Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 21. Prasangka


__ADS_3

Kabut hitam menyelinap melewati celah-celah pintu dan jendela kayu. Menjalar ke seberang ruangan tempat Anatari merebahkan diri.


"Dia kembali."


"Itu bukan dia."


"Itu memang dia."


"Dia tidak lemah."


"Benda itu ada padanya."


"Tuan harus tahu."


Dahi Anatari berkerut dalam. Bola matanya bergerak liar dibalik kelopak mata yang terpejam. Napas tersekat dan hentakan jantung bertalu tak terkendali menghantarkannya dari dunia mimpi demi melihat tubuhnya dilahap lidah api yang membara.


Abinawa yang tertidur di bale-bale seberang ruangan bergegas menghampiri Anatari yang menjerit dan meronta. "Apa yang terjadi? Anatari!" Abinawa mengguncang keras bahu Anatari yang belum sadarkan diri. "Anatari!"


Anatari terperanjat diliputi kebingungan.


"Apa yang terjadi? Mimpi buruk?"


Anatari berpaling pada Abinawa. Dia mempertimbangkan untuk memberi tahu apa yang baru saja menimpanya. "Ya. Mimpi buruk."


"Tentang apa?"


"Tentang .... Tentang pertarunganmu dan makhluk di hutan. Wajahnya sangat menyeramkan." Anatari meragu apa Abinawa orang yang tepat untuk diajak berbagi rahasia.


Abinawa melepaskan tangannya dari bahu Anatari. "Itu sudah selesai. Tidak perlu mencemaskannya."


"Ya. Tentu saja. Itu sudah selesai. Apa makhluk itu benar-benar sudah mati?"


"Dia tidak akan bangkit lagi. Jika itu maksudmu. Tapi, ya, masih banyak makhluk sejenisnya yang berkeliaran bebas," jelas Abinawa.


"Ya. Sangat banyak," gumam Anatari, menyetujui.


Abinawa menatap Anatari yang kembali terpegun. Dari setiap garis ekspresi yang nampak, Abinawa tahu bahwa Anatari tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia yakin bahwa perempuan yang ada di hadapannya sedang menyembunyikan sesuatu. Apa itu? Abinawa tidak ingin mengetahuinya. Untuk sekarang.


"Abinawa," sebut Anatari.


"Tidurlah. Sebentar lagi pagi. Saat itu kau bisa menanyakan apapun padaku," ujar Abinawa.


Ayam jantan telah berkokok beberapa waktu lalu. Ramai orang berbincang di lobi penginapan. Anatari yang tidurnya tak tenang lantas terbangun mendengar suara obrolan dan tawa para tamu penginapan yang sedang menikmati menu sarapan.


Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Anatari turun mencari Abinawa. Seorang pelayan berlari kecil menghampirinya dan mengatakan bahwa Abinawa berada di ruangan khusus di halaman belakang penginapan.


Sagara, Tambir, dan Wiba sedang menikmati sarapan mereka yang sederhana di bawah pohon angsana beralaskan bale-bale bambu yang dilapisi tikar pandan. Sagara beringsut hendak membukakan pintu paviliun untukku, tapi aku melarangnya dan memintanya meneruskan sarapannya.


Harum masakan menyapa indera penciuman sesaat setelah membuka pintu paviliun. Abinawa duduk di atas bale-bale kayu jati di dekat jendela yang menyuguhkan pemandangan sungai berair jernih. Dia duduk tegak dan menutup mata. Angin sepoi meliuk masuk ke dalam ruangan membawa beberapa kuntum bunga angsana kuning cerah yang berukuran kecil. Salah satunya mendarat di rambut Abinawa yang tergerai. Anatari mengulurkan tangan hendak mengambil bunga itu, tetapi jemari Abinawa bergerak cepat mencengkram pergelangan tangan perempuan itu.


"Kau."


"Tentu saja ini aku." Anatari mengibaskan tangan Abinawa, mengambil bunga itu untuk diperlihatkan pada Abinawa. "Kau pikir aku akan mencelakaimu demi mendapatkan bunga indah ini."


Anatari menyelipkan bunga itu ke sanggulan rambutnya sendiri. "Ada makanan lezat yang disajikan malah kau sia-siakan dengan bermeditasi." Dia mengambil tempat duduk di seberang Abinawa.


"Memakan makanan di saat masih panas bisa menyebabkan kerusakan pada perut, lidah terbakar, juga sakit pada kerongkongan. Apa kau tidak tahu?" kilah Abinawa.


Anatari tersenyum."Jika makanannya enak, aku tidak akan menyesal. Tunggu apa lagi. Makanlah."


Anatari makan dengan lahap semua hidangan tradisional yang dianggap mewah pada masanya. Yang paling dia suka adalah oseng bebek dengan bumbu kecap dan pecel sayuran. Dia pun hanya membagi seiris daging bebek yang diletakkan pada piring gerabah milik Abinawa yang hanya terisi nasi panas.


Anatari yang fokus mencicipi semua menu makanan yang tersaji nampaknya tidak menyadari bahwa Abinawa sebenarnya tidak menyentuh makanannya sama sekali.


Abinawa mengalihkan pandangannya dari Anatari. "Aku harus mengurus sesuatu dengan Wiba dan Tambir. Sagara akan menemanimu di sini."


Anatari meletakkan peralatan makannya. "Apa sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuanku lagi?"


Abinawa menuangkan teh yang masih berasap ke dalam cangkir miliknya dan milik Anatari. "Tidak ada yang terjadi. Hanya memastikan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lagi."


"Baiklah." Anatari mengamati Abinawa yang menyesap tehnya. "Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?"


"Tanyakanlah."

__ADS_1


Anatari merenung sesaat sebelum bertanya, "Apa alasanmu mengatakan bahwa aku bukanlah Anatari Lingga?"


Abinawa menegakkan bahunya, melempar pandangan jauh ke arah sungai. "Anatari Lingga yang aku tahu, dia perempuan cerdas yang senang berbuat sekehendak hatinya. Kepentingan dirinya selalu berada di atas segalanya. Sedang kau ...," Abinawa kembali menatap Anatari dengan intens, "aku belum tahu siapa dirimu. Sejak kau tidak lagi dapat mengingat beberapa kejadian dalam hidupmu sendiri, tahukah bahwa kau bagaikan burung yang lupa caranya terbang."


Anatari mencondongkan tubuhnya ke atas meja. "Mungkin saja aku memang jenis burung yang tidak bisa terbang."


Abinawa tersenyum meragukan. "Bisa jadi. Tapi ...," Dia kembali menyesap sisa tehnya, "Anatari Lingga yang aku tahu tidak pernah memakan daging. Dia menyukai sayuran, sama sepertiku."


Anatari menarik tubuhnya. Perkataan Abinawa bagai sebuah busur panah yang melesat tepat mengenai sasaran. Meskipun begitu, tugasnya sebagai Anatari Lingga belumlah selesai. Dia tidak bisa menyerah karena hal kecil seperti ini. Dia harus tetap memainkan perannya. "Mungkin saja itu efek dari beberapa ingatanku yang hilang. Menemukan sisi diriku yang lain."


Tidak kusangka ternyata pria ini diam-diam mencari tahu tentangku. Kalau terus begini, berapa lama lagi aku dapat bertahan.


Abinawa menatap tajam mengetahui pemikiran Anatari. Siapa dirimu yang sebenarnya?


Anatari meneguk teh yang dituangkan Abinawa tanpa sungkan. "Lantas apa yang harus kulakukan di sini?" Anatari mengalihkan topik pembicaraan.


"Menikmati Keharyapatihan Kertarta."


Sebuah ide menyenangkan terbesit di benak Anatari. "Aku akan melaksanakan titahmu."


"Jangan membuat kegaduhan." Abinawa memperingatkan dengan tegas.


"Kalau kau meragukan diriku sebagai Anatari Lingga, maka seharusnya kau tidak perlu mencemaskan hal itu."


Itulah yang semakin membuatku cemas. Sisi dirimu yang lain, batin Abinawa.


Seperti yang diperintahkan Abinawa "Menikmati Keharyapatihan Kertarta". Anatari benar-benar menikmatinya.


"Gusti! Gusti!" Sagara berjalan cepat mengikuti Anatari menerobos keramaian tengah pasar.


Anatari tidak menghiraukan. Dia berpindah-pindah dari satu pedagang ke pedagang lainnya. Membeli barang-barang yang dianggapnya unik dan mengesankan. Jika itu Anatari Lingga, dia tidak akan pernah melakukan hal kekanakan semacam ini. Namun, karena dia adalah Anatari Kemala, maka segala sesuatu di tempat ini adalah ladang perburuan harta karun.


"Nyai! Kau belum membayar daganganku!" teriak seorang pedagang.


"Pria itu yang akan membayarnya!" balas Anatari.


"Ambilah ini." Sagara memberikan lima keping uang perak kepada si pedagang, lantas bergegas pergi diikuti beberapa prajurit yang membawa barang belanjaan Anatari. Kebanyakan hanyalah barang tidak berguna.


"Kisanak, ini terlalu banyak. Tapi, terimakasih," seru si pedagang.


Sagara dan ketujuh prajurit cukup kewalahan mengikuti Anatari yang telah jauh berada di depan mereka. Syukurlah cuaca terik akhirnya membuat Anatari mau berdiam sedikit lebih lama di depan lapak penjual minuman.


"Bisa berikan aku satu?" pinta Anatari.


"Tentu saja. Silakan Nyai," sahut si penjual yang seorang nenek renta.


Anatari yang tidak terbiasa minum rebusan air rempah langsung berjengit merasakan minuman itu menuruni kerongkongannya. "Minuman apa ini?"


"Itu rebusan serai yang diberi perasan jeruk nipis. Sangat bermanfaat bagi tubuh. Juga cocok diminum siang hari seperti ini. Ini adalah minuman khas dari wilayah Kertarta," jelas si penjual.


"Ah, begitu rupanya. Berikan aku satu lagi."


"Baik, Nyai."


Si penjual memberikan botol air yang terbuat dari sebilah bambu utuh setinggi sepuluh sentimeter. Bagian atasnya yang terbuka ditutup memakai sumpalan daun jati guna menghindari isinya tumpah saat digenggam.


"Menikmati minuman itu, Anatari?"


Anatari membalikkan badan dengan gerakan cepat. "Siapa?"


"Gusti! Tolong jangan lari lagi."


Anatari tersenyum lemah, mendapati Sagara dan para prajurit terkapar di tanah. "Maaf." Dia membatu seketika. Jantungnya kembali terasa sakit.


Ternyata "kata terlarang" itu masih berlaku.


"Gusti!"


"Bawa aku pergi dari sini," pinta Anatari dengan suara tertahan menahan nyeri.


"Baik."


Anatari berbaring di atas rerumputan di tepi sungai berbatu, menatap pemandangan barisan perbukitan hijau. Para prajurit berjaga di atas bukit. Sagara berjaga tidak seberapa jauh darinya.

__ADS_1


"Anatari Lingga. Manusia seperti apa dirimu sebenarnya. Kata-kata yang penuh adab kau buat menjadi terkutuk. Akankah aku terus begini? Tidak memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri? Tapi yang paling kutakutkan adalah terjebak di dunia ini. Aku sangat takut," gumam Anatari pada diri sendiri.


Beberapa prajurit yang berjaga tumbang bersamaan tanpa menimbulkan suara apapun. Bahkan Sagara pun tidak menyadari adanya hal mencurigakan. Angin berhembus kencang membawa debu beterbangan, Sagara melindungi kedua matanya. "Gusti!" Pria muda itu membeku sesaat setelah memanggil junjungannya.


"Kau masih bisa berleha-leha di tempat ini, sementara Yuwaraja sedang mempertaruhkan nyawanya di hutan Canggal."


Anatari mengingat suara itu. Menikmati minuman itu, Anatari? Dia mengangkat tubuhnya agar bisa duduk tanpa memerlukan sandaran. Seorang perempuan yang sama yang bersikap sinis padanya tempo hari kini tengah duduk di atas bebatuan besar di tengah sungai.


"Kau terus mengikutiku hingga kemari apa hanya untuk menyampaikan hal itu? Sungguh merepotkan diri sendiri," sindir Anatari.


"Ternyata kabar yang kudengar memang benar adanya. Gusti Putri Anatari Lingga telah kehilangan ingatannya," ucap perempuan berwajah licik itu.


"Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga. Kau ketinggalan kabar yang satu itu. Dan tidak ada faedahnya bagiku untuk mengingat seseorang yang tidak penting," balas Anatari.


"Kau --"


"Apa kita benar-benar saling mengenal? Tidak mungkin kan kita sahabat baik."


"Kalau begitu, ijinkan aku, Agniya untuk membantumu mengingat masa lalu," ucap Agniya.


Agniya mengangkat tangannya ke arah Anatari. Sebilah pedang muncul seketika, menyasar Anatari sebagai targetnya. Anatari menarik selendangnya, membalikan pedang ke arah pemiliknya menggunakan selendang katun yang telah dialiri tenaga dalamnya.


"Gusti! Bebaskan hamba. Biar hamba yang menghadapinya," seru Sagara.


"Kau istirahat saja. Lagipula dia memiliki 'niat baik' untuk membantuku mengingat masa lalu. Tentu tidak boleh diabakan," tolak Anatari.


"Gusti! Hati-hati!"


Anatari berpaling ke bebatuan kosong tempat perempuan tadi duduk. Dia mendongak yang ternyata perempuan itu menyerangnya dari atas. Anatari mundur tepat pada waktunya sehingga ujung tajam pedang hanya mengenai bebatuan di tempatnya berdiri barusan. Serangan kembali datang bertubi-tubi. Anatari tidak banyak melancarkan serangan balasan, lebih sering menghindar dan terkadang melarikan diri.


Ilmu kanuragannya tidak seberapa hebat, tapi keadaanku saat ini tidak memungkinkan untuk melawannya dalam waktu yang lama. Jika terus kupaksakan, meridianku akan rusak. Apa yang sebaiknya kulakukan? Akankah Abinawa datang menolong? Tunggu! Aku tidak mengerti apa yang baru saja kukatakan. Meridian apanya?!


Anatari dan Agniya sama-sama melayangkan pukulan. Kedua telapak tangan yang telah dialiri tenaga dalam bertemu dalam satu hentakan keras yang membuat Anatari terjun bebas tercebur ke dalam sungai.


"Gusti!"


Tubuh Anatari terhempas begitu keras membentur permukaan air. Dengan cepat tenggelam menuju dasar sungai berpasir penuh berbatu.


"Lawanlah. Beri aku kekuatan amarahmu. Dan akan kubalaskan dendammu."


"Siapa? Siapa yang berbicara padaku?"


Sepasang mata yang teramat kelam menatap Anatari dari kedalaman kabut kelabu. Manik hitamnya hanya berupa garis tipis vertikal yang menghiasi bola mata jingga menyala. Seringai yang jelas tidak indah memamerkan sepasang taring tajam yang ukurannya jauh lebih tinggi dari tubuh Anatari.


"Keluarkan amarahmu, Anatari Lingga. Aku telah siap. Bebaskan aku."


"Siapa kau?"


"Penuhi takdirmu untuk melahirkanku."


Anatari terkesiap dan panik mendapati dirinya tenggelam ke dalam dasar sungai. Sebuah tangan menarik lengannya, membawanya ke permukaan. Anatari berlutut memuntahkan seluruh air yang sempat diteguknya.


"Sudah kukatakan jangan sampai membunuhnya," tegur si penyelamat Anatari.


Anatari berpaling pada penolongnya. Matanya membelalak tak percaya. Dia bukanlah sang penolong. Dia pria yang sama yang melakukan penyerangan di kediaman Abinawa. Anatari masih mengingat luka akibat goresan benda tajam yang menghiasi telapak tangan bagian dalam si pria bertopi caping yang dikelilingi kain hitam. Tanpa aba-aba langsung digigitnya tangan si pria yang terulur bebas.


Sagara merasakan totokan di punggungnya, membuatnya kembali bebas menggerakkan anggota tubuhnya.


"Cepat!"


"Siapa kau?"


Sagara dan si perempuan bercadar melakukan penyerangan mendadak, membuat si pria misterius dan Agniya terpental akibat pukulan tenaga dalam. Anatari terduduk lemah di bebatuan tepi sungai. Para prajurit segera mengelilingi dan melindungi Anatari. Setelah beradu beberapa jurus dengan Sagara dan perempuan bercadar, kedua perewa itu memutuskan melarikan diri.


Si perempuan bercadar berlari menyongsong Anatari. "Anda baik-baik saja!"


Pandangan Anatari tidak fokus, dia terguncang karena sesuatu hal. Tubuhnya menggigil kedinginan.


Sagara berlutut di depan Anatari. "Gusti, apa yang terjadi?"


Anatari berkata terbata-bata, "Aku harus melahirkan."


"Putra Yuwaraja?" tanggap Sagara.

__ADS_1


Anatari terdiam.


__ADS_2