Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 23. Mustika Naga


__ADS_3

Seorang prajurit bersujud menghadap Falguni yang berdiri di sebuah panggung yang disusun berundak dari batu candi. Prajurit lain yang sedang berlatih ilmu kanuragan lekas menepi, mengambil posisi dalam sebuah barisan, meninggalkan si prajurit yang melesatkan anak panah bersujud sendirian di tengah lapangan tanah.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat kesalahan bodoh yang dilakukan prajurit Bhumi Girilaya. Kau menjadi orang pertama yang mengulang kesalahan itu. Melesatkan anak panah ke arah Yuwaraja Javacekwara, artinya menyatakan perang. Kau berniat untuk memulainya? Menabuh genderang perang," sindir Falguni.


"Hamba tidak berani melakukannya, Yang Mulia Ratu." Prajurit malang itu bersujud begitu dalam.


"Asingkan dia ke Canggal, agar dia merenungkan kesalahannya," titah Falguni.


Abinawa tersenyum, menyadari sindiran Falguni. Satu tangannya mendorong punggung Anatari, membuat perempuan itu bergerak beberapa langkah ke depan.


Anatari menoleh ke balik bahunya. "Kau," desisnya.


Falguni memergoki pergerakan Anatari. "Ada yang ingin kau katakan, Gusti Kangjeng Ratu?"


Anatari kembali menoleh sosok Abinawa yang berdiri tegak di belakangnya, memasang raut wajah penuh keramahan. Dasar rubah jantan.


Abinawa mengerling tajam perempuan di hadapannya. Dia mengangguk dan tangan kanannya terangkat, mempersilakan Anatari untuk menjadi juru bicaranya.


"Tidak perlu mengasingkan pria itu ke Canggal," tutur Anatari pada Falguni. Anatari mengernyit merasakan jantungnya dicubit. Berbuat baik pun merupakan kutukan? Yang benar saja. "Maksudku Yang Mulia Ratu bisa menghukumnya dengan cara lain yang mendatangkan keuntungan bagi Girilaya."


"Hukuman yang menguntungkan? Apa ada hukuman seperti itu?" tanya Falguni, sangsi.


Anatari mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tangannya mengepal erat kain katun selendangnya, menahan nyeri yang masih mendera. Dia mengamati barisan senjata para prajurit Girilaya yang didominasi pedang dan tombak panjang. Anatari tersenyum. "Hukuman yang menguntungkan, tentu saja ada. Yang Mulia Ratu bisa menyuruh pria itu menebang pohon yang kayunya dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat busur panah beserta anak panahnya. Saat ini, Girilaya sudah harus memiliki pasukan pemanah yang mampu berperang tanpa harus terlibat pertarungan jarak dekat." Anatari berhasil menyelesaikan kalimatnya, seketika itu rasa sakit di jantungnya pun menghilang.


Falguni sumrigah mendengar laporan dari Anatari. Dia menangkap pesan yang tersirat dari perkataan keponakannya yang mengatakan bahwa Bhumi Javacekwara memiliki pasukan pemanah dan Girilaya juga harus memilikinya agar bisa menyerang musuh dari jauh sekaligus melindungi pasukan barisan depan yang merupakan pasukan petarung jarak pendek yang mana senjata andalan mereka adalah keris dan pedang pendek.


"Kau sudah mendengar ucapan Putri Mahkota. Jadi lekas buat seribu busur panah beserta anak panahnya. Lakukan hukumanmu dengan baik," titah Falguni.


"Sendiko dawuh, Gusti Ratu."


Dua prajurit bersenjata tombak menggiring rekannya keluar dari lapangan berlatih.


Falguni bergantian menatap Anatari dan Abinawa. Dia menghampiri keduanya dengan enggan. "Baru mengingatku setelah beberapa hari berada di Kertarta?"


Anatari memberikan hormatnya. "Mohon maaf sudah membuat Bibi menunggu. Bibi pasti sudah mendengar kabar bahwa kedatangan kami ke wilayah Kertarta ialah untuk menyelesaikan masalah perewa dan dedemit dari Canggal yang terus membuat onar di wilayah perbatasan. Masalah itu baru teratasi kemarin, karena itulah kami baru menyempatkan diri datang berkunjung."


"Girilaya tidak memiliki sangkut paut apapun mengenai hal itu. Jika kalian sudah membereskannya, aku ucapkan terimakasih karena telah membantu mengurangi orang-orang yang tidak berguna," tutur Falguni.


Abinawa berdiri menjajari Anatari. "Kedatangan kami sebenarnya bukan hanya untuk berkunjung, melainkan juga memiliki sesuatu untuk didiskusikan dengan Bibi Ratu."


"Berdiskusi mengenai apa?"


"Bibi. Aku didesak untuk melahirkan."


Falguni tertawa bahagia. "Kenapa begitu cepat? Bukankah kalian baru menikah?"


Anatari dan Abinawa saling lirik dengan canggung.


Falguni menjamu keduanya di halaman tengah di bawah naungan gazebo yang dijaga ketat oleh beberapa pasukan khusus yang selalu melindungi Falguni. Ratu Girilaya menderita ketakutan berlebih akan keselamatan dirinya. Dia selalu merasa bahwa para Pendekar Tersumpah yang disingkirkannya ke wilayah Canggal sedang diam-diam mengawasinya, menunggu kesempatan untuk membunuhnya.


Teh melati hangat dituangkan menggantikan tuak. Sejak dirinya dinobatkan menjadi Ratu Girilaya, Falguni melarang semua penghuni kedaton untuk mengonsumsi tuak. Peraturan itu dtetapkan guna menjaga kondisi pasukan Girilaya tetap dalam keadaan waspada setiap saat.


"Benarkah kau akan melahirkan? Seorang Putra Mahkota?" tanya Falguni cerah.


"Sepertinya Bibi sudah salah sangka. Aku bukan hendak melahirkan seorang bayi." Anatari meluruskan kesalahpahaman Falguni.


Kedua alis Falguni bertaut. "Apa maksudmu sebenarnya?"


"Ini mengenai Mustika Naga dalam diriku. Dia mendesakku untuk melahirkannya. Sebab itulah aku menemui Bibi," jelas Anatari.


Falguni merenung. Abinawa tersenyum lega mengetahui kebenarannya sekaligus cemas.

__ADS_1


Falguni menyesap tehnya dengan tangan gemetar.


Anatari mencondongkan tubuhnya ke atas meja. "Hanya Bibi yang bisa membantuku mengenai hal ini. Apa yang harus kulakukan?"


Abinawa menyesap tehnya tenang, menanti reaksi yang akan Falguni berikan.


"Beri aku waktu untuk memikirkannya lebih dulu." Falguni bangkit, tergesa-gesa meninggalkan Anatari yang tak puas diri.


Anatari memposisikan duduknya ke arah Abinawa. "Melihat reaksinya yang seperti itu, apa menurutmu masalah ini terasa pelik?"


"Bersabarlah. Dia pasti terkejut mengetahui dirinya akan menjadi nenek dari seekor naga," canda Abinawa.


Anatari menggertakkan bibirnya ingin membalas perkataan Abinawa, tetapi pria itu terburu-buru pergi meninggalkannya. "Tunggu! Ke mana kau hendak pergi?"


Anatari dan Abinawa melangkah beriringan menuju ke halaman belakang kedaton. Pohon Cempaka setinggi sepuluh dpa menjulang di sudut benteng. Anatari mengamati pohon besar itu lekat-lekat. Suara tawa dua orang menarik perhatiannya.


Abinawa mengawasi sikap ganjil Anatari, mengikutinya dalam diam.


Manik hitam Anatari terus tertuju pada pohon berbatang besar di hadapannya. Suara tawa laki-laki dan perempuan kian jelas dalam pendengarannya. Anatari memutari pohon itu, mendapati sebuah anak tangga batu yang menuju jauh ke bawah.


"Kau ingat tempat itu?" tanya Abinawa.


Anatari menggeleng. "Tidak. Tapi, aku ingin pergi ke sana."


Keduanya menginjak satu per satu anak tangga yang terasa licin karena hampir seluruh permukaannya tertutup lumut basah. Anatari hampir terpelesat sebab suara tawa sepasang manusia itu mengalihkan perhatiannya dari langkah kakinya. Untung saja Abinawa menahan tubuhnya dengan sigap.


"Perhatikan langkahmu." Abinawa mengingatkan.


"Kau tidak mendengarnya?"


"Memangnya apa yang kau dengar?" Abinawa balik bertanya.


"Taman." Abinawa melangkah lebih jauh, mengamati lingkungan sekitarnya yang merupakan sebuah taman Bunga Mawar. Tanaman Jempiring dimanfaatkan sebagai pagar hidup yang mengelilingi seluruh area taman yang cukup luas.


Taman ini adalah tempat di mana Anatari selalu menghabiskan sebagian besar harinya yang membosankan. Kebanyakan dilalui untuk merawat bunga-bunga berduri yang ditanamnya. Kini dilihatnya dirinya sendiri yang sedang merawat semua tanaman mawarnya. Anatari memutar penuh posisi badannya, melihat dirinya yang masih remaja berlenggak-lenggok memakai topeng putih yang bagian atasnya berukir urat-urat daun berwarna emas, dikelilingi kabut kelabu yang penuh mistis. Sorot mata hitam legam dibalik topeng menyimpan kelicikan dan dendam.


Anatari mengarahkan tatapannya ke sisi lain, dirinya yang baru menginjak usia duapuluhan berlari diantara tingginya pohon-pohon mawar yang kini tak terawat lagi. Di ujung yang bersebrangan dengannya, Anatari remaja menatap jari manisnya yang tertusuk duri mawar. Anehnya, air mukanya tak menunjukkan rasa sakit dari luka yang dideritanya. Luka itu menganga cukup lebar, tapi Anatari bergeming. Tatapannya terfokus pada tetesan darah yang menempel pada duri mawar yang telah melukainya. Seringai aneh terukir samar di bibirnya.


Abinawa menarik lembut lengan Anatari. Barulah ketika itu Anatari keluar dari bayang-bayang masa lalunya. Dia melihat Abinawa sedang membersihkan luka di lengan kirinya menggunakan selendang katun milik Abinawa. Sementara selendang katun milik Anatari telah merosot dari bahunya.


"Abinawa."


"Diamlah. Ada banyak duri di taman ini. Bila tidak hati-hati bukan hanya lengan ini yang harus kuobati." Abinawa mengingatkan. "Duri di semua pohon ini tidak bermasalah, kan?"


"Aku tidak meracuninya, jika itu maksudmu," tegas Anatari terang-terangan.


"Baguslah. Aku bisa beristirahat dengan tenang," ucap Abinawa setelah selesai membebat luka Anatari menggunakan sobekan kecil selendang katunnya.


"Kau beristirahat saja dulu. Aku akan menemui Bibiku."


Abinawa menarik tangan Anatari. "Biarkan saja. Dia sudah meminta waktu untuk memikirkannya, kan?" Kemudian dia berlalu menuju tangga batu. Sekilas menatap bahu Anatari yang terbuka, memperlihatkan kulit coklat muda tanpa cela yang bersinar keemasan di bawah lembayung senja.


Anatari memerhatikan lukanya. Gambaran sebuah anak panah melukai lengannya di tempat yang sama terlintas begitu saja. Ditariknya selendang itu agar kembali bertengger di bahunya. Matanya menyipit, memerhatikan bahwa robekan di selendangnya presisi dengan lukanya sepanjang tiga ruas jari telunjuknya. Bagaimana bisa sama? Bahkan tidak terasa sama sekali.


Malam menjelang. Burung hantu bersahutan dari arah taman Bunga Mawar. Seorang pengawal Falguni menuruni anak tangga jalan utama sambil memegang celupak berbahan perunggu dalam genggamannya. Langkahnya tak terlalu cepat, membelah kabut tipis yang menyelimuti bagian bawah kakinya.


Abinawa membuka jendela, membiarkan seekor burung pembawa pesan masuk ke dalam kamar. Burung berwarna abu-perak itu mendarat lembut di atas meja kayu. Abinawa menarik secarik kertas dari kaki si burung.


Dipercaya. Aman.


Itu adalah pesan dari Sagara. Sebelumnya Abinawa meminta Sagara untuk menyelidiki Lavi dan juga menjaga keamanan di wilayah Kertarta.

__ADS_1


Sebuah pergerakan mencurigakan dari arah taman berkabut menarik perhatian Abinawa. Awalnya hanya satu yang bergerak cepat, kemudian menjadi dua, tiga, empat, begitu banyak dari kaum Banaspati yang kerasan tinggal di tempat ini.


Suara ketukan lembut terdengar dari arah pintu. Abinawa bertanya pelan dan waspada, "Siapa?"


"Yang Mulia Ratu memanggil Anda," sahut pengawal Falguni.


Abinawa menutup jendela, melirik sesaat pada Anatari yang tertidur nyenyak. Abinawa mengikuti ke mana si pengawal membawanya pergi. Dahinya berkerut melihat hamparan kabut menutupi seluruh jalan di dalam kedaton Girilaya.


Prajurit itu menatap Abinawa. "Yuwaraja." Ada desakan dalam ucapannya.


Kabut tipis di atas permukaan tanah itu menguasai seluruh permukaan jalan, membuat Abinawa berhati-hati memilih pijakan. Kepalanya mendongak menatap si prajurit yang tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran kabut misterius ini. Abinawa dibawa menuju ke sebuah bangunan kayu berpenjagaan ketat di mana Falguni hilir-mudik menunggunya di bawah naungan atap Pendopo Utama yang temaram.


Falguni berdiri diam saat melihat kedatangan Abinawa. "Kau sudah datang?" Abinawa hendak memberikan hormat, tetapi Falguni melarang dengan alasan hanya ada mereka berdua saat ini.


"Apa ada sesuatu yang begitu mendesak sehingga Yang Mulia Ratu meminta bertemu di malam selarut ini?"


"Ini mengenai Anatari."


Abinawa menundukkan pandangan. "Kalau begitu kita harus melibatkannya dalam pembicaraan ini."


"Tidak bisa. Aku tidak sanggup untuk memberitahunya ... karena itulah aku memanggilmu," Falguni meremas jemarinya.


"Aku siap mendengarkan."


Falguni menghela napas berat. Api di atas celupak yang ditempatkan di beberapa sudut Pendopo Utama berpendar lemah tertiup angin. "Aku tahu hubungan Girilaya dan Javacekwara tidak memiliki sejarah yang baik. Ada dendam yang tidak termaafkan yang selalu menghantui perasaan kami. Meski begitu, sekarang dua nagari telah terikat persudaraan. Apa yang menjadi beban Girilaya, maka Javacekwara juga akan ikut menanggungnya. Itu salah satu kesepakatan yang dibuat olehku dan Jayanegara."


Abinawa mendengarkan, tak ingin menyela.


"Kini Anatari telah menjadi bagian dari hidupmu. Maka persolaan mengenai Mustika Naga ... kurasa kau layak mengetahuinya." Falguni menjeda ucapannya. Dia duduk di singgasananya, menatap jauh ke langit malam yang ditelan kegelapan. "Dulu, ketika kakak iparku, Candra Kirana, menjadi pewaris penjaga Gunung Angsaka. Induk siluman naga menitipkan Mustika Naga padanya."


Kejadian kelam berpuluh tahun silam kembali membayang di benak Falguni. Raja Aryarajasa dan Permaisuri Chandra Kirana mendapat kabar dari seorang telik sandi yang mengungkapkan bahwa Sri Maharaja I dari Javacekwara telah bergerak bersama pasukannya menuju Gunung Angsaka yang didiami oleh seekor siluman naga betina yang tak lama lagi akan menetaskan keturunannya, hanya satu per lima ratus tahun.


Hal ini tidak dapat diabaikan oleh siapapun, sebab sudah lama tersiar kabar angin bahwa siapapun yang berhasil merebut telur siluman naga dari induknya, maka dia akan menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi hingga tidak ada satu pun pendekar sakti mandraguna yang dapat mengalahkannya. Bahkan dapat menjadi tuan dari induk siluman naga.


Kabar itu terdengar ke telinga tiga raja dan ratu dari Javacekwara, Acarya, dan Namaini. Ketiganya mengerahkan pasukan menuju Gunung Angsaka agar tiba tepat pada waktunya sang induk siluman naga itu melahirkan, tepat di malam bulan purnama ke tujuh.


Nyai Candra Kirana yang merupakan putri semata wayang dari sesepuh yang menjaga Gunung Angsaka juga induk siluman naga, merasa terusik dengan niat buruk ketiga pimpinan wilayah itu. Tanpa henti berkuda siang dan malam agar sampai terlebih dahulu di tempat tujuannya. Namun, di tengah jalan dia bertemu dengan salah seorang pengikut Banaspati yang terkurung dalam jeruji yang terbuat dari mantra gaib. Dia meminta bantuan Nyai Candra Kirana untuk membebaskannya. Nyai Candra Kirana mengambil sedikit keuntungan dari situasi ini, meminta iblis api muda itu untuk membawanya secepat kilat menuju Gunung Angsaka. Tawar-menawar pun disepakati. Iblis itu berubah wujud menjadi seorang pria tampan dan gagah ketika menarik kasar Nyai Candra Kirana, lalu menghilang begitu saja.


Nyai Candra Kirana tiba lebih dulu, tepat di depan mulut gua persembunyian sang induk naga. Iblis muda itu memperingatkan bahwa tiga orang sakti mandraguna sedang meniti jalur pendakian membawa rombongan besar. Nyai Candra Kirana meminta bantuannya untuk menghalangi mereka. Si iblis menyeringai jahat, menyetujui permintaan dari seorang perempuan cantik jelita yang keanggunanannya setara dengan cahaya bulan purnama. Pemuda iblis itu menyatakan bahwa tanpa diminta pun dia akan tetap membalaskan dendam pada mereka yang telah mengurungnya di dalam jeruji mantra gaib.


Nyai Candra Kirana bergegas menemui induk naga yang menggelung di ujung terdalam gua persembunyiannya. Mata besarnya sekelam malam, menatap wanita di hadapannya yang mendekat dengan tangan terulur, membelai kulit bersisik mengkilat di antara kedua matanya. "Ini Aku. Aku tidak akan membiarkan orang-orang tamak itu mendapatkan keinginan mereka. Aku akan melindungimu dengan nyawaku."


Induk naga menatap ke bawahnya, mengurai sedikit demi sedikit gelungan tubuhnya. Hingga akhirnya sesuatu berpendar, menerangi ruangan gua dalam cahaya berwarna perak-kelabu. Nyai Chandra Kirana terpegun. Benda itu didorong ke arah Nyai Chandra Kirana menggunakan moncong si naga, kemudian induk naga itu meliuk keluar dari dalam gua. Meraung marah, menyemburkan api keluar mulut gua.


Pertempuran sengit terjadi di luar gua. Induk naPertempuranga yang marah lantas menyerang seluruh pasukan dari tiga kerajaan. Pemuda iblis dan pasukannya mundur melindungi Nyai Candra Kirana. Sri Maharaja I melihat mereka bergerak di belakang tubuh naga yang mengamuk, meninggalkan tempat itu. Di tengah perjalanan menunju Girilaya, di tepi wilayah Canggal tepatnya, Nyai Candra Kirana yang merasa berhutang budi pada si pemuda iblis, memperlihatkan benda yang diselamatkannya dari dalam gua.


Mata pemuda itu berkobar bagai nyala api obor yang teguh meski tertiup badai. "Mustika Naga."


"Kau mengetahuinya?" tanya Nyai Candra Kirana.


Pemuda itu berujar bahwa induk siluman naga telah memercayakan telurnya pada Nyai Candra Kirana. Untuk memenuhi tanggung jawabnya melindungi keturunan siluman naga penjaga Gunung Angsaka, maka Nyai Chandra Kirana harus menjaganya hingga menetas. Tetapi, bukan hal yang mudah untuk menetaskan telur siluman naga. Sebab telur naga itu harus diubah menggunakan energi murni agar menjadi Mustika Naga dan bila sudah siap maka harus dilahirkan melalui sebuah proses pertukaran.


"Di mana aku bisa mendaptkan energi murni itu?" tanya Nyai Candra Kirana.


"Di dalam tubuh seseorang."


Falguni menyudahi ceritanya dengan menjatuhkan dirinya ke bawah singgasannya, diliputi rasa frustasi yang menguasai hatinya.


"Proses pertukaran seperti apa yang Anda maksud?" tanya Abinawa, berdiri tidak jauh dari Falguni.


"Kematian untuk sebuah kelahiran."

__ADS_1


__ADS_2