
...Hidup adalah panggung sandiwara yang membuat manusia terkadang berperan ganda....
...πππ...
Anatari menurunkan kedua kaki dari atas babragan kayu jati. Cahaya kuning ambar yang dipancarkan celupak memberikan gambaran ruang asing.
Seluruh dindingnya terbuat dari batu bata. Perabot yang ada dari kayu jati yang memiliki serat kayu nan indah. Lantainya berbahan batu bata dibentuk segi enam yang dipadatkan, lalu dipanaskan, kemudian disusun amat rapat. Dan di atasnya digelar permadani tebal nan mewah.
Dirabanya sisi perut sebelah kiri. Tempat penderitaannya berasal. Merasakan tubuhnya menggigil, berada di ambang rasa panas dan dingin yang sesekali menyerang.
Sepertinya aku berteman baik dengan luka.
Anatari terdiam. Manik bagai mutiara hitam yang layu itu menelisik sinjang yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Kepalanya mencoba mencerna sesuatu. Berputar seratus delapan puluh derajat, menyisir tiap penjuru ruang tidur yang luas. Tidak. Dia tidak dapat memikirkan apapun. Kepalanya berdenyut nyeri.
Suasana ini sangat tidak biasa, tapi tidak asing.
Semua jendela kayu tertutup. Suara binatang malam menemani Anatari yang sendirian, merenung di dalam cahaya yang tidak begitu terang. Semakin lama dia terdiam, keingintahuannya kian besar. Karena kepalanya sakit ketika diajak berpikir, maka dia harus menggunakan tubuhnya untuk mencari tahu.
Dia memahami keadaan tubuhnya yang tak berdaya, tetapi sesuatu yang jauh lebih penting mendesaknya agar lekas menyeret kakinya melewati pintu kayu berukir burung merak yang dikelilingi pohon dan bunga.
Walang kerik dan jangkrik menyapa bersahutan, kunang-kunang kerlap-kerlip beterbangan, menyambut Anatari yang berdiri goyah di serambi depan.
Di tengah halaman sebelah kiri terdapat sebuah kolam ikan yang permukaan airnya dihujani sinar rembulan.
Satu obor dicabutnya dari salah satu tiang di halaman depan. Tersuruk-suruk menapaki rerumputan dengan kaki telanjang. Meringis merasakan nyeri. Dedar melanda sekujur badan. Langkah limbung layaknya orang mabuk.
Ke tempat macam apa si Kakek membawaku? Mungkinkah ini akhirat yang diperuntukkan bagi jiwa-jiwa yang mati mengenaskan? Tapi tempat ini terlalu indah untuk dihuni jiwa-jiwa pendosa. Ataukah negeri ajaib versi lokal?
Anatari menyerah untuk melangkah lebih jauh lagi. Dia bersimpuh di tepi kolam, mengamati wajahnya pada permukaan air bersimbah cahaya api yang bergoyang-goyang. Seorang perempuan muda balas menatapnya. Wajahnya pucat. Sorot matanya lemah. Rambutnya tergerai bebas sepanjang punggung.
"Gusti Raden Ayu Anatari Lingga."
^^^(Gusti Raden Ayu; gelar sebelum menikah untuk putri raja dari istri permaisuri dan gelar setelah menikah untuk putri bukan sulung raja dari istri selir)^^^
Suara yang dia kenal membuatnya mendongak ke seberang kolam.
"Anatari Lingga? Aku Anatari Kemala. Apa yang sudah Kakek perbuat padaku? Pakaian ini. Lingkungan ini. Apa maksud semua ini?"
"Apa kau percaya reinkarnasi?" Si Kakek tidak menghiraukan pertanyaan Anatari.
Dahi Anatari berkerut. "Reinkarnasi?"
"Pikiran, jiwa, dan kesadaranmu berpindah untuk diberi kesempatan memperbaiki kesalahanmu di masa lampau." Si Kakek mengulurkan tangannya ke arah Anatari. "Inilah dirimu di masa lampau."
Anatari merasa ucapan si Kakek berada di luar nalar. "Bisakah Kakek bicara langsung ke intinya? Masalahku. Aku hanya menginginkan sebuah penjelasan yang masuk akal mengenai situasiku saat ini. Sebuah penjelasan yang mudah untuk aku pahami."
Si Kakek membelai janggut kelabunya. "Segala penderitaan yang telah kau dapatkan di masa depan, merupakan hasil perbuatanmu di masa lampau. Aku membawamu kemari untuk memberimu satu kesempatan. Memperkecil semua jenis dosamu, agar kau dapat bertaubat. Dan terlahir kembali dalam kehidupan yang lebih baik."
Bibir merah Anatari yang bagai kelopak mawar memagut seketika. Penjelasan si Kakek terdengar tidak logis baginya. Satu-satunya yang mungkin terjadi padanya adalah tersesat di dalam dimensi dunia yang berbeda. Berkat seorang Kakek renta.
Anatari pernah mendengar cerita bahwa bangsa jin dapat menyesatkan jiwa manusia, membawanya ke alam mereka. Di antara mereka banyak yang tidak pernah kembali. Sekalipun ada yang kembali, orang itu akan kehilangan kesadarannya.
Anatari menjadi curiga. "Apa aku berada di dimensi lain? Maksudku ... apa aku tersesat di dimensi dunia yang berbeda?"
Pertanyaanku juga tidak masuk akal, tetapi itu sedikit dapat diterima daripada berpindah tempat ke masa lampau. Reinkarnasi? Apapun yang diucapkan si kakek terdengar seperti seorang pendongeng yang memiliki imajinasi yang liar. Ini era milenial. Apa kau masih percaya cerita konyol semacam itu?
Tentu saja masih. Si penulis cerita ini. Anatari tidak mempertimbangkannya dengan baik. Yeah, maklum saja, Anatari Kemala tidak mampu berpikir terlampau jauh karena semasa hidupnya terlalu lelah dirisak sehingga berakibat pada keseluruhan pribadi dan pola pikirnya yang dikungkung ketakutan. Setiap kali dia akan berpikir, berucap, bertindak, rasa takut akan selalu membuatnya mundur ke balik zona nyamannya. Sikap pecundang.
"Jiwamu hanya kembali ke masa lampau, di mana kau melakukan segala dosa yang menjadi sumber kesengsaraan dalam kehidupanmu selanjutnya."
Hm, segala dosa? Terdengar banyak.
Sekali lagi, Anatari menelisik penampilannya sendiri.
Kembali ke masa lampau? Yang benar saja, kurasa penulis cerita ini harus berhenti membaca novel time traveler.
Anatari kembali menatap pantulan wajahnya di atas permukaan air. Siapapun yang merias wajahnya telah berhasil membuatnya bagai seorang Tuan Putri angkuh yang kejam.
Seandainya yang Kakek itu bicarakan memang benar adanya, bukankah bagus untuk diriku. Kembali ke masa lalu demi menyelesaikan misi: Memperkecil segala dosa demi kebaikan kehidupan selanjutnya .... Umh, aku mencium bau bahaya, tapi kesempatan hidup kembali merasakan posisi sebagai seorang Tuan Putri itu bagai deja vu. Layak dicoba. Sangat layak.
"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan untuk mengurangi segala dosaku?" Anatari mencoba berdamai dengan pernyataan si Kakek.
__ADS_1
"Memperbaiki sikap. Kau tidak dapat mengubah seluruhnya, melainkan memperingan setiap kesalahan yang mungkin akan kau perbuat. Satu hal yang jelas tidak dapat kau ubah adalah garis takdir. Karena garis takdir yang telah tertulis tidak dapat dihapus kembali."
"Baiklah. Aku akan berusaha melakukannya. Tidak terburu-buru. Lalu, apa aku bisa kembali ke kehidupanku semula setelah berhasil melakukan beberapa perbaikan?" tanya Anatari penuh harap.
Si Kakek terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Itu rahasia langit. Hanya Acintya yang mengetahuinya."
^^^(Acintya; Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Hyang Tunggal)^^^
Itu jawaban yang paling tidak ingin Anatari dengar. Untaian kata yang menghancurkan sebagian besar harapannya untuk bisa kembali ke kehidupannya semula. Anatari menelan kekecewaan. "Jadi, di mana sebenarnya aku berada saat ini?"
"Bhumi Javacekwara."
Tubuh si Kakek berubah kelabu, perlahan tembus pandang, memudar, dan goyah terseret embusan angin sepoi malam. "Tetaplah sejalan dengan sanatana dharma agar jiwamu tak tersesat."
^^^(Sanatana Dharma; Kebenaran absolut yang kekal dan abadi)^^^
Anatari melangkah, menggenggam udara kosong. "Kakek. Tunggu!"
Byur. Hening. Kini ... dia benar-benar sendirian, di tengah kolam.
...***...
Di balik tembok kediaman di dalam lingkungan keputren. Ayam Pelung jantan berkokok. Burung bernyanyi lantang menyambut mentari.
^^^(Keputren; Bagian keraton yang diperuntukkan bagi permaisuri, para selir, dan putri raja yang masih lajang)^^^
Halimun menyelimuti Bhumi Javacekwara yang berada di atas bukit di antara seribu bukit hijau dikelilingi hutan, diapit dua aliran sungai di sisi selatan dan utara. Sisi barat dan timur merupakan area pesawahan dan perkebunan terbuka yang dipagari pepohonan tinggi menjulang hingga ke puncak bukit.
"Ndoro Putri!"
Dua orang waracethi dan empat pengawal mengelilingi Anatari yang sudah dibaringkan di tepi kolam.
Siapa?
"Kenapa lagi ini, Ndoro?"
"Harus melapor pada Gusti Kangjeng Ratu Indukanti."
^^^(Gusti Kangjeng Ratu; Gelar yang disandang oleh permaisuri raja maupun putri raja setelah dewasa atau setelah menikah)^^^
"Ndoro Putri sudah bangun?"
"Mmm. Teriakan kalian yang membangunkanku." Anatari melirik pada waracethi yang berlutut di sisinya. "Bisa bantu aku?"
"Tentu."
Anatari memicing ke arah perutnya yang terluka.
Tinggal sedikit rasa sakit yang terasa, padahal tadi malam rasanya sungguh menyiksa. Apa Kakek itu yang melakukannya? Benarkah? Apa pria tua itu pergi lalu kembali lagi? Sungguh tidak ada kerjaan.
"Kalian kembalilah berjaga," suruh satu waracethi yang lain.
Anatari tertegun di depan meja bulat yang berada di tengah kediaman. Air menetes dari tubuhnya yang kuyup, mengalir turun menyusuri lengkung kursi dan bermuara di atas permadani berwarna hijau zamrud dan kuning gading dihiasi benang emas yang membentang, meliuk, dan memutar mengikuti bentuk daun dan bunga yang terpeta memenuhi bidang permadani.
Jendela-jendela kayu dibuka. Sinar mentari menyeruak masuk ke setiap juru ruangan. Menyinari guci-guci cantik yang menghiasi beberapa tempat di ruangan ini. Udara pagi terasa menyegarkan, menyerbu masuk membawa embun pagi yang dilarikan angin.
Satu pelayan sedang sibuk menyiapkan pakaian Ndoro Putri-nya yang disimpan di dalam sebuah peti kayu. Satu lagi yang bertubuh lebih berisi menyuguhkan teh hangat pada perempuan yang sedang melamun itu.
"Silakan, Ndoro."
Anatari menatap air teh dalam cangkir gerabah yang diukir indah. Asapnya mengepul, mengantarkan wangi melati yang merelaksasi.
"Apa yang telah terjadi padaku?"
Kedua waracethi membeku. Risau terpancar dalam setiap garis wajah keduanya.
"Ndoro Putri tidak mengingatnya?" Salah satunya bertanya dengan hati-hati.
Ya. Tidak ingat sama sekali, tapi tidak bisa memberitahu alasannya.
"Aku hanya mengingat rasa sakitnya." Anatari melirik keduanya bergantian. "Jadi, apa ada yang mau menjelaskannya padaku?"
__ADS_1
Keduanya berlutut di dekat kaki pucat junjungan-nya.
"Maafkan hamba. Semuanya terjadi karena hamba. Hamba lalai karena tidak bisa menjaga mulut ini. Hamba pantas dihukum. Silakan Ndoro Putri menghukum hamba. Hamba akan senang menerimanya," aku dayang yang bertubuh lebih kurus.
Serangan kata 'hamba', sungguh menambah pusing kepalanya. Kenapa juga dia merasa senang menerima hukuman?
Anatari menenggelamkan dahinya ke dalam telapak tangan. "Sudah. Sudah. Memangnya apa yang telah kau katakan? Pada siapa?"
"Anu ... umh, Gusti Kangjeng Ratu Indukanti melihat Ndoro Putri berpelukan dengan Pangeran Mahesa. Dia murka. Dia meminta hamba untuk berkata jujur mengenai hubungan Anda dengan Pangeran Mahesa. Jadi-hamba-memberitahunya-dengan-terpaksa. Karena itulah Anda dihukum cambuk, tetapi Anda malah mencoba bunuh diri dengan menusukkan pedang yang dibawa Yuwaraja," jelas pelayan yang merasa bersalah. Dia menunjuk perut sebelah kirinya. "Ndoro Putri menusuknya tepat di sini."
Anatari mengerjap tidak percaya. "Aku menusuk diriku sendiri dengan pedang Yuwaraja?"
Ternyata kehidupanku tidak lepas dari percobaan bunuh diri. Tubuhku yang malang.
"Benar. Saat itu Yuwaraja baru pulang dari perbatasan. Dia segera berlari menemui Anda di ruang tahanan. Bahkan menjaminkan dirinya untuk kebebasan Anda. Untunglah Gusti Kangjeng Ratu Indukanti mengabulkan permintaan Yuwaraja," tutur pelayan yang bertubuh lebih berisi.
"Kenapa aku harus dihukum hanya karena berpelukan dengan Pangeran itu?"
"Duh, Gusti! Ndoro Putri ini bagaimana sih? Saru, Ndoro!" Pelayan bertubuh kurus mengingatkan dengan gemas. "Ndoro Putri sudah dipilih Sri Maharaja untuk menjadi calon istri Yuwaraja. Masak iya hubungan dengan Pangeran Mahesa masih dilanjutkan juga."
^^^(Saru; tidak elok / tidak baik)^^^
Anatari terbatuk, tersedak air teh yang diminumnya. Kedua waracethi segera menepuk-nepuk punggungnya.
Tidak diduga aku yang selama ini jomblo justru terjebak hubungan kisah cinta yang rumit di masa lalu. Sungguh beruntung.
"Yuwaraja itu ...."
"Putra Mahkota Javacekwara. Pria yang akan dinikahkan dengan Ndoro Putri. Itupun Anda tidak ingat?" sahut pelayan bertubuh kurus.
Kikuk melanda. Tak tahu harus bersikap ataupun berkata apa. "Aku baru saja pulih. Jadi, ingatanku ...."
"Buruk?" terka pelayan bertubuh lebih berisi.
"Lemah. Ingatanku sedikit lemah," kilah Anatari.
Kedua waracethi membantu perempuan berambut panjang itu berganti pakaian dan berias. Tidak ada cermin di tempat ini. Dia harus sepenuhnya percaya pada keahlian dua pelayan pribadinya.
"Nama kalian?"
"Saya Jiyem," jawab pelayan bertubuh lebih berisi.
"Saya Liyem," sahut pelayan bertubuh kurus, "Saya berdoa pada Acintya semoga ingatan Ndoro Putri segera pulih."
"Ya. Semoga," harap Anatari.
"Apa Ndoro Putri ingin makan sesuatu?" tanya Liyem.
"Nanti saja. Aku ingin bertemu dengan Yuwaraja lebih dulu. Siapa namanya?"
Kuharap ingatanku benat-benar kembali secepatnya. Kalau tidak, mereka akan selalu menjadi RPUL pribadiku.
"Gusti Kangjeng Pangeran Abinawa Wiradharma. Ndoro Putri biasa memanggilnya Abinawa. Tidak bisa sekarang. Saat ini, Yuwaraja sedang bersama Sri Maharaja di Pendopo Ageng. Mendiskusikan hasil laporan pertemuan pagi tadi. Anda bisa bertanya apapun jika masih ada yang kurang jelas," tutur Liyem.
Anatari tersenyum canggung. "Tentu."
Pasti masih banyak hal yang akan kutanyakan. Untuk saat ini, aku hanya perlu tahu identitas orang-orang yang berada di sisiku dan apa yang telah terjadi sebelum aku terbangun di tempat asing ini.
Sekarang aku telah menggantikan pikiran, jiwa, dan kesadaran Anatari Lingga ... seharusnya ingatan yang ada dalam tubuhnya tidak akan terdampak, tapi kenapa aku tidak dapat mengingat apapun? Bagaimana aku bisa menjalankan karakterku tanpa membuat curiga orang-orang?
Liyem membantu Anatari menata rambut. Jiyem bertugas merias wajah. Anatari benar-benar pasrah akan hasil akhirnya. Tapi dia teringat sesuatu.
"Tolong jangan warnai bibirku dengan warna merah. Aku lebih suka yang alami."
Jiyem dan Liyem mengangguk seraya menyahut, "Hamba mengerti."
Sejauh apa hubunganku dengan Pangeran Mahesa? Yuwaraja menjaminkan dirinya untuk kebebasanku? Mengingat status kami, bukankah seharusnya dia marah karena aku telah berpelukan dengan pria lain? Apa alasan dibalik tindakannya? Apa yang telah terjadi sebelumnya? Jika aku tidak mengetahuinya, kemungkinan besar aku akan salah dalam mengambil keputusan.
Jari Anatari membentuk tiga titik di atas meja rias, menghubungkannya dengan garis panah.
Apa mungkin ini cinta segitiga di lautan bermuda? Terlihat sederhana. Namun, sungguh merepotkan.
__ADS_1
Anatari seketika berdiri. "Aku ingin menemuinya."
"Siapa?" tanya Liyem dan Jiyem bersamaan.