
Kediaman Yuwaraja adalah bangunan lingkungan rumah terbesar ketiga setelah kediaman Sri Maharaja II dan Gusti Kangjeng Ratu Indukanti. Perabotannya lebih lengkap dan beberapa diantaranya dilapisi emas.
Penjagaan pun diperketat. Sembarang orang tidak bisa masuk tanpa seizin Yuwaraja, terkecuali Sri Maharaja II dan Gusti Kangjeng Ratu Indukanti. Semata-mata untuk menjaga keselamatan penerus takhta Javacekwara.
Rumah Sagara, prajurit pengawal, pelayan, dapur, berada di ujung paling belakang. Dipisahkan lapangan berpasir yang luasnya cukup untuk menampung seratus prajurit yang berlatih ilmu kanuragan bersama.
^^^(Ilmu kanuragan; Ilmu yang berfungsi untuk membela diri secara supranatural)^^^
Abinawa berdiri di luar pintu kediamannya, menatap tabib yang sedang memeriksa kondisi Anatari.
"Yuwaraja. Kenapa Anda membohonginya?" tanya Sagara.
"Untuk membuktikan bahwa pedangmu telah dimanterai."
Sagara mengangkat kedua alisnya. "Jadi kecurigaan Anda memang benar?"
Abinawa berguman. "Tidak seharusnya aku membawanya ke ruang tahanan. Aku yang salah." Abinawa berujar penuh penyesalan.
"Anda tidak membuat kesalahan apapun. Anda membawa pedang itu karena hamba memaksa. Mengenai kejadian di ruang tahanan, itu kejadian yang tak terduga." Sagara menjeda kalimatnya sesaat. "Anatari terluka saat ini bukankah menguntungkan kita? Dia tidak lagi dapat mengingat Mahesa, pernikahan bisa diselenggarakan sesuai rencana. Bhumi Girilaya dan Mustika Naga akan menjadi milik Anda."
Abinawa meluruskan bahunya ke arah Sagara. "Akan sangat menyenangkan bila semuanya berjalan sesuai rencana, tapi tidak ada salahnya kita tetap waspada sebab geruh tidak mencium bau."
^^^(Geruh tidak mencium bau; Sebuah peribahasa yang berarti kecelakaan datang dengan tidak memberitahukan)^^^
"Hamba mengerti. Mengenai pedang hamba, sejak kapan Anda mulai menyadarinya?"
"Sebelum pergi ke perbatasan, sekitar tujuh hari yang lalu."
Seseorang yang menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi akan dengan mudah mengetahui sesuatu yang janggal di sekitarnya. Meski Abinawa telah mencurigai ada yang tidak beres dengan pedang Sagara, tetapi dia tidak melakukan apapun sebab ingin memastikan lebih dulu apa yang jadi tujuan si pemilik niat jahat.
Keinginan Abinawa telah terwujud saat ini. Tanpa sengaja yang menjadi korban pedang Sagara adalah Anatari. Mantra jahat di dalam pedang menimbulkan efek memudarnya ingatan, luka yang sulit sembuh, dan tenaga dalam yang menurun drastis. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada sedikit sesal dalam diri Abinawa mengenai kejadian ini.
"Itu sudah lama. Kenapa Anda tidak memberitahu hamba?"
"Aku ingin tahu tujuan musuh. Mereka sangat berhati-hati hingga berhasil menurunkan kewaspadaanku."
"Apa Yuwaraja tahu siapa yang melakukannya?"
Dahi Abinawa berkerut dalam. "Entah itu dia ataupun mereka, yang kucemaskan, musuh berada lebih dekat daripada yang kita duga."
"Mungkinkah musuh menyusup di barisan pasukan kerajaan?" terka Sagara.
"Kau selidiki hal itu. Hati-hati dan tertutup," perintah Abinawa.
"Sendiko dawuh."
"Ujilah kemampuannya. Aku ingin tahu apakah dia juga lupa dengan ilmu kanuragan yang dikuasainya," titah Abinawa.
Seorang tabib berjalan menghampiri, melaporkan bahwa kesehatan Anatari sudah pulih. Apa yang memicunya tidak sadarkan diri, mungkin dari sesuatu yang mengejutkannya. Jadi, dia berpesan pada Abinawa untuk tidak membuat Anatari terkejut dengan sesuatu hal yang mendadak.
Abinawa menghampiri Anatari yang duduk bersandar di atas pembaringan. "Apa masih ada yang terasa sakit?"
"Tidak. Aku baik-baik saja sekarang."
Anatari sudah terbiasa menderita sakit karena dirisak. Meskipun begitu, dia akan tetap berkata baik-baik saja. Sekalipun dia mengatakan sungguh sakit rasanya hingga rela menukarnya dengan kematian. Sepertinya hal itu sia-sia saja. Paling banter hanya akan mendapatkan ucapan "Sabar", "Yang kuat", "Kamu kuat banget, kalau aku pasti sudah bunuh diri". Cih! Semua itu hanya basa-basi di mulut saja. Tidak ada yang benar-benar menyatakan ketulusan dari lubuk hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
Apa aku baru saja memaki? Tidak. Itu bukan diriku.
"Kau istirahatlah di sini," anjur Abinawa.
"Teri ...." Bibir Anatari mengatup. Terakhir kali dia mengatakan terimakasih, jantungnya dicubit oleh entah siapa. Begitupun saat meminta maaf, jantungnya kembali dicubit dan rasa sakitnya meningkat dua kali lipat. Dia harus menjaga nyawanya dengan tidak mengatakan dua kata itu. "Tidak baik jika aku tinggal di sini sebelum upacara pernikahan. Jiyem dan Liyem ada untuk mengurusku. Harap kau tidak cemas."
Abinawa menarik segaris senyum tipis. "Aku tidak akan memaksa. Sebagai bentuk niat baikku, Sagara akan mengantarmu kembali ke keputren. Kumohon jangan menolak."
"Aku menerima niat baikmu."
"Aku memiliki hal penting yang harus segera diselesaikan. Kau bisa pergi kapanpun kau mau, tidak perlu terburu-buru," pamit Abinawa. Dia bergegas keluar ruangan, berbelok ke halaman belakang. Menghilang di antara bangunan kayu.
"Kenapa dia begitu tergesa-gesa? Hal penting apa yang harus diselesaikannya?" tanya Anatari.
Makan. Yuwaraja menderita asam lambung. Tidak boleh sampai telat makan. "Mengenai masa depan nagari," kibul Sagara.
Anatari mengangguk. "Baiklah. Aku tidak ingin mengganggu. Sebaiknya aku segera kembali ke keputren."
"Hamba akan mengantar Gusti Putri."
"Ter ...." Tidak jadi. "Tentu."
...***...
Malam ini, Jiyem dan Liyem menyiapkan makanan di gazebo taman. Sesuai perintah Ndoro Putri-nya.
Banyak tanda tanya di dalam kepala Anatari. Dia belum tahu bagaimana caranya merubah semua tanda tanya itu menjadi sebuah titik. Untuk kemudian menarik garis kesimpulan yang menjadi sebuah jawaban atas keingintahuannya.
Anatari memerhatikan Liyem yang sedang mempersiapkan beberapa batang serai yang telah sedikit dimemarkan. Dia memasukannya ke dalam sebuah wadah gerabah. Menempatkannya di atas meja kecil di dekat tempat duduk Anatari.
Si pemilik nama bergegas memberikan hormat. "Hamba, Ndoro Putri."
Bertepatan dengan itu Jiyem memasuki gazebo dengan membawa semangkuk wedang jahe panas.
"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Yuwaraja, mengingat kondisiku saat ini ... aku sedikit meragu. Ingatan yang lemah menghambatku untuk mengambil keputusan dengan tepat. Apakah aku harus menikah dengan Yuwaraja atau melarikan diri dengan Pangeran Mahesa?"
Bunyi debum keras menyertai kedua lutut Jiyem dan Liyem membentur lantai kayu.
"Jangan melakukan hal itu! Tindakan Gusti Raden Ayu hanya akan kembali menyulut peperangan antara dua nagari," larang Liyem.
Sepertinya aku berhasil memancingnya.
"Kalau begitu ... apa kalian bisa membantuku, lagi?" gali Anatari lebih lanjut.
Jiyem dan Liyem saling lirik dengan gusar.
"Mengenai apa, Ndoro Putri?" tanya Jiyem was-was.
Anatari tersenyum. "Aku ingin tahu semua hal yang tidak aku ketahui."
Di Tanah Jawi ini terdapat empat nagari besar yang menguasai wilayah di empat arah mata angin; Bhumi Namaini di arah selatan. Bhumi Acarya di arah timur. Bhumi Girilaya di arah utara. Yang ditempati saat ini adalah, Bhumi Javacekwara yang berada di arah barat. Raja dari keempat nagari kerap berperang demi menguasai wilayah-wilayah kecil yang masih tak tersentuh oleh kekuasaan mereka. Wilayah itu kebanyakan berada di sekitar area perbatasan.
Bhumi Javacekwara menginginkan keempat nagari bersatu membentuk sebuah aliansi di bawah pimpinan Sri Maharaja I. Bhumi Namaini menolak dengan keras. Akibatnya, pasukan kedua nagari lebih sering terlibat konflik di wilayah perbatasan dan masih berlangsung sampai saat ini.
Bhumi Acarya berhasil ditaklukkan dengan menjadikan putri sang raja sebagai permaisuri pertama Jayaraga dari Javacekwara. Sedangkan kini, Bhumi Girilaya dalam proses ditaklukkan dengan cara yang sama seperti yang terjadi pada Bhumi Acarya.
__ADS_1
"Girilaya dalam proses ditaklukkan dengan cara yang sama seperti yang terjadi pada Acarya?" Kedua alis Anatari bertaut. Berusaha menjabarkan maksud kalimat tersebut. "Maksudmu ... pernikahanku dengan Yuwaraja—"
Kedua waracethi mengangguk-angguk kencang.
"Bukankah aku berasal dari Namaini?"
Kedua dayang itu menundukkan kepala hingga hampir menyentuh ubin.
"Mohon ampun, Ndoro Putri. Yuwaraja telah membohongi Anda," ungkap Jiyem.
Membohongiku? Untuk alasan apa?
Tunggu. Kesampingkan dulu hal itu. Anatari harus mengungkap hal utamanya terlebih dahulu. "Kemungkinan apa yang akan terjadi seandainya pernikahan kami tidak terlaksana?"
Liyem memberanikan diri menatap Anatari. "Peperangan."
Dari apa yang kudengar, pernikahan harus berlandaskan cinta. Kasih sayang akan membawa keduanya menuju bahagia, tapi hal itu sepertinya tidak berlaku untukku di masa lampau. Menikah atau berperang? Aku akan ... melarikan diri.
Anatari duduk sendiri di tepi kolam, menatap pantulan bulan separo pada permukaan air yang jernih dan tenang. Berkali-kali menghela napas panjang dan dalam.
Kenapa dia membohongiku? Kupikir dia sumber informasi yang dapat diandalkan.
Jika memang aku berasal dari Girilaya, maka keberadaanku di sini tak ubahnya sebagai tumbal yang mengatasnamakan pernikahan dalam topeng kedamaian.
Kedamaian apanya? Pernikahan ini bukanlah ikatan suci. Tidak ada ketulusan sama sekali. Yang ada hanya keterpaksaan yang lahir dari sebuah ancaman.
Kini posisiku tak jauh berbeda dengan gadis miskin yang tersudutkan, hingga harus menandatangani surat pernikahan dengan seorang penguasa.
Aku tidak bisa menerima hal ini!
Di kehidupan masa depan, aku adalah korban periksakan. Di kehidupan ini, aku tidak mau berada di posisi yang sama. Bukankah keberadaanku di sini untuk memperbaiki nasib di masa depan?
Tubuh ini milik Anatari Lingga, tapi jiwanya adalah milikku ... Anatari Kemala. Akulah yang kini memegang kendali atas perubahan nasibku. Bisa jadi menggagalkan pernikahan adalah misiku.
Anatari membisu seketika. Dia kembali mengingat ucapan si kakek; ada satu hal yang tidak dapat diubah, yakni takdir. "Bukankah jodoh termasuk takdir," gumam Anatari, lemas.
"Aku ingin bertemu Gusti Putri Anatari."
Suara di luar pintu gapura membuyarkan lamunan Anatari.
"Tidak bisa Pangeran. Anda tidak diperbolehkan bertemu Gusti Putri."
"Atas titah siapa?"
"Sri Maharaja."
Pangeran Mahesa terdiam.
"Kita sebaiknya kembali. Tunggu waktu yang tepat. Hindari masalah untuk saat ini," bisik Partha.
Anatari hanya bisa menguping. Mendengar kata "Sri Maharaja" membuat kakinya tetap tertahan di tempatnya. "Aku tidak boleh membuat kesalahan atau mereka akan menaruh curiga. Untuk sementara ini lebih baik menghindar saja."
Anak panah melesat bagai kilat, mengarah kepada sang putri dari Girilaya. Anatari refleks menghindar. Kakinya menekuk mengambil ancang-ancang untuk melompat ke belakang.
Anak panah melolos di sisi kiri pinggangnya. Manik hitam Anatari melebar melihat mata anak panah nyaris menyerempet bekas lukanya. Konsentrasinya pun buyar. Tubuhnya kembali terjatuh ke dalam kolam.
__ADS_1