
Anatari merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Ingatan Anatari Lingga yang tak terduga menyerang hipokampusnya. Ingatannya sebagai Anatari Kemala yang dipenuhi kepedihan dari aksi perundungan yang diterimanya dan ingatan Anatari Lingga sebagai Putri Terkurung yang memendam amarah, saling menumpuk, melebur menjadi satu.
Tubuh Anatari bergelung di atas bale-bale. Dia linglung tak dapat membedakan siapa dirinya. Anatari Kemala ataukah Anatari Lingga? Dia tidak tahu memori siapa yang harus dia pertahankan, sementara memori keduanya bercampur menjadi kusut, melebur menjalin kisah sebab akibat yang saling terpaut, dan mulai memudar.
Falguni meraih tengkuk Anatari, meletakkan kepalanya ke atas pangkuannya. Dua jari telunjuk diarahkan Falguni pada pelipis Anatari. Secercah sinar keunguan mulai terpancar.
Anatari memberikan respon yang baik. Keningnya tak lagi berkerut. Matanya tidak terpejam teramat dalam. Mimpi buruk seakan telah sirna darinya.
"Putriku." Falguni berbisik lirih, memanggil Anatari untuk segera membuka mata.
Anatari memiringkan kepalanya ke arah Falguni, masih dengan mata tertutup. Anatari tersadar di dasar relung hatinya yang paling dalam.
Kabut kelabu menenggelamkan jiwanya dalam kegamangan. Kebenaran terasa tidak begitu menyenangkan.
Terkurung dalam sangkar emas sejak usianya masih belia telah membuat jiwanya merana dalam kehampaan. Tidak bisa berteman. Tidak bisa menjalin kasih dengan seseorang. Tidak mengetahui bagaimana keadaan di balik tembok keraton yang tinggi. Disiksa kesepian. Diracuni kesunyian. Semua keterbatasan itu membuat Anatari membenci mereka yang tidak bernasib seperti dirinya. Anatari tumbuh menjadi perempuan yang mudah tersulut emosi dan tak tahu bagaimana harus mengatasi kemarahan dirinya sendiri. Dia bagai rubah licik yang selalu berbuat manis di depan untuk meraup semua keuntungan yang diinginkan, dan berbuat jahat di belakang.
Dia terkadang merasa iri dengan hanya melihat dayang-dayang istana saling berbicara dan menyapa dengan senyum cerah yang mengembang, atau saat tidak sengaja memergoki seorang pengawal dan dayang yang sedang memadu kasih di sudut tersepi keraton. Setelahnya, mereka yang telah menyinggung suasana hatinya akan mati secara tiba-tiba.
Anatari membuka kelopak matanya. Setelah melihat kepingan ingatan yang ditawarkan Falguni. "Semuanya terasa sangat menyakitkan."
"Itulah kebenaran. Kau sudah melihat ke dalam diriku, melihat kecemasanku, melihat rasa takutku yang selama ini menghantui diriku. Sudahkah kau mendapatkan ingatanmu kembali?" ungkap Falguni.
Anatari mengerutkan dahi. Dia melepaskan diri dari Falguni, menatap perempuan yang tampak masih cantik itu dengan segudang pertanyaan. "Bibi juga tahu tentang ingatanku yang hilang?"
"Tentu saja. Pedang Abinawa yang kau gunakan untuk melukai diri sendiri sejatinya bukan miliknya. Itu milik Sagara. Pedang itu ... telah dimanterai. Siapapun yang tertusuk oleh pedang itu, akan kehilangan semua ingatannya, luka pun sulit sembuh, pada akhirnya hanya kematian yang tersisa. Sayangnya, mantera itu mengenai orang yang salah." Falguni menarik cangkir miliknya, meneguk air teh yang hampir dingin.
"Apa bibi yang memanterai pedang itu?" celetuk Anatari.
Falguni menghembus napas panjang. "Seandainya aku memiliki kesempatan emas itu, mana mungkin melewatkannya."
"Kalau bukan bibi yang melakukannya, lantas siapa?"
"Entahlah. Yang pasti, hubungan keempat nagari tidak setenang air danau. Tidak sejernih mata air suci. Tidak seindah semesta," ungkap Falguni.
"Tadi bibi bilang bahwa mantera itu mengenai orang yang salah." Anatari menghentikan ucapannya, menunggu reaksi membenarkan dari bibinya. Falguni mengangguk. "Lantas, kematian siapa yang musuh inginkan?"
Falguni menatap serius Anatari. "Sang penerus takhta."
Abinawa.
"Di dunia ini, penguasa dan penerus takhta adalah pemilik dua nyawa yang paling dan sekaligus tidak berharga. Posisi yang paling diinginkan di tengah pusaran penuh bahaya. Kita, juga akan ikut berperang di sana, nanti. Fokus utama saat ini adalah melindungi, mendukung, dan merebut perhatian Abinawa," tegas Falguni.
"Setelah itu apa?" selidik Anatari.
Falguni menatap Anatari dengan berapi-api. "Kita akan mendiskusikannya nanti."
Anatari menatap ke luar jendela. Menghela udara sebanyak yang dia bisa guna menghilangkan sesak di dada. Setelah mendapatkan sedikit ingatan si pemilik tubuh, Anatari justru merasa sedih. Apa yang telah direncanakan oleh Falguni dan Anatari Lingga terasa tidak benar.
Pengkhianatan. Anatari Kemala tidak pernah melakukan itu selama dia hidup. Sebaliknya, dialah yang acap kali dikhianati orang-orang munafik di sekitarnya.
Apakah dulu, Anatari Lingga benar-benar mengkhianati Abinawa atau mungkin Mahesa demi membalaskan dendamnya?
Rentetan informasi baru yang diterimanya bertubi-tubi tidak dapat dia cerna dalam satu waktu, membuat kepalanya berdenyut nyeri. Saat ini, dia ingin menenangkan diri, di suatu tempat yang sunyi, hanya ada dirinya, isi kepalanya, dan hatinya agar bisa menyusun dan mengonfirmasi segala sesuatu yang saat ini masih abu-abu.
"Pernikahanku dan Abinawa tidak akan terwujud," ucap Anatari.
Falguni mencengkram cangkir teh.
"Dia sudah menegaskan bahwa dia akan menolak perjodohan ini di pertemuan siang nanti. Ini akan menjadi hari terakhir kita di sini," imbuh Anatari.
__ADS_1
"Jangan berputus asa, putriku. Kalaupun pernikahanmu dan Abinawa tidak terlaksana. Rencana kita tetap akan berjalan sebagaimana mestinya, karena Sri Maharaja akan menikahkanmu dengan Mahesa. Pernikahan kalian akan jauh lebih menguntungkan bagi kita. Seperti yang kita tahu bahwa Mahesa pernah dinobatkan sebagai Yuwaraja Javacekwara. Kau bisa membantunya merebut kembali posisi itu untuknya, pada akhirnya, posisi Permaisuri akan tetap menjadi milikmu. Sejujurnya, itulah rencanaku sejak dulu, karena mengendalikan Mahesa akan jauh lebih mudah ketimbang menundukkan Abinawa," tutur Falguni.
Anatari memerhatikan bunga-bunga kuning pohon Angsana yang hampir mekar, bergerombol, menyembul di sela-sela dedaunan. Sebagian yang telah layu memenuhi udara, menari dimainkan angin.
"Kuharap semuanya berjalan lancar," gumam Anatari.
Waktu pertemuan hampir tiba. Sri Maharaja memerintahkan tiga orang dharmmadyaksa yang mengurus pura di lingkungan dalam kedaton bersiap di Pendopo Suci yang terletak di sebelah selatan pura.
Abinawa melenggang seorang diri ke tempat pertemuan. Makuta bertengger di kepalanya, membingkai rambut hitamnya yang digelung rapi. Selendang sutra tipis dengan bordiran lidah api tersemat dari pinggang sebelah kanan memanjat ke bahu sebelah kirinya, bagian selendang yang menjuntai di belakang, lantas ditarik ke depan, ditopang lengan kiri Abinawa di depan pinggang, tangan kanannya dia kepal di belakang pinggang. Itu adalah pembawaan khas Abinawa yang dianggap memikat oleh para dayang kedaton. Sedikit sikap malas, tetapi percaya diri, dan selalu rupawan seperti biasanya.
Seorang Yuwaraja yang sangat tampan. Karismatik dengan sentuhan keanggunan, berhidung elang dan lancip.
Dia adalah magnet yang daya tariknya sulit ditolak oleh mata perempuan yang mencari definisi ketampanan tanpa cela.
Dia adalah kesempurnaan!
Di arah lain jalan bata merah, Mahesa nampak enggan diikuti Partha dan enam dayang.
Di persimpangan jalan, kedua saudara tiri itu berpapasan. Abinawa melukiskan senyum lembut yang tidak mengada-ada. Mahesa membalasnya dengan senyum kaku sebelum memberikan hormatnya.
"Kangmas hendak pergi?" tanya Abinawa lebih dulu, seperti biasanya, karena sedari dulu Mahesa enggan menyapa Abinawa duluan.
"Benar. Ayahanda memanggilku ke Pendopo Suci." Suara Mahesa sedikit parau.
"Suatu kebetulan. Aku juga hendak pergi ke sana."
Kedua alis tebal Mahesa bertaut. Dia jelas ingin bertanya "untuk apa?", tetapi mulutnya selalu terasa berat setiap hendak berbicara dengan Abinawa bahkan sekedar berbasa basi saja sungguh penuh perjuangan baginya. Berbeda halnya Abinawa yang sejak kecil sudah terbiasa bersikap ceria pada Mahesa. Mengekor kakak tirinya seperti kucing yang minta perhatian, akan tetapi Mahesa selalu mendorongnya menjauh dan pernah beberapa kali dia melayangkan cakarnya pada Abinawa bagai serigala yang terluka. Akan tetapi, Mahesa tidak pernah berhasil menyingkirkan Abinawa kecil yang penuh tekad. Hingga dia menyerah, membiarkan Abinawa beredar di sekelilingnya, memilih mengacuhkannya hingga detik ini.
"Kau duluan." Mahesa mempersilakan.
Abinawa melirik tangan kiri Mahesa yang terentang kaku, mempersilakan jalan. "Kita jalan bersama saja."
Abinawa berpaling ke sisi kirinya. Mahesa menoleh ke sisi kanannya. Anatari ... menatap keduanya bergantian.
Mahesa tergerak untuk menyongsong Anatari. Namun, dia mencoba menahan keinginannya mengingat Abinawa bersedekap menonton apa yang mungkin akan terjadi di antara Mahesa dan Anatari.
Anatari menghampiri keduanya. "Sepertinya kita bertiga mengarah ke tempat tujuan yang sama."
Mahesa menatap tajam penampilan Abinawa dan Anatari yang memakai busana dalam nuansa warna serupa. Anatari pun menyadarinya. Abinawa, tak perlu meragukan akting acuh tak acuhnya.
Mahesa menyerongkan badannya, lengannya berayun lembut menunjuk jalan di hadapan ketiganya. "Dinda, mari."
"Aku mau saja memimpin jalan, tapi sayang sekali, aku belum pernah ke Pendopo Suci." Anatari berpaling pada Abinawa. "Silakan Yuwaraja memimpin jalan."
Abinawa bersikap malas-malasan. "Baiklah. Mencari tempat itu tidaklah sulit. Ikuti saja wangi dupa."
Abinawa memimpin jalan, diikuti Mahesa dan Anatari. Partha dan keenam dayang membuntuti dari belakang.
Anatari melirik ke barisan di belakang, "Para dayang itu, kau selalu pergi bersama mereka?"
"Mereka diperintahkan Ayahanda untuk mengawasiku, kalau-kalau aku pergi ke kediamanmu. Baru hari ini mereka ditempatkan di kediamanku. Sebelumnya, setengah lusin pengawal yang terus membuntutiku ke mana-mana," keluh Mahesa.
Anatari berpaling pada Abinawa yang tampak nyaman pergi seorang diri.
"Ke mana tali nyawamu? Tidak biasanya kalian terpisah," sindir Mahesa.
Abinawa bergidik, bibirnya mengerucut.
Tali nyawa? Kenapa Mahesa menanyakan kekasih Abinawa? Rahasia lain yang belum aku ketahui?
__ADS_1
"Aku menyuruhnya menyortir bahan makanan untuk di kediaman," jawab Abinawa, sambil lalu.
"Hemph, benarkah?" Mahesa mencoba tidak tertipu.
Abinawa menghentikan langkah, berpaling pada Mahesa. "Tentu saja. Sudah beberapa hari ini aku tidak mendapatkan kacang tanah dan bayam. Hari ini, aku ingin mendapatkan kedua bahan makanan itu."
Abinawa terlihat lebih tinggi dari Mahesa saat keduanya berdiri cukup dekat seperti sekarang ini.
Anatari mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sebenarnya, dua bahan makanan itu adalah yang paling banyak diambil oleh kediaman Anatari. Dia tidak ingin mengakui itu sekarang.
"Huh, kekanakan," cibir Mahesa.
"Eh, itu adalah makanan kesukaanku. Kita pasti tidak akan pernah rela membiarkan orang lain memiliki apa yang kita sukai, kan?"
Anatari dan Mahesa bertukar pandang, lalu menunduk. Abinawa tersenyum sinis. Dia memang sengaja mengatakannya. Anatari yakin sekali.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam kebisuan. Semakin dekat langkah kaki membawa ketiganya menuju Pendopo Suci, aroma dupa kian semerbak tercium di udara.
Ketiganya berpapasan dengan Sri Maharaja II, Gusti Kangjeng Ratu Indukanti, dan Ratu Falguni. Setelah menerima hormat dari ketiga manusia muda itu, keenamnya melangkah beriringan memasuki Pendopo Suci yang berbentuk persegi.
Sri Maharaja II duduk berdampingan dengan Permaisurinya di sisi timur. Ratu Falguni duduk sendirian di sisi utara. Di sisi barat ada Anatari, Abinawa, dan Mahesa. Di sisi selatan ditempati tiga anggota dharmmadyaksa yang akan menentukan waktu terbaik saat upacara pernikahan.
"Seperti yang telah aku janjikan sebelumnya, di pertemuan ini kita semua akan mendengar keputusan akhir Yuwaraja Abinawa Wiradharma dan Gusti Raden Ayu Anatari Lingga terkait pernikahan keduanya. Tetapi, karena ada satu hal yang berkaitan dengan Pangeran Mahesa Narendra, maka kita pun akan mendengarkan keputusannya juga. Dan perlu kita semua tekankan bahwa apa yang telah diputuskan hari ini, tidak akan pernah dapat berubah lagi. Jadi, berikanlah jawaban yang sejujurnya. Jangan terbawa nafsu yang kelak akan menimbulkan penyesalan tiada akhir," jelas Sri Maharaja II.
Sri Maharaja II menatap ketiganya bergantian. "Ketahuilah bahwa pria tercipta sebagai pemimpin. Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Tanggung jawab dan risiko adalah beban berat yang harus selalu dipikul tanpa rasa lelah. Sebelum seorang pria terpilih untuk memimpin suatu peradaban, maka dia harus mampu memimpin pengikutnya yang pertama. Orang pertama yang harus dipimpinnya adalah sang istri. Namun, wanita bukan hanya sekedar pengikut tanpa peran. Wanita sejatinya merupakan tiang nagari. Jika wanita itu baik, baik juga nagarinya. Jika wanita itu berkhianat, maka celakalah pemimpinnya, dan hancurlah nagarinya.
Kelak, kalian bertiga akan memikul tanggung jawab seluruh nagari. Di posisi mana kalian berdiri, tanggung jawab dan risiko tetap sama berat. Kalian akan menjadi satu kesatuan dalam memajukan nagari. Apa yang kalian lakukan kelak bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh penduduk di Bhumi Javacekwara. Karena itu, aku mengharapkan keputusan apapun yang akan kalian ambil hari ini, sejatinya tidak bertentangan dengan sanatana dharma."
Anatari duduk bersimpuh. Abinawa dan Mahesa bersila. Ketiganya menundukkan pandangan.
"Anatari, aku ingin mendengar jawabanmu mengenai rencana pernikahanmu dan Abinawa," pinta Sri Maharaja II.
Anatari menelan ludah. Getir terasa di esofagus-nya yang kering. "Hamba setuju untuk menikah dengan Yuwaraja Abinawa Wiradharma."
Abinawa tidak menunjukkan reaksi, karena dia sudah tahu mengenai keputusan Anatari. Lain halnya dengan Mahesa yang hatinya bagai tersayat-sayat sembilu. Tangannya mengepal dengan kuat. Wajahnya tegang menahan amarah.
"Bagaimana denganmu, Abinawa?"
Anatari duduk dengan kaku. Dadanya berdebar-debar. Mahesa menajamkan telinga, penuh harap Abinawa menolaknya seperti yang pernah dia janjikan dalam pembicaraan beberapa waktu lalu.
"Hamba bersedia ... menikahi ... Anatari."
Bulu halus di tubuh Anatari berdiri. Perutnya terpilin-pilin.
Mahesa hanya mampu tersenyum pahit di bawah sorot mata ayahandanya.
Terkutuk, kau, Abinawa! kutuk Mahesa dalam hati.
Senyum terpancar pada mereka yang berada di sana, terkecuali Anatari dan Mahesa.
"Mahesa."
Suara Sri Maharaja II bagai palu gada yang menghantam kepala Mahesa, menimbulkan sakit yang luar biasa di dalam hatinya.
"Mahesa putraku .... Kau telah mendengar sendiri jawaban Anatari dan dimasmu. Adakah yang ingin kau sampaikan?" Suara Sri Maharaja II melunak, hampir lirih, seperti sedang membujuk Mahesa.
Tubuh Mahesa gemetar menahan marah. Matanya merah dan sembab. Di saat seperti ini kata-kata terbaik apa yang diharapkan dari seseorang yang telah dilukai hatinya secara terbuka.
Anatari menjadi marah karena hati Mahesa dilukai sekejam ini. Dia menggigit bibirnya agar tidak melemparkan sumpah serapah.
__ADS_1