Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 1. Kesempatan si Pembawa Sial


__ADS_3

...Apa kehidupan kita saat ini ditentukan amal di masa lalu?...


...🍃🍃🍃...


Pembawa sial!


Apa aku memang pembawa sial seperti yang mereka katakan?


Sejak mulai mengerti arti sebuah kata, sering kali kudengar ibu berkata begitu.


"Sejak melahirkanmu hidupku selalu menderita. Suamiku meninggal. Aku dipecat dari pekerjaanku. Kehilangan putraku, karena tidak mampu membayar pengobatan yang layak baginya. Rumah pun terbakar." Wanita itu menjeda kalimatnya. Menepuk dada. Meredakan amarah yang membuatnya sulit bernapas. "Kehancuran apa lagi yang kau rencanakan untukku? Dasar pembawa sial!"


Itulah awal pengucilan diriku dalam lingkungan anggota keluarga yang tersisa. Pada hari ulang tahunku yang ke sepuluh, aku menerima hadiah yang tidak akan pernah dapat kulupakan selama sisa hidupku ... diusir dari rumah dengan halus. Ibuku bilang sudah tidak sanggup membiayai hidupku. Kemiskinan yang senantiasa mendera membuatnya menyerah untuk menanggung diriku yang dianggapnya sebagai beban terberat.


Meski wanita itu berkata secara baik-baik. Namun, dampak yang kurasakan jauh dari kata baik-baik saja. Kesedihan yang kutanggung membuatku tidak dapat menangis meraung-raung, walaupun saat itu hatiku teramat sakit. Aku tidak tahu kenapa tak dapat mengeluarkan sebulir air mata pun. Entah karena aku sudah memperkirakan hal ini atau karena hatiku sudah kebal dengan segala kata-kata penindasan yang mengiringi pertumbuhanku selama sepuluh tahun.


Jika boleh aku meminta pada Yang Maha Pencipta, aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tak peduli berapa galon air mata yang harus dikeluarkan. Aku hanya ingin menangis hingga lelah. Karena sejujurnya, tak bisa menangis membuat hatiku terasa jauh menyakitkan.


Tidak lama setelah kepergianku, ibu dan adik perempuanku yang berusia tiga tahun, meninggalkan kampung ini. Menurut tetangga, ibu kembali ke kampung halamannya di Jawa Barat. Aku tahu kampung halaman wanita itu dan sempat terpikirkan untuk mengikutinya diam-diam. Namun, urung kulakukan. Begitu dia melihatku, aku pasti akan disuruhnya pergi lagi. Jadi aku masih bertahan di sini sebab tak tahu lagi ke mana harus pergi.


Waktu kadang berjalan cepat, kadang juga lambat. Aku bekerja di kebun teh di salah satu dataran tinggi di Jawa Tengah. Hidup menumpang di rumah tetangga yang merasa iba atas kemalanganku, tidaklah mengubah sedikitpun keberuntungan hidupku. Suami tetanggaku yang bekerja sebagai buruh serabutan seringkali mengeluh karena upah yang kubagi pada mereka tidak dapat mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Padahal aku lebih banyak menahan lapar demi keenam anak mereka yang masih kecil. Aku tidak berani mengeluh karena diperbolehkan tinggal di sini saja sudah merupakan suatu keberuntungan bagiku. Tapi suatu hari, satu minggu sebelum hari raya idul fitri, suami tetanggaku mengajakku berbelanja kebutuhan di pasar yang ada di kota, tetapi pada kenyataannya dia meninggalkanku sendirian di depan gerbang masuk sebuah panti asuhan.


Aku terdampar di tempat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Memasuki tahun ketiga, bangunan panti asuhan terbakar habis akibat korsleting listrik.


Pengasuhanku berpindah tangan pada ibu dari mendiang ayahku yang tinggal di desa lain. Seorang nenek renta yang bekerja banting tulang demi menghidupi lima cucunya, yang ditinggal orang tua mereka bekerja sebagai TKI di negeri yang jauh. Sayang seribu sayang, empat bulan setelahnya nenekku meninggalkan dunia ini untuk selamanya.


Akhirnya, aku dapat bernapas lega setelah adik ibuku yang tinggal di kota bersedia menampungku. Dia baik dan penyayang, juga rajin bersedekah pada kucing-kucing pasar yang kelaparan. Dia seorang pedagang daging sapi dan ayam di pasar tradisional dekat rumah. Hampir setiap hari aku membantunya menjaga dagangan dan sesekali ikut melayani para pembeli. Kegiatan ini cukup aku sukai, tidak semuanya, hanya saat menghitung belanjaan para pembeli. Ya, aku suka berhitung.


Aku mempelajari matematika saat berada di panti asuhan. Ibu pengasuh bilang, jika aku tidak bisa tidur, maka aku harus membayangkan sejumlah domba yang berada di padang rumput, lalu menghitung setiap ekornya ketika akan memasuki kandang.


Aku menurut. Benar-benar melakukannya. Tapi, itu tidak membuatku segera terlelap. Setiap kali lupa banyaknya domba yang telah kuhitung, aku harus membayangkan kembali mengeluarkan semua domba dari kandang. Hanya untuk memastikan bahwa setiap domba telah masuk sesuai hitungan. Sayangnya aku tidak pernah berhasil menyelesaikan perhitunganku, karena tertidur setelah lelah berpikir; berapa sebenarnya jumlah domba yang ada di padang rumput? Intinya, aku lupa.


Bibi menyadari kemampuanku dalam berhitung. Dia memutuskan untuk menyekolahkan aku di sekolah dasar yang tidak jauh dari pasar. Melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti memang hal yang paling kuinginkan. Kebaikan dari seorang janda dicerai mati tanpa anak itu kurasakan sampai kelas sebelas.


Bibi meninggal sebab terjebak kebakaran besar yang menimpa seluruh penjuru pasar. Ketika itu, dia membantu beberapa pedagang lain yang berusaha menyelamatkan dagangan mereka. Namun, naas. Api menyambar dengan cepat ke tempat mereka berada.


Sejak saat itulah, aku mulai bekerja paruh waktu untuk membiayai hidup dan sekolahku. Bekerja di toko buku sampai lulus kuliah, dan di gedung perkantoran inilah aku bekerja saat ini sebagai sekretaris. Ternyata kesialan masih mengintai hingga detik ini. Pegawai lama masih sering merisakku. Mereka mengataiku lamban, tidak becus, dan tidak modis. Bahkan atasanku garangnya bukannya main. Tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun. Gula pasir dalam kopi jika kurang sebutir pun bisa dirasakannya. Suhu seduhan air kopi tidak pas tujuh puluh lima derajat pun dia akan tahu.


Hari-hariku selalu dipenuhi omelannya, dan itu akan berlangsung selama sehari penuh. Kesalahanku akan terus diungkit sampai aku membuat kesalahan baru, untuk kemudian diungkit lagi hingga kesalahan berikutnya tercipta.


Sungguh heran orang dengan temperamen seperti itu belum merasakan darah tinggi.


Meski begitu, ada satu orang yang baik padaku. Dia bekerja di Divisi Produksi yang tidak bisa sering kutemui, karena kami bekerja di gedung yang berbeda.


Jam makan siang adalah waktu bagiku berkeluh kesah pada orang itu. Apa dia serius mendengarkan atau ceritaku hanya sekedar numpang lewat indera pendengarannya? Entahlah. Aku tetap merasa senang, setidaknya masih ada orang yang mau mendengar cerita protagonis lemah yang selalu tertindas versi diriku.

__ADS_1


Terkadang aku merasa lelah menjalani hidupku sendiri. Ingin merasakan apa yang tidak pernah kurasakan selama ini. Menyalahkan Dia pernah terpikirkan olehku. Harus kuakui, itu tidak mengubah apapun. Hanya tindakan bodoh dan sia-sia.


Kuputuskan hari ini adalah titik terendah dalam perjuangan hidupku. Tak mampu lagi berpikir jernih. Langit seakan runtuh. Lorong gelap seolah tak berujung. Keputusasaan telah menelan utuh semua harapan. Realita menghancurkan impianku akan setitik kebahagiaan yang kutunggu.


Aku hanya menginginkan kebahagiaan. Apakah itu egois? Tak perlu dijawab. Aku tidak membutuhkannya. Semuanya sudah terlambat.


...***...


Terseok-seok menuju tembok pembatas atap gedung. Disambut langit yang terlihat masam, memberengut pada diri yang tidak berguna ini.


Dunia ini tidak membutuhkan seorang pecundang sepertiku?


Tubuh lemahnya berhasil mengantar perempuan muda itu berdiri di tembok pembatas atap gedung. Angin kencang menampar raga seakan mendukung yang akan dilakukannya.


Menurut mereka, apa yang akan aku lakukan bisa membuatku masuk neraka. Aku takut. Tapi, bukankah selama ini hidupku juga bagai di neraka. Lalu, apa bedanya?


Kelopak matanya terpejam. Menghidu udara untuk kali terakhir, menyertai ayunan kaki ke udara kosong.


Malaikat maut. Aku siap.


Hening. Hanya ada deru angin yang menertawakan.


Eh, tidak jatuh?


Perempuan bersurai pendek itu menoleh ke balik bahunya. Seorang kakek renta mencubit sedikit bagian belakang kemeja putihnya.


"Kau tidak mengenalku? Ck.Ck. Aku adalah keajaibanmu."


Mana ada keajaiban yang seperti ini!


"Apa? Tarik dulu, Kek. Aku takut ketinggian." Dia mendapatkan kembali pikirannya setelah sebelumnya terbang entah kemana.


"Kalau ditarik, kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk memperbaiki nasibmu saat ini." Si kakek malah tersenyum senang.


Memperbaiki nasib apanya? Nasibku sudah ada di ujung kukunya.


Kaki perempuan itu gemetar bagai terbuat dari agar-agar begitu menatap jauh ke bawah—puluhan meter jauhnya ke lahan parkir yang dipadati mobil dan motor para karyawan yang nampak menyerupai mobil mainan. Ketinggian ini membuat kepalanya pusing. Seharusnya dia memilih gedung dua lantai saja. Itu cukup, kan?


"Bukankah aku harus tetap hidup untuk bisa memperbaiki nasib?" Perempuan itu memelas, tak kuasa mendapati dirinya melayang di udara kosong cukup lama.


Sebagai pribadi yang takut ketinggian, dia baru menyadari bahwa kematian akibat terjatuh dari puluhan meter terbayang sangat mengerikan. Tidak masalah bila langsung mati. Beda ceritanya bila malaikat mautnya terlambat datang.


"Memangnya kita masih hidup?" Si kakek bertanya disela tawanya.


"Apa?"

__ADS_1


Pria uzur itu naik dengan mudah ke atas tembok pembatas, meski dirinya memakai sinjang berwarna putih dihiasi motif naga berwarna kelabu. Pakaiannya jelas tidak menghalangi pergerakannya yang begitu cepat.


^^^(Sinjang; Kain yang memiliki motif dengan berbagai corak)^^^


Perempuan bermanik kelam itu sampai tidak dapat berkedip melihat si kakek telah berdiri di sisinya, tanpa melepaskan cubitan pada kain kemeja yang dikenakannya.


"Lihat."


Belum sempat perempuan berambut ikal itu menunduk, si kakek telah melepaskan kemejanya. Gravitasi menarik tubuh si perempuan muda dengan sangat kuat. Jantungnya berhenti berdetak. Napasnya tersekat di diafragma. Jiwanya tersentak seakan keluar dari dalam raganya.


Dilihatnya sosok tua yang berpenampilan layaknya seorang abdi dalem itu telah lenyap dari tempatnya semula berdiri.


^^^(Abdi dalem; Orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan raja dengan segala aturan yang ada)^^^


Buk.


Punggungnya menghantam sesuatu yang tak diketahui. Segalanya menjadi gelap dan hening. Sunyi memekakkan telinga.


...***...


Asap dari dupa yang dibakar mengeluarkan aroma eksotis dan menenangkan dari Kayu Cendana, melebur bersama aroma Jempiring yang menghanyutkan, memenuhi udara di dalam ruangan yang berpencahayaan temaram. Derit suara pintu terbuka. Ramai orang berbicara.


"Apa lagi yang terjadi pada Ndoro Putri Anatari?" tanya suara seorang perempuan muda.


^^^(Ndoro Putri; Sapaan kepada orang bangsawan atau majikan[Perempuan])^^^


"Cepat panggilkan tabib," suruh suara perempuan yang berbeda.


Anatari memang namaku, tapi Ndoro Putri Anatari? Tabib? Apa yang sedang mereka bicarakan?


"Perlukah kita melapor pada Yuwaraja mengenai keadaan Ndoro Putri yang memburuk?" tanya suara pertama.


^^^(Yuwaraja; Raja Muda / Putra Mahkota)^^^


"Aku tidak berani. Yuwaraja sedang mendiskusikan hal penting bersama Sri Maharaja," jawab seorang pria.


^^^(Sri Maharaja; Raja Besar / Raja Agung)^^^


Yuwaraja? Sri Maharaja? Siapa orang-orang itu?


Anatari berusaha membuka kelopak mata yang terasa berat. Pun mencoba menggerakan anggota tubuh lainnya. Sia-sia saja. Tubuhnya terasa seperti batu yang dililit akar pohon, berat dan kaku. Sesuatu yang terasa melilitnya begitu ketat seperti hendak meremukkannya. Demam, lemas, tremor merasakan nyeri di sekujur badan.


Satu hal yang tidak dia mengerti sehingga tetap berusaha menjaga kesadaran adalah gambaran-gambaran aneh yang terus berkelebat tidak jelas di dalam kepalanya. Pertemuan. Kebencian. Cinta. Pengkhianatan. Perang. Kerajaan. Semua hal itu terlihat begitu nyata. Terdengar suara yang memanggil-manggil 'Yuwaraja'. Sandiwara. Pengorbanan. Kematian. Tangisan. Api. Semua perasaan bercampur aduk mendera fisik dan batinnya.


"Api?"

__ADS_1


Api yang dilihatnya kian membesar. Tak menunjukkan tanda-tanda akan padam. Suara tangisan, teriakan, dan meminta tolong saling bersahutan.


Keadaannya tidak stabil. Jiwanya tenggelam dalam kegelisahan yang membingungkan. Wajah kelabu sesosok makhluk mitologi yang dipenuhi api muncul, menerjang ke arahnya. Kelopak mata perempuan itu terbuka diiringi suara napas yang tersekat di tenggorokannya.


__ADS_2