Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 26. Topemg Terkutuk


__ADS_3

Anatari menatap keris dalam genggamannya, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, kemudian kembali pada Lavi yang berdiri di hadapannya dengan mata tertutup, bersiap menghadapi maut.


"Mahesa."


Lavi membuka kelopak matanya, memperlihatkan sepasang manik yang tampak kebingungan. "Mahesa? Gusti Putri mencari Pangeran Mahesa?"


"Mahesa!" teriak Anatari penuh kemarahan juga penyesalan.


"Apa hamba harus membawa Pangeran Mahesa ke sini?"


Seekor burung pembawa pesan hinggap di ambang jendela. Lavi mengambil gulungan kertas dari kaki mungil si unggas.


Kembali ke Javacekwara hari ini juga.


Lavi melirik Anatari yang menangis tiada henti. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Gusti Putri-nya. Mempertimbangkan kondisi Anatari saat ini tidak memungkinkan baginya untuk melakukan perjalanan. Lavi memberikan balasan: Sesuatu telah terjadi pada Mawar Liar. Dia baik-baik saja. Aku akan menjaganya, setelah itu baru kembali ke Javacekwara.


Lavi berlutut, perlahan-lahan mengambil keris dalam genggaman Anatari. "Mari, Gusti." Lavi memperlakukan Anatari dengan sangat baik, menuntun langkahnya kembali ke pembaringan. "Hamba tidak tahu apa yang terjadi pada Gusti Putri hingga terus menangis seperti ini, tapi hamba mohon lekaslah sadar." Lavi menggenggam tangan Anatari. "Hamba akan selalu menjaga Gusti Putri."


Tangisan Anatari semakin menjadi. Meraung seperti seseorang yang memiliki sebuah penyesalan.


Lavi berlari mencari-cari keberadaan Falguni ke seluruh area kedaton yang lengang, termasuk di Pendopo Utama juga tidak ditemui pasukan khusus yang biasanya selalu mengawal Falguni. Dia berlari menuju kediaman Sang Ratu yang sepi, hanya ada dua pelayan wanita membawa pakaian Falguni keluar dari kediaman.


"Apa Yang Mulia Ratu ada di kediamannya?" tanya Lavi.


"Yang Mulia Ratu sudah pergi beberapa saat lalu."


"Ke mana?"


"Menemui para Pendekar Tersumpah."


Lavi mendesah lemah. Dia kembali ke kediaman Anatari, menjaganya seharian penuh. Anatari masih tersedu sedan, menggulung di atas pembaringan. Makanan yang diantarkan pelayan pun tidak pernah disentuhnya. Setiap kali Lavi mencoba mendekat, Anatari selalu menyuruhnya berhenti. Lavi duduk diambang jendela, menatap rembulan yang diselimuti awan tipis. Tak tahu harus bersikap bagaimana pada junjungannya yang diliputi kesedihan yang tidak diketahui alasannya. Situasi ini membuatnya putus asa.


...***...


Anatari berdiri di dalam udara dingin fajar, di antara tanaman mawar yang tumbuh tinggi tak beraturan. Dia berdiri di depan semak Mawar Liar berbunga merah cerah. Pohon Bunga Mawar pertama yang ditanamnya.


"Tanamlah. Ini akan tumbuh dengan baik."


Suara itu menuntun Anatari menggali tanah di dekat akar pohon itu menggunakan kedua tangannya. Lavi yang tidak melihat keberadaan Anatari di kediamannya, berlari menghampiri.


"Apa yang Anda lakukan?" tanya Lavi. Dia menarik tangan Anatari, membersihkan jemari Anatari yang diselimuti tanah. "Kenapa Anda terus bersikap aneh seperti ini? Saat ini di luar sana perang sedang berlaku, tetapi Anda malah seperti induk ayam yang kehilangan anaknya."


Anatari menarik tangannya, kembali menggali. Kali ini Lavi membiarkan Anatari, dia menanti apa yang ada di dalam lubang sedalam tiga jengkal yang telah digali junjungannya.


"Apa yang ada di dalam lubang itu?"


Jari Anatari mengenai sesuatu yang padat dan datar. "Bantu aku."


Lavi tertawa. "Akhirnya Anda bicara."


"Ternyata kau bisa bicara."


Suara remaja laki-laki itu kembali didengar Anatari. Dia melirik Lavi sesaat, kemudian kembali menggali.


Lavi mengeluarkan tangan Anatari dari lubang tanah. "Biar hamba saja." Tidak butuh waktu lama bagi Lavi untuk menarik keluar sebuah peti kayu berukir bunga mawar berukuran sedang, di bagian bawahnya terukir nama Anatari Lingga dalam Aksara Kawi.


Anatari mendekati benda yang dipegang kedua tangan Lavi. Mengusap ukiran namanya.


"Kotak apa ini, Gusti? Tidak terlihat ada lubang kunci di sisi manapun."


Anatari mengambil keris yang tersemat di pinggang Lavi, menggores sedikit ujung jari telunjuknya. Lavi tidak memberikan komentarnya, hanya diam mengawasi dalam rasa penasarannya.


Darah menetes dari luka yang tertoreh, dibiarkan jatuh menjalar di setiap lekuk ukiran Bunga Mawar. Ukiran itu mengeluarkan cahaya sewarna darah Anatari. Bunyi klek terdengar setelahnya. Anatari mengangkat tutupnya.


Lavi yang terkejut tanpa sengaja menjatuhkan kotak itu. "Topeng itu. Topeng itu ... mengeluarkan darah."


Topeng yang didominasi warna putih dan emas itu kini ternoda oleh warna merah. Benda itu seakan memiliki jiwa hingga mampu menangis darah. Anatari berjongkok, mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Jangan menyentuhnya, Gusti." Lavi mengambil kerisnya dari Anatari, ditusuknya keris itu dengan tenaga dalam penuh. Lavi menjerit kala tubuhnya terpental, menubruk dinding kedaton. "Topeng itu membalikkan tenaga dalam hamba."


Anatari mengambilnya. "Semakin keras keinginanmu untuk menghancurkannya, topeng ini akan semakin kuat."


"Anda tidak berencana untuk memakainya lagi, kan?" tanya Lavi, cemas.


"Menurutmu?"


Seorang prajurit berlari mendekati Anatari. "Hamba menghadap Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga."


"Ada apa?"


"Seorang utusan dari Kertarta meminta menghadap. Dia membawa kabar penting."


Anatari dan Lavi menemui utusan Kertarta di Pendopo Utama.


"Gusti Kangjeng Ratu --" ucapan Taruna terhenti begitu melihat penampilan Anatari yang kacau. Dia hendak menanyakan apa yang terjadi, tapi Lavi menggeleng, memberi isyarat untuk tidak melakukannya. "Gusti Kangjeng Ratu, hamba membawa kabar buruk dari Kertarta. Pagi ini wilayah Kertarta diserang dedemit Canggal dan para Pendekar Tersumpah yang terusir. Kami membutuhkan bantuan Girilaya."


"Bukankah Abinawa sudah membuat pagar gaib untuk mengatasi hal itu. Jika mereka masih bisa keluar, pasti ada seseorang yang merusaknya dengan sengaja," ucap Anatari.


"Itu bisa saja terjadi, Gusti Putri. Mengingat situasi saat ini sedang kacau. Musuh akan memanfaatkan celah sekecil apapun untuk membuat keonaran," ungkap Lavi.


Anatari berpaling pada Lavi. "Apa maksudmu? Situasi kacau seperti apa?"


"Yang Mulia Ratu mendapat kabar bahwa Bhumi Namaini menyerang Bhumi Acarya pada satu hari yang lalu. Sri Maharaja meminta bantuan Girilaya. Kemarin pasukan dari Girilaya sudah bergerak menuju Bhumi Acarya, termasuk Yang Mulia Ratu yang memimpin langsung para Pendekar Tersumpah," jelas Lavi.


"Bagaimana dengan situasi Kertarta saat kau pergi meninggalkan tempat itu?" tanya Anatari pada Taruna yang tampak lusuh dan lelah.


"Musuh menyerang dengan kekuatan penuh. Bhre Jayendra dan sebagian besar pasukan keharyapatihan mengawal penduduk ke tempat aman. Sagara dan hamba hanya bisa melawan semampu kami bersama prajurit yang tersisa, sebab pasukan Javacekwara yang dipimpin Tambir dan Wiba telah kembali ke Javacekwara lebih dulu," jelas Taruna.


"Berapa jumlah pasukan yang tersisa di Girilaya?"


"Kurang dari tiga ribu, Gusti," jawab Lavi.


Anatari mendesah. Dia duduk di kursi kayu, mengetuk permukaan meja di sampingnya dengan jari tangannya. "Ada kabar dari Abinawa?"


"Baiklah. Aku akan memimpin pertarungan." Anatari bangkit dari kursi, melangkah dengan percaya diri.


"Berapa jumlah prajurit yang akan Anda bawa?" tanya Taruna, dengan tatapan penuh semangat.


"Hanya kita bertiga," jawab Anatari tanpa menghentikan langkahnya.


"Eh?!"


Lavi menepuk bahu Taruna. "Ayo!"


Anatari tidak bisa membawa prajurit Girilaya yang tersisa sebab akan terlalu riskan meninggalkan sebuah kerajaan hanya dengan seribuan prajurit, terlebih tanpa kehadiran pemimpin tertinggi. Hal itu akan sangat berbahaya.


...***...


Mereka bertiga berkuda melintasi hutan stepa yang menguasai sebagian besar wilayah Girilaya. Berkuda tanpa rehat mengejar waktu yang enggan berhenti. Saat senja, vegetasi hutan sabana mulai menyapa, menandakan bahwa mereka telah memasuki wilayah Canggal.


Kuda meringkik keras. Anatari memberi perintah pada tunggangannya yang bergeming. Ketiganya waspada, mengawasi pepohonan tinggi yang mengepung dari segala arah.


Taruna menarik tangan Lavi ke arahnya. Anak panah melesat di dekat cuping telinga Lavi, menerus menyasar Anatari.


"Gusti Putri!"


"Kangjeng Ratu!"


Anatari melompat turun dari kudanya. Anak panah melesat ke kegelapan hutan di belakangnya.


Hening. Sunyi.


Taruna dan Lavi merapat pada Anatari dengan keris dalam genggaman masing-masing.


Angin bertiup lembut, menggerakkan rerumputan dan semak pendek. Kabut kelabu merayap memenuhi hutan, membentuk seberkas wajah yang tidak begitu jelas, melesat dalam jumlah yang tidak sedikit, menyebar ke segala arah.

__ADS_1


Lavi bergerak menusuk saat kabut itu berusaha menyerangnya. Kabut itu mengabur, mundur dan menyatu kembali membentuk sebuah wajah.


"Seranganku seperti tidak berpengaruh apapun padanya. Padahal aku jelas-jelas menusuknya," ujar Lavi.


"Mereka adalah arwah. Sekeras apapun kita melawan, hanya akan berakhir sia-sia," ucap Anatari.


"Lantas apa yang harus kita lakukan? Kangjeng Ratu tidak berniat untuk menyerah, kan?" tanya Taruna.


Lavi bereaksi seakan hendak memukul Taruna saat mendengar ucapan bernada pesimis si Wakil Kepala Pengawal Yuwaraja.


"Kalian cukup diam dan jaga ragaku," ucap Anatari.


Anatari mengambil posisi bersila, memusatkan konsentarinya. Aura jingga menguar dari tubuhnya. Kumpulan kabut kelabu berbentuk wajah-wajah aneh bergerak mundur teratur melihat ruh Anatari meninggalkan raganya.


Apa yang sebelumnya terlihat sebagai kabut berwajah, kini nampaklah wujud para arwah yang sebenarnya. Anatari menyeringai. "Mati kalian."


Anatari melesat pada ganderva yang berdiri di dekatnya, memisahkan kepala dari tubuh musuhnya menggunakan Keris Geni Brata. Senjata pusaka andalannya.


Jantung Anatari menjerit nyeri. Raga Anatari terjatuh. Sungguh memalukan. Dia telah dikalahkan oleh dirinya sendiri.


"Gusti Putri!" jerit Lavi.


Anatari yang sudah sadarkan diri mencoba duduk kembali. Sekarang memilih protagonis pun menjadi kutukan bagiku? Apa aku harus mengulang dosamu, Anatari Lingga? Bisakah aku melakukan sesuatu di luar karakter?!


"Mereka sepertinya terlalu kuat untuk dihadapi oleh orang seperti kita," ucap Taruna.


Anatari mendesah pasrah. Bukan begitu. Aku hanya dilarang menjadi pahlawan.


"Kau menganggap kita lemah? Ck. Sungguh memalukan mengetahui Wakil Kepala Pengawal Yuwaraja adalah seorang yang lemah dan pesimis," ejek Lavi.


"Aku tidak seperti yang kau katakan. Lagipula aku hanya mengutarakan kebenaran," kilah Taruna.


Lavi meninju bahu Taruna.


"Kenapa kau begitu senang menyentuh sembarangan," protes Taruna, tak terima.


"Gusti Putri hilang!" seru Lavi.


Anatari memasuki hutan, mengikuti panggilan suara yang dia kenal.


"Kau sudah kembali putri dari Nyai Candra Kirana."


Anatari melihat sosok pria muda sebaya Abinawa memakai pakaian sederhana. Matanya bagai nyala api yang tak tergoyahkan.


"Aku mengenalmu?"


"Kita belum pernah bertemu, tapi aku mengenal ibumu, Nyai Candra Kirana. Anehnya, kau tidak mewarisi sedikitpun keanggunan dirinya."


"Mungkin karena aku mewarisi ketegasan ayahku."


Pria itu tersenyum ramah. "Ah, seperti itulah Aryarajasa. Nah, putri dari Nyai Candra Kirana, adakah sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?"


Anatari mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah kau yang memanggilku? Jadi seharusnya aku yang menanyakan hal itu."


"Aku tidak perlu menanyakan apapun padamu. Justru sebaliknya."


Anatari mendecak lidah. Sungguh sulit dipercaya bahwa di saat situasi genting seperti ini ada orang iseng yang mengajukan pertanyaan tidak berguna. Aku mengajukan pertanyaan pada orang asing, hah ... tentu saja aku memilikinya.


"Baiklah. Ada satu hal yang mengganggu pikiranku saat ini. Kau yakin bisa mengetahui jawabannya?" tantang Anatari.


"Terangkanlah. Aku pasti memiliki jawabannya," ucap pria itu percaya diri.


"Aku tidak memiliki banyak kata untuk menerangkan. Aku hanya ingin tahu, bagaimana caranya menghancurkan benda ini?"


Pria itu mengawasi. Anatari mengulurkan tangannya. Benda terkutuk itu muncul di telapak tangannya yang terbuka. Tatapan tajam pria itu tertuju pada Anatari, lantas turun pada Topeng Putih dengan noda darah.


Pria berambut ikal sebahu dengan kulit eksotis yang berkilap keemasan tertawa hambar. Lipitan sinjangnya yang bercorak kobaran lidah api berwarna hitam-putih bergerak seiring langkah kakinya mendekati Anatari. "Apa kau sedang mengujiku?"

__ADS_1


__ADS_2