
Happy Reading...
Setelah mengambil baju ganti untuk Serina, Calya hendak kembali ke UKS. Namun saat di perjalanan menuju kesana, tiba-tiba saja ada yaang menarik tangannya ke ruangan kosong. Lalu terdengar suara pintu yang dikunci dan di susul suara laki-laki yang dia kenal.
"Hari ini kau tidak bisa lari lagi, nona sangar"
Maka dia pun kembali sadar sepenuhnya. Kemudian mendongak untuk memastikan bahwa dugaannya benar. Dan ternyata memang benar, laki-laki itu adalah Nathan Evander. Senior menyebalkan yang saat ini sedang tersenyum padanya.
"Ada apa?" Bertanya dengan datar dan tenang. Tak lupa memberikan tatapan tajam untuknya.
Mendapat reaksi yang tidak diharapkan sama sekali membuat Nathan berdecak kesal. Bagaimana tidak, dari kemarin dia sudah uring-uringan lantaran panggilannya tidak dijawab. Tapi gadis ini malah dengan santainya bertanya ada apa. Bahkan tak ada pun rasa bersalah pada wajahnya itu. Apakah dia yang terlalu berharap atau memang gadis ini yang terlalu kejam.
"Tidakkah kau merasa bahwa kalimat pertama yang seharusnya keluar bukan pertanyaan?" Celetuk Nathan dengan nada tidak senang.
"Apakah ada yang salah?" Calya balik bertanya dengan mengangkat tinggi sebelah alisnya. Ini sudah kedua kalinya dia dibuat terheran-heran oleh dua orang yang berbeda. Sebelumnya laki-laki cerdas yang pura-pura bodoh dan sekarang laki-laki yang tidak masuk akal.
Nathan menghela nafas panjang lalu berkata panjang lebar, "Kau sudah mengabaikan semua panggilanku dari kemarin. Apakah kau tidak berniat menjelaskan? Bukankah kita masih ada kesepakatan yang belum terselesaikan. Mau sampai kapan kau akan menghindar" Dengan tatapan yang tak kalah tajam.
Calya terdiam sejenak dengan raut datarnya. Setelah itu membalas perkataan Nathan dengan kalimat menohok, "Aku tidak pernah mengecek ponsel karena ku pikir bukan orang penting"
Jleb.
Nathan langsung memegang dada sebelah kirinya. Anak panah seolah telah menancap sempurna di jantungnya. Menembus ke titik terdalam hingga menyebabkan rasa sakit yang teramat. Seumur-umur baru pertama kalinya ada orang yang menganggap keberadaannya tidak penting.
"Nona tidakkah menurutmu bahwa perkataanmu itu terlalu pahit?" Tanya Nathan sambil tersenyum palsu.
"Kau bisa tambahkan gula supaya manis" Jawab Calya acuh tak acuh.
__ADS_1
Kretak.
Kali ini suara hatinya yang patah. Hancur berkeping-keping menjadi serpihan tak berguna. Sepertinya hatinya salah alamat karena menaruh perasaan pada gadis yang memiliki mulut tajam. Perlahan-perlahan dia pasti akan merasakan rasanya patah hati yang sesungguhnya.
"Sekarang bisakah aku keluar?" Tanya Calya datar saat mengingat masih ada Serina yang menunggu di UKS.
Nathan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Dia harus tetap tenang dan tidak boleh emosi.
"Kau mau pergi kemana? Urusan kita belum selesai! Dan itu baju untuk siapa?" Nathan bertanya sambil melirik baju yang dibawa Calya.
"Kalau begitu selesaikan! Kau ingin apa dariku? katakan sekarang!" Perintah Calya dengan pandangan tajam. Bila dipikir-pikir dia menyesal telah membuat kesalahan yang membuatnya terjebak dengan laki-laki ini.
Nathan terdiam sebentar. Sebenarnya dia sudah punya apa yang dia inginkan. Tapi dia dia sengaja mengundur waktu untuk menunggu momen yang tepat untuk mengatakannya. Dan dia juga masih ingin mengerjai nona sangar ini. Bukan apa, tapi dia senang melihat wajah kesalnya itu. Semacam hiburan menarik untuknya.
"Aku akan katakan bila kau ikut denganku nanti setelah pulang sekolah" Menatap dalam garis wajah Calya yang tampak mempesona.
"Hari ini tidak bisa. Ada urusan penting!" tolak Calya langsung. Dia masih harus bertemu Kai dan Key untuk membahas tentang perintah yang dia berikan semalam. Dia penasaran apakah mereka berhasil atau tidak. Sekalian untuk membicarakan lebih lanjut tentang kedatangan mereka di kota ini.
"Sangat penting dan tak bisa ditunda!" Baginya tidak ada yang penting selain membalas Nyonya tua saat ini.
Melihat keseriusan pada diri Calya membuat Nathan tak bisa berkata apa-apa. Sepertinya memang ada urusan yang sangat penting. Tapi kenapa rasanya tidak rela jika Calya tidak bisa pergi dengannya. Ingin sekali dia memaksa, tapi dia takut jika memaksa gadis ini akan semakin kabur darinya. Dan rencana yang sudah dia susun dikepalanya tidak akan terealisasikan. Maka lebih baik untuk saat ini dia mengalah lebih dulu.
"Baiklah kita tidak pergi hari ini. Tapi besok kau harus ikut denganku, bagaimana?"
Calya terdiam sejenak sambil berpikir. Mungkin lebih baik dia mengiyakan saja. Daripada dia tidak bisa pergi dan membuat Serina sakit karena kelamaan menunggunya.
Maka Calya menghela nafas berat lalu mengangguk sebagai jawaban. Dan Nathan seketika tersenyum lebar. Semakin keluar aura ketampanannya.
__ADS_1
"Kalau begitu besok kau tidak dizinkan untuk kabur lagi" Nathan mendekatkan mulutnya ke telinga Calya lalu kembali berkata dengan suara berbisik, "Jika kau berani kabur lagi. Aku akan datang mencarimu sampai kerumahmu"
Calya mematung ditempat dengan nafas yang tertahan. Tiba-tiba dia merasakan gejolak aneh saat deru nafas Nathan terasa dekat ditelinganya. Namun secepatnya dia menguasai kesadarannya dan mendorong pelan tubuh Nathan agar menjauh.
"A-aku tidak akan kabur. Dan jangan pernah terlalu dekat seperti tadi. Jika tidak aku akan memukulmu!" Ancam Calya garang sambil melotot tajam. Setalah itu buru-buru berbalik membuka pintu dan keluar darisana.
Meninggalkan Nathan yang melongo sambil menatap kepergian Calya yang sekilas. Akan tetapi pada detik berikutnya dia terkekeh geli.
"Ternyata nona sangar bisa malu juga. Sangat imut sekali. Kekeke...."
Sementara di luar, Calya berjalan tergesa-gesa menuju UKS. Sampai disana dia langsung menutup pintu dengan kasar. Membuat Serina yang sedang meringkuk di tempat tidur terkejut.
"Ca-calya kau kenapa?" Tanya Serina bingung ketika Calya menghampirinya.
"Aa tidak ada apa-apa" Timbal Calya gesit.
"Lalu kenapa wajahmu memerah?" Serina memperhatikan wajah dan telinga Calya yang sedikit memerah. Jadi, meskipun raut datar mendominasi wajah Calya tapi dia masih bisa menangkap ekspresi lainnya. yaitu malu.
Calya berdehem sebentar lalu berkata, "itu...Ah lupakan. Ini baju ganti untukmu. Sekarang cepatlah ganti atau kau akan sakit" Mengalihkan pembicaraan sambil menyerahkan baju gantinya pada Serina.
"Tapi kau..."
"Sudah tak ada tapi-tapian cepat ganti sana!" Memotong perkataan Serina sambil mendorong pelan tubuhnya untuk segera menuruti perkataannya.
Setelah Serina tak terlihat lagi, Calya memijat pelipisnya, "Sialan! Ini semua gara-gara si Evander menyebalkan itu!" Rutuknya pelan.
Tak ingin memikirkannya lagi, Calya memilih mencari kesibukan agar dia melupakan kejadian tadi. Maka dia pergi mencari kotak obat untuk mengobati luka Serina nanti.
__ADS_1
Bersambung~
Jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA...HAPPY TERUS SEMUANYA!!!