Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 20. Tepergok


__ADS_3

Anatari tidak memiliki pilihan selain berbagi tempat tidur bersama Abinawa. Dia menarik rapat-rapat kain katun panjang berwarna taupe, menutup tubuh bagian atasnya. Kedua matanya telah terpejam cukup lama, tetapi kantuk masih belum menghampirinya. Tangan sebelah kirinya yang terhimpit tubuhnya sendiri mulai kebas. Anatari enggan berbalik ke sebelah kanan meski tubuhnya sudah tidak nyaman.


Aku tidak tahan lagi.


Anatari langsung membalikkan tubuhnya, miring ke sisi kanan. Udara dingin seketika itu menyapa wajahnya, yang seharusnya tidak langsung menerpa wajahnya karena terhalang tubuh Abinawa. Anatari membuka kedua kelopak matanya.


Ke mana dia pergi?


Dia duduk di atas babragan, menelisik ke seluruh sisi kamar tanpa adanya pelita yang menyala. Keberadaan Abinawa tidak terdeteksi dalam radar penglihatannya.


"Abinawa?" Anatari memanggil pelan. Kedua kakinya diturunkan dari atas pembaringan. Dia memusatkan energi di tangan. Anatari mengayunkan tangannya pada sebuah celupak yang berada di atas meja yang dilaluinya kala melangkah mendekati pintu. Api muncul seketika, bagai keajaiban yang tidak dapat diuraikan dengan kata-kata.


Pintu kamar terbuka tanpa menimbulkan bunyi derit yang berarti. Suasana di dalam rumah penginapan cukup gelap. Celupak yang dinyalakan pun tidak sampai sepuluh buah. Anatari mengamati sekitarnya. Tidak ada siapapun selain dirinya dan bayangannya sendiri.


Nyanyian serangga malam terdengar mendominasi. Anatari melangkah hati-hati menuruni undakan anak tangga. Dia mengangkat telapak tangan kirinya, menggumamkan sesuatu. Cahaya kuning ambar muncul di atas telapak tangan, satu per satu hewan kecil bercahaya muncul, terbang tidak jauh di depannya.


Di tengah lobi penginapan yang kosong dan suram, sesosok makhluk merah berdiri diam menatap Anatari. "Aku mencari Yuwaraja Javacekwara. Kau melihatnya?" Suara Anatrai terdengar tegas dan tak ingin berkompromi.


Makhluk itu menunjuk pintu keluar. Jarinya panjang dan berkuku hitam runcing.


Anatari bergegas membuka pintu utama penginapan, tak ingin berlama-lama dengan makhluk menyeramkan yang .... Anatari tertegun di ambang pintu. Dia berpaling pada makhluk merah yang menatapnya dengan manik hitam dan kelam tanpa adanya sinar kehidupan.


Kenapa aku tidak takut pada makhluk itu?


Bulu kuduk Anatari menjengit, kemudian buru-buru pergi. Tidak merasa takut berhadapan dengan sesosok makhluk menyeramkan jelas ada sesuatu yang salah dengan dirinya.


Sepertinya Anatari Lingga sudah tidak asing melihat makhluk-makhluk pengikut Banaspati yang kesemuanya memang berasal dari ras iblis.


Sejak masih balita, Anatari Lingga sudah sering memergoki 'mereka' yang diam-diam mengawasinya. Ada yang bertengger di atas tembok tinggi keraton. Bersembunyi di pohon tinggi. Anatari melihatnya di banyak tempat di sekitar lingkungan Girilaya. Mayoritas wujud 'mereka' memang jelek dan menyeramkan. Dia yakin bahwa makhluk-makhluk itu diutus Banaspati untuk mengawasi perkembangan Mustika Naga dalam dirinya.


Kunang-kunang masih beterbangan, memimpin jalan Anatari menuju ke belakang penginapan, menerobos semak belukar. Jalan menanjak meski tak curam, tapi tetap menyusahkan kaki memilih pijakan sebab banyaknya dedaunan dan ranting kering yang malang melintang di atas permukaan tanah merah lembab. Sekali diinjak kaki terjerembab lumayan dalam, membuat kain sinjang tersangkut di duri-duri tumbuhan Putri Malu.


"Tunggu," desis Anatari pada kunang-kunang.


Kumbang bercahaya itu pun hanya terbang berputar-putar di tempat yang sama.


Anatari menarik-narik ujung sinjang yang tersangkut di duri tanaman. Setelah berhasil lepas, dia meminta kunang-kunang itu kembali memimpin jalan.


Sulur-sulur tanaman menyambutnya di sepanjang langkah jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu orang. Sesekali Anatari dikejutkan daun-daun pepohonan yang menjulur ke arahnya, bergoyang tatkala seekor bajing melompat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.


"Dia kembali."


"Itu bukan dia."


"Dia kembali."


Anatari mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dia begitu yakin mendengar orang-orang berbicara. Namun, entah di mana mereka berada. Hanya ada suara-suara yang terdengar mengambang di udara, tetapi begitu dekat kedengarannya.


"Itu bukan dia. Dia lemah."


"Dia kembali. Aku yakin."


Anatari merutuk dalam hati, untuk apa Abinawa pergi ke tempat semacam ini? Dan untuk apa juga dia bersusah payah mencari pria itu hingga menembus hutan di malam buta? Seharusnya tadi dia pergi ke kamar Sagara bila hanya ingin mencari tahu keberadaan Abinawa. Dengan begitu, dia cukup duduk manis menunggu Sagara yang bersusah payah mencari junjungannya. Bukan dirinya.


Ah, sudahlah. Anatari kadung berada di sini. Entah di bagian mana hutan yang dia pijak. Sudah sejauh apa dia melangkah sungguh tidak bisa dipastikan. Sesuatu yang jelas sekarang ini hanya kegelapan. Kunang-kunang juga belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti terbang. Seharusnya dia tidak percaya pada Falguni mengenai serangga itu.


Mengendalikan kunang-kunang merupakan kemampuan yang diturunkan pada Anatari dari ibundanya. Oh, jangan kesampingkan soal Mustika Naga. Dari informasi yang didapatnya melalui Falguni, Anatari dapat mengendalikan satu jenis hewan itu dengan satu mantera sederhana. Apapun yang dia minta hewan itu untuk melakukannya, kunang-kunang akan mematuhinya tanpa syarat.


Semakin lama Anatari berjalan, semakin dalam menjangkau pusat hutan. Di antara keheningan dan kesunyian yang membungkam nyanyian alam, berselimut kegelapan yang mampu menyembunyikan bayang-bayang jahat, Anatari mendengar suara samar dari sebelah kirinya. Kunang-kunang pun bergerak memandunya ke sana.

__ADS_1


"Argh!"


Sagara.


Anatari mempercepat langkahnya. Dia berharap tidak salah mengenali suara itu. Bila Sagara memang berada di sini, maka Abinawa juga dipastikan ada. Mereka seperti satu set paket yang tidak terpisahkan.


"Wiba, jangan!" teriak Tambir.


Anatari kian mempertanyakan gerangan apa yang terjadi. Langkahnya semakin cepat, tetapi seakan semakin menjauh dari tujuan, sedangkan suara orang-orang yang dia kenali seolah berjarak tidak lebih dari dua hasta di depannya.


^^^(Hasta; Ukuran satuan panjang yang dihitung dari ujung siku lengan sampai ujung jari tengah tangan pada lengan yang sama)^^^


Anatari mulai melihat keberadaan keempat pengawal Abinawa. Sagara memegangi Taruna yang lengannya terluka. Wiba duduk bersila setelah mendapat luka dalam. Tambir berdiri cemas dengan pelipis robek.


Abinawa.


Anatari mempercepat langkahnya, menghampiri mereka. "Apa yang terjadi? Di mana Yuwaraja?"


Keempatnya berpaling ke arah yang sama. Manik Anatari membulat sempurna saat melihat Abinawa berliuk menghindari serangan makhluk bergigi tajam, berlidah panjang, dan berkuku runcing.


Anatari memagut mendapati kebenaran yang tersaji di hadapannya.


Abinawa bukanlah pesakitan bertubuh lemah. Tidak takut terciprat darah. Bukan juga sosok Yuwaraja yang malas dan senang menghindari masalah. Dia adalah Yuwaraja Abinawa Wiradharma Sang Penerus Takhta Javacekwara. Dia sangat jantan dan gagah menghadapi serangan si makhluk buruk rupa yang berambisi mencabut nyawa Abinawa. Ilmu Kanuragan yang dikuasai pria itu tidak bisa disepelekan, bahkan mampu membuat keadaan berbalik menyulitkan lawannya.


Abinawa adalah karakter dengan campuran kejantanan dan aura lembut. Tanpa banyak bersikap dia tetap terlihat kharismatik, menawan, dan memikat. Dia memiliki semua yang diinginkan pemeran protagonis utama wanita.


Abinawa menangkap lidah panjang makhluk itu, memusatkan kekuatannya pada telapak tangan, lantas memukul wajah lawannya. Abinawa melompat ke belakang, membanting si monster ke sisi yang berlainan.


Telapak tangan kirinya terbuka, sebilah keris bercahaya muncul sekejap mata. Abinawa kembali menyerang, memotong lidah panjang yang menjuntai di dekat kakinya. Darah menciprat dan berhasil dihindrinya. Dia lantas menghunuskan Keris Amrta tepat ke jantung si makhluk berwajah mengerikan. Mengakhiri perlawanan musuhnya.


Abinawa berbalik, tak mampu melanjutkan langkahnya kala kedua maniknya menangkap keberadaan Anatari yang menelisik dirinya.


Jayendra muncul dari balik pepohonan beserta pasukan keamanan. Si pria tua memberi isyarat pada pasukannya untuk memeriksa kondisi makhluk buas yang terlentang tak bergerak.


Api muncul dari bawah tanah, ******* seluruh tubuh makhluk mengerikan itu, mengubahnya jadi tumpukan abu. Anatari tampak takjub sekaligus ngeri melihat pemandangan yang sangat tidak biasa baginya. Namun, lain halnya bagi orang-orang di sekitarnya yang tak acuh dengan apa yang baru saja menimpa makhluk itu, ya, seakan hal itu sudah biasa mereka saksikan.


Anatari tertegun menatap kobaran api yang menerangi tempat itu. Dia merasa ada tarikan kuat yang menggerakkan kakinya untuk mendekat.


"Maafkan atas kelancangan saya yang belum memberitahukan kedatangan kami," ucap Abinawa, tanpa penyesalan.


"Aku sudah tidak heran lagi dengan sikapmu, tapi kali ini kau menimbulkan keributan dengan dedemit utusan Canggal. Bisakah kau menjelaskan mengenai hal ini?" pinta Jayendra.


Anatari menghentikan langkah, berpaling pada Jayendra. Dedemit utusan Canggal? Canggal?


"Tentu saja, Kakek," sahut Abinawa.


Jayendra berbalik, matanya mendelik melihat keberadaan Anatari. "Aku tidak tahu kalau kau akan membawa serta perempuan itu."


Anatari terdiam, tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan sentimen Jayendra.


"Sudah lupakan. Kalian ikutlah denganku." Jayendra berujar seraya menjauh.


Anatari berpaling pada Abinawa yang mendekatinya.


"Kau ...."


"Bagaimana kau bisa berada di sini?"


Anatari hendak bertanya apakah Abinawa baik-baik saja. Akan tetapi pertanyaan Abinawa lebih mendesak untuk segera mendapat jawabannya.

__ADS_1


"Aku tidak melihatmu di kamar."


"Oh."


"Hanya 'Oh'?"


"Gusti," panggil Sagara.


"Kalian jalanlah dulu," suruh Abinawa.


Abinawa meminta Anatari ikut ke kediaman Jayendra yang bersebelahan dengan alun-alun Keharyapatihan. Para pasukan pengawal lainnya pun sudah berkumpul di sana. Mereka mengobati Taruna, Wiba, dan Tambir.


Jayendra menjamu Abinawa dan Anatari di dalam pendopo di halaman muka kediaman si pria tua.


"Aku memang mengirim utusan ke Kuthanegara, meminta bantuan untuk menumpas kelompok perewa dari Canggal. Sekitar dua tahun ini mereka merampas barang dagangan dari para pedagang Kertarta yang hendak menuju Girilaya. Sebelumnya mereka bergerak sendiri, terbagi dalam beberapa kelompok. Akan tetapi, sudah dua minggu ini mereka memanfaatkan para pengikut liar Banaspati untuk membuat onar, masuk jauh ke dalam wilayah Kertarta," tutur Jayendra.


"Apa yang sudah Kakek lakukan sebelumnya untuk memerangi mereka?" tanya Abinawa.


"Yang sudah aku lakukan itu banyak. Awalnya berhasil. Tapi sejak mereka memanfaatkan pada dedemit untuk membuat onar, itu sudah di luar kendaliku." Sorot mata Jayendra lemah dan lelah. Tidak seperti yang Anatari lihat pada pertemuan mereka di kedaton; tajam dan cemerlang. "Semua ini berawal dari kebijakan garwa-mu yang tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh Para Pendekar Tersumpah. Mereka yang membelot dan takut menjadikan Canggal sebagai tempat pelarian. Satu-satunya sumber penghidupan yang dapat diandalkan orang-orang pelarian itu adalah merampok. Kertarta-lah yang menjadi korbannya. Seandainya mereka berhasil menerobos masuk dan membuat onar, itu akan sangat merugikan perdagangan dan kestabilan kehidupan penduduk, bukan hanya di sini, tetapi seluruh wilayah Javacekwara akan mendapat imbasnya."


Anatari menelan ludah getir. "Kakek bilang, mereka memanfaatkan dedemit. Siapa yang mengendalikannya?"


Jayendra mendengkus keberatan dipanggil kakek oleh perempuan yang dianggapnya paling berjasa menciptakan perewa yang merongrong wilayah si pria tua.


"Maaf, saya hanya mencoba mengakrabkan diri," ucap Anatari.


"Tidak perlu dimasukkan ke hati, Kakek Jayendra memang selalu sensitif terhadap apapun, meski begitu, hatinya sangat baik," Abinawa berujar tenang dalam kesatirannya.


Jayendra mendelik. "Mulutmu ...."


"Siapa yang memanfaatkan para dedemit?" sela Anatari, sedikit mendesak.


"Mana aku tahu. Itu tugas kalian," ketus si pria tua.


Abinawa melirik Anatari yang tampak gelisah. "Apa kau masih ingat dengan para pendekar tersumpah yang melarikan diri ke Canggal?"


Anatari menggeleng. "Maaf, aku tidak dapat mengingat apapun."


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa banyak hal yang tidak dapat kau ingat?" Jayendra mengerutkan dahi, menatap Anatari dengan sangsi. "Para perewa bertopeng putih dan para Pendekar Tersumpah. Kau sungguh tidak mengingatnya?"


"Apa Kakek mengetahui sesuatu tentangku yang berhubungan dengan dua hal itu?" Anatari balik bertanya dengan antusias.


"Huh! Bukan hanya aku. Seluruh penghuni tanah Jawi juga sudah tahu siapa dirimu," tukas Jayendra.


Anatari menoleh Abinawa yang berpura-pura tidak memperhatikan obrolan dua orang di dekatnya. "Kau juga tahu siapa aku?"


Abinawa berdeham, lantas mengangguk samar.


Anatari mendesah lemah. "Siapa sebenarnya diriku?"


"Aku bisa menjawabnya, tapi kau harus mengatakan lebih dulu perihal hilangnya ingatanmu," kata Jayendra.


Anatari menunduk. Kedua jemari tangannya bertaut erat pada kain sinjang. Apa sebaiknya aku katakan yang sebenarnya agar bebanku di kehidupan ini sedikit berkurang?


Dahi Abinawa bertaut dalam mengetahui pemikiran Anatari.


"Perempuan di hadapan kita saat ini bukanlah Anatari Lingga."


Jayendra menyimak dengan serius, membuat Anatari kian gugup.

__ADS_1


Abinawa mengetahuinya.


__ADS_2