Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 18. Tugas


__ADS_3

Tanah Jawi bersimbah cahaya sang surya yang melimpah ruah, menyibak tirai-tirai kabut yang masih mengalir dari atas perbukitan. Udara dingin menusuk kulit mulai berkurang tatkala kehangatan cahaya ilahi menimpa tubuh Anatari yang berdiri di atas benteng pintu gerbang utama Kuthanegara. Manik sehitam mutiara bersinar cerah menatap iring-iringan kereta kuda Falguni yang mengular keluar di bawah sana. Anatari teringat pertemuan dini hari lalu dengan bibinya di dalam kereta kuda Mahesa


Di depan pria itu, Falguni meminta Anatari untuk melakukan langkah pendekatan kepada Sri Maharaja II dan Abinawa, dalam upaya memperoleh kepercayaan keduanya. Sebagai pembekalan dalam menjalankan aksinya, Falguni melepaskan hambatan pada meridian Anatari. Tidak semuanya. Falguni berjanji akan melakukannya secara bertahap.


Jalur meridian Anatari yang sudah lama terhambat membuat tubuhnya gemetar lemas, tak kuasa menerima aliran energi yang lumayan besar. Namun, energi itu langsung berkurang banyak seakan ada yang melahapnya bulat-bulat. Akibatnya, Anatari pucat seketika dan tak berdaya dibuatnya. Falguni mengalirkan energi penyembuh, tetapi tidak begitu berpengaruh karena energi penyembuh itupun langsung berkurang sesaat setelah memasuki jalur meridian keponakannya.


Falguni menatap Anatari lekat-lekat. Ujung lidahnya terasa ingin mengucapkan beberapa kalimat. Namun, dia tetap menahannya. Anatari pun dibiarkan pergi tanpa tahu apa yang telah terjadi di dalam dirinya.


Anatari bernapas panjang dan perlahan. Maaf karena apa yang kalian harapkan dariku, kemungkinan tidak akan sepenuhnya kulalukan. Aku datang ke dunia ini memiliki tujuanku sendiri. Hanya akan melakukan apa yang mungkin dapat kuupayakan dalam usahaku mengurangi dosa di kehidupan ini. Kehadiranku di sini hanya sesaat. Masalah apapun yang tidak berkaitan denganku, aku tidak ingin ambil andil di dalamnya. Aku tidak berminat mencatat atau mengubah sejarah apapun, karena itu bukan tugasku.


Anatari menangkap keberadaan Lavi yang menunggang seekor kuda betina cokelat di samping kereta kuda Falguni. Perempuan itu terlihat sehat. Sesekali menengok ke balik bahu, ke arah pintu gapura.


"Tidak bersedia melakukan pertemuan perpisahan, malah lebih memilih mengamati diam-diam, kau sungguh tega," sindir Abinawa.


"Tidak setega dirimu yang membiarkan seorang perempuan tidur di bale-bale sekeras ubin," ucap halus Anatari.


Abinawa tersenyum puas. "Jangan salahkan aku. Kau sendiri yang menolak tidur satu pembaringan denganku."


Anatari memalingkan wajahnya. "Terima kasih telah membiarkan Lavi tetap hidup."


Abinawa memerhatikan iring-iringan kereta kuda Falguni. "Seingatku tidak pernah berkata akan membunuhnya."


"Memang. Itu hanya ketakutanku. Jika sampai dia celaka karena aku ... aku takkan pernah mampu memaafkan diriku sendiri." Mata Anatari berembun.


Saat Anatari menyentuh tangan Lavi, dia melihat akhir hidup gadis itu di tiang gantungan. Dalang dibalik hukuman mati Lavi adalah Anatari Lingga yang tidak ingin identitas aslinya terkuak. Satu kejahatan pertama yang dilakukan Anatari Lingga setelah mendapat gelar barunya, menghabisi tangan kanannya.


Untunglah, Anatari bisa menyelamatkan gadis itu dengan pergi menemui Indukanti untuk meminta pengampunan atas jiwa Lavi. Sedikit karangan cerita menyedihkan kisah hidup Lavi, dan sandiwara penuh penghayatan Anatari, akhirnya mampu menyelamatkan hidup gadis itu. Sri Maharaja II pun berhasil luluh dalam bujukan Indukanti. Lavi dibebaskan dari hukuman di Bhumi Javacekwara, tetapi tidak di Bhumi Girilaya.


Menghukum Lavi di Bhumi Girilaya sebenarnya tidak lebih baik dari hukuman penjara di Bhumi Javacekwara. Tapi, ya, Anatari merasa sedikit lega karena Falguni tidak akan melakukan apapun pada gadis muda itu. Falguni tidak pernah memberikan hukuman apapun pada siapapun. Sepanjang pemerintahannya selama dua puluh tahun, menggantikan sang kakak, Raja Aryarajasa, yang tewas di tangan Sri Maharaja I pada dua puluh tahun silam.


Anatari Lingga-lah yang merupakan satu-satunya orang di kedaton Girilaya yang senang sekali menjatuhkan hukuman pada mereka yang dianggap sebagai ancaman. Mayoritas dari mereka yang dianggap penjahat akan dirampas harta bendanya, dibakar rumahnya, dan diasingkan orang-orangnya.


Jika dulu Anatari Lingga sangat tidak menghargai gadis itu, maka aku akan melakukan yang sebaliknya.


"Kedengarannya kau sudah belajar cara menghargai orang lain," cetus Abinawa yang mengetahui pemikiran Anatari.


"Ya. Aku belajar banyak hal baru yang semakin membuka lebar mataku pada kebenaran. Sebuah kebenaran yang sama sekali tidak kuharapkan. Tapi di dunia ini tidak ada yang konstan, Abinawa. Segalanya dapat berubah seaktu-waktu, termasuk diriku. Aku hanya belum tahu bagaimana seharusnya memperlakukan gadis itu," tutur Anatari.


"Tidak pernah ada pepatah yang mengatakan satu alasanpun mengenai larangan menjalin kekerabatan dengan seseorang yang tidak memiliki ikatan darah dengan kita. Bisa jadi, itu yang diinginkan perempuan bernama Lavi," ucap Abinawa.


Anatari tertohok. "Dia terlalu baik bagi pendosa sepertiku. Lebih baik dia menjauh. Aku tidak ingin kembali menyeretnya dalam bahaya."


"Syukurlah kau menyadarinya," gumam Abinawa. Bukan gumaman biasa sebab Anatari masih mampu mendengarnya dengan jelas.


Anatari menatap serius, menyadari sesuatu. "Entah mengapa aku merasa ucapanmu mengarah pada hal yang kau ketahui. Kau menyelidiki latar belakangku? Sejauh apa?"


Abinawa terkekeh. "Menyelidiki latar belakangmu. Hemph ... kau memberiku sebuah gagasan yang baik, mengingat betapa tidak konsistennya dirimu. Apa kau ingin aku mencurigai niatmu menikah denganku? Kau sungguh ingin aku melakukannya?"


Anatari mulai curiga. "Katakan dengan jelas, Abinawa. Kau sungguh menyelidiki latar belakangku?"


"Menurutmu?"


Anatari melirik tangan kiri Abinawa yang bebas. Dia meraihnya, berharap dapat melihat jauh ke dalam diri pria itu. Mengungkap semua hal yang Abinawa tahu mengenai jati diri Anatari dalam sudut pandangnya.


Kedua Alis Abinawa terpaut. "Kau menolak tidur denganku, tetapi berani menyentuhku. Luar biasa labilnya sikapmu."


Anatari menunduk, kehilangan kata-kata. Tangannya bertaut pada sinjang yang dipakainya. Kenapa aku tidak bisa melihat ke dalam dirinya. Apa yang salah? Mungkinkah kekuatanku melemah?


Kekuatan 'melihat jauh ke dalam diri seseorang' adalah satu-satunya kemampuan istimewa yang disadari Anatari Kemala. Satu-satunya cara mendapatkan informasi mengenai dirinya dan orang-orang di sekitarnya tanpa perlu banyak bertanya. Sejauh ini sangat efektif. Akan tetapi ....


Kenapa tidak bekerja padanya?


Abinawa memutar tangan kirinya, begitu terlepas langsung mencengkram dagu Anatari. "Apapun yang hendak kau lakukan padaku? Tidak akan ada gunanya. Simpan saja tenagamu untuk sesuatu yang lebih berguna." Abinawa melepaskan Anatari dengan sedikit hentakan, kemudian berlalu pergi.


Anatari menatap punggung pria itu. Dahinya berkerut dalam. Abinawa Wiradharma. Kau tidak seperti yang kukira.

__ADS_1


Akupun layak mengucapkan hal yang sama padamu, batin Abinawa.


...***...


Hari ini, Abinawa dibebaskan dari pertemuan pagi di Pendopo Ageng. Dia dan Anatari duduk di depan meja yang menampung sajian beragam menu masakan dari sayuran. Ya. Hanya sayuran.


Sebuah bencana bagi Anatari.


Anatari Kemala adalah karnivora. Dia menyukai bermacam-macam olahan daging. Satu jenis sayuran yang disukainya hanyalah bayam. Sementara itu, Abinawa, seorang vegetarian sejati. Dia hanya mengonsumsi sayuran untuk tetap menjaga kesehatan lambungnya. Karena olahan makanan berbahan dasar daging kerap kali membuat perutnya merasa tidak nyaman. Setidaknya itu yang sering dikeluhkan Abinawa.


Ketidakcocokan yang sempurna, kan.


Anatari memerhatikan Abinawa yang menyantap beberapa hidangan dengan tidak terburu-buru. Ekspresinya tak terbaca. Anatari jadi meragu, apakah rasanya enak atau tidak. Dia menelisik satu per satu masakan yang tersaji. Tidak ada satupun makanan yang menggugah seleranya.


"Bisakah bagian dapur memasakkan daging?" pinta Anatari.


Abinawa menggantung pertanyaan Anatari cukup lama. Setelah nasinya habis, dia baru menjawab, "Aku tidak suka daging. Mereka tidak akan membuatkannya. Aku sudah selesai. Habiskan semuanya. Aku tidak suka membuang-buang makanan."


Anatari mendesah lemah seraya bergumam, "Yang benar saja."


Abinawa baru saja menapaki serambi depan saat Sagara melambaikan tangan dari dalam gazebo taman. Abinawa menggeleng, memberi tanda agar Sagara tidak menghampirinya. Maka berjalanlah Abinawa menghampiri Kepala Pengawalnya.


"Yuwaraja." Sagara memberikan hormatnya.


Abinawa membalasnya dengan Anggukan ringan. "Bagaimana?"


Sagara memberikan gulungan kecil kulit Kayu dluwang yang diikat oleh tali kecil kecoklatan. Aksara Kawi tersaji begitu Abinawa membuka gulungan kertasnya.


Namaini.


Alis Abinawa bertaut erat. Tangannya meremas kertas kecil itu, lalu melemparnya ke dalam kolam ikan.


Sagara mengamati ekspresi junjungan-nya. "Apa itu berita buruk?"


"Kau tidak membacanya sebelum aku?"


"Namaini --" Abinawa mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.


"Pria itu mata-mata dari Namaini," tegas Sagara.


Abinawa menggeleng. "Belum tentu pasti. Sampaikan pada Ekawira untuk tetap waspada."


"Sendiko."


"Apa ada kabar mengenai Kangmas Mahesa?" tanya Abinawa, seketika.


"Posisinya berada di Guha Dhawahan. Sepertinya dia akan bersemedi beberapa lama," lapor Sagara. "Apa hamba perlu mengawasinya?"


"Tidak perlu. Saat ini Ekawira dan Taruna sedang tidak ada. Kalau kau pergi juga, aku khawatir akan menimbulkan kecurigaan. Perintahkan Taruna kembali ke kedaton. Soal Mahesa, biarkan saja dulu," titah Abinawa.


Abinawa melihat seorang abdi dalem kepercayaan Ayahandanya tengah melintasi halaman depan. Pria tua itu sepertinya terlalu fokus pada pintu kedimaan yang terbuka, sehingga tidak menyadari keberadaan Abinawa di gazebo luar.


"Mengenai telik sandi di kedai itu ...?"


"Keberadaannya masih aman. Belum diketahui siapapun. Apa ada perintah untuknya? Hamba akan menyampaikan secepatnya," sahut Sagara.


Seorang abdi dalem perempuan berlari-lari kecil menuju gazebo. Abinawa mengawasinya seraya berkata pada Sagara untuk menyuruh si telik sandi mengawasi Lavi Kana.


Sagara memberikan hormatnya, melangkah keluar gazebo, bertepatan dengan kedatangan perempuan empat puluh tahunan yang memberitahukan bahwa seorang abdi dalem Sri Maharaja II sedang menunggu Abinawa.


Abinawa kembali ke kediamannya. Anatari masih berada di sana. Keduanya menerima titah untuk segera menuju ke Pendopo Ageng.


Tanpa perlu menunggu lama, Abinawa dan Anatari sudah berada di sana. Menghadap Sri Maharaja II dan para petinggi kedaton. Keduanya memberikan hormat.


Sri Maharaja II mengutarakan bahwasanya saat ini sesuatu sedang terjadi di wilayah Canggal. Para petinggi kerajaan tidak ada satupun yang dapat pergi ke tempat itu, sebab Canggal merupakan wilayah bebas yang tidak memiliki hubungan kerjasama apapun dengan Bhumi Javacekwara.

__ADS_1


Adapun alasan dipilihnya Abinawa dan Anatari adalah karena wilayah Canggal merupakan tempat pengasingan para Pendekar Tersumpah yang membelot dari Girilaya. Anatari jelas memiliki hubungan dengan para pembelot di sana.


Tugas Ini sebenarnya ditujukan khusus untuk Anatari. Sebagai penguji kesetiaannya pada Bhumi Javacekwara. Tetapi, hanya mengirim dirinya ke tempat itu pasti akan menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Falguni yang menyebar banyak telik sandi di Tanah Jawi. Oleh karena itu, Abinawa diikutsertakan hanya sebagai formalitas penerima tugas.


"Tugas apa yang harus kami lakukan di sana, Paduka?" tanya Abinawa.


"Mencari tahu sumber masalahnya. Jika dirasa akan membahayakan rakyat kita di dekat wilayah perbatasan, kau harus segera menyelesaikan sumber masalahnya tanpa menimbulkan masalah baru," titah Sri Maharaja II.


"Sendiko dawuh."


Sri Maharaja II berpaling pada Anatari. "Dan kau, Anatari, dampingilah suamimu karena tidak ada yang sebaik dirimu dalam memahami wilayah Canggal."


"Sendiko dawuh."


Sekembalinya dari Pendopo Ageng, Abinawa memerintahkan para abdi dalem untuk mengemasi barang-barang yang dibutuhkan dirinya dan Anatari selama berada di Canggal.


"Sagara, kemasi juga barangmu," suruh Abinawa.


"Hamba sudah mengemasi barang-barang yang hamba perlukan," sahut Sagara.


Anatari mengangkat tinggi alisnya. "Secepat itu?"


Sagara tersenyum ramah. "Sebenarnya hamba selalu mempersiapkan barang-barang yang diperlukan bila ada tugas keluar kedaton yang diberitahukan secara mendadak."


"Kau sungguh sigap," puji Anatari.


"Tidak. Itu hanya upaya hamba agar tidak menghambat tugas Yuwaraja."


"Begitu pengertian," puji Anatari. lagi.


"Hamba mempelajarinya dari Yuwaraja."


Anatari melirik Abinawa yang sengaja menghindari pandangannya. "Sungguh tidak terduga."


Abinawa menegakkan bahunya.


Satu kereta kuda sederhana dan tiga belas ekor kuda, beriringan keluar melalui gerbang utama Kuthanegara. Meski ini adalah perjalanan tugas, akan tetapi Anatari merasa luar biasa bahagia. Pergi menjelajahi Tanah Jawi yang masih dikuasai belantara. Melakukan perjalanan layaknya para pendekar yang mengembara. Mengunjungi pemukiman penduduk yang masih jarang dan sederhana. Mencoba makanan tertua yang menjadi cikal bakal makanan di era milenial. Bertemu penduduk yang mungkin salah satunya adalah nenek moyangnya.


Anatari sudah siap untuk melakukan petualangannya.


Anatari tidak sabar untuk memulai hal pertama yang paling diinginkannya, mencari kedai makan yang menyajikan berbagai macam olahan masakan daging.


Sesekali dia menjulurkan kepala keluar jendela yang hanya ditutup selembar kain berwarna hijau zamrud. Pesawahan berundak disertai aliran air yang jatuh menyerupai air terjun mungil ke setiap undakan hingga akhirnya meluncur ke selokan kecil, memberikan kenyamanan layaknya pulang ke kampung halaman. Hutan menyuguhkan pemandangan alam yang masih murni. Hampir di sepanjang jalan burung-burung beterbangan, bersahutan silih berganti. Perbukitan di kejauhan ibarat tiang-tiang tanaman raksasa yang menyangga langit. Aliran sungai yang beriak kecil menyertai di salah satu bahu jalan tanah merah, memberikan irama menenangkan.


Anatari tak henti menorehkan senyum kelegaan atas kesempatan melihat semua keindahan alam yang masih selaras dan terjaga.


Abinawa melirik ke arah Anatari yang duduk di hadapannya, ikut mengembangkan senyumannya.


"Berapa lama kita menempuh perjalanan menuju Canggal?" Anatari menutup jendela.


Abinawa mengulum senyum. "Bila ditempuh menggunakan kereta kuda akan membutuhkan waktu empat hari. Dengan syarat tidak ada halangan apapun yang terjadi."


"Halangan dalam bentuk apa? Begal? Perewa?"


"Lebih berbahaya daripada yang kau kira."


Anatari terdiam, memikirkan hal apa yang paling berbahaya dibandingkan perampokan yang dilakukan oleh para penjahat di tengah hutan. Namun, tidak ada hal lain yang terpikirkan olehnya.


"Berapa lama waktu yang ditempuh menuju Canggal bila berangkat dari Girilaya?" uji Abinawa.


Anatari berpikir lebih keras, akan tetapi isi kepalanya justru berasap. Dia tak tahu sama sekali. "Aku sudah lama tidak ke tempat itu. Jadi, agak sedikit lupa."


Abinawa meninggikan satu alisnya disertai satu sudut bibirnya naik. "Lupa?" Dia mendengus. "Tidak apa-apa. Apa kau punya saran mengenai apa yang sebaiknya dilakukan bila keadaan menuntut kita memasuki wilayah Canggal?"


Anatari melirik ke kanan seraya menggigit bibir bawahnya. Jujur saja dia tidak punya gambaran sama sekali mengenai itu. "Aku tidak bisa berandai-andai. Harus melihat lebih dulu situasinya saat ini. Yang pasti, apapun rencanamu, aku akan membantumu dengan usaha terbaikku. Kau tenang saja, aku tidak akan mencoreng wajahmu di depan Sri Maharaja."

__ADS_1


Abinawa memalingkan wajah ke luar jendela. Jelas tidak tahu apa yang mesti dilakukan. "Baiklah. Aku pegang kata-katamu."


Anatari mengangguk percaya diri, meski hatinya meragukan ucapannya sendiri.


__ADS_2