
Happy Reading...
"Calya!!"
Sontak semua yang disana mengikuti arah pandang Abram. Lalu serentak terkejut saat melihat Calya sedang berdiri disana. Bahkan tiga wanita itu sudah melotot sempurna dengan tidak percayanya. Berbeda dengan Abram, ketika Calya berjalan mendekat dia langsung memeluk putri sulungnya itu.
"Calya akhirnya kau pulang juga! Papa sangat khawatir padamu. Apa kau baik-baik saja?" Abram melepaskan pelukannya sambil memastikan tidak ada luka pada Calya.
"Maaf telah membuat kalian khawatir. Tapi Calya baik-baik saja!" Sahut Calya sambil melirik tiga wanita itu. Dia memberikan tatapan mengejek tanpa sepengetahuan mereka.
Mendengar hal itu, Abram dan para pelayan sama-sama menghembuskan nafas lega. Kecemasan mereka seolah menguap tak bersisa. Tergantikan dengan rasa senang bahwa Calya baik-baik saja.
Namun tidak dengan tiga orang itu, rencana yang mereka anggap sudah berhasil dan akan dirayakan sebentar lagi harus tertelan begitu saja. Rona kegirangan yang mereka sembunyikan beberapa menit lalu tak bisa mereka tunjukkan. Mereka hanya bisa meredam amarah dan mencaci maki dalam hati.
Sialan! Kenapa gadis miskin ini beruntung sekali dapat lolos dari kejaran maut, Rihanna.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah anak j*lang ini seharusnya sudah dibawa dan dijual oleh penculik itu. Kenapa dia bisa kembali?, murka Rose.
Selama ini tidak ada yang bisa lolos dari rencana yang aku buat. Tapi kenapa anak ini bisa?, Nyonya tua geram sekaligus terheran-heran.
"Lalu apa yang terjadi padamu, Calya? Mama dan adikmu bilang kau tiba-tiba menghilang di parkiran. Apa terjadi sesuatu padamu?"
Deg.
Kalimat dari Abram langsung membuat ketiganya itu menegang kaku. Mereka baru saja melupakan sesuatu yang penting. Tidak memikirkan kemungkinan jika Calya akan selamat. Mereka hanya terpaku pada hasil yang tidak mungkin gagal. Dan sekarang, apabila Calya menceritakan apa yang terjadi pasti Abram tidak akan tinggal diam.
"Sebenarnya..." Calya menjeda perkataannya sambil menatap Nyonya tua dan Mama tirinya yang tampak gugup. Samar-samar bibirnya melengkung membentuk seringai.
"Sebenarnya aku tiba-tiba pergi karena membantu anak kecil yang sedang mencari ibunya. Dia menangis dan tidak sabaran untuk bertemu ibunya. Jadi aku tidak sempat bilang pada mama dan adik. Sekali lagi aku minta maaf pada kalian" Jawab Calya berdusta. Entah apa yang dia rencanakan. Tapi dia sengaja menyembunyikan kebenaran.
Abram dan para pelayan memancarkan kelegaan saat tidak terjadi apa-apa. Mereka tidak merasa curiga dengan alasan yang diberikan Calya.
__ADS_1
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa denganmu. Hampir saja Papa menghubungi polisi jika tak melihatmu pulang" Ujar Abram. Benar-benar sudah lega.
"Kami semua sangat panik mendengar kabar nona Calya menghilang. Tapi akhirnya kami sangat lega melihat Anda pulang dalam keadaan selamat" Pak Lan tak bisa diam saja, dia ikut mengutarakan isi hatinya. Dan para pelayan tampak menyetujui ucapannya.
Akan tetapi, dalang dari ketiga orang itu tak menunjukkan rasa senang maupun lega. Padahal Calya tak mengungkap kebenarannya. Namun justru berbagai macam asumsi muncul dibenak masing-masing.
Terutama Nyonya tua, dia berpikir keras untuk mencerna kata-kata Calya. Bagaimana mungkin tidak terjadi penculikan pada Calya. Padahal orang yang dia bayar sudah menuju ke tempat parkiran. Lalu kenapa bisa Calya mengatakan dirinya sedang membantu anak kecil. Apa para penculiknya tidak berhasil menemukan Calya? Tapi jika mereka tak berhasil sekalipun, mereka pasti mengabari. Tapi ini, tak ada satupun telpon dari orang-orang itu. Seperti jejaknya menghilang tanpa sebab.
"Nenek, ma, dan adik, kenapa kalian hanya diam saja daritadi? Seperti tidak suka melihat ku baik-baik saja. Apa kalian kesal karena telah membuat kalian khawatir atau karena hal lain?"
Suara Calya yang memanggil menjadikan ketiganya bangun dari lamunan. Dan baru sadar jika semua tatapan sedang mengarah pada mereka. Sontak kegugupan menyerang. Apalagi ucapan Calya yang sedang menyudutkan mereka.
"Aduh cucuku Calya, kau bicara apa sih. Tentu saja nenekmu ini sangat senang melihatmu baik-baik saja" Tutur Nyonya tua sambil tersenyum senang.
"Iya sayang, Mama juga senang sekali. Saat mengetahuimu tiba-tiba hilang, mama jadi sedih. Ini semua karena mama tidak becus menjaga kalian" Rose memasang wajah pura-pura sedih dan bersalah.
"A-aku juga sangat bersyukur melihat kakak kembali dalam keadaan tidak terjadi apa-apa. Jika sampai beneran terjadi apa-apa, maka ini salah ku yang membiarkan kakak sendiri menunggu diparkiran" Rihanna segera berkata sambil terisak kecil. Walau dalam hati dia berusaha menekan rasa gugupnya.
"Ternyata kalian begitu mengkhawatirkanku. Daritadi diam terus kukira kalian tidak bisa berkata-kata lagi karena shock melihatku" Calya tersenyum bercanda. Tapi sebenarnya itu adalah sindiran bagi mereka.
Tiga orang itu pun ikut memaksakan diri untuk tersenyum. Antara tersinggung atau tidak dengan sindiran itu. Namun bisa dilihat mereka seperti menahan sesuatu.
"Baiklah! Karena semua sudah kembali normal. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk makan malam. Ini sudah semakin larut. Kalian pasti sudah lapar kan?" Ucap Abram menyudahi pembicaraan.
"Pak Lan bubarkan semua.Dan siapkan makan malamnya!"
"Baik tuan" Pak Lan melirik para pelayan untuk segera membubarkan diri. Sebagian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam dengannya.
Abram juga sudah pergi ke kamarnya. Katanya ingin membersihkan diri. Ketika baru pulang kerja dia sudah mendapat kabar dari istri dan putri bungsunya. Itu sebabnya dia belum sempat untuk istirahat.
Kini tersisa empat orang, Calya menatap Nyonya tua dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Orang itu bilang usianya sudah tua tapi terlihat awet muda, mengenakan baju mewah. Dan ada kalung bermata batu hijau dilehernya. Hmm...kenapa ciri-ciri yang disebutkan sangat mirip dengan nenek ya" gumam Calya tiba-tiba sambil bersidekap dada dengan gaya berpikir.
Nyonya tua yang disebut namanya berkerut bingung. Tidak mengerti dengan celotehan Calya. Begitupun dengan Rose dan Rihanna.
"Kau sedang bicara apa?" Tanya Nyonya tua dengan nada sedikit ketus. Rasa kesal belum sepenuhnya hilang karena melihat lagi keberadaan Calya dirumah ini.
"Itu lho, kata-kata yang diakui si penculik" Sahut Calya dengan santainya.
"A-apa maksudmu?" Nyonya tua mematung ditempat dengan mata melebar. Hal yang sama juga terjadi pada Rose dan putrinya. Tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Sebenarnya aku berbohong tentang alasan tadi. Kejadian yang sesungguhnya adalah ada orang yang berniat menculikku" Terang Calya sambil menatap mereka satu persatu.
Dia lanjut berkata, "Kalian tau mengapa aku bisa selamat?" Tak ada reaksi apapun dari ketiganya.
"Beruntung aku bertemu orang baik untuk menyelamatkanku dari para penculik itu. Saat mereka berhasil dikalahkan. Aku bertanya pada mereka siapa yang menyuruhnya. Karena tidak mungkin itu sebuah ketidaksengajaan"
Mereka semakin tak berkutik. Calya maju selangkah untuk mendekat.
"Awalnya mereka enggan membuka mulut. Tapi setelah aku memaksanya, orang itu buka mulut. Mulai menyebutkan ciri-ciri yang sangat familiar untukku. Dan saat aku bertanya nama...tiba-tiba penculik itu tak sadarkan diri"
Diam-diam mereka bertiga bernafas lega. Tapi kembali diserang saat Calya melanjutkan kalimatnya.
"Aku kecewa. Tapi orang yang menolongku mau membantu membawa para penculik ke kantor polisi untuk ditangani. Karena umurku masih muda, dia berbaik hati mengurusnya untukku. Dan lihat! orang itu memberi ku kartu nama agar bisa menghubunginya. Jika para penculiknya sudah mengaku. Dan detik itu pula aku akan memberitahu Papa yang sebenarnya"
Calya menyeringai melihat wajah panik sekaligus takut mereka. Dia kembali melangkah satu langkah untuk lebih dekat dengan mereka. Tatapannya mulai berubah sangat dingin. Lalu dia berbisik dengan nada mengancam.
"Waspadalah! Jika tebakanku benar jika kalianlah pelakunya. Bersiap-siaplah kalian akan dibenci dan diusir oleh Papa"
Setelah itu Calya meninggalkan mereka dalam keadaan pucat pasi. Nafas mereka sudah terasa berat seakan saluran nafas mereka tersumbat oleh sesuatu.
Bersambung~
__ADS_1