
Abinawa mengikuti jejak Sagara menjauh dari Pendopo Ageng. Sesampainya di tempat yang dirasa aman, keduanya mengusap wajah bersamaan.
Nampaklah jati diri mereka yang sebenarnya.
"Apa yang terjadi di Pendopo Ageng?" tanya Abinawa.
"Pernikahan akan dilangsungkan lima hari lagi. Mahamantri Adiyaksa meminta penyelidikan hubungan Anatari dan Mahesa. Aku sudah menolaknya. Tetapi ... seperti yang Anda dengar tadi, Pak Tua itu meminta jaminan agar tidak ada tindakan pengkhianatan di masa depan. Kenapa Anda harus menyanggupinya?" hambur Sagara, kesal.
"Biar aku saja yang memikirkan hal itu."
"Baik. Lantas, apa hasil pertemuan Anda dengan Anatari?"
"Aku sudah mengatakan yang perlu dikatakan. Sekarang hanya bisa berharap perempuan itu mengambil keputusannya sendiri. Jika tidak, aku hanya bisa pasrah saat Sri Maharaja memintaku membunuh keduanya."
Sagara terperangah. "Memangnya Sri Maharaja akan mengeluarkan perintah seperti itu?"
"Hal itu bisa saja terjadi. Dia suka bermain wanita. Bila tidak bisa mendapatkan mereka, lebih baik dibunuh saja. Kau pikir dia tidak akan memaksaku mengikuti kebiasaannya itu, huh? Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah yang kutakutkan," sesal Abinawa.
^^^(Buah jatuh tak jauh dari pohonnya; sifat anak tidak jauh dari orangtuanya)^^^
Sagara mengangguk kencang. Masih jelas dalam ingatannya ketika Sri Maharaja II mengadakan jamuan makan bagi para utusan dari Bhumi Namaini. Demi melancarkan perjanjian dagang antara kedua nagari, Abinawa ditugaskan untuk menjadi lebih dekat dengan Putri Mahkota Bhumi Namaini.
Sri Maharaja meminta Sagara agar membuat mabuk keduanya. Berharap dapat menciptakan sebuah kisah yang berakhir manis. Akan tetapi, yang terjadi malah berakhir tragis. Sagara benar-benar sangat malu.
Tidak lama setelah kejadian itu, Sri Maharaja II mendadak giat mendekati Girilaya. Membujuk ratu Girilaya untuk membentuk sebuah ikatan kekeluargaan.
Sagara bergidik, seolah tak ingin lagi mengingat kejadian itu. Tapi ... bukankah dia sudah mengingatnya barusan?
"Yuwaraja, hamba sudah menguji Anatari. Dia bisa menghindari anak panah tepat pada waktunya. Itu hanya gerakan biasa. Tidak ada tenaga dalam yang terasa. Sepertinya kabar mengenai kehebatan kanuragan Tuan Putri dari Girilaya terlalu dilebih-lebihkan." Sagara segera mengalihkan topik pembahasan.
"Begitukah? Uhm, mungkin saja dia sengaja menyembunyikannya. Tetap awasi pergerakannya. Aku ingin tahu apa tujuan sebenarnya datang ke Javacekwara," titah Abinawa.
"Sendiko dawuh."
Abinawa hendak menuju ke kediamannya. Namun, langkahnya terhenti saat sudut luar matanya menangkap sosok Sri Maharaja II sedang duduk sendiri, bersandar di kursi takhta.
Abinawa menyuruh Sagara menunggu di bawah tangga Pendopo Ageng.
"Ayahanda tidak kembali ke kediaman?" tanya Abinawa.
Mata lelah Sri Maharaja II menatap sosok putra terkasihnya datang menghampiri. Seorang pemuda kisaran usia dua puluh dua tahun. Dahi lebarnya nampak bersinar yang dipercaya sebagai calon raja selanjutnya. Gelungan rambutnya rapi dan mengilap. Kulit coklat mudanya bersinar keemasan tertimpa limpahan cahaya matahari. Pembawaannya yang tenang memancarkan kewibawaan seorang raja.
"Aku memikirkan begitu banyak hal. Begitu banyak kekhawatiran," jawab Sri Maharaja II.
"Putramu ada di sini, berharap Ayahanda mau berbagi kekhawatiran."
Sri Maharaja II merenung beberapa saat. "Memang sudah sepantasnya aku membagi beban pikiran denganmu. Calon raja Bhumi Javacekwara naik takhta tanpa tahu kebenaran dan keburukan yang mengintai di sekitar, bagaimana menurutmu?"
"Ketidaktahuan adalah sangkar kebodohan. Kebodohan akan menggiring jiwa mudah dipengaruhi kesesatan. Raja yang telah tersesat akan berpaling dari kebenaran sehingga merugikan nagari. Sungguh tidak pantas mendapat anugerah yang luar biasa dari Acintya," tutur Abinawa.
Sri Maharaja mengangguk pelan. "Seorang raja haruslah mengutamakan kepentingan nagari daripada urusan pribadi. Termasuk memiliki kecakapan untuk merangkul pihak musuh. Apa yang telah aku rencanakan untuk masa depanmu merupakan upaya dalam menjaga kedamaian di Tanah Jawi."
"Saya memahami maksud Ayahanda."
"Perbaikilah apa yang sekiranya bisa diperbaiki. Bicarakan baik-baik dengan Kangmas-mu."
"Saya akan melakukannya."
"Cobalah ajak Anatari berjalan-jalan keluar kedaton. Perkenalkan dia pada lingkungan Javacekwara yang kelak akan menjadi tempat tinggalnya."
"Baik, Ayahanda."
Mentari sudah menduduki tempat yang paling tinggi di langit, ketika Abinawa tiba di ambang pintu gapura kediaman Mahesa.
Garis rahang yang tegas dengan ototnya yang menegang menahan amarah, menyambut kedatangan Abinawa yang terperangah.
Mahesa benar-benar kalap, menyerang Abinawa tanpa kira-kira. Untung saja Abinawa berhasil menghindar. Mahesa berbalik dan kembali melancarkan serangan.
Abinawa melontarkan tubuhnya ke udara, mencari tempat untuk melarikan diri di wilayah terbuka.
"Kangmas. Jangan memukul perutku." Abinawa terus menghindari pukulan dan tendangan Mahesa. "Tubuhku ini lemah. Sekali kena pukul bisa langsung mati."
__ADS_1
"Itu lebih baik." Mahesa mengeluarkan pedangnya, mengayunkan tanpa keraguan.
Sagara menarik mundur Abinawa, menangkis serangan pedang Mahesa dengan pedangnya. Partha mengambil tindakan, menunjuk kepala Sagara dengan ujung lancip pedang besarnya.
"Yuwaraja ingin bicara dengan Anda atas perintah Sri Maharaja. Secara baik-baik tentunya." Sagara memberitahukan.
Kata "Sri Maharaja" sepertinya berhasil mengurangi sedikit kekesalan Mahesa. Raut wajahnya perlahan berubah datar.
Abinawa merapikan penampilannya, lalu memberi tanda agar Sagara menepi. Kemudian menurunkan ujung pedang Mahesa dengan jari telunjuknya.
"Kangmas. Aku hendak membicarakan sesuatu denganmu. Berharap di masa depan tidak ada kesalahpahaman apapun yang mengganggu hubungan baik kita."
"Sejak kapan kita punya hubungan baik?" tukas Mahesa.
Abinawa menyerengeh. "Kangmas. Aku mohon."
"Ck! Baiklah. Aku menerimamu karena itu perintah Ayahanda."
"Tentu. Sebelum itu bisakah kita makan?"
"Tidak tahu malu," cela Mahesa.
Abinawa menanggapinya dengan tawa ringan.
...***...
Setelah berbicara panjang lebar dengan Kangmas-nya, Abinawa menuju kediaman Anatari saat matahari mulai tergelincir ke arah barat.
Jiyem dan Liyem mempersilakan Abinawa menunggu di dalam rumah. Sebuah senyuman mengembang di bibir Abinawa, menyambut kedatangan Anatari yang baru kembali dari petirtaan.
Rambut hitam legam seperti mayang terurai. Wajah muda nan elok menampakkan keanggunan bulan purnama yang tak tersentuh. Semerbak harum bunga Jempiring dan Cendana menguar ke udara begitu perempuan itu berdiri cukup dekat dengannya.
^^^(Seperti mayang terurai; Rambut wanita yang sangat indah sekali)^^^
"Jiyem dan Liyem memberitahukan kedatanganmu. Maaf tidak menyambut."
"Itu tidak perlu. Duduklah."
Abinawa memberikan pandangan menyelidik ke arah Anatari. Begitupun Anatari. Keduanya seakan mencari apa yang diinginkan masing-masing.
"Kuharap kedatanganmu kemari bukan untuk duduk diam menatapku."
Abinawa tertawa kecil. "Kenapa? Kau tidak suka aku menatapmu? Sayang sekali. Cahaya rembulan di depan mata. Jendela menghalangi tanpa memberi celah. Maka siapa yang dapat mengagumi keanggunannya?"
"Mohon Tuan menahan diri. Janganlah berlebih mengagumi. Yang nampak belum tentu sejati."
Abinawa tertawa. Tidak dengan matanya.
Apa yang diinginkan Abinawa? Sikapnya sangat mencurigakan.
"Ternyata kau pandai juga bermain kata. Kurasa kita memiliki awal yang baik."
^^^(Bermain kata / Permainan kata; Sebuah teknik kesusastraan dan bentuk humor cerdas yang memakai kata-kata sebagai subjek utama sebuah karya, terutama untuk tujuan hiburan)^^^
"Sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?" Anatari berucap dengan hati-hati.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kuharap kau tidak menolak."
"Ke mana?"
"Keluar kedaton."
Manik Anatari membulat penuh semangat. Inilah yang paling Anatari nantikan. Melihat dunia luar tanpa batasan tembok tinggi kedaton yang menyakitkan mata.
"Aku bersedia."
Anatari terus mengekor Abinawa, menuruni puncak tangga di luar gerbang utama kedaton. Sebuah jembatan kayu terhampar. Jalan batu bata merah membentang lurus ke depan dan bercabang ke kedua sisi mereka, menerus melingkari seluruh lingkungan kedaton. Bagian tepi jalannya terdapat rumah para pendeta, pura, rumah para bangsawan, rumah petinggi kedaton.
Jembatan kayu dan gapura kembali menyambut, struktur jalan batu bata merah yang serupa kembali nampak, di sinilah barak prajurit berada. Lapangan untuk latihan bertempur dan berkuda berada di bagian belakang jalan yang berbentuk melingkar. Sedangkan sisi utara dan selatan ditempati dua lumbung padi raksasa.
Lagi. Jembatan kayu terbentang. Lapisan kali ini merupakan tempat para perajin, seniman, dan mereka yang menduduki posisi menengah dalam tatanan pemerintahan.
__ADS_1
Masih dengan konstruksi yang sama yang ditinggali para pedagang, pasar, alun-alun kota, balai Kepala Keamanan Daerah serta balai Pemerintahan Tingkat Bawah.
Lapisan terakhir merupakan tempat tinggal penduduk Bhumi Javacekwara di Kuthanagara. Lebih panjang dan lebar.
Bila dilihat dari atas, lingkungan kedaton berada di pusat sebuah lingkaran. Setiap tempat memiliki peruntukannya sendiri. Lapisan satu ke lapisan berikutnya dihubungkan jembatan Kayu Meranti dan gapura bata merah. Dipisahkan kolam air dalam yang jernih dan kerap dijadikan tempat memancing ikan atau sebagai sumber air bila diperlukan.
Kuthanagara Bhumi Javacekwara berada di puncak sebuah bukit. Para penduduk yang bertani harus menuruni jalan batu menuju ladang dan sawah mereka di kaki bukit yang cukup dekat dengan dua aliran sungai besar.
Tujuan Abinawa petang ini mengajak Anatari ke alun-alun kota adalah menyaksikan pertunjukan Tari Topeng.
Abinawa, Anatari, Sagara, Jiyem, dan Liyem membaur bersama para penduduk dalam penampilan sederhana. Mereka berdiri di tepi alun-alun, menghindari kerumunan di tengah lapangan.
"Kenapa kau membohongiku?" tanya Anatari.
Abinawa memerhatikan sekitarnya, berharap tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. "Ah, kau sudah tahu?"
"Kenapa kau melakukannya? Kupikir, aku bisa mempercayaimu."
"Kau harus yakin pada dirimu sendiri. Jangan bergantung pada informasi yang orang lain berikan. Aku khawatir bukan kebenaran yang kau dapatkan, melainkan kebohongan yang menyesatkan," ucap Abinawa, acuh tak acuh.
"Kebohonganmu juga hampir menyesatkanku," keluh Anatari.
Abinawa menatap Anatari yang berdiri di sebelahnya. "Aku minta maaf sudah melakukannya. Lain kali cobalah berusaha lebih keras untuk mengembalikan ingatanmu."
"Kau mengetahuinya?"
Tentu saja, lirih batin Abinawa.
"Bisakah menjelaskan semua yang kau ketahui?" pinta Anatari.
"Lihatlah. Pertunjukan akan dimulai," hindar Abinawa.
Sepertinya dia mengetahui sesuatu atau mungkin banyak hal tentangku.
Tangga nada pentatonis mulai terdengar dari arah panggung. Terasa menenangkan dan penuh penghormatan. Berangsur-angsur membuai pendengaran. Mencengkram jiwa. Alunan nada penuh magis menjalar dan menyelimuti Anatari. Dia menggeleng, seolah menyadarkan dirinya dari sesuatu yang begitu ingin menguasainya.
Para penari bertopeng putih memasuki area panggung, memulai gerakan dengan lembut. Begitu lembut seakan sedang merayu jiwa. Asap putih di atas panggung bagai kabut yang menyembunyikan keburukan.
Kelopak mata Anatari mulai terasa berat.
Abinawa mengawasi Anatari dari ekor matanya, lantas beralih ke arah panggung. Dia menyadari ada kejanggalan yang sedang terjadi. Namun, dia belum mengambil sikap, masih berusaha mencari sesuatu yang mencurigakan di antara para penari dan pemain musik.
Pergerakan tujuh penari penuh kelembutan, ibarat sehelai selendang tipis yang melayang-layang dimainkan angin. Gerakan kepala para penari saat menoleh, menyentak Anatari seakan mata dibalik topeng-topeng itu membelalak padanya.
Tubuh Anatari limbung. Terhuyung jatuh membentur tanah.
"Aaaaaa!"
Seorang pria yang berdiri di belakang Anatari terjatuh seketika.
Sagara dengan teliti memeriksanya. Sebuah keris kecil telah menancap tepat di bagian dada sebelah kiri pria itu.
"Tewas."
Sebilah keris kecil kembali melesat, mengenai leher seorang wanita yang berdiri di sebelah Abinawa. Membuatnya tewas seketika.
Para penonton berhamburan. Berlari lintang pukang ke segala arah. Abinawa meraih tubuh Anatari. "Kembali ke kedaton."
Mereka berempat menerabas orang-orang yang berlari tak tentu arah. Sesampainya di tengah jembatan pertama, mereka dihadang dua orang bertopeng. Masing-masing memegang sebilah keris. Mereka terdesak ke sana kemari oleh lautan manusia yang dilanda kepanikan.
"Berpisah," suruh Abinawa.
Sagara menarik Jiyem dan Liyem.
Abinawa mencoba mencari celah agar dapat meloloskan diri dari para penduduk yang panik dan orang-orang bertopeng yang terus menghadang jalur pelariannya. Dengan Anatari dalam gendongannya jelas tidak mudah untuk bisa lari secepat kilat.
Jalur kembali ke kedaton terblokir orang-orang bertopeng. Abinawa berputar arah. Tidak ada pilihan baginya selain memancing mereka ke dalam hutan.
Benar saja, sekelompok orang bertopeng lainnya menyergapnya di dalam hutan. Satu per satu turun dari kegelapan yang menyelimuti puncak pohon.
"Serahkan perempuan itu."
__ADS_1
Abinawa melepaskan Anatari dari gendongannya. "Ambillah ...."