
Kehadiran Anatari di dalam ruang tahanan menarik perhatian si penari. Dia beringsut hendak berlutut, tetapi dia urungkan begitu manik coklat terangnya menangkap keberadaan Abinawa. Perempuan itu diam-diam mencebik tidak suka.
Abinawa menangkap sikap ganjil si penari. Namun, menahan diri, menanti reaksi Anatari.
"Apa kau si penari yang menyerangku dengan ilmu gendam?" tanya Anatari.
"Apa begitu caramu menanyai penjahat? Kalau aku jadi dia, aku tidak akan memberi jawaban yang kau inginkan," sindir Abinawa.
Penari itu menunduk, mundur dalam gerakan pelan yang tidak disadari Anatari, tapi tertangkap oleh mata jeli Abinawa.
"Katakan padanya kau sudah mengetahui tindak kejahatannya dan semua perewa bertopeng telah dihabisi tanpa ampun. Kini saatnya dia mengakui segala perbuatannya. Buah kejujuran adalah penghargaan. Buah dusta adalah hukuman," saran Abinawa.
Kenapa dia mencuri kalimatku? Kalimat itu hanya aku dan Anzel yang tahu.
Abinawa mendecak mendapati Anatari justru termangu menatap dirinya. Kedua tangannya ditempatkan di kedua sisi kepala Anatari, memutarnya pada si penari yang berdiri mengawasi. "Katakan padanya."
"Aku tidak perlu mengulangi ucapan pria di belakangku, karena aku yakin kau juga sudah mendengarnya dengan cukup jelas. Katakanlah apapun yang kau ketahui. Aku akan sangat menghargianya," tutur Anatari.
"Kemampuanmu mencari informasi sungguh payah," ledek Abinawa.
Anatari berpaling pada Abinawa. "Aku akan melakukannya dengan caraku ... nanti. Sekarang biarkan aku melakukan pendekatan."
"Jangan terlalu memakan waktu, karena kita harus bersiap untuk upacara pernikahan esok pagi," Abinawa mengingatkan dengan lembut juga menekan.
Sorot mata was-was milik si penari mengarah pada Abinawa yang berdiri di belakang Anatari. Tatapan Abinawa terasa mengintimidasi, menciutkan nyali si penari. Anatari merasa ada yang janggal, lantas berbalik kembali ke belakang. Abinawa tersenyum, memberikan tatapan puppies eyes yang menggemaskan. Pipi Anatari merona. Malu.
Anatari mengalihkan pandangan pada si penari yang mengernyit. "Aku yakin pasti ada yang ingin kau katakan padaku. Begitupun aku. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu. Informasi yang kita tukar pasti akan saling menguntungkan. Pertimbangkanlah."
"Saling menguntungkan? Dia memberimu informasi, sedangkan kau hanya menanyakan beberapa hal padanya. Aku tidak melihat di mana letak kentungannya. Sekalipun dia lebih bodoh darimu, kau tidak boleh berbuat licik. Berikan keuntungan baginya juga," sindir Abinawa.
"Baik. Baik. Aku salah," aku Anatari. "Sebaiknya kau saja yang bicara dengannya."
"Dia tidak pantas berbicara denganku," tekan Abinawa, tenang.
Si penari menunduk.
Dia teringat saat Abinawa memergoki dirinya sedang mengawasi Sang Yuwaraja menghabisi para perewa bertopeng putih. Bukannya membunuh si penari, Abinawa justru berkata bahwa si penari bukanlah tandingannya sehingga menyuruhnya pergi menyerahkan diri kepada Pasukan Keamanan Kedaton. Bahkan Sagara pun dilarang menghadang lari si penari dan menyuruhnya kembali ke dalam hutan.
"Aku," Si penari melirik Anatari, "hanya ingin bicara denganmu."
Abinawa keluar ruang tahanan seraya berkata, "Baiklah aku akan meninggalkan kalian berdua. Mengobrol-lah seperti teman lama dan jika butuh teh ... katakan saja."
Anatari menggeleng mendengar ucapan Abinawa, menatap pria itu menjauh dari ruang penjara, kemudian berpaling pada si penari yang telah lenyap dari tempatnya berdiri.
Hilang? Panglimunan?
Suara isak tangis seketika terdengar di dekat kakinya. Anatari mundur dengan limbung. "Kenapa tiba-tiba begini?"
"Hamba merindukan Gusti Putri," rengek si penari, memeluk kaki Anatari.
Anatari mengerjap tak percaya. "Kita saling kenal?"
"Ternyata Gusti Putri benar-benar melupakan hamba. Mantera terkutuk itu sangat jahat. Biar hamba habisi penjahat itu!"
Perubahan suasana hati perempuan ini lebih menyeramkan daripada Abinawa. Kenapa aku dikelilingi orang-orang aneh seperti ini?
"Biarkan saja, lagi pula pelakunya sudah mati. Yang melukaiku juga bukan siapa-siapa, melainkan diriku sendiri. Aku sudah sembuh sekarang. Tidak perlu dipermasalahkan lagi," jelas Anatari.
"Syukurlah. Hamba benar-benar khawatir saat mendengar kabar kalau Anda terluka. Terlebih Yang Mulia Ratu melarang hamba menemui Gusti Putri," cerita si penari.
"Berdirilah dulu," suruh Anatari.
Keduanya duduk di atas dipan bambu sederhana.
"Yang Mulia Ratu yang kau maksudkan itu siapa?"
"Tentu saja Ratu Falguni. Anda tidak ingat?"
Anatari tersenyum kikuk. "Oh. Aku mengingatnya. Aku mengingatnya. Bibiku bilang kalau kau bisa memberiku informasi mengenai penyerangan para perewa bertopeng. Adakah yang ingin kau jelaskan?"
Si penari memiringkan kepalanya, menatap serius, kemudian mengangguk penuh keyakinan. "Baiklah, karena ingatan Anda begitu buruk, hamba akan menjelaskan semuanya. Semoga bisa membantu memulihkan ingatan Gusti Putri."
"Ingatanku hanya lemah. Ayo, katakanlah."
"Hamba memang menyerang Anda dengan ilmu gendam atas perintah Anda. Penyerangan dan keonaran itu dipimpin oleh hamba atas perintah Anda. Dan hamba membuat diri hamba ditemukan dan ditahan di sini juga atas perintah Anda. Sekarang hamba siap menerima perintah selanjutnya," jelas si penari bersemangat.
__ADS_1
Anatari terperangah. "Kematian dua penduduk yang diserang sebilah keris seukuran jari manis ... apakah itu juga perintahku?"
Si Penari menggeleng. "Itu keputusan hamba sendiri. Hamba mencoba menyerang Abinawa, tapi entah kenapa malah kedua penduduk itu yang menjadi korbannya."
Anatari terkejut bukan kepalang mengetahui kebenaran yang dituturkan perempuan muda di hadapannya. "Aku yang merencanakan kerusuhan itu? Kau tidak sedang ... sedang memfitnahku, kan?"
"Hamba tidak berani melakukannya. Apa yang hamba katakan adalah yang sesungguhnya," jujur si penari.
Selamat Anatari Kemala! Kau berhasil menjadi pimpinan gembong penjahat.
Anatari menatap perempuan muda berwajah elok dan berkulit eksotis di hadapannya. "Siapa namamu?"
"Saat menemukan hamba terlantar di tepi sungai, Gusti Putri menamai hamba Lavi Kana." wajah Lavi dihiasi senyum sempurna.
"Lavi Kana?" ulang Anatari.
"Benar."
Lavi menceritakan ketika usianya sepuluh tahun, Anatari menemukannya terbaring di tepi sungai dalam keadaan lemas karena kelaparan. Rasa iba menuntun Anatari untuk membawa Lavi ke tenda perkemahan yang tidak jauh dari sana.
Hewan buruan yang didapat Anatari dibaginya dengan Lavi yang melahap banyak-banyak daging rusa panggang hingga membuatnya tersedak.
"Kau makan seperti singa kelaparan dan kuat menahan penderitaan, tapi terkalahkan oleh nasib yang tidak berpihak. Setelah perutmu terisi penuh makanan, adakah tenaga untuk bicara padaku?" ujar Anatari.
Lavi mengangguk beberapa kali, memerhatikan wajah anggun Anatari kecil yang lebih tua dua tahun darinya.
"Siapa namamu?"
"Orang-orang memanggilku, 'gadis jelek'," jawab Lavi tanpa merasa risih sama sekali menyebutkan julukannya.
Anatari mengamati penampilan Lavi yang jauh dari kata jelek, hanya kumal. "Kalau kau belum punya nama, bisakah aku memanggilmu, Lavi Kana? Bagaimana menurutmu?"
"Aku suka." Senyum Lavi mengembang, memperlihatkan daging rusa yang berada di antara himpitan giginya.
Anatari termangu. Anatari Lingga menyelamatkan seorang gadis kecil hanya untuk dijadikan kaki tangan dalam melancarkan tindak kejahatan. Dasar penjahat sampah! Apa dia tidak tahu cara memperlakukan manusia lain dengan benar?
"Lavi. Berikan tanganmu," pinta Anatari.
Lavi menyodorkan tangan kanannya. Kemampuan Anatari terbuka.
Dia melihat Anatari Lingga dan Lavi berbicara di taman keraton Girilaya yang didominasi patung batu dan air mancur. Anatari meminta Lavi untuk melakukan penyerangan dan keonaran di Bhumi Javacekwara sebelum upacara pernikahannya dengan Abinawa berlangsung, serta membawa Anatari pergi untuk kemudian melarikan diri bersama Mahesa.
Selama berada dalam kurungan istana, Anatari senang mempelajari Tari Topeng. Dan mulai mencoba memantrai topeng miliknya sendiri. Setiap kali menari memakai topeng putih dengan semburat emas di bagian dahi itu, wajah Anatari selalu tersenyum dibaliknya. Hatinya dipenuhi kebahagian palsu yang lahir dari kecemburuannya melihat kebahagiaan orang lain. Pikirannya dipenuhi ide-ide busuk cara merenggut senyum dari orang-orang di sekitarnya yang dinggap tidak peka pada kondisinya.
Dengan bersembunyi dibalik topeng itu, dia mulai memiliki keinginan untuk menghabisi orang-orang yang tidak disukainya. Merenggut kebahagiaan dari mereka yang menurutnya tidak layak, menggantinya dengan duka dan tangis yang menghiasi kedaton Bhumi Girilaya hampir setiap minggunya. Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu, kecuali Lavi yang berperan sebagai tangan kanannya. Namun, bibinya .... Anatari tidak yakin.
Anatari melepaskan tangan Lavi. Ternyata memang benar bahwa pernikahan Anatari Lingga dan Abinawa diwarnai kekacauan. "Kenapa kau melakukan penyerangan jauh hari sebelum upacara pernikahan?"
"Hamba melakukannya atas perintah Pengeran Mahesa. Dia memberi kabar kalau Abinawa dan Gusti Putri sedang berada di alun-alun Kuthanegara, menyaksikan pertunjukkan tari topeng. Menurutnya, itu waktu terbaik untuk membawa Anda pergi sekaligus menghabisi Abinawa yang lepas dari pengawalan Sagara, tapi ... itu adalah keputusan yang salah," tutur Lavi.
"Kenapa begitu? Sesuatu yang tidak diharapkan telah terjadi?"
Lavi mengangguk. "Hamba mendengar kabar yang menyatakan bahwa Yuwaraja Bhumi Javacekwara adalah seorang pria lemah dan pesakitan. Tapi malam itu, hamba melihat sendiri pria itu menghabisi seluruh pengikut Banaspati yang Anda manfaatkan. Hamba dibiarkan melarikan diri ke kota dan ditangkap oleh prajurit keamanan kedaton sesuai rencana."
"Dia menguasai ilmu kanuragan?"
"Benar. Malam itu dia mengeluarkan ajian Rajah Kalacakra. Dia mengalahkan pasukan tubuh ilusi tidak sampai menggunakan setengah tenaga dalamnya. Karena itulah hamba dibiarkan pergi. Hamba bukan tandingannya," jelas Lavi.
"Apa Mahesa tahu mengenai hal itu?"
"Tidak. Hamba belum memberi kabar pada Pangeran Mahesa," sahut Lavi.
Kepala Anatari kembali berdenyut nyeri. "Baiklah. Jangan katakan apapun pada siapapun. Aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari tempat ini. Kuharap kau bersedia menunggu."
"Hamba akan menunggu di sini sampai Gusti Putri datang mengeluarkan hamba."
"Baiklah. Aku akan kembali lagi nanti."
Anatari melangkah limbung. Kepalanya berdenyut-denyut, pusing. Seorang penjaga yang mengeluarkannya dari dalam ruang tahanan, menuntun jalan ke luar bangunan yang menyerupai labirin.
Dalam beberapa hari ini dia mendapat badai tsunami informasi yang bertubi-tubi dan mengejutkan karena ternyata dia adalah biang kerok dari beberapa masalah yang telah terjadi. Anatari Lingga adalah iblis pencabut nyawa yang memiliki wajah seanggun Dewi.
Aku benar-benar tidak beruntung. Sangat tidak beruntung.
Anatari meratapi nasib diri sendiri, tapi untuk apa? Dia tidak ada urusan dengan segala hal yang telah diperbuat Anatari Lingga sebelumnya. Kini, jiwa Anatari Kemala yang memegang peran penting dalam mengendalikan arah hidup Anatari Lingga. Dia yang berkuasa. Menjadi protagonis atau antagonis bisa dipilihnya sesuka hati. Benarkah?
__ADS_1
Ayunan kaki Anatari terhenti. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak dapat memilih peran protagonis. Jika dia bersikap terlalu baik bak bidadari, malaikat maut akan mencubit jantungnya tanpa ampun. Kalaupun memilih peran Antagonis, takutnya justru menambah tumpukan dosa yang sudah memenuhi lembar-lembar catatan buruk Anatari Lingga. Bukannya menyelesaikan misi mengurangi dosa, yang ada makin terperosok ke dalam neraka.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Apa hanya bisa meneruskan peran antagonis Anatari Lingga? Apa aku benar-benar tidak diberi pilihan?
Anatari mempercepat langkah mencari Abinawa. Pria itu berhasil ditemuinya di luar tembok tinggi penjara, berdiri menjulang menatap bulan separo yang sinarnya cemerlang tak terbendung awan.
"Siapa yang sebenarnya bersandiwara? Kau, aku, atau musuh? Sudahkah kau menemukan jawabnya?" tanya Anatari.
Suara Anatari mengalihkan perhatian Abinawa. "Aku tidak ingin membahas hal apapun. Satu hal satu hari akan selalu berlaku. Sagara. Bawa dia kembali ke kediamannya."
Abinawa memasuki pintu kayu tebal yang masih terbuka. Anatari menghampirinya seraya memanggil nama pria itu. Abinawa bergeming. Pintu kayu pun tertutup tepat di hadapan wajah Anatari.
"Abinawa. Apa yang akan kau lakukan? Abinawa, Jangan membunuhnya! Kumohon. Abinawa. Buka pintunya! Kumohon jangan membunuhnya!"
Sagara hendak menotok punggung Anatari, tetapi seseorang menghalangi.
"Biarkan aku yang membawanya kembali ke keputren dalam keadaan sadar," tekan Mahesa.
Anatari berpaling. "Kau ada di sini."
Mahesa menggenggam tangan Anatari. "Aku akan membawamu pergi dari sini."
Sagara menghalangi. "Yuwaraja tidak akan menyetujui hal ini."
"Aku tidak membutuhkan persetujuannya," tukas Mahesa.
Mahesa menarik Anatari yang masih keras hati untuk bertahan di tempat itu. Dia tidak akan tenang meninggalkan Lavi sebelum Abinawa keluar menampakkan batang hidungnya.
Sagara mencoba mencegah kepergian Anatari, tetapi Partha menghalangi dengan keris teracung ke arah Sagara.
"Kita memiliki urusan yang belum terselesaikan," ucap Partha dengan suara baritonnya.
Sagara mencabut kerisnya. "Ayo kita selesaikan. Aku tidak akan mundur."
Para prajurit penjaga berdatangan, melerai kedua Kepala Pengawal yang berniat mengadu ilmu kanuragan.
"Yuwaraja memerintahkan Anda berdua kembali ke kediaman atau menginap di dalam sel tahanan yang sama," kata Kepala Penjara.
"Tidak sudi!" geram keduanya bersamaan.
Mahesa membawa Anatari melewati pintu gerbang utama Bhumi Javacekwara. Sebuah kereta kuda sudah menunggu di tepi hutan.
Anatari memerhatikan para prajurit penjaga yang tergeletak begitu saja di atas tanah. "Kau membunuh mereka?"
"Tidak. Hanya membiarkan mereka tidur," jawab Mahesa disela tarikan napasnya yang kasar.
"Masuklah."
Anatari menatap ke dalam kereta kuda. "Ke mana kita akan pergi?"
"Masuklah dulu," desak Mahesa.
Anatari bimbang akan apa yang harus dilakukan. Dia tidak ingin pergi mengingat janjinya pada Lavi, tapi siapa juga yang mampu menolak ajakan dari pria yang kita cintai.
Mahesa membopong Anatari. "Kita harus segera pergi sebelum ada yang melihat." Mahesa menaikkan Anatari ke atas kereta kuda.
"Tunggu. Tunggu." Anatari mencoba menolak.
"Anatari," panggil Abinawa.
Anatari membeku di depan pintu masuk kereta kuda. "Abinawa. Aku --"
"Aku tidak akan melarangmu untuk pergi, juga tidak bisa menjanjikan pelayanmu dari Girilaya akan tetap hidup. Hanya itu yang ingin aku katakan," kata Abinawa, dingin.
Hanya itu? Serius? Dia membebaskanku sekaligus mengancamku. Abinawa ... kau!
"Sekalipun kau menghalangi, aku akan tetap membawa kekasihku pergi," tegas Mahesa.
Kekasih? Abinawa dan Anatari bertukar pandang beberapa saat.
Anatari menatap Abinawa beberapa detik sebelum akhirnya memilih duduk di dalam kereta kuda. "Kita pergi."
Mahesa tersenyum penuh kemenangan.
Abinawa tak dapat melakukan apapun; berdiri diam di ambang pintu gapura utama Bhumi Javacekwara, mengawasi kereta kuda hingga menghilang ditelan kegelapan.
__ADS_1
"Yuwaraja? Anda membiarkan mereka pergi begitu saja?"
"Jika aku berada di posisinya, aku pasti akan melakukan hal yang sama."