
Happy Reading...
Keesokan paginya, matahari perlahan terbit menerangi setiap sudut yang dapat dijangkau. Menggeser gelap yang sudah waktunya digantikan. Aktivitas kembali berlanjut dan berjalan sebagaimana mestinya. Tentu saja dengan suasana hati yang harus lebih baik dari kemarin.
Akan tetapi itu tidak berlaku bagi Abram. Dia masih diselimuti awan hitam. Mendung tidak ada tanda kecerahan. Kejadian kemarin ternyata masih menyimpan sisa emosi dimana suasana pagi belum bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Ketika turun sarapan pun, tidak ada patah kata yang keluar. Hanya diam saja.
Maka yang lain juga ikut terdiam. Selain Calya, mereka merasa ada suasana canggung yang dirasakan. Tidak biasanya sang kepala keluarga akan menciptakan suasana suram. Bahkan nyonya tua yang mengganggap dirinya selalu bisa mengendalikan semua termasuk putranya, kini merasa tidak berkutik saat melihat putranya mulai menunjukkan perlawanan. Sedikit rasa takut perlahan singgah dihatinya. Takut jika suatu hari putranya tidak patuh lagi padanya. Karena kekuasaan Lawson tetap berada di tangan putranya. Sedangkan dirinya tidak memiliki apa-apa, selain statusnya sebagai ibu yang dihormati dan dipatuhi.
Saat Abram sudah selesai dengan sarapannya. Terlihat nyonya tua melirik sang menantu. Maka dengan cepat Rose merespon dengan anggukan.
"Sayang tunggu sebentar" ujar Rose memecah keheningan. Abram menoleh dan mengurungkan niatnya yang sudah mau beranjak meninggalkan meja sarapan.
"Hmm.." Sahut Abram hanya dengan gumaman. Tampak dia sedang menatap lurus ke arah sang istri dengan tatapan datar.
"Sayang, apa kau masih marah pada kami? Kau tidak bicara daritadi?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Rose tidak mendapat respon apapun dari Abram. Dan itu artinya benar dia masih marah.
Maka Rose kembali berkata, "Sayang ku mohon jangan marah lagi. Kami bertiga sadar telah membuat kesalahan kemarin dan kami minta maaf untuk itu" memasang mimik yang benar-benar bersalah. Lalu beralih menatap Calya yang juga sedang menatap datar.
"Calya, mama minta maaf. Mama terlalu memanjakan Anna, sampai buta untuk melihat kebenaran. Lain kali mama akan memperlakukan kalian dengan adil seperti putri mama sendiri" Sambung Rose dengan memelas meminta belas kasihan.
"Nenek juga kemarin bersalah. Bagaimana pun darah putraku tetap mengalir dalam dirimu. Tak seharusnya aku mengabaikan keberadaanmu sebagai cucuku" pengakuan kembali terdengar. Namun dari mulut yang berbeda. Itu adalah suara milik Nyonya tua.
"Sebenarnya ini semua adalah kesalahan Anna. Karena rasa cemburu melihat papa lebih menyayangi kakak membuat ku marah dan bertindak bodoh. Pa ku mohon jangan marah lagi pada Anna. Anna janji aku menerima kakak seperti kakak kandungku"
__ADS_1
Tak sampai disitu, Rihanna juga ikut meminta maaf. Menunjukkan dirinya yang paling bersalah. Sampai-sampai Abram dibuat tertegun mendengar kekompakan tiga wanita itu dalam mengakui kesalahan. Mulai mendorong hatinya untuk luluh. Bahkan ekspresinya jadi lebih baik di bandingkan sebelumnya.
Tapi tidak dengan Calya. Bukan merasa terharu atau senang seperti papanya. Dia justru tetap memasang wajah tenang tanpa ekspresi. Tidak percaya semudah itu pada mereka yang tiba-tiba berubah menjadi baik. Kebencian yang sudah menyatu dengan tulang, mana mungkin hilang dalam semalam. Kecuali mereka memiliki maksud dibalik semua ini.
cih apapun yang kalian rencanakan aku tidak akan pernah terperangkap ke dalam jebakan tikus kalian. Tapi tak apa...aku akan coba mengikuti permainan kalian. Dan pastinya akan menyenangkan bermain dengan kalian, Batin Calya menggebu sambil menyeringai tipis. Sungguh tidak sabar menantikan apa yang direncanakan mereka.
"Kalian bersungguh-sungguh dengan apa yang kalian katakan?" Tanya Abram untuk memastikan. Menatap satu persatu mereka bertiga.
"Iya Bram, kami bersungguh-sungguh, tidak mungkin kami bercanda. Setelah merenungkan semua tadi malam. kau benar, bahwa kami memang salah karena tidak mau mengakui Calya bagian dari keluarga ini. Padahal kita adalah keluarga tak seharusnya bertengkar bukan?" Jawab Nyonya tua serius.
"Yang dikatakan ibu benar, sayang. Mulai hari dan seterusnya kami akan memperlakukan Calya bagian dari keluarga ini" Timbal Rose.
Awan mendung tergeser sepenuhnya oleh cerahnya sinar mentari pagi. Luapan bahagia dan kelegaan terpancar di wajah Abram. Dalam hati dia bersyukur, Apa yang dia harapkan tentang keluarga harmonis akhirnya terjadi. Tanpa ada pertengkaran dan ketegangan. Jika seperti ini, dirinya tidak perlu khawatir lagi tentang putrinya Calya yang tidak bisa mendapatkan keluarga sempurna. Karena ibu, istri dan putri bungsunya sudah memiliki kesadaran dan mau menerima Calya di hidup mereka.
"Aku senang sekali mendengarnya. Ke depannya kita pasti akan menjadi keluarga yang harmonis. Terimakasih kalian sudah mau mengerti dan menerima Calya" Kata Abram disertai senyuman.
Meski begitu, senyum yang nampak tulus sekalipun. Tak mampu membuat Pak Lan yang berdiri tak jauh bersama pelayan lainnya percaya. Dia sudah mengenal Nyonya tua sejak lama, tidak mungkin secepat itu menyukai seseorang jika sudah benci. Sama halnya ibu Calya dulu. Berpura-pura menjadi mertua yang penyayang di depan putranya. Nyatanya saat tuan tidak ada, ibu Calya dihina dan disiksa habis-habisan. Dari sekian banyaknya pelayan dirumah ini, tetap hanya ibu Calya yang harus menyelesaikan semuanya. Kami sebagai pelayan di ancam dan tidak dibiarkan untuk mengadu. Dan sekarang dia yakin, jika perubahan sikap nyonya tua ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi apa? dia hanyalah pelayan, apa boleh terlalu ikut campur?
Pak Lan pun melirik Calya. Pandangan aneh diberikan olehnya saat melihat Calya yang tenang dengan ekspresi datarnya. Tidak ada curiga atau merasa aneh pada perubahan sikap mereka. Ntah apa yang dipikirkannya, namun mampu membuat ke kekhawatiran Pak Lan senyap tergantikan dengan perasaan tidak karuan.
"Calya kau mau kan memaafkan mereka?" Abram kembali membuka suara dan beralih pada putri sulungnya yang daritadi terdiam.
"Iya pa, Calya maafkan" jawab Calya singkat dengan senyum tipis. Tidak mau kalah dalam beradu akting dengan trio rubah itu.
__ADS_1
"Syukurlah. Papa senang melihatmu tumbuh tidak hanya menjadi gadis cantik tapi hatimu juga sangat baik" Puji Abram dengan bangga. Di samping, Rihanna merasa terbakar mendengarnya. Seolah tidak suka tapi tidak berani menunjukkannya secara terang-terangan.
"Baiklah Bram ini sudah semakin siang, mereka bisa terlambat sekolah nanti. Kau juga harus segera ke kantor" Ujar Nyonya tua menyela. Menyadari jika cucunya Rihanna nampak menahan kesal.
Abram melirik arlojinya, "Ibu benar. Saking senangnya aku jadi lupa waktu" katanya.
"Tidak apa-apa, kita bisa lanjut ngobrol nanti setelah kau pulang. Rose ayo antarkan mereka ke depan" Suruh nyonya tua.
"Baik bu. Ayo anak-anak, mama antar kalian ke depan" Rihanna maupun Calya beranjak dari kursinya lalu pergi bersama Rose.
Ada kehangatan menyusup di dada Abram melihat pemandangan itu, maka ia menoleh pada nyonya tua dan berkata, "Ya udah bu, Bram juga berangkat ke kantor" pamitnya.
"Ya. Hati-hati di jalan" Menatap kepergian putranya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kalian bisa membersihkannya" Sebelum nyonya tua ikut meninggalkan meja makan, dia memberi perintah pada pelayan untuk membersihkannya.
"Baik" sahut para pelayan.
Disisi Rose, selang beberapa menit setelah mengantar suami dan anaknya. Dia kembali masuk dan pergi menemui mertuanya.
"Ibu sudah mempersiapkan semuanya. Kau hanya perlu melakukan sisanya seperti yang sudah kita rencanakan" Ujar Nyonya tua. Saat ini hanya ada mereka berdua.
"Ibu tenang saja. Serahkan semuanya pada menantumu ini" Jawab Rose dengan senyum licik. Disusul oleh Nyonya tua yang tak kalah licik.
__ADS_1
Bersambung~
Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA...HAPPY TERUS SEMUANYA!!