
Happy Reading...
Nilai tambahan. Adalah hal yang sulit didapatkan saat pelajaran pak Leo. Tapi itu dengan mudahnya di dapatkan oleh Calya di hari pertama Ia masuk kelas. Bisik-bisik tetangga kembali terjadi. Bukan membicarakan keburukan. Melainkan memberikan pujian akan kecerdasan Calya. Selain cantik ternyata juga cerdas, itulah yang mereka katakan. Sangat berbeda sekali dengan Rihanna. Mulai membandingkan, bau-bau gosip tercium. Kenapa Rihanna tidak pintar seperti saudaranya? Mereka kan saudara kenapa jauh sekali perbedaannya. Rihanna juga tidak secantik Calya. Apa benar mereka adalah saudara?
Di mejanya, Rihanna tidak tuli. Pendengarannya terpasang dengan jelas. Jadi tahu apa yang mereka bicarakan. Meski mereka berbisik, tapi entah sengaja atau tidak suaranya sengaja diperbesar hingga di dengar oleh orangnya. Ditambah lirikan mereka yang terlihat merendahkannya. Percaya tidak emosi sudah menguasai dirinya. Geraman kesal yang tertahan dan pulpen yang menjadi pelampiasan. Benar-benar telinganya sudah panas mendengar mereka belum berhenti. Hingga tanpa sadar Ia berteriak.
"Bisa diam tidak!!"
Hening. Semua hening. Pak Leo yang menulis di papan sambil menjelaskan ikut diam. Berbalik dan menghadap Rihanna. Semua mata tertuju padanya. Membuat Rihanna sadar atas tindakannya barusan.
Bodoh kau Anna! Bagaimana kau berteriak tiba-tiba? Aaa habis sudah dirimu sekarang! Rihanna merutuki diri sendiri dalam hati.
"Rihanna jelaskan maksud teriakan mu itu!" Gleg. Rihanna memandang takut Pak Leo yang melotot tajam padanya. Gelagapan tidak tau harus memberi alasan apa. Hanya kata bodoh yang bisa menggambarkan dirinya saat ini.
"Rihanna kenapa diam?! Ayo jelaskan apa maksudmu berkata seperti itu!" Pak Leo kembali bersuara keras. Terdengar menggema pada ruangan kelas.
"Ma,ma,maafkan sa,saya pak.." Hanya itu yang bisa Rihanna katakan. Itupun sulit sekali mengeluarkannya karena takutnya terhadap tatapan intimidasi dari Pak Leo.
Pak Leo mendengus kasar, "Hari ini tidak hanya tidak bisa menjawab. Tapi kau sudah berani berteriak di jam saya! Kau mau nilaimu tidak lulus?" Rihanna langsung menggelengkan kepala.
"Sana! Lari 20 putaran di lapangan!" Hukuman dijatuhkan untuk Rihanna. Tidak bisa ditolak maka harus diterima dengan lapang dada. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menunduk ke luar kelas. Tubuhnya lesu seketika mendengar hukuman lari sebanyak itu.
"Kita lanjutkan! Tidak ada yang boleh main-main lagi, jika tidak saya hukum dan tandai raport kalian!" Semua kembali fokus. Tidak ada yang berani main-main lagi. Serius mendengarkan meski paham atau tidak.
Sementara Calya, terlihat puas dengan apa yang di alami Rihanna. Tak perlu mengeluarkan tenaga maka Ia dapat menyaksikan saudaranya menderita. Lari dengan putaran sebanyak itu, dirinya yakin jika Rihanna tidak akan kuat. Tubuh yang terlihat lemah itu pasti akan pingsan saking banyaknya putaran. Sungguh malang kau adik bodoh.
***
Jam pelajaran sudah berakhir. Semua kelas sedang menikmati waktu istirahat. Calya pergi mencari tempat yang tenang dan sepi. Hingga langkahnya membawanya ke taman sepi di belakang sekolah. Tak sengaja pandangannya jatuh pada pohon besar yang terlihat teduh dan nyaman. Ia pun menyeret kakinya ke sana.
__ADS_1
"Lumayan" gumamnya puas sambil mendudukkan diri dengan sandaran pohon itu. Ia mengambil earphone untuk mendengarkan musik. Terasa menenangkan.
Namun saat asiknya Calya bersandar sambil menutup mata. Tiba-tiba Ia merasakan seseorang berdiri di depannya. Membuka mata, dan pertama yang dia lihat adalah sepatu. Lalu mendongak untuk melihat siapa. Dia mengangkat alis ketika ada cowok tampan berdiri dengan raut dingin.
"Ada apa?" Tanyanya datar. Mengganggu saja, dengusnya dalam hati.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk duduk disini?" Tanya cowok itu tanpa nada juga.
Alis Calya berkerut bingung, "Memang kenapa?" Apa pria ini bercanda. Dia ingin duduk dimanapun kenapa harus minta izin dulu.
"Disini adalah tempatku!" Klaim cowok itu dengan ringannya.
Mendengus remeh, "Dimana?" Tanya Calya ambigu. Giliran cowok itu berkerut bingung.
"Apanya yang dimana?" Bertanya balik.
"Tulisan yang mengatakan tempat ini adalah tempatmu!" Raut dingin itu semakin dingin. Terlihat tidak senang mendapati Calya mengejeknya.
"Lalu? Pada akhirnya aku yang duduk disini lebih dulu!" Berkata santai tidak peduli tatapan tajam dari sang cowok. Malahan dirinya terlihat menantang.
Sang cowok terlihat marah meski tertutupi dengan raut dinginnya. Namun dari sorot matanya yang tajam jelas sekali Ia tak rela tempat yang biasa untuk menenangkan diri direbut oleh gadis menyebalkan yang sayangnya cantik. Dan baru pertama kalinya ada gadis yang berani melawannya seperti ini. Biasanya mereka akan ketakutan lebih dulu saat Ia hanya memberi tatapan dingin saja. Lalu siapa gadis ini? Kenapa baru pertama Ia melihatnya?
"Kau marah?" Calya bertanya. Sang cowok hanya diam. "Huh, kekanak-kanakan!" ejeknya.
"Apa kau bilang? Aku? kekanak-kanakan!" Ujar sang cowok tidak terima. Memberikan tatapan dingin yang menusuk. Tapi Calya masih tetap dengan tatapan datarnya tanpa mau merespon lagi.
Melihat tidak ada tanggapan atau reaksi takut dari gadis di depannya. Sang cowok akhirnya mencoba menarik nafas pelan lalu menghembuskannya. Mencoba untuk tetap pada ketenangannya dan tidak boleh terpancing. Emosi bukanlah gayanya. Ia harus tetap stay cool.
"Apa yang kau lakukan?" Calya memincingkan mata tak suka saat sang cowok tiba-tiba duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Kenapa? Aku juga mau duduk, tidak boleh?" Tanya sang cowok dengan nada menyebalkan.
"Kau bisa duduk di tempat lain! Kenapa harus disini?!" Sinis Calya. Sekarang dirinya yang terpancing emosi.
"Tidak ada larangan jika aku mau duduk dimana saja! Lagipula tempat ini bukan milikmu kan?" Untuk pertama kalinya Ia berbicara banyak. Dan untuk pertama kalinya Ia bersikap menyebalkan. Jauh dari definisi dirinya yang cool.
Calya berdecak kesal, "terserah kau!" memilih untuk tidak peduli dan menutup mata kembali. Jika ia mengalah dan pindah maka cowok ini pasti akan merasa menang. Tidak akan dia biarkan itu.
Tapi tanpa Calya sadari, Sang cowok tersenyum puas. Sangat tampan sekali. Jika orang lain lihat maka pasti akan meleleh seperti coklat. Tampangnya yang dingin saja digilai cewek. Apalagi sekarang ini Ia sedang tersenyum. Mungkin pingsan sudah para cewek di dunia. Wkwkwk
Lama mereka terdiam, sang cowok membuka suara.
"Siapa namamu?" Tak ada tanggapan dari Calya. Tapi sang cowok tidak menyerah. Ia mencari name tag yang terpasang. Karena setiap siswa wajib memakainya.
"Jadi namamu Calya Lawson!" Setelah membaca name tag milik Calya. "Tunggu! Lawson? Kau siapanya tuan Lawson? Putrinya?" Lagi-lagi tak ada tanggapan.
Entah apa yang merasuki sang cowok. Mulutnya gatal ingin berbicara terus. Sangat penasaran dengan gadis ini. Jika sahabatnya tau Ia seperti ini. Mungkin orang itu akan menjatuhkan rahangnya.
"Aku Nathan Evander! Kau bisa memanggilku Nathan!" Memperkenalkan diri sendiri tanpa diminta.
Calya membuka matanya. Kesal juga dengan cowok ini. "Tidak ada yang bertanya!" Meski agak sedikit terkejut mendengar nama belakangnya. Evander. Keluarga terkaya di negara ini. Jadi cowok ini adalah tuan muda Evander.
Cowok bernama Nathan itu tersenyum tipis, senang di respon walau nadanya ketus. Ia merasa menikmati sekali raut wajah Calya yang kesal. Seperti menghibur dirinya.
"Kau kelas berapa?"
Habis sudah kesabarannya. Kenapa cowok ini berubah cerewet. Mana tampang coolnya yang tadi. Benar-benar menyebalkan, gerutunya dalam hati. Tak ingin meladeni cowok ini, Ia melihat jam yang bertengger di pergelangan tangannya. Sudah waktunya Ia pergi, jam masuk sebentar lagi. Tanpa berkata apapun Ia berdiri dan beranjak meninggalkan cowok menyebalkan itu.
"Hey kau mau kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku!" Dan tak tau malunya Nathan berteriak hingga membuat Calya mendengus kesal. Namun tak diketahui Nathan karena Calya membelakangi. Justru Ia melebarkan senyumnya saat punggung kecil itu menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Calya ya? Kita pasti akan bertemu lagi!"
Bersambung~