
Anatari memacu kudanya dalam kecepatan tinggi diikuti Lavi dan Taruna. Dalam hati Anatari berterimakasih pada pria asing yang telah membantunya mengatasi para dedemit. Kini dia memfokuskan tujuannya ke wilayah Kertarta. Di mana Sagara dan tujuh prajurit di bawah kepemimpinannya, diikat pada satu tiang di alun-alun Keharyapatihan Kertarta. Para Pendekar Tersumpah yang diasingkan, menempatkan jerami kering dan batang kayu di sekitar Sagara dan prajuritnya.
Langkah kaki kuda semakin tak terbendung menyongsong gapura masuk wilayah Kertarta. Anatari tak mampu berkata-kata melihat apa yang telah menimpa wilayah kekuasaan Bhre Jayendra. Api telah melahap seluruh wilayah Kertarta tanpa sisa, menjadikannya tumpukan besar arang yang masih membara. Anatari menarik tali kekang kudanya, lantas turun, mengamati kehancuran di sekitarnya. Beberapa kuil yang terbuat dari batu candi masih teguh berdiri walau kini warnanya berubah selegam arang.
Langit malam terhalang arakan awan tebal, bahkan sinar bulan separo pun tak mampu menembusnya. Angin menghantarkan aroma kayu dan daging hangus. Udara dingin menyampaikan rasa pilu lolongan napas terakhir di ujung pedang. Tubuh Anatari gemetar marah. Air mata menetes dari wajahnya yang tersembunyi di balik topeng.
"Siapa yang begitu tega melakukan kekejaman ini?" ujar Lavi.
Taruna melirik Anatari yang tertanam di tempatnya berdiri di dekat sebuah kuil. "Para Pendekar Tersumpah yang telah melakukannya." Suara Taruna bergetar, menahan kegetiran.
Anatari merasakan sebuah tanggungjawab besar untuk menyelesaikan hal ini. Para Pendekar Tersumpah yang diasingkan ke Canggal merupakan bentuk hukuman yang pernah diberikannya pada sekitar dua puluhan Pendekar Tersumpah sebab mereka telah melanggar peraturan: tidak bersedia membunuh para rakyat yang memprotes besarnya upeti yang harus diberikan pada musim panen. Tangan Anatari mengepal di sisi tubuhnya. Tekad kuat untuk menebus kesalahannya kali ini tak terbendung lagi.
Rendah suara tawa terdengar di udara. Membuat ketiganya menjadi waspada. Bara api tinggi menyala dari arah utara, menarik perhatian ketiganya.
Anatari, Lavi, dan Taruna bergerak hati-hati. Taruna terkejut melihat saudara-saudaranya berada di pusat lingkaran api. Saat dirinya hendak maju memperlihatkan diri, Lavi menahan lengannya. Taruna mencoba melepaskan, tapi Lavi bertahan.
Anatari bersila di belakang keduanya, menggumamkan sebuah mantera. Kabut kelabu melesat satu per satu menuju kobaran api. Membuat gerakan memadamkan api. Para Pendekar Tersumpah panik seketika. Taruna dan Lavi mendekati Sagara dan para prajurit, membuka ikatan tali yang menyatukan mereka.
Kabut kelabu mengubah bentuk ke wujud aslinya. Pasukan gandarva berkuku tajam menyerang para Pendekar Tersumpah dari Canggal.
"Tidak kusangka kau mampu merebut kembali para dedemit itu dariku," ucap Agniya.
Anatari melihat ke sekelilingnya. Agniya bertengger di atas pohon randu yang hangus di dekat kuil. "Tentu saja. Karena sampai kapanpun mereka tidak akan patuh pada hantu perempuan yang senang bertengger di atas pohon. Kau tahu kenapa? Karena kalian setara."
"Mulutmu masih cukup tajam. Tapi hasil pertarungan kita malam ini aku yang akan memenangkannya."
"Kita cari tahu saja," tantang Anatari.
Agniya melayang menuju Anatari, menyerang tanpa berbaik hati. Anatari yang berada di bawah kuasa topeng miliknya, kini lebih sedikit menggunakan hatinya. Terlebih setengah tenaga dalamnya telah pulih berkat bantuan Falguni. Melawan Agniya yang sebenarnya tidak sebanding dirinya, akan jauh lebih mudah sekarang. Anatari mengulur waktu dengan menghindar untuk menguras tenaga Agniya.
"Hanya segitukah kemampuan pemilik Mustika Naga, mengecewakan!" sulut Agniya.
"Maaf sudah mengecewakanmu."
"Malam ini aku harus membunuhmu, agar jiwa Ayahku bisa tenang di akhirat," ujar Agniya.
"Mengingat sifat Lembu Jalanatra yang baik budi dan selalu berpihak pada kebenaran, kuarasa dia akan malu memiliki putri tidak tahu diri sepertimu," ejek Anatari.
"Tutup mulutmu, Anatari. Pantang bagiku mendengar nama Ayahku terucap dari mulutmu yang kotor. Aku tidak ingin dia merasa terhina."
"Kau tahu diriku memang seperti ini. Sulit mengendalikan mulut jika sudah terbuka. Aku akan selalu menyebut nama Lembu Jalanatra meskipun kau tak suka. Bahkan jika dia bangkit dari kematiannya, itu lebih baik, agar dia bisa melihat kenyataan bahwa putrinya yang tidak berguna justru berdiri bersebrangan dengannya," tutur Anatari, tidak peduli.
Sejak memakai topeng itu di dalam hutan Canggal, Anatari diliputi keberanian yang begitu besar. Seakan dia siap menaklukkan gunung dan menghadapi badai. Pria yang ditemuinya di hutan berkata bahwa kini topeng itu tidak akan menguasai jiwanya sepenuhnya, karena Anatari telah memuntahkan darah dan daging yang menjadi media pengikat jiwa Anatari pada topeng itu. Meski topeng itu tidak lagi terkutuk, tapi aura iblis masih tetap menyelimutinya.
Anatari memutuskan untuk kembali memakai topeng itu sebab dia membutuhkan dorongan kuat untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Bagaimanapun jiwa yang berada di dalam tubuh perempuan itu bukanlah Anatari Lingga yang sakti mandraguna. Meski begitu, para dedemit Canggal akan selalu mematuhinya selama Anatari memakai topeng itu. Sesungguhnya, hal itu berkat aura iblis Banaspati yang tertanam pada benda yang terbuat dari porselen putih itu.
Amarah Agniya tersulut, dia mengeluarkan cemeti yang diselimuti tenaga dalam ungu kehitaman. Anatari mencabut tusuk konde yang berbentuk keris kecil. Rambut panjang dan lurusnya tergerai hingga ke punggung. Keris itu mengeluarkan cahaya merah dan jingga saat memuai di dalam genggaman tangannya.
Agniya melirik sesaat pada keris Geni Brata. Dia tahu bahwa setiap kali Anatari mengeluarkan senjata pusakanya, maka pertarungan akan selalu diakhiri pertumpahan darah.
__ADS_1
Agniya melesatkan cemetinya, hampir mengenai leher Anatari berkali-kali. Anatari membalasnya dengan pertarungan jarak dekat, tapi Agniya selalu menghindar, memilih cemetinya yang menari-nari di sekitar tubuh Anatari.
Cemeti itu menyasar balok arang kayu yang membara, menghancurkannya berkeping-keping. Cemeti berhasil mengikat keris Geni Brata, menariknya ke udara. Anatari tidak melepaskan tangannya dari benda pusakanya, ikut melontarkan dirinya ke udara terbuka seraya menggumamkan mantra. Ditariknya cemeti Agniya hingga hampir setengahnya. Geni Brata membara, diputusnya cemeti Agniya dalam satu sayatan hingga terbelah menjadi dua bagian.
Anatari melomat menjauh. Sisa cemeti yang masih membelit kerisnya seketika luruh menjadi abu. Agniya menggeram, menyerang Anatari penuh amarah. Beberapa jurus yang dikeluarkan Anatari berhasil melukai Agniya yang pantang menyerah melawannya. Satu pukulan berhasil didaratkan di perut Agniya, hingga membuatnya muntah darah.
"Hentikan, Agniya. Akui kekalahanmu," pinta Anatari.
Agniya mencoba bangkit berdiri. "Selama sukmaku masih menyatu dengan ragaku, aku tidak mengenal kata menyerah. Setelah menghancurkan hidupmu, aku bisa mati dengan tenang."
"Apa kau masih belum mengerti bahwa selama ini kaulah yang menghancurkan kegidupanmu sendiri. Hukuman yang Lembu Jalanatra terima adalah karena ulahmu. Sikap manjamu yang selalu merepotkan telah membuatnya lalai menjalankan tugas. Ayahmu tidak pernah pantas mewakilimu menerima hukuman mati," tutur Anatari.
Kepala Anatari nyeri tak tertahankan. Kedua lututnya terjatuh ke tanah. Dirinya seakan tertarik oleh sebuah cahaya putih.
Dia melihat dirinya sendiri yang terbaring tak berdaya di atas pembaringan. Dadanya dibebat kain kasa putih. Falguni duduk di sampingnya, menggenggam erat tangannya.
"Aku sudah membuat keputusan," ucap Anatari, datar.
Falguni mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Aku akan mengungkap semua kesalahan putri Lembu Jalanatra di persidangan dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Tapi, aku tahu bahwa Ayahnya akan menjadi penghalang terbesarku. Maka dari itu aku akan minta Lembu Jalanatra yang menerima hukuman mati tersebut, menggantikan putrinya yang tidak berguna. Dengan begitu dia akan mengerti rasa sakit dari sebuah luka. Dendamku pun akan tuntas terbayarkan."
Falguni menepuk tangan Anatari. "Aku mengerti. Tapi, sebenarnya aku tidak rela bila harus kehilangan seorang abdi yang begitu setia. Aku tidak akan menghalangimu, kuharap kau pun begitu."
"Apa yang Bibi lakukan setelahnya, aku tidak ingin tahu."
Hari pengeksekusian Lembu Jalanantra pun tiba.
Lembu Jalanatra mendongak dengan wajah tersenyum meski kedua pergelangan tangan, kaki, dan juga lehernya terikat tali tambang yang dihubungkan ke badan lima ekor kuda.
Lembu Jalanatra bersujud. "Hamba, Lembu Jalanatra, meminta maaf pada Gusti Raden Ayu Anatari Lingga atas kesalahan dan kebodohan putri hamba, Agniya Jalanatra. Sebagai Kepala Pengawal Anda, hamba menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan berat hingga pantas dihukum mati. Tapi sebagai seorang Ayah, hamba rela melakukan apapun demi melindungi darah daging hamba. Hamba tidak memiliki penyesalan apapun. Hamba akan menerima takdir ini dengan lapang dada. Hamba mohon, setelah kematian hamba, Gusti Putri bersedia mengasingkan putri hamba."
"Aku akan memenuhi permintaanmu." Anatari memberikan isyarat agar kelima kuda mulai bergerak.
Agniya yang terkurung dengan kedua tangan terikat, berteriak sejadi-jadinya melihat hukuman mati Ayahandanya berlangsung.
Anatari menjerit kesakitan, merasakan panas membara di wajahnya. Topeng yang dipakainya berusaha melepaskan diri darinya. Namun, hal itu terasa amat begitu menyakitkan. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. Setelah proses yang begitu menyakitkan, topeng itu terlepas dan hancur begitu menyentuh tanah yang basah oleh darah dan abu. Seulas senyum lega terlukis di bibirnya.
Perkataan si Iblis Muda memang benar, kasih sayang yang Anatari rasakan dari ketulusan hati seorang ayah membuat kuasa topeng iblis melemah. Menghancurkan kebencian yang terpendam.
Anatari memuntahkan darah seketika. Seseorang yang memukulnya dari belakang, menampakkan diri. Melangkah pelan dan berlenggak-lenggok. Sinjangnya bernuansa monokrom, memiliki corak yang menunjukkan statusnya sebagai Putri Mahkota di sebuah kerajaan. Kemban dan pernak-perniknya bernuansa ungu dan lavender. Dia berjongkok di depan Anatari, mengangkat dagu Anatati dengan jari telunjuknya yang berkuku panjang.
"Inikah perempuan yang dinikahi Abinawa? Sangat tidak sepadan," sindirnya. Wajah dibalik cadar transparan tersenyum penuh ejekan.
Tepat di alun-alun kota, pasukan ganderva merasakan kekuatan Antari yang melemah. Mereka mundur serempak ke arah hutan. Para Pendekar Tersumpah dari Canggal tidak tinggal diam, bertekad untuk membinasakan semua dedemit pengikut Anatari. Sagara, Taruna, Lavi, dan para prajurit pun memanfaatkan kesempatan untuk menyelamatkan diri
"Di mana Kangjeng Ratu Anatari?" tanya Sagara.
"Di sebuah kuil yang ada di dekat gapura utama," jawab Lavi.
__ADS_1
Mereka bergerak bersama, tetapi langkah mereka harus terhenti karena dikepung pasukan Bhumi Namaini.
Anatari terduduk lemas di tanah, menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Dia tidak mengenal perempuan yang telah menyerangnya dari belakang. Seluruh meridian yang belum lama ini dibebaskan oleh Falguni, harus terluka akibat ajian Gelap Ngampar yang dilayangkan perempuan tidak dikenal itu. Akibatnya, Anatari menderita luka dalam yang cukup serius.
Anatari tidak memiliki kekuatan untuk beradu mulut. Dia terdiam, mendengarkan perempuan itu berbicara dengan nada penuh kelembutan, meski setiap kata yang dipilihnya jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan.
"Tahukah kau bahwa yang seharusnya menikah dengan Abinawa adalah diriku, Putri Mahkota Bhumi Namaini, Jiera Varshaa. Tapi sayang, Sri Maharaja lebih memilih dirimu ketimbang diriku. Kau tahu apa alasannya? Dia menginginkan Mustika Naga dalam dirimu. Begitupun Abinawa. Dia bersedia menikahimu hanya agar Bhumi Girilaya tunduk dan Mustika Naga berpihak pada Javacekwara," ungkap Jiera. Suara perempuan itu sangat halus, tapi terasa dingin dan tidak ramah.
Anatari mengamini ucapan Jiera. Dia merasakan hal yang sama. Tapi saat ini dia tidak ingin mendiskusikannya dengan siapapun, terlebih dengan perempuan yang merupakan musuhnya, mungkin juga saingannya.
"Kau hanya boneka, Anatari Lingga. Bukan permaisurinya," tekan Jiera di depan wajah Anatari.
Anatari merasakan kantuk. Kelopak matanya perlahan tertutup dan tak sadarkan diri.
Pria bertopi caping muncul di samping Agniya yang terluka hati dan tubuhnya.
"Tuan Putri dari Girilaya pernah ingin menjatuhkan hukuman mati pada putri kesayangan Kepala Pengawalnya. Sekarang, kita kabulkan keinginannya," ucap Jiera, tanpa memalingkan wajah dari Anatari. "Lakukan. Dia sudah tidak berguna lagi."
Kepala Agniya tertunduk dalam, tangannya mencengkram tanah.
Seorang prajurit berlari memberikan laporannya bahwa Falguni dan Para Pendekar Tersumpah dari Girilaya sudah memasuki hutan Canggal.
Jiera memberikan perintah untuk segera meninggalkan tempat itu. "Lakukan tugasmu dengan cepat."
Pria bertopi caping mengangguk, menyerang Agniya tanpa ragu.
...***...
Anatari merasakan sebuah pembaringan hangat dan nyaman menopang tubuhnya yang terasa sakit. Aroma cendana dan jempiring yang dikenalnya, membuatnya ingin segera membuka mata. Dua sosok yang berada di dekatnya membuat Anatari terkejut seketika.
"Kalian --" Anatari kebingungan dengan situasi saat ini.
"Kangjeng Ratu sudah bangun," ucap Liyem, penuh syukur.
"Bagaimana keadaan Kangjeng Ratu?" tanya Jiyem.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa yang membawaku? Apa Abinawa datang menyelamatkanku?"
Kesedihan menguasai wajah Jiyem dan Liyem. Anatari turun dari atas babragan. Tersuruk-suruk menuju pintu kediaman. Dia harus mencari tahunya sendiri.
Sinar mentari yang menyilaukan mata menyambut Anatari yang menghambur ke serambi depan. Langkahnya terhenti di tempatnya. Dilihatnya banyak prajurit yang berjaga dengan senjata lengkap di dalam kediamannya.
Jiyem dan Liyem tak kuasa menahan tangisnya.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa begitu banyak prajurit yang berjaga di dalam kediamanku?"
"Javacekwara dalam keadaan genting, Kangjeng Ratu."
"Katakan dengan lebih jelas!" perintah Anatari.
__ADS_1
"Pangeran Mahesa telah melakukan pemberontakan."