Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 31. Perpisahan


__ADS_3

Mahesa dan Jiera mencoba menenangkan murka rakyat Bhumi Javacekwara. Demi mengakhiri kekisruhan yang telah terjadi, Mahesa mengeluarkan Ayahandanya dari ruang tahanan, membawa Sri Maharaja II ke alun-alun Kuthanagara.


Sri Maharaja II pun berdiri di depan rakyatnya di tengah alun-alun kota, menyatakan bahwa Abinawa telah mengabaikan tugas-tugas Bhumi Javacekwara. Menurutnya Abinawa seorang yang tidak kompeten untuk menduduki posisi Yuwaraja. Tapi rakyat tidak puas dengan pernyataan Sri Maharaja II yang hanya mengulang kesalahan Abinawa yang sebelumnya telah disampaikan saat putusan hukuman kemarin siang.


"Yuwaraja telah membantu penduduk saat ada bencana banjir melanda," ucap seorang petani.


"Yuwaraja membuka lumbung padi persediaan kedaton di saat musim paceklik. Karena jasanya, banyak anak-anak kami yang tetap hidup hingga saat ini," ucap seorang tukang kayu.


"Yuwaraja mengajarkan membaca dan menulis pada orang tua kami, anak-anak kami. Perbuatannya sungguh mulia," ucap seorang guru muda.


"Yuwaraja mengajari kami memilih tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan obat tradisional," ucap seorang tabib.


"Seorang Raja harus memperhatikan rakyatnya, karena tidak akan pernah ada Raja tanpa kehadiran rakyat. Yuwaraja adalah orang yang memperhatikan kami di saat petinggi kedaton lainnya sibuk menjalankan tugas memperluas wilayah kekuasaan," ujar si pedagang tua.


Pembelaan terus berlanjut, Sri Maharaja II tidak dapat memungkirinya. Namun, kini dirinya berada di bawah tekanan Mahesa. Membuatnya lebih memilih bungkam demi keselamatan Indukanti.


Kekacauan kian liar, setelah Sri Maharaja II memaksakan diri mengumumkan penobatan Pangeran Mahesa Narendra sebagai Yuwaraja Bhumi Javacekwara.


Jiera mengambil inisiatif, meminta Mahesa untuk mempercepat hukuman Anatari dan Abinawa. Bila terus diundur, takutnya rakyat akan semakin berani, hingga akhirnya menimbulkan pemberontakan yang akan mempersulit rencana mereka.


...***...


Hari berikutnya, Anatari dan Abinawa dikirim menuju Gunung Mrapen yang berada di luar kekuasaan empat kerajaan, jauh ke sebelah barat di luar wilayah Bhumi Acarya.


Kereta kuda yang ditumpangi Mahesa dan Jiera memimpin di barisan paling depan. Anatari dan Abinawa ditempatkan di dalam kereta kuda yang berupa kurungan jeruji kayu yang tidak seberapa besar. Dikawal pasukan kavaleri di bagian depan dan belakang.


Kereta kuda bergoyang melewati jalanan tanah merah dan berbatu. Ilalang yang tinggi dan padat berkeresak disapa angin yang menderu. Langit masih bermuram durja. Memperlihatkan siang yang terasa bagaikan senja.


Anatari dan Abinawa duduk saling membelakangi. Abinawa duduk bersandar, menahan pemberontakan di dalam lambungnya yang nyeri tak tertahankan. Sedang Anatari, bergelung memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan sebab penurunan fungsi oragan tubuhnya.


"Anatari," panggil Abinawa.


Anatari menjawabnya dengan gumaman yang nyaris tak terdengar.


"Apa kau marah padaku?" tanya Abinawa.


Kebisuan Antari di sepanjang perjalanan begitu mengganggu pikiran Abinawa. Dia takut Anatari akan membencinya. Pada kenyataannya, Anatari berada di penghujung hidupnya.


"Aku tidak marah padamu."


"Kalau begitu katakanlah sesuatu."


"Saat ini, aku sedang menjemput kematianku. Aku takut perkataan yang keluar dari mulutku akan menjadi ucapan perpisahan," ucap Anatari.


"Aku minta maaf, karena telah melakukan sesuatu yang menyakitimu," sesal Abinawa.


"Kau tidak perlu minta maaf. Apa yang menimpa kita semua bukanlah kehendak diri. Aku marah karena membiarkan semua ini terjadi. Andai saja ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk mencegahnya, aku akan melakukannya meski harus bertaruh nyawa," ungkap Anatari.


Abinawa tersenyum juga mengernyit merasakan isi perutnya terpelintir. "Anatari, tidak semua hal di dunia ini harus diselesaikan dengan bertaruh nyawa. Masih ada banyak cara yang lebih layak untuk dicoba, tanpa harus menimbulkan dendam baru yang memicu bencana selanjutnya."


"Katakan padaku bagaimana caranya? Haruskah bersandiwara menutup mata dari kenyataan? Mengikuti takdir yang selalu mempermainkan? Apa yang seekor ikan dapatkan dari berenang mengikuti arus? Katakan padaku apa yang harus kulakukan? Jangan hanya menghiburku dengan sebuah wacana yang terkesan muluk," ucap Anatari.


Abinawa terdiam, tak ingin mendebat Anatari yang suasana hatinya sedang buruk. Sebenarnya, Abinawa telah menjalankan rencananya sejak dulu untuk mengantisipasi hal seperti ini. Abinawa bersandiwara sebagai Yuwaraja pesakitan agar bisa mengirim Mahesa melakukan tugas-tugasnya di luar Bhumi Javacekwara.


Di saat Mahesa pergi, Abinawa melakukan upaya pendekatan pada seluruh rakyatnya. Memberikan citra yang baik dan posistif demi meraih simpati rakyat. Karena baginya, kekuatan terbesar suatu nagari bukan terletak pada ketangguhan pasukan kerajaan, melainkan kecintaan rakyat terhadap pemimpinnya. Dan, Abinawa sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Kini tinggal menunggu waktu untuk menikmati buah usahanya.


Iring-iringan kereta kuda memasuki wilayah kaki Gunung Mrapen, disambut aroma belerang yang memenuhi udara. Partha memberi isyarat untuk berhenti di luar pagar kayu tinggi yang membatasi wilayah Banaspati dan dunia manusia.


Anatari memegang lengan Abinawa. "Aku tidak bisa berdiri," lirihnya.

__ADS_1


Tanpa mengeluh rasa sakit yang juga melandanya, Abinawa mengulurkan tangannya, membantu Anatari agar duduk bersandar padanya.


Anatari memicingkan mata. Memerhatikan lingkungan sekitarnya yang gersang. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan bukit pasir hitam yang menjulang. Di sini angin menderu lebih kencang, sesekali membawa bau belerang yang jauh lebih menyengat.


Seorang prajurit membuka pintu kurungan. Mahesa dan Jiera menyambut Anatari dan Abinawa yang melangkah turun dari kereta kuda.


"Kita sudah sampai di Gunung Mrapen. Ini saat bagi Anatari untuk mengucapkan kata terakhirnya," ucap Jiera.


Anatari melirik Mahesa dan Jiera, samar terlihat Anatari tersenyum sinis. "Kenapa aku harus mengucapkan kata-kata terakhir? Setelah aku jadi hantu, aku masih bisa berkata-kata untuk mengutukmu."


Abinawa tak habis pikir disela napas Anatari yang tersendat, di masih bisa mengeluarkan ancaman.


"Perlu kau tahu bahwa semua hantu patuh padaku," ujar Jiera tak ingin kalah.


"Hantu kelas rendah maksudmu?" Anatari terbatuk.


Jiera nampak kesal. Namun, Mahesa mengerling padanya, mencegah putri pemarah itu menyerang Anatari.


"Kau tidak perlu meladeninya," bisik Abinawa.


"Aku sudah mengatakan kata-kata terakhirku. Sekarang lemparkan saja aku dari sini. Aku sudah muak melihat kalian berdua," pungkas Anatari.


Mahesa merasa tersinggung dengan ucapan Anatari, tetapi coba menahan diri. "Itu tidak mungkin. Celah Mrapen masih cukup jauh. Lagipula bukan kami yang akan mengantarmu ke sana. Abinawa yang akan melakukannya. Sesuai permintaannya sendiri."


Anatari menoleh pada Abinawa yang menunduk diam. Dia menelan getir mengetahui Abinawa sendiri yang akan mengantarnya ke gerbang kematian.


"Kalau begitu tunggu apa lagi." Suara parau Anatari tersendat di kerongkongannya.


Anatari memilih berjalan sendiri. Tertatih menapaki pasir gunung yang terasa panas menyengat kakinya. Abinawa membuntuti, mengawasi Anatari yang limbung. Tangannya terulur kala perempuan di depannya terjatuh, tapi Anatari memberi isyarat tangan agar Abinawa tak membantunya.


"Biarkan aku membantumu," mohon Abinawa, berlutut di samping Anatari.


"Membantuku lebih cepat menjangkau kematian," sindir Anatari.


Anatari tidak mengacuhkannya. Dia kembali berdiri. Tubuhnya sedikit goyah diterpa angin pesat yang meluncur dari atas gunung.


Anatari berpaling pada Abinawa. "Kau tahu, aku datang ke dunia ini untuk mengurangi segala dosaku. Mulanya aku berhasil mencegah Anatari Lingga membunuh Lavi." Anatari terisak. "Tapi pada akhirnya takdir yang memenangkan semuanya. Lalu apa gunanya aku di sini, jika tidak bisa mengubah apapun. Aku bahkan belum melakukan apapun untuk mengurangi segala dosaku. Aku telah gagal."


Abinawa berdiri. "Takdir memang tidak dapat diubah. Menunggu takdir bukanlah pilihan bijak. Mengikuti takdir jika kau ingin bertahan sejenak. Dan, menyongsong takdir jika kau ingin memenangkannya. Kau selalu memiliki pilhanmu sendiri. Jemput takdirmu dan menangkan nasibmu."


"Andai aku bisa melakukannya, Abinawa. Aku tidak diberi pilihan untuk itu. Aku tidak bisa menjadi apa yang aku inginkan. Bahkan mengucap maaf dan terimakasih saja sudah mengancam nyawaku." Anatari terdiam. Darah mengalir keluar dari mulutnya.


Abinawa mendekap Anatari. "Jangan bicara lagi. Jangan katakan apapun."


"Kenapa Abinawa? Kenapa harus dirimu? Kupikir kau akan menjadi malaikat pelindung-ku. Kenyataan sekarang kau adalah malaikat maut-ku. Ternyata aku salah selama ini. Beritahu aku, apa aku sungguh akan mati?" ratap Anatari.


Bibir Abinawa bergerak hendak mengatakan sesuatu, dia berpikir sejenak dan meragu. Hanya embusan napas pelan yang menggantikan kata-katanya yang ditahan.


Partha dan si pria bertopi caping menerabas angin kencang, mendekati Anatari dan Abinawa.


"Cepat jalan!" desak Partha.


Anatari tertanam di tempatnya. Abinawa membopong Anatari dengan berat hati. Pria muda itu mengerutkan dahi, merasakan seluruh tubuh Anatari yang dingin. Kedua tangan Anatari merangkul leher Abinawa. Erat. Tak ingin terpisahkan.


Anatari telah kalah. Gagal dalam menjalankan misinya mengurangi dosa di masa lampau. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, Anatari lebih memilih meregang nyawa terjatuh dari ketinggian gedung sembilan belas lantai.


Reinkarnasi? Apa gunanya jika tidak dapat mengubah apa-apa.


Manik hitam Anatari yang telah redup memandang wajah lembut Abinawa yang sendu dan pucat.

__ADS_1


Selain telah gagal menjalankan misiku, aku pun akan kehilangan seseorang yang telah mengisi hatiku. Seorang mentor yang sedikit satir. Tapi aku menyukainya. Meski kebersamaan kita terasa singkat. Namun, pernikahan yang sempat terjalin di antara kita seakan telah mengikat hatiku padamu. Aku merasa beruntung karena telah berhasil mencegah Sagara, sehingga bisa melaksanakan upacara pernikahan denganmu.


Gambaran saat menjalani prosesi upacara pernikahan dengan Abinawa membayang di benaknya. Anatari menutup matanya.


Abinawa meneteskan air mata mengetahui pemikiran Anatari. Jauh dalam lubuk hati Abinawa yang tertutup, dia merasa bahagia mengetahui gadis remaja yang terluka karena anak panahnya, ternyata memiliki perasaan yang sama padanya. Pun merasa sedih karena harus menjadi malaikat maut-nya.


"Seharusnya, pengantin pria-ku akan menggendongku saat kami memasuki kamar pengantin. Tapi, pengantin pria-ku justru menggendongku menuju kuburanku. Abinawa. Apa kau benar-benar mengharapkan kematianku?"


Abinawa menurunkan Anatari. Memegang lengan kurus perempuan itu, menahannya agar tidak terjatuh ke Celah Mrapen di belakangnya.


"Bila hujan adalah rahmat dari Acintya, bagiku, adalah air mata karena harus kehilangan dirimu. Bila ombak adalah penstabil suhu dunia, bagiku, adalah penyesalanku yang mencoba meraih maaf-mu. Bila gunung adalah penyeimbang bumi yang kita pijak, bagiku, adalah amarah yang tertahan karena tidak bisa menyelamatkanmu," ujar Abinawa dengan suara parau.


Anatari menunduk, menyembunyikan isak tangisnya. Anatari membelakangi Abinawa, melangkah mendekati bibir Celah Mrapen yang dalam dan gelap. Abinawa mengikutinya, enggan melepas tangan Anatari.


Anatari ingin berbalik untuk terakhir kalinya, tapi dia takut tidak sanggup melepas Abinawa. Satu langkah terakhir menghantarkan kakinya melayang di udara. Jantung Abinawa berhenti sesaat melihat kepergian Anatari, merasakan tangan dingin perempuan itu terlepas begitu cepat.


Abinawa berlari menuju bibir jurang. Namun, Anatari telah dirampas kegelapan jauh ke bawah celah yang tak berdasar. Begitu cepat. Sedangkan dia belum siap melepaskan tangan Anatari. Bahkan, tidak pernah siap.


Partha dan pria bertopi caping menunggu dengan penuh kewaspadaan kalau-kalau Abinawa akan mengamuk. Tapi Abinawa tidak memiliki kekuatan apapun untuk saat ini. Sehingga mereka dengan mudah membawanya kembali ke Bhumi Javacekwara.


...***...


Setelah kepergian Anatari dua hari yang lalu, Abinawa terpenjara di dalam kediamannya dengan penjagaan ketat. Saat ini dia bersiap memakai pakaian kebesarannya sebagai Yuwaraja. Tak lupa makuta yang bertengger menutupi gelungan rambutnya.


Abinawa melangkah keluar ketika embun masih menyelimuti Bhumi Javacekwara. Mentari bahkan tak menunjukkan sinarnya. Arak-arakan kawanan awan nan kelabu menggelayut menutupi langit. Sesuatu yang dingin terjatuh menimpa pipinya. Dia mengulurkan tangannya ke depan.


Hujan.


Pria bertopi caping dan prajurit Bhumi Namaini berdiri di dekat Abinawa yang telah kehilangan semangatnya. Rinai hujan menyertai langkahnya menuju Pendopo Ageng yang telah disesaki para pengkhianat yang menantikannya melakukan penyerahan posisi Yuwaraja. Sri Maharaja II duduk di kursi takhtanya ditemani Gusti Kangjeng Ratu Indukanti yang duduk di kursi di sebelahnya.


Abinawa merasa sedikit lega melihat kedua orangtuanya dalam keadaan baik-baik saja.


Seorang dharmmadyaksa memimpin upacara pemberhentian Abinawa sebagai Yuwaraja, melepaskan makuta-nya yang selama ini dijaganya dengan baik. Sri Maharaja II memalingkan wajahnya dan Indukanti menutup matanya begitu makuta itu dipasangkan di kepala Mahesa.


Begitu upacara selesai, Abinawa hendak mendekati Ayahandanya. Namun, Jiera menghalangi, sehingga Abinawa tidak sempat menemui orangtuanya yang terlanjur dibawa pergi para prajurit.


"Jika kau berkehendak menemui Ayahandamu, bagaimana bila kita membicarakannya di tempat lain?" tawar Jiera.


Abinawa menepis telunjuk Jiera yang meliuk di sepanjang selendang yang menutupi dadanya. "Aku tidak memiliki urusan apapun denganmu."


Mahesa melangkah penuh kebanggaan, mendekati Abinawa. "Terimakasih Dimas sudah bersedia mengembalikan makuta ini pada pemilik yang seharusnya."


"Aku tidak keberatan sama sekali, mengingat makuta hanyalah simbol, bukan cerminan kekuasaan yang sesungguhnya," sindir Abinawa.


"Seekor kuda sudah disiapkan untuk Abinawa." Partha datang menyela, mencegah keributan yang mungkin akan terjadi.


Abinawa melangkah keluar dengan kepala terangkat. Pintu gerbang kedaton terbuka lebar untuknya, memperlihatkan kerumunan rakyat Bhumi Javacekwara yang menunggunya. Meski kini dirinya bukan lagi Yuwaraja Bhumi Javacekwara, tapi langkahnya tetap tegap dan mantap. Wibawa dan kharismanya tidak berkurang sedikitpun.


Abinawa merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tangan kirinya. Bayangan Anatari yang begitu cemerlang sedang tersenyum padanya. Genggaman tangannya terasa erat seperti saat terakhir kali tangan mereka bertaut. Bersama, keduanya melangkah melewati pintu gapura kedaton. Kerumunan rakyat menyingkir, berbaris di kedua sisi jalan untuk memberikan hormat terakhir mereka.


Melihat rakyat memadati setiap inci jalan lebar Kuthanagara, membuat hati Mahesa bergetar. Bertanya-tanya perihal kelakuan Abinawa sehingga mampu memenangkan hati seluruh rakyat Bhumi Javacekwara.


Air muka Abinawa tak menunjukkan ekspresi apapun. Langkahnya tak terhentikan seolah menunjukkan kebulatan tekad untuk segera meninggalkan tempat kelahirannya. Namun, dia seketika berhenti di tengah jembatan Kayu Meranti, menatap tangan kirinya. Kehangatan yang tadi menyelimuti tangan itu berganti dingin yang menusuk dan kuyup. Wajahnya mendongak ke arah langit.


Apa kau juga melihat hujan ini, Anatari? Dapatkah kau merasakan kesedihanku?


...\= END \=...


Hai ...

__ADS_1


Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca karyaku, Gadis yang Terlempar ke Bhumi Javacekwara yang merupakan Book 1 dari Dwilogi Javacekwara. Masih banyak plot hole di dalam cetita ini yang akan terjawab di Book 2.


Terimakasih atas dukungan yang sudah diberikan dan like-nya, itu sangat berarti untukku.


__ADS_2