kau yang seperti itu terkesan tidak tulus!" Tandas Abram. Belum puas dengan cara Rihanna minta maaf.
"Tapi pa.." Rihanna mau protes tapi tidak jadi saat melihat tatapan tajam papanya. Maka dengan terpaksa dia menatap lurus Calya lalu kembali meminta maaf. "Aku minta maaf sudah membuat kakak pulang sendiri. Anna janji tidak akan melakukannya lagi" Memelas tapi kedua tangannya meremas kuat disamping pahanya.
Kilatan puas dan kemenangan semakin terpancar di wajah Calya. Merasakan kemenangan lagi melawan keduanya adalah momen paling bahagia dalam hidupnya. Seakan rasa sakit mamanya dulu satu persatu terbalaskan.
"Iya tidak apa-apa adik. Lain kali kau tidak boleh seperti itu." Ujarnya dengan senyum di bibir. Tapi jelas itu adalah senyum mengejek untuk Rihanna dan ibunya.
Maka Rihanna dengan cepat melengos menundukkan kepalanya. Menyembunyikan rasa kesalnya. Sama halnya dengan Rose yang sudah gatal ingin mencabik-cabik tubuh Calya. Tapi harus ditahan karena ada suaminya.
__ADS_1
"Sayang, Anna sudah minta maaf. Kenapa kita tidak sudahi semua ini. Kasian juga Calya butuh istirahat!" Ucap Rose mencari alasan. Ia takut dirinya tidak bisa menguasai diri dan menerjang Calya karena wajah sombongnya yang terus mengejek itu.
Disaat bersamaan suara sepatu dari langkah seseorang terdengar memasuki ruang tamu. Semua menoleh ke arah pintu masuk. Dan ternyata itu adalah sepatu milik Nyonya tua yang baru pulang dari acara pertemuannya dengan para teman sosialitanya.
"Loh Bram kau sudah pulang? Bukankah kau ada lembur?" Bertanya saat pandangannya jatuh pertama pada putranya. Belum memperhatikan sekitar.
"Pekerjaan dikantor sudah selesai dengan cepat. Jadi Bram langsung pulang saja" Timbal Abram dengan seadanya.
Nyonya tua mengangguk paham. Barulah pandangannya diedarkan ke yang lain. Matanya melebar saat melihat air mata hampir mengering di pipi cucu kesayangannya. Dengan panik dia menghampiri cucunya lalu berkata dengan gusar.
"Anna kau habis menangis? Siapa yang menindasmu? Beritahu nenek, biar nenek balaskan!"
Tak ada sahutan dari Rihanna. Dirinya tidak berani mengadu karena masih ada papanya. Hanya muka sedih dan mengiba yang bisa dia perlihatkan. Untuk memberitahu neneknya jika dia baru saja ditindas.
"Rose kasih tau ibu, siapa yang membuat cucu kesayanganku menangis seperti ini?" Karena tidak jawaban dari Rihanna maka dia beralih pada Rose. Namun Rose hanya diam tidak berani mengatakan apa-apa.
"Ini pasti ulahmu, bukan? Ayo ngaku! Kau sudah apakan cucu kesayanganku sampai dia menangis!" Melotot tajam.
"Calya tidak pernah melakukan apapun. Anna sendiri yang bersalah dan menangis karena aku menegurnya" Bukan Calya yang menjawab, melainkan Abram yang menyela dan membela Calya.
Nyonya tua menatap putranya tidak senang, "Kesalahan apa yang cucuku perbuat? Daridulu Anna selalu jadi cucuku yang berbakti, ini pasti dia yang berulah lebih dulu!" Tudingnya pada Calya sambil memberikan tatapan sinis.
Namun Calya tidak memberikan reaksi apapun. Tidak marah atau tersinggung meski dituduh untuk ke kedua kalinya. Hanya ada muka datar yang memberikan rasa jengkel pada Nyonya tua.
"Ibu, kesalahan Anna adalah dia pulang ke rumah lebih dulu dan meninggalkan Calya di sekolah sendirian" Jawab Abram sambil menekan setiap kata.
Setelah mendengar itu, bukannya menyalahkan Rihanna, Nyonya tua malah semakin membela. "Hanya hal sepele kau sampai membesar-besarkan masalah, dan membuat cucuku menangis seperti ini. Apa kau masih menganggapnya putrimu!" Mencibir.
"Hal sepele ibu bilang? Bagaimana bisa ibu mengatakan itu sepele saat Anna sengaja meninggalkan kakaknya di sekolah sendirian! Apa ibu lupa jika Calya baru pertama tinggal di kota ini! Bagaimana jika seseatu yang tidak diinginkan terjadi padanya! Siapa yang akan menolongnya!!" Seru Abram dengan emosi kembali naik. Tidak habis pikir dengan ketiga wanita ini yang terus menyalahkan putri sulungnya.
__ADS_1
"Tapi sekarang tidak terjadi apa-apa dengannya, kan? Buktinya dia masih hidup!" Nyonya tua mencela tanpa merasa takut. Tidak seperti ibu dan anak disampingnya yang terdiam karena rasa takut daritadi.
"Ibu cukup!!" Bentak Abram membuat Nyonya tua dan yang lainnya terkejut. "Berhenti membela Anna yang salah! Apa ibu tidak sadar jika Calya juga adalah cucumu! Kau harusnya bersikap adil, Bukan terus memanjakan Anna dengan cara seperti ini! Jika ibu terus memanjakannya dia akan semakin bertindak sesukanya!!" Marah pada Nyonya tua.
"Kau membentak ibu demi anak ini?" Ikut berteriak dan menatap marah putranya. Keadaan yang tadinya sudah mencekam tambah semakin mencekam akibat ulah Nyonya tua.
Abram menggertakkan giginya saat ibunya belum juga paham dengan ucapannya,"Ibu aku bilang cukup! Aku tegaskan sekali lagi berhenti menganggap putri ku Calya adalah orang asing dirumah ini! Jika kalian masih tidak menganggap Calya bagian dari keluarga ini maka aku tidak akan pernah ragu mengeluarkan kalian dari rumah ini" Berkata dengan dingin yang menusuk.
Selain Calya, semuanya tertegun dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Terutama Nyonya tua yang mulai ketakutan melihat kemarahan putranya. Aura intimidasinya mampu menekan dirinya untuk tidak berbuat apapun lagi.
Setelah menegaskan kedudukan Calya pada semuanya. Abram menatap putri sulungnya itu dengan sorot kelembutan. Berubah dalam sekejap.Sorot mata yang selalu dia tunjukkan untuk istri pertamanya seorang.
"Pergilah ke kamarmu! Kau pasti capek. Tidak perlu turun untuk makan malam nanti, biar Pak Lan yang akan mengantarnya ke sana. Hari ini papa benar-benar minta maaf padamu karena tidak bisa menjadi papa yang baik untukmu. Papa sudah membuatmu dirimu menderita tinggal disini" lirihnya. Dia sangat merasa bersalah pada Calya dan juga pada mantan istrinya.
Calya seketika terenyuh. Hatinya tersentuh mendengar pengakuan papanya. Rasa hangat menjalar saat papanya ternyata begitu menyayanginya.
"Papa tidak perlu minta maaf. Bagi Calya, papa adalah yang terbaik. Jadi papa tidak perlu merasa bersalah." Ujar Calya sambil menarik kedua sudut bibirnya menjadi senyum yang tulus.
Abram tertegun. Dengan cepat dia meraih tubuh Calya itu untuk dipeluk. Bahagia membuncah di dadanya. Dan Calya pun ikut membalas pelukan. Suasana diantara keduanya akan sangat mengharukan jika saja tidak ada tiga orang yang memberikan tatapan benci.
"Pak Lan segera siapkan makan malam. Setelah itu jangan lupa antarkan ke kamar nona pertama!" Perintah Abram setelah melepaskan pelukannya.
" Baik tuan" Sahut Pak Lan yang daritadi diam. Dia segera bergegas ke dapur dengan senyum tipis menyertainya. Merasa bahagia melihat tuan sangat menyayangi nona pertama. Itu akan menjadi tameng yang kuat untuk nona pertama jika ditindas lagi.
"Ya udah Calya pergi ke kamar dulu. Papa juga jangan lupa istirahat!" Kata Calya dan mendapat anggukan dari papanya. Sebelum memutar balik tubuhnya untuk pergi, ia menyempatkan diri untuk melirik ketiganya. Memberikan kilatan mengejek jika dirinya lah yang menang.
Karena mereka juga selalu mengarahkan tatapannya pada Calya, jadi mereka melihat lirikan yang mengejek penuh kemenangan itu. Dan kebencian semakin tumbuh di hati mereka.
Bersambung~
__ADS_1