Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 25. Jiwa yang Terkurung


__ADS_3

Anatari berdiri di depan kediamannya, memeluk erat dirinya sendiri di tengah udara dingin menusuk kulit wajahnya yang tak terlindungi. Perhatiannya tertuju pada pintu gerbang yang tertutup rapat. Manik hitamnya mencari-cari. Hatinya berdebar penuh harap. Pikirannya melayang pada orang yang berada jauh darinya. Kakinya terus bergerak ke sisi kanan dan kiri, menjelajahi serambi depan kediamannya.


Tawa cekikian dihantarkan angin. "Dia menunggu pria itu."


"Kau menang. Besok aku akan memberimu darah ayam," ucap anak laki-laki


Anatari mengamati sekelilingnya. Mencari asal suara yang terkesan mengambang di udara dan mudah hilang terbawa embusan angin.


"Gusti Putri sedang mencari kami?" Suara cekikikan kembali terdengar.


Anatari merasa ngeri juga berani pada saat bersamaan. Bisa jadi keberanian yang didapatnya berasal dari rasa takutnya.


"Kami di atas, Gusti."


Anatari menjauh dari serambi, melangkah ke halaman depan yang diselimuti kabut tipis hanya untuk menyaksikan kejahilan dua bocah sepuluh tahunan yang sedang bermain engklek di atap kediamannya. Kedua bocah setengah transparan itu melayang ke arahnya, serupa asap yang terbawa embusan angin.


Anatari mengulurkan tangannya ke udara. "Berhenti!" Dua arwah itu melayang-layang di udara terbuka. "Jangan mendekatiku dengan wajah buruk kalian. Aku membencinya."


Kedua arwah itu mengangguk, wajah keduanya kini terlihat lebih dapat diterima, meski masih tampak pucat dan datar dengan sorot mata kosong dari manik hitam pekat tanpa cahaya kehidupan.


"Kami bertaruh apakah Gusti Putri akan kembali kemari atau tidak. Aku menang taruhan darinya. Darah dari tiga ekor ayam cemani." Arwah anak perempuan itu berujar tanpa membuka mulutnya.


"Aku tidak peduli. Katakan padaku bagaimana kalian bisa tahu aku sedang menunggu pria itu?" tukas Anatari.


"Kulihat dia pergi menunggang kuda, keluar dari gerbang utama Girilaya pagi tadi. Sepertinya memiliki urusan yang mendesak. Dia pasti belum kembali."


"Apa ada seseorang yang menemaninya?"


"Dia pergi berdua ...," anak perempuan itu kembali cekikikan, "bersama kudanya."


Anatari yang sedang tidak ingin bercanda, mendelik kasar pada arwah perempuan itu.


"Cepat pergi! Dia kembali gila." Arwah anak laki-laki berseru panik, melayang menjauh, terjun ke taman Mawar.


Pintu gapura kediaman Anatari berderit terbuka. Lavi menghambur, memeluk Anatari. "Hamba mengkhawatirkan Anda. Saat Sagara membawa pulang mayat Ekawira, hamba terus berdoa pada Acintya untuk keselamatan Anda."


Anatari melepaskan diri. "Kau bisa lega sekarang. Aku baik-baik saja. Lihatlah."


Lavi sumringah mendapati junjungannya dalam keadaan baik. Anatari mengenyahkan senyum dari wajahnya, berganti kecemasan yang tak dapat ditutupi.


"Apa yang membawamu kemari, Lavi? Seingatku, aku menyuruhmu ikut berjaga di Kertarta?"


"Hamba kemari atas perintah Yuwaraja. Sagara mendapat pesan dari Yuwaraja yang meminta hamba menjaga Anda," jelas Lavi.


Dahi Anatari berkerut, menurunkan tatapannya, lalu kembali pada Lavi. "Apa di dalam pesan itu dia mengatakan hal lainnya?"


"Seingat hamba, Sagara tidak mengungkit ada hal yang lainnya. Memangnya apa yang terjadi pada Yuwaraja?" Lavi mengucap kalimat kedua dengan hati-hati.


"Aku tidak tahu. Dia pergi pagi-pagi sekali tanpa memberitahu ke mana tujuannya. Untuk apa dia memintamu menjagaku?" ujar Anatari, murung.


"Yuwaraja jelas mengkhawatirkan Anda. Dia tidak ingin Anda sendirian di luar jangkauannya," hibur Lavi.


Anatari menyimpan pemikirannya sendiri.


Lavi mengekor Anatari, memasuki kediaman lama junjungannya. Menatap ceria ke sekeliling ruangan. "Sejak Anda pergi ke Javacekwara, ruangan ini terasa tak berjiwa dan sunyi. Tapi, aku selalu membersihkannya. Berjaga-jaga bilamana Anda kembali di waktu yang tidak terduga. Seperti saat ini."


Anatari melangkah pelan, menyusuri setiap sudut tempatnya tumbuh terkurung selama belasan tahun. Ruang dibagian depan diperuntukan untuk menyambut anggota keluarga yang datang berkunjung. Sebuah partisi kayu jati yang dipoles emas di beberapa bagian ukirannya, sangat indah menyuguhkan pemandangan pegunungan Girilaya. Dibalik partisi itu merupakan ruang tidur Anatari. Sebuah babragan besar yang dihiasi kelambu sutra berwarna kuning pucat. Beberapa meja kayu kecil digunakan sebagai tempat menaruh celupak dan bonsai Mawar Liar. Bagi seorang Putri Mahkota, kediaman ini sangat kecil dan terlalu sangat sederhana.

__ADS_1


Jemari Anatari menyentuh dinding yang terbuat dari batu candi sehitam arang. Kesedihan. Keputusasaan. Kekecewaan. Kemarahan. Ruangan ini adalah jiwa Anatari Lingga yang dipenuhi kehampaan.


Napas Anatari tersekat di tenggorokannya. Sesuatu menariknya dengan cepat.


Anatari mendapati dirinya berdiri di ruang gelap yang teramat kelam, luas tanpa batas, terkurung dalam jeruji besi emas. Berdiri dengan tubuh lemas seakan-akan bisa terjatuh setiap saat. Samar terdengar suara orang menyebut Mustika Naga. Semakin lama suara-suara itu kian jelas di pendengarannya.


"Aku tidak ingin mengotori kerisku dengan darahnya. Lagipula dia hanya seorang bocah."


"Kalau begitu tunggu dia hingga dewasa. Baru dibunuh."


Bayangan hitam muncul satu per satu, mengelilingi sangkar jerujinya. Tertawa. Mengatai dirinya sebagai Putri Terkurung. Menunjuk-nunjuk dirinya yang dianggap gila karena bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Anatari sendirian, merasa terintimidasi oleh berbagai tuduhan miring yang ditujukan padanya. Dia menunduk, memeluk dirinya yang gemetaran.


"Ambillah."


Anatari mengenali suara itu, mengangkat kepala, menatap datar remaja laki-laki yang tersenyum dibalik secarik kain yang menutupi setengah wajahnya. Anatari mendekat dengan tangan terangkat, mengambil batang Mawar yang disodorkan ke dalam kurungannya.


Darah menciprat. Batang Mawar itu terlepas dari genggaman Anatari. Remaja laki-laki itu menghilang ditelan kabut kelabu. Anatari kembali merapat ke sisi sangkar besi, menggenggam kemben kain katun di bagian dada. Hangat. Ada sesuatu yang terus keluar dari dalam tubuhnya. Darah. Perih dan panas terasa dari luka sayatan yang muncul seketika di dadanya. Para Pendekar Tersumpah yang diasingkan, kini muncul mengepungnya. Mereka mengacungkan keris ke dalam sangkar, bersama menghunuskan senjata itu ke tubuh Anatari.


Anatari menjerit sejadinya. Dia kembali berjongkok memeluk dirinya. Setelah jeritan yang lama dan memekakkan telinga, dia mendapati dirinya berada di bawah naungan semak Mawar Liar yang dipenuhi bunga berwarna merah. Indah dan harum.


Sebuah tangan menarik sulur tanaman itu, membakarnya di udara. Abu pembakaran yang masih membara, beterbangan, lenyap seketika begitu hinggap di tubuh Anatari. Anatari mengangkat kepala.


Mahesa tersenyum pedih. "Kesedihan. Keputusasaan. Kekecewaan. Kemarahan. Aku juga merasakannya. Karena kita sama, Anatari." Mahesa mengulurkan tangannya. "Aku akan membantumu, membalaskan semua rasa sakitmu. Aku akan menunjukkan jalannya. Ikuti aku."


Anatari menyambut uluran tangan Mahesa dengan penuh keyakinan.


"Kau harus yakin pada dirimu sendiri. Aku khawatir bukan kebenaran yang kau dapatkan, melainkan kebohongan yang menyesatkan."


Anatari menoleh ke balik bahunya. Abinawa berdiri diliputi kekhawatiran.


"Abinawa." Anatari berucap tanpa suara.


"Gusti! Gusti Putri!" seru Lavi, mengguncang keras bahu Anatari.


Anatari terdorong hingga jatuh. Lavi berlutut ketakutan di hadapan junjungannya. Napas Anatari tersengal seolah baru berlari berkilo-kilo meter jauhnya. Dia menatap ekspresi janggal di wajah Lavi, lantas mengkuti arah tatapan Kepala Pengawalnya.


Sebuah topeng putih berukirkan urat-urat daun Mawar di bagian atasnya yang berwarna emas, berada dalam genggaman tangan kanannya. Anatari terpaku pada ekspresi menyeringai yang ditunjukkan si topeng. Sangat realistis dan bengis. Anatari melempar topeng itu hingga membentur dinding. Namun, topeng itu bergeming, tak tergores ataupun retak.


"Singkirkan benda itu," perintah Anatari, gemetar.


"Bagaimana cara menyingkirkannya? Selama ini Anda yang menyimpannya."


"Simpan di tempat biasa aku menyimpannya," bentak Anatari. Reaksi Anatari tidak berdasarkan kekesalan, melainkan ketakutan.


Lavi tersentak kaget, tapi berusaha mengendalikan diri. "Di mana itu, Gusti Putri?"


Anatari mendongak dari posisi jatuhnya di lantai. "Aku ... tidak tahu." Anatari memukul-mukul dadanya, terasa penuh dan sesak. Sesuatu meronta hendak keluar dalam dirinya. Dia berlari ke arah jendela, memuntahkan apapun yang membuatnya tidak nyaman. Hanya air keruh yang keluar dari mulutnya dan sesuatu yang lunak seukuran bola pingpong ikut melompat keluar.


Lavi yang penasaran mengambil celupak di dekatnya. Menyinari muntahan Anatari. Kedua mata perempuan itu menyipit. Itu bukan sekedar air keruh biasa. Darah dan seiris tebal daging merah. Keduanya bertukar pandang, terperangah tak percaya, mengucap bersamaan dua kata yang berbeda.


"Ilmu hitam," ucap Anatari


"Guna-guna," ucap Lavi.


Bunyi debum keras mengiringi tubuh Anatari yang terjatuh tak sadarkan diri.


"Gusti Putri! Jangan lagi!" seru Lavi, melempar celupaknya keluar jendela. Jatuh menimpa muntahan Anatari, membakarnya hingga tak bersisa.

__ADS_1


"Apa dia sudah sembuh?" tanya si arwah anak laki-laki.


"Tentu. Selama pria itu tidak meninggalkannya, dia akan tetap menjaga Gusti Putri di sisi yang benar," jawab si arwah perempuan yang kini bermain engklek di atas benteng kedaton.


"Tapi dia sudah pergi."


"Dia akan kembali." Si arwah perempuan menatap ke kejauhan. "Entah dalam keadaan hidup atau telah mati."


Ayam Pelung berkokok sangat panjang dan lantang, menyambut fajar di ufuk timur yang berpendar terang. Lavi masih terjaga, duduk di tepi pembaringan Anatari.


Falguni menyeruak masuk, setengah berlari menuju ke sisi Anatari. "Bagaimana keadaannya?"


Lavi berdiri seketika, memberikan hormatnya sebelum berkata, "Tabib bilang keadaan Gusti Putri sudah stabil dan tubuhnya telah dibersihkan dari ilmu hitam yang telah menguasainya selama ini."


"Jadi memang benar bahwa keponakanku telah diguna-guna seseorang," guman Falguni.


"Tabib bilang sekarang hanya tinggal menunggu Gusti Putri bangun. Pesannya jangan dibangunkan. Biarkan Gusti Putri memulihkan dirinya secara perlahan," ucap Lavi.


Seorang prajurit menghadap Falguni. Dia memberikan gulungan kertas kecil nan tebal yang masih terikat tali rami.


Namaini menyerang Acarya. Janardana menuju ke sana. Kirimkan bantuanmu.


Falguni meremas kertas itu dengan kuat. "Begitu Anatari bangun, lekas bawa dia menuju Kertarta. Kau ikutlah bersama mereka kembali ke Javacekwara. Harus cepat!"


"Apa sesuatu telah terjadi, Yang Mulia Ratu?"


Falguni mengembus napas berat. "Namaini menyerang Acarya. Javacekwara sudah mengirimkan bantuan. Jayaraga memintaku melakukan hal yang sama."


"Apa perang besar akan berlaku?"


Falguni menatap sendu ke arah Anatari. "Pertanyaanmu adalah hal yang paling tidak ingin kujawab." Falguni memberikan titahnya pada si prajurit yang masih setia menunggu. "Beritahu Panglima Amuk Rekso untuk memimpin pasukan menuju Acarya. Dan suruh Bantengsoka menghadap padaku. Sudah waktunya membuktikan kesetian para Pendekar Tersumpah."


Suasana kedaton Girilaya yang selalu tenang dan sepi, kini berubah gaduh oleh suara langkah kaki ribuan prajurit. Suara-suara itu bukan berasal dari permukaan tanah, melainkan dari dalam tanah. Begitulah adanya. Girilaya memiliki jalur rahasia di bawah bangunan kedaton yang menyerupai punden berundak. Jalur selebar empat dpa yang panjangnya tak terhingga karena saling terhubung penuh liku yang menyerupai labirin. Jalur khusus ini digunakan saat situasi genting: menyelamatkan Yang Mulia Ratu dari pengepungan musuh dan jalur keluar bagi para prajurit yang akan pergi berperang.


Empat buah pintu batu yang terletak di teras terbawah, menggeser terbuka. Dari arah barat keluarlah pasukan kavaleri yang dipimpin Panglima Perang Amuk Rekso yang berjambang pendek dan lebat. Pasukan garda depan keluar dari arah gerbang timur bersenjata pedang pendek, keris, dan tombak panjang. Dan, pasukan pemanah keluar dari gerbang utara. Jumlah pasukan pemanah kali ini berlipat ganda sebab hukuman yang pernah disarankan Anatari.


Anatari membuka kelopak matanya, Lavi yang siaga bergegas menghampiri.


"Anda sudah bangun," sambut Lavi.


Anatari menurunkan kakinya dari atas babragan, tapi tubuhnya yang lemah justru ikut ambruk.


"Biar hamba membantu Gusti."


Anatari mendorong Lavi menjauh. Bersikeras berdiri dengan usahanya sendiri.


"Gusti Putri."


"Pergi. Pergi," racau Anatari. Meski langkahnya tersuruk-suruk, dia terus menolak Lavi yang ingin membantunya.


Lavi yang putus asa langsung memblokir jalur Anatari. "Hamba tidak akan pergi, kecuali Gustri Putri membunuh hamba." Lavi menyodorkan keris miliknya.


Anatari gemetar, matanya menatap nanar. Isakan kecil keluar dari bibirnya yang kering. Tangannya sedikit ragu mengambil keris yang disodorkan Lavi.


"Jika harus membunuh, maka bunuh saja," ucap Anatari.


Lavi terkejut Anatari mampu mengatakan hal itu. Dia akan benar-benar disingkirkan oleh orang yang telah memberikan kehidupan padanya.

__ADS_1


"Hamba rela jika memang takdir hamba harus berakhir di tangan Gusti Putri." Lavi menutup mata, memulas senyum yang terasa pedih di hatinya.


"Matilah.


__ADS_2