
Anatari termegap, seakan baru terbangun dari dunia mimpi. Dia menatapi topeng putih di hadapannya. Ada rasa akrab antara dirinya dan benda itu, tapi tidak dapat mengingat seperti apa persisnya.
Hanya gambaran tidak jelas dari seseorang yang sedang menari. Gerakannya halus dan lembut penuh keanggunan. Wajahnya sepenuhnya tersembunyi di balik topeng itu.
Dyah Candrawati mendatangi Anatari. "Apa kau pernah melihat benda itu sebelumnya, Anatari?" Suara mendayu calon bibinya itu mengalun merdu di telinga Anatari, membuyarkan lamunannya.
Sepertinya begitu. Anatari meragu. "Saya tidak pernah melihatnya."
Abinawa tersenyum sinis mengetahui pemikiran Anatari.
"Apa kau yakin?" Kedua alis Jayendra bertaut, menatapnya sangsi.
Anatari baru menyadari keadaan sekitarnya yang menghujaninya dengan sorot ketidakpercayaan. Lututnya gemetar. Dadanya berdetak tak karuan. Baginya, sorot mata mereka sama seperti tatapan orang-orang yang pernah mengintimidasinya.
"Saya tidak pernah melihat topeng itu. Tidak juga mengenal para pelaku penyerangan. Bahkan saya tidak mengerti kenapa harus saya yang menjadi sasaran penyerangan," jujur Anatari.
Si kakek sungguh menjerumuskan Anatari ke dalam kisah dari negeri antah berantah, tanpa dibekali skenario atau pengenalan tokoh terlebih dahulu. Dia juga tidak dapat mengandalkan gambaran-gambaran buram dari sisa ingatan Anatari Lingga untuk dijadikan petunjuk.
Sekarang dia hanya bergantung dari informasi yang diberikan oleh kedua dayangnya, sebagai taruhan identitasnya akan mulai dipertanyakan. Mencari informasi dari Mahesa malah lebih sulit, karena Sri Maharaja II telah melarang pertemuan apapun di antara keduanya. Bertanya pada Abinawa juga tidak berjalan sesuai rencana. Benar-benar tidak ada pilihan, hanya bisa mengikuti alur yang telah dimuat cerita ini.
"Tidak tahu? Tidak mengerti? Jawabanmu sungguh dangkal." Jayendra mencibirnya terang-terangan. "Apa bibimu yang menyuruhmu untuk bersandiwara?"
"Paman," tegur Sri Maharaja II.
"Ini masalah penting yang tidak seharusnya ditutup-tutupi, Paduka. Apapun alasan Anda memilih Gusti Raden Ayu Anatari Lingga sebagai calon istri Yuwaraja, semestinya Anda ingat bahwa Javacekwara tidak boleh ternoda oleh aib yang berhubungan dengan Banaspati," tegas Jayendra.
Aib? Pembawa sial?
"Jika saya memang aib yang Anda maksudkan, lalu kenapa saya dipilih sebagai calon istri Yuwaraja? Mohon Paduka menjelaskannya, karena saya juga ingin mengetahuinya," mohon Anatari.
Sri Maharaja II menuruni takhtanya. Dahinya berkerut dalam. Dia menatap Anatari dalam ekspresi rumit. "Aku memilihmu karena ingin memberikan tempat yang paling aman bagimu. Memberikan status tertinggi sebagai Permaisuri, berharap kelak kau akan terlindungi dengan baik."
"Maafkan kebodohan hamba. Hamba belum mengerti maksud Paduka," ujar Anatari.
"Lihatlah dirimu. Pandai bersandiwara, huh," cela Jayendra.
"Saya sungguh tidak mengetahui apapun tentang masalah ini. Mohon Bhre Jayendra memberi pencerahan, jika memang mengetahui kebenarannya," Nada suara Anatari bergetar, menahan marah.
^^^(Bhre; Gelar bagi kerabat terdekat raja yang memimpin suatu daerah/wilayah. Pangkat pada masa Hindu-Budha sebelum diganti menjadi Adipati pada masa masuknya Islam)^^^
"Aku bukan hanya akan memberikan pencerahan padamu, tapi juga kenyataan. Dua puluh tahun yang lalu terjadi penyerangan ke Girilaya oleh tiga nagari. Semua itu berawal karena keserakahan ibumu yang menyimpan Mustika Naga. Kami membujuknya untuk menghancurkan Mustika Naga itu, tapi dia begitu keras kepala. Dengan sombong menantang tiga penguasa untuk mengalahkannya. Dengan trik liciknya, dia mengeluarkan Mustika Naga dari tubuhnya dan malah dimasukan ke dalam tubuhmu. Dia tahu kami tidak akan berani melakukan apapun pada seorang bocah kecil. Sebenarnya apa tujuan ibumu melakukan hal itu?" cecar Jayendra.
Anatari tidak memiliki ingatan apapun akan kejadian itu. Dia bertanya-tanya sendiri mengenai kebenarannya. Semua orang menantikan pengakuan darinya. Pengakuan dari sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
Tangannya mengepal ujung selendangnya kuat-kuat. Perutnya terasa sakit akibat kegugupannya.
Bayangan ibu yang membencinya, menghardiknya, serta mengusirnya datang silih berganti bersama orang-orang yang merisaknya sepanjang kehidupannya.
Dituding sebagai pembawa sial. Dicampakkan dan dihinakan sudah sangat menyakiti hatinya. Kini hal yang serupa tapi tak sama kembali menimpa dirinya. Anatari tidak sanggup lagi.
Anatari berada di sebuah tempat yang gelap dan berkabut. Di bawah kakinya ada rasa dingin dan basah dari sebuah genangan air yang luas setinggi mata kaki. Sebuah pohon berdaun cokelat tumbuh tidak jauh di depannya. Dia mengangkat kaki kananya ketika sepasang mata menatapnya dengan tajam.
"Lemah. Kau begitu lemah, sehingga menghambatku," desis naga itu.
Kini bukan hanya mata yang nampak, tetapi bentuk kepalanya yang tersamarkan dalam genangan air mulai terbentuk. Mulutnya terbuka lebar, menelan Anatari dengan cepat.
"Hey!"
__ADS_1
Anatari terseret ke bawah alam sadarnya. Abinawa mencoba menyadarkannya dengan memanggil-manggil namanya. Namun, suaranya teredam oleh deru napas Anatari.
Abinawa memegang kedua bahu Anatari, mengguncangnya beberapa kali. "Hey! Anatari, sadarlah!"
Anatari tersentak, menatap kosong.
"Kita hentikan dulu pertemuan ini," pinta Abinawa yang merasakan ada sebuah energi panas yang menguar dari tubuh Anatari.
"Tidak bisa ...."
"Kakek, kumohon!" Abinawa menyela
tegas ucapan Jayendra.
Pria tua itu mendengus, kesal bukan kepalang.
"Kondisi Anatari tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan. Sebaiknya kita tunda dulu masalah ini sampai kondisinya membaik," perintah Sri Maharaja II.
...***...
Anatari bersimpuh di atas permadani merah di tengah ruangan. Tidak beranjak dari tempatnya dalam waktu yang cukup lama, ditemani Abinawa yang duduk di anak tangga di hadapannya.
Matahari mulai condong ke barat, sinarnya menyorot ke dalam Pendopo Ageng yang dindingnya terbuka.
"Apa benar yang mereka katakan? Semua kejadian itu?" Suara Anatari pelan hampir bergumam.
Abinawa memutar bola matanya. Mana aku tahu. Ketika itu terjadi, aku berada di luar kedaton. "Emm, saat itu aku masih kecil. Tidak tahu pasti mengenai kejadian sebenarnya."
"Bisakah mempercayai sesuatu yang kau sendiri ragu akan kebenarannya?"
"Jika itu merupakan bagian dari masa laluku yang menjadikan siapa diriku saat ini, ingat atau tidak ... sejujurnya aku tidak peduli. Dalam hidup ini, mempertanyakan masa lalu bukanlah hal terpenting. Roda kehidupan terus berputar ke depan. Itulah yang harus dipikirkan," sahut Abinawa.
Abinawa berdiri. Dahinya berkerut. "Masa lalu adalah sumber masalahmu saat ini. Aku tidak bisa membantumu. Tapi, jika kau menemui si Penari Topeng yang menyerangmu. Pergilah. Mungkin kau akan memperoleh informasi darinya." Abinawa melangkah keluar Pendopo Ageng.
Aku tidak ingin repot-repot mengurusi masa lalu orang lain. Masa laluku sendiri sudah cukup menjadi masalah dalam hidupku, batin Abinawa.
Sagara muncul dari arah belakang Abinawa, mensejajarkan langkahnya. "Orang yang kita cari sudah tertangkap."
"Di mana?"
"Tumpukan kayu."
Seseorang yang ingin mereka temui tidak benar-benar berada di tumpukan kayu. Ucapan Sagara merujuk pada sebuah bangunan yang diperuntukkan menyimpan persediaan kayu bakar. Ke sanalah tujuan mereka sekarang. Sebuah gudang kayu yang berada di sudut terluar dekat dapur, yang masih berada di dalam lingkungan kediaman Yuwaraja.
Keduanya dihadapkan pada seorang prajurit muda yang duduk di atas jerami yang berserakan di lantai. Kedua tangan pemuda itu terikat ke belakang, pada sebuah tiang kayu penyangga bangunan.
"Apa saja yang sudah dikatakannya?"
"Tidak ada satu kata pun yang dia ucapkan sejak kami menahannya," sahut seorang prajurit yang bertugas mengawasi tahanan itu.
Abinawa berjongkok di hadapan pria muda yang wajahnya dihiasi beberapa memar bekas pukulan. "Sepertinya dia cukup loyal pada junjungan-nya. Tapi ... kita tidak akan pernah tahu apa junjungan-nya seorang yang murah hati atau seorang yang keji. Kau tahu, apa yang biasanya seorang junjungan inginkan dari pengikutnya yang gagal melaksanakan tugas?"
Pria itu tertunduk diam. Abinawa berdeham.
"Hamba tidak tahu. Kira-kira apa tepatnya, Yuwaraja?" Sagara ikut memancing.
"Kepalanya yang tidak berharga." Abinawa menekankan setiap kata yang diucapkannya.
__ADS_1
Pria itu menelan getir. "Hamba melakukannya karena sedang butuh uang. Nenek hamba sakit. Lalu orang itu datang menawarkan beberapa uang perak."
Benar-benar mudah dipancing. Sepertinya dia memang hanya dimanfaatkan. Abinawa lantas bertanya, "Apa yang dia perintahkan saat itu?"
Pria muda itu menatap Abinawa takut-takut. "Dia menyuruh hamba untuk membawa pedang Kepala Pengawal Sagara. Hamba melihatnya memantrai pedang itu."
"Adakah dia bilang siapa yang menjadi sasarannya?" selidik Abinawa, lebih lanjut.
"Tidak. Hamba hanya diminta mengambil pedang dan mengembalikannya lagi."
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Hamba tidak tahu. Pria itu memakai topi caping yang diselimuti kain hitam."
"Pria?"
"Benar, Yuwaraja. Dia seorang pria. Hanya itu yang hamba tahu. Yuwaraja, hamba mohon jangan hukum mati hamba. Hamba benar-benar terpaksa melakukannya."
Abinawa kembali berdiri, menatap malas prajuritnya yang tidak setia. "Tidak kusangka ternyata kesetiaanmu padaku hanya sebatas beberapa keping uang perak. Jika kau mengatakannya padaku, setidaknya kau akan mendapatkan uang emas. Meski aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu, kau tetap harus mendapat hukuman."
Kepala pemuda itu menunduk semakin dalam.
"Awasi dia. Jangan ada yang masuk tanpa perintah dariku. Biarkan dia mengingat tentang beberapa hal yang masih disembunyikannya." Abinawa melangkah pergi dari tempat itu.
"Sendiko dawuh."
"Yuwaraja. Hamba sudah mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada lagi yang hamba tutup-tutupi."
"Pikirkanlah lagi. Bisa jadi kau melupakan informasi yang terpenting."
"Yuwaraja!"
Pria itu kembali dikurung di dalam gudang kayu. Prajurit yang berjaga lekas mengunci pintu dari luar.
"Sagara."
"Hamba di sini."
"Awasi perempuan dari Girilaya itu."
Sagara mendongak. "Bagaimana dengan penyelidikan pria yang sudah dia sebutkan?"
"Mencari musuh yang tidak nampak sungguh terlalu menyusahkan. Tidak ada salahnya aku mengundang mereka untuk datang. Sementara itu, kau tetap awasi Anatari," suruh Abinawa.
"Sendiko."
...***...
Di sisi lain kedaton, Anatari melangkah pelan. Dia masih berusaha mengingat masa-masa sebelum dirinya tersadar di tempat ini.
Tidak ada ingatan tentang masa-masa itu. Sedikitpun. Kenapa? Dari beberapa novel yang pernah kubaca, jiwa pengganti masih dapat mengingat setiap memori yang pernah dialami si pemilik tubuh. Benda itu ... Mustika Naga dan topeng putih. Aku tidak pernah melihat gambaran keduanya sebelumnya. Jika memang Mustika Naga berada di dalam tubuhku, mengapa aku tak meraskan keberadaannya? Benda seperti apakah itu hingga begitu mudahnya dikeluar masukkan pada tubuh seseorang? Haruskah aku mencari informasi dari si penari? Bukankah lebih tepat jika bertanya pada kerabatku sendiri di Girilaya? Anatari mengamati tembok tinggi yang mengelilingi istana. Bagaimana caranya agar bisa terhubung ke dunia luar? Aku harus memberikan pesan ke Girilaya tanpa ketahuan.
Anatari berkeliling kedaton, memeriksa setiap sudutnya. Mencari-cari tangga yang akan digunakannya untuk memanjat tembok bata. Dia akhirnya menemukan satu di halaman belakang dekat lumbung. Sebuah tangga bambu yang tak terlalu tinggi. Dari penampakannya terlihat sudah koyak di beberapa bagian, tapi tidak apa. Anatari tetap memakainya.
Dia memanjat dengan hati-hati. Sayang, masih ada jarak tiga dpa antara ujung jari tangannya dan puncak tembok tinggi. Dia tahu itu jarak yang mustahil untuk dicapai perempuan lemah seperti dirinya. "Aku harus mencapainya." Anatari berjingjit. Tangan kanannya terulur maksimal. Anak tangga berderak. Kaki tangga pun retak.
Tubuhnya terpelanting ke belakang. Selendangnya tersangkut di puncak kaki tangga. Bunyi debam keras menyertai tubuh Anatari yang menghantam tembok bata, membuatnya tergantung tak sadarkan diri. Retak semakin besar. Sebelah kaki tangga mulai terbagi dua. Tubuh Anatari meluncur dari udara.
__ADS_1
Seseorang melompat ke udara, meraih Anatari dalam dekapannya.