Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 16. Pernikahan


__ADS_3

Fajar belum menyingsing tetapi kesibukan sudah menggeliat di seluruh penjuru istana. Setiap abdi dalem menjalankan tugasnya dengan sistematis.


Bunyi sapu lidi mengais dedaunan dari permukaan tanah terdengar sejak dini hari. Kedaton dihias janur kuning beragam bentuk serta bunga-bunga segar yang memiliki harum semerbak, menyebar ke seluruh lingkungan.


Asap membumbung melalui celah genteng dapur. Menyebarkan aroma kayu disertai wangi masakan yang sedang diolah di atas tungku batu. Sajian masakan dari yang paling sederhana hingga rumit sedang dipersiapkan oleh para abdi dalem yang bertugas di dapur. Sayuran, daging, ikan, buah-buahan diantar masuk dalam keranjang-keranjang bambu dalam kondisi yang masih segar.


Di bagian muka kedaton, pintu gapura dibuka lebar, mempersilakan para prajurit yang telah berbaris rapi untuk melangkah keluar dengan tertib. Kedua tangan mereka membopong potongan daging hewan dalam ukuran besar yang telah dibungkus daun pisang.


Para prajurit berpencar, menuju arah berbeda tanpa tertukar jalan. Mengetuk setiap pintu rumah penduduk Bhumi Javacekwara tanpa satu pun terlewatkan. Dari keluarga raja, bangsawan, hingga rakyat jelata diperlakukan sama; diberikan daging segar sebagai rasa syukur atas pernikahan Yuwaraja.


Pakaian paling bagus dikenakan, bersanding dengan perhiasan emas yang menghiasi beberapa bagian tubuh. Para pria menggelung rapi rambut panjangnya. Para wanita yang telah menikah menyanggul rapi mahkota mereka dan menghiasinya dengan sekuntum bunga anggrek putih. Perempuan lajang yang belum menikah biasanya mengurai rambut dihiasi simpul sederhana pada salah satu sisi kepalanya. Sepucuk bunga Phalaenopsis Amabilis sp Jawa tak lupa diselipkan di sela telinga dan rambut.


Para wanita yang berasal dari keluarga kerajaan dan bangsawan pada zaman ini, senang sekali menghiasi rambut mereka dengan bunga anggrek putih yang dianggap sebagai lambang cinta, keindahan, pun kemewahan. Saat para wanita dari berbagai kasta mengikuti acara keagamaan, mereka akan menghiasi rambutnya dengan bunga kamboja putih.


Penduduk ikut bersuka ria, melantunkan doa untuk kebahagiaan penerus takhta Bhumi Javacekwara. Para pria berkumpul, mengeluarkan tuak yang mereka simpan. Para wanita saling membantu mengolah makanan di dapur.


Seluruh Bhumi Javacekwara diselimuti kebahagiaan, terkecuali Abinawa yang duduk diam menatap pakaian pernikahannya yang masih terlipat rapi di atas meja. Pikirannya tak menentu. Hati pun gelisah. Namun, air mukanya cerminan permukaan air danau yang tak beriak.


"Yuwaraja. Sebaiknya Anda mengatakannya pada Sri Maharaja sebelum terlambat," saran Sagara.


"Mengatakannya atau tidak, Anatari dan Mahesa tetap akan berakhir di tiang gantungan." Abinawa berujar pelan.


"Mereka pantas mendapatkannya."


Abinawa mengerling, seakan berkata bahwa ucapan Sagara tidaklah pantas.


"Maafkan hamba."


"Lalu ... bagaimana sekarang? Waktu upacara pernikahan tidak lama lagi. Mencari keberadaan Gusti Putri dan membawanya kemari juga bukan pilihan yang tepat." Taruna ikut merasakan ketegangan, lebih tepatnya hanya dirinya dan Sagara yang merasa cemas tak karuan. "Andai saja yang Yuwaraja nikahi adalah Putri Mahkota Bhumi Namaini, maka pernikahan ini tidak perlu menjadi drama."


Sagara memberi isyarat untuk diam. Taruna menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Maafkan hamba, Yuwaraja. Hamba tidak bisa mengendalikan mulut ini," sesal Taruna seraya berlutut meminta ampun.


"Berdirilah. Apa yang kau katakan memang benar, tetapi ... Putri Mahkota Bhumi Namaini laksana ombak samudera yang sulit diterka. Sedangkan putri dari Girilaya bagaikan Gunung Mrapen, sekalipun jedhot masih akan memberikan tanda peringatan. Ingin mencari keuntungan pun, tetap harus penuh perhitungan," jelas Abinawa.


^^^(Jedhot; Meletus)^^^


"Sri Maharaja tiba!" Seorang pria mengumumkan dari arah gapura kediaman Abinawa.


Abinawa, Sagara, dan Taruna menyambut penuh hormat di serambi depan.


Sri Maharaja II melempar tatap penuh tanya pada putranya yang masih belum mengenakan pakaian pernikahan. Abinawa pun hanya mampu terdiam di bawah sorotan tajam menelisik dari manik hitam Ayahandanya.


"Bisa berikan sebuah alasan mengenai penampilanmu saat ini?" suruh Sri Maharaja.


"Silakan Ayahanda masuk terlebih dahulu. Kita akan membicarakannya sembari minum teh." Abinawa menepi, memberikan jalan pada Ayahandanya untuk memasuki kediamannya.


Secangkir teh hangat yang dituang dalam gelas keramik kecil disuguhkan ke hadapan Ayahandanya. "Cuaca akhir-akhir ini terasa lebih dingin. Saya sudah menambahkan madu ke dalam seduhan air teh. Rasanya tidak terlalu manis dan bermanfaat bagi kesehatan. Silakan Ayahanda mencobanya."


Anggukan kecil mengiringi tangan Sri Maharaja yang terangkat, menghantarkan bibir cangkir ke bibirnya. Dia menyesapnya dua kali, lantas tersenyum. "Ini terasa jauh lebih baik daripada hanya sekedar meminum rebusan air daun teh saja tanpa tambahan apapun. Aku harus mencobanya juga di kediamanku."


Abinawa mengangguk senang dan hormat. "Tentu saja Ayahanda harus mencobanya, lagipula minuman ini berkhasiat menjaga daya tahan tubuh. Ayahanda sudah bekerja keras menjaga nagari, tidak ada salahnya untuk sejenak memedulikan kesehatan diri sendiri."

__ADS_1


Sri Maharaja II tersenyum bangga. "Kau memang putraku yang welas asih. Sama seperti Ibundamu. Dia juga perempuan yang memiliki perasaan yang tulus dan jujur dibandingkan semua wanitaku. Karena itulah aku menghargainya sebagai istriku, juga menghormatinya sebagai Permaisuriku. Hanya pada dialah aku tidak berani melawan. Aku ingin kau pun memiliki kejujuran dalam menjawab pertanyaanku," Sri Maharaja II menunjuk pakaian pernikahan yang ada di hadapan keduanya, "mengenai ini."


Abinawa menelan dengan susah. Benar-benar tidak bisa dialihkan. "Saya merasa gugup. Tidak tahu apa yang harus dipersiapkan lebih dulu."


Sri Maharaja II tertawa lepas. "Putraku Abinawa, apa yang kau rasakan saat ini merupakan sesuatu yang wajar yang pernah dan akan dialami semua orang. Perasaan itu hanya akan kau alami saat pernikahan pertamamu. Pernikahan-pernikahan selanjutnya akan menjadi hal lumrah yang tidak begitu berkesan lagi. Kau tidak perlu mencemaskan apapun, Putraku. Aku sudah mengatur semuanya untukmu."


Abinawa tertohok mendengar tiga kata yang menusuk indera pendengarannya: 'Pernikahan-pernikahan selanjutnya'. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dengan begitu mudah? Tidakkah dia berkaca dari pengalamannya dahulu? Menyimpan banyak wanita dalam keputren hanya akan mengundang bencana. Dan, kini, dia menginginkanku mengulang sejarah berdarah itu. Selamatkan aku!


"Ayahanda, saya ingin menanyakan sesuatu." Abinawa mengalihkan poin pembicaraan.


"Tanyakanlah."


"Ini mengenai Mustika Naga dalam diri Anatari Lingga. Sebenarnya ... seperti apa wujud benda itu?"


"Aku sendiri tidak tahu. Satu-satunya yang mengetahui wujud asli benda itu hanyalah Banaspati. Dahulu sekali sempat tersiar kabar bahwa benda itu bisa mengabulkan segala keinginan tuannya. Sebab kabar angin itulah tiga nagari menyerang Bhumi Girilaya," jawab Sri Maharaja.


"Pernikahanku dengan Anatari apakah hanya murni untuk memberikan suaka padanya atau karena ada hal lain yang tidak aku ketahui?"


Sri Maharaja II menatap ke kejauhan, melewati pintu keluar yang terbuka lebar. "Di dunia ini ... tidak ada sesuatu ... yang murni. Akan ada alasan di balik sesuatu yang terjadi. Alasan aku menikahkan Anatari denganmu karena aku percaya padamu. Gadis itu bisa menjadi perisai sekaligus senjata yang menghancurkan. Kaulah yang akan menentukan ke arah mana gadis itu akan menjadi. Mengenai Mahesa ...." Sri Maharaja nampak sulit mengungkapkan penilaiannya mengenai sang putra tertua. "Menikahkan Anatari dengannya sama saja dengan menggabungkan dua macam malapetaka. Ambisi dan Amunisi. Menurutmu, apa yang mungkin akan terjadi?"


Abinawa mengetahui bahwa ketika permaisuri ke enam tengah mengandung Mahesa, Sri Maharaja pernah berjanji padanya bahwa posisi Yuwaraja kelak akan dianugerahkan pada putera mereka.


Setelah Mahesa lahir, Permaisuri ke enam mencoba menagih janji kepada Sri Maharaja II. Namun, Sri Maharaja II berdalih ingin menunggu Pangeran Mahesa hingga usianya tujuh tahun. Pada ulang tahun Pangeran Mahesa yang kelima, Sri Maharaja II mengumumkan penobatan Abinawa Wiradharma -- putra dari Permaisuri pertama -- sebagai Yuwaraja Bhumi Javacekwara, padahal bayi itu baru saja terlahir ke dunia.


Hati Permaisuri ke enam remuk tak berbentuk. Dia merasa terhianati oleh janji palsu Sri Maharaja II. Terlebih selama ini dia selalu merasa cemburu pada Permaisuri pertama yang selalu mendapatkan perhatian lebih. Ada tujuh permaisuri yang setia mendampingi Jayaraga, tetapi hanya Permaisuri pertama lah yang selalu diutamakan dalam segala hal.


Banaspati yang mengetahui isi hati Permaisuri ke enam mulai mengerahkan pengikutnya, menghasut Permaisuri ke enam untuk melakukan pemberontakan. Dan terjadilah peristiwa mengenaskan itu yang merenggut banyak korban jiwa dari permaisuri, selir, dan gundik. Dari puluhan wanita di dalam keputren, hanya satu yang berhasil bertahan hidup, yakni Indukanti.


Sebab kejadian itulah Abinawa tidak pernah ingin membuat masalah dengan Mahesa. Dia ikut merasakan kehilangan seorang ibu, meski dengan cara berbeda. Tetapi, tetap saja rasanya sama; menyakitkan. Selama ini Abinawa selalu berusaha untuk menghindarkan masalah dari Mahesa, memberikan kehidupan yang tentram dan layak bagi kakak tirinya. Termasuk mengomentari perihal apapun mengenai Mahesa adalah pantangan baginya.


Kepala Abinawa menunduk, bertumpu pada dua tangan di mana jari jemarinya memijit-mijit kepalanya yang pening.


"Yuwaraja," panggil Sagara.


"Aku punya rencana," cetus Abinawa.


Sagara dan Taruna beringsut mendekat. Abinawa mendongak, memperhatikan wajah Sagara. "Kita jalankan rencana yang sama saat menjamu Putri Mahkota Namaini."


Wajah Sagara merah padam. Kelopak matanya terbuka lebar-lebar. "Tidak. Tidak. Saya tidak berani. Dulu, saya melakukannya karena tulus membantu Anda. Tetapi sekarang situasinya berbeda. Saya tidak bisa bertindak konyol dalam upacara sakral apapun. Sangat tidak baik."


"Kenapa semarah itu? Aku tidak memintamu menikahiku. Aku ingin kau meminta pengunduran waktu upacara pernikahan secara baik-baik. Dengan begitu, aku memiliki waktu untuk mencari keberadaan pasangan kekasih itu. Seperti yang kita tahu bahwa tidak semua keluarga kerajaan merestui pernikahan ini, jadi aku ingin memanfaatkannya. Aku hanya berusaha menghindarkan keduanya dari marabahaya dan mencegah terjadinya peperangan di antara kedua nagari. Semuanya harus diselesaikan baik-baik. Kau tidak menghargai niat baikku?" jelas Abinawa.


Sagara menjadi serba salah. "Tentu saja saya menghargainya."


"Anggap saja itu permintaan pribadi dari Kangmas-mu," dukung Taruna.


"Tepat." Abinawa tersenyum cerah. "Jadi, maukah kau membantuku, Dimas?" Abinawa menunjukkan wajah penuh permohonan.


"Baik. Baik. Jangan tunjukkan ekspresi seperti itu. Membuat orang sulit menolak," ujar Sagara, memalingkan wajah dari Abinawa.


"Pastikan tidak banyak tersenyum. Selama berada di sini, dia selalu terlihat memikirkan sesuatu dan waspada," saran Abinawa.


"Hamba akan mengingatnya."

__ADS_1


Sagara merubah wujudnya menjadi Anatari, meminta Abinawa memeriksa penampilannya untuk memastikan tidak akan ada sesuatu yang akan mengundang kecurigaan. Setelah dipastikan aman, Sagara menuju ke keputren.


...***...


Jiyem dan Liyem berlari ke sana kemari mencari-cari keberadaan Anatari. Dayang dan pengawal berdatangan, melaporkan bahwa junjungan mereka tidak dapat ditemukan di mana-mana di dalam lingkungan keputren.


"Kita harus memberi tahu Gusti Kangjeng Ratu Indukanti," kata Kepala Pengawal kediaman Anatari.


"Jangan!" seru yang lain bersamaan.


"Jika sampai berita ini tersebar maka habislah kita semua di tiang gantungan." Jiyem bergidik ngeri.


"Tidak bilang pun akan tetap digantung karena dianggap menutup-nutupi hilangnya Ndoro Putri," timpal Keplaa Pengawal.


Ketukan di pintu gapura mengalihkan perhatian mereka semua.


"Siapa? Kami sedang sibuk," seru Liyem.


Tak ada jawaban. Suara ketukan kembali terdengar. Kepala Pengawal memutuskan untuk membuka pintu gapura.


"Gusti Putri," ucap Kepala Pengawal.


Jiyem dan Liyem berlari cepat, menyambar tangan Anatari, menuntunnya memasuki kediaman.


"Pelan. Pelan."


"Harus cepat. Waktunya semakin mepet," sahut Liyem.


Jiyem dan Liyem segera membantu Anatari mempersiapkan diri. Para perias memasuki kediaman bersama para dayang yang membawa pakaian serta pernak-pernik yang akan Anatari kenakan.


Waktu pernikahan hampir tiba. Seluruh keluarga raja dan para bangsawan duduk mengitari Abinawa dan Anatari yang bersila di depan para dharmmadyaksa yang sedang bersiap-siap.


Abinawa melirik "Anatari" yang tampak menarik. Senyum genit secara sembunyi-sembunyi dia sunggingkan. "Anatari" merinding sekujur badan, memilih mengalihkan pandangan.


Apalagi yang kau tunggu, Sagara? Lekas batalkan pernikahan ini. Sagara! teriak batin Abinawa.


Para dharmmadyaksa memulai ritual upacara pernikahan. Abinawa yang tidak dapat memfokuskan diri terus melirik "Anatari", membuat Janardana bertindak atas suruhan Sri Maharaja II yang tak tahan terus direcoki Jayendra soal kelakuan Abinawa yang tidak khidmat.


Janardana duduk di dekat Abinawa, memasang ekspresi mengancam.


Ini tidak benar! Ini tidak benar! raung batin sang Yuwaraja.


Rangkaian upacara terus belanjut. Ketika Abinawa diminta mengulurkan tangannya, Janardana memberikan tatapan mengintimidasi, membuat Abinawa melakukannya dengan paksa.


Acintya, tolong aku, jerit batin seorang lelaki tulen.


Upacara berlangsung sampai tengah hari. Abinawa benar-benar tersiksa oleh rencana yang telah dibuatnya sendiri. Dia tidak mengerti mengapa Sagara bertindak sekehendak hati. Dia tidak ingin berpikir yang bukan-bukan, tetapi, bahkan saat ini dia tidak dapat berpikir jernih. Tubuhnya lemah, kedua lututnya bergetar kala seorang dharmmadyaksa meminta Abinawa dan Anatari berdiri. Janardana membantu Abinawa yang terpaku di tempatnya.


Keduanya saling mengalungkan untaian bunga melati, mawar, dan kantil. Janardana membantu Abinawa yang tangannya enggan bergerak.


Falguni melirik Sri Maharaja II, mempertanyakan sikap aneh Abinawa. Namun, Jayaraga memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Falguni pun menanggapi dengan anggukan.


Saat ini, Abinawa hanya dapat memikirkan satu hal yang pasti sedang Sagara lakukan adalah tetap melanjutkan pernikahan, kemudian mencari Anatari dan Mahesa. Dengan begitu, tidak ada masalah yang mungkin akan terjadi. Tapi tetap saja ini semua tidak benar!

__ADS_1


Sagara. Habislah kau!


__ADS_2