
Dua orang bertopeng mendekat penuh kehati-hatian di bawah pengawasan manik coklat terang Yuwaraja. Tangan kedua perewa itu terulur ke arah Anatari yang tergeletak di dekat kaki Abinawa—tak sadarkan diri.
Sebentuk energi terpusat di dada Abinawa. Lantas dia salurkan pada telapak tangan di belakang punggung. Menggerakkannya dalam putaran penuh. Ketika jarak sudah sangat minimum, dia menghentaknya ke depan. Tubuh kedua perewa terpental jauh ke belakang.
"Ah, sepertinya tadi aku belum menyelesaikan ucapanku. Ambillah ... jika kalian mampu mengalahkanku," tantang Sang Yuwaraja.
Tiga orang menyerang sekaligus dengan keris teracung di atas kepala mereka.
Abinawa tersenyum sarkastik. Ceroboh. Dia kembali melakukan gerakan tangan yang sama, membuat ketiganya terpental menabrak batang Pohon Jati. Amatir.
Tujuh orang tersisa mengitarinya. Waspada. Menunggu pergerakan lawannya.
Abinawa mengamati masing-masing pergerakan lawannya. Dia menyilangkan tangannya di dada, menggulirnya ke bawah, membentangkannya ke kedua sisi seraya memutar tubuhnya.
Tenaga dalam menghempas tubuh para perewa ke dalam kegelapan hutan. Diakhiri rintihan saling bersahutan.
Sagara baru saja tiba dengan napas tersengal-sengal. "Yuwaraja."
Dahi Abinawa berkerut. Dia tidak suka panggilan itu saat berada di luar kedaton.
"Umh, Kangmas. Maaf, terlambat."
"Bukan salahmu. Periksa mereka."
Sagara menilik ke sekelilingnya. "Memeriksa siapa?"
"Para penjahat itu. Di dalam hutan. Terlalu gelap untuk memastikan pohon sebelah mana yang mereka tabrak. Cari saja." Abinawa melambaikan tangannya ke udara dengan sembarangan.
"Sendiko."
Sagara memasuki hutan tanpa sangsi. Ranting-ranting kering bergemeretak terinjak langkahnya yang hati-hati. Kelopak matanya mengerjap melihat seonggok benda hitam tertumpuk di bawah pohon di hadapannya. Satu tubuh berhasil ditemukan. Di batang Pohon Jati yang ditabrak perewa itu terbentuk bekas cerukan. Sementara tubuhnya melipat menjadi dua bagian. Tubuh yang telah tak bernyawa itu dibaringkan di atas tanah. Sagara memeriksa bagian perut yang terasa lembek.
Perut dan seluruh tulang rusuknya hancur.
Dia membuka topeng putih dengan ukiran senyum licik yang realistik. Begitu topeng terpisah dari pemiliknya, tubuh penjahat itu menguar ke udara. Menjadi asap hitam keunguan yang lekas hilang setelahnya.
Sagara berlari menuju Abinawa. "Kangmas!" Tubuhnya membeku melihat keberadaan seseorang yang bukan junjungan-nya.
...***...
Abinawa meletakkan tubuh Anatari di atas pembaringan.
"Apa Ndoro Putri baik-baik saja?" tanya Liyem.
"Hmm. Jaga dia."
"Sendiko dawuh, Yuwaraja."
"Sendiko dawuh, Yuwaraja."
Suara ketukan terdengar dari ambang pintu. Sagara mengangguk ke arah Abinawa.
"Ada yang hidup?" tanya Abinawa, acuh tak acuh.
"Sulit menemukan yang masih hidup karena serangan Rajah Kalacakra." Sagara menjeda kalimatnya, melihat ekspresi Abinawa yang tenang-tenang saja. "Kenapa Anda bersusah payah mengerahkan tenaga dalam hanya untuk melawan sekelompok Tubuh Ilusi?"
^^^(Rajah Kalacakra; difungsikan sebagai pagar gaib/tameng/perisai diri)^^^
^^^(Tubuh Ilusi; Sebuah tiruan makhluk hidup menyerupai aslinya dengan memanfaatkan bantuan dari para makhluk astral yang digunakan untuk tujuan tertentu)^^^
Kedua alis Abinawa bertaut. "Tubuh Ilusi?"
"Benar. Ketika topeng itu hamba buka, yang terlihat adalah wujud manusia tanpa wajah. Tak lama berubah menjadi kabut kelam hingga akhirnya menghilang," lapor Sagara.
"Sepertinya seseorang ingin menguji kewaspadaan kita malam ini. Gendam, Tubuh Ilusi. Itu hanya bisa dilakukan olehnya."
^^^(Gendam; Salah satu teknik untuk memanipulasi kesadaran atau pikiran seseorang)^^^
Abinawa menatap permukaan air kolam yang beriak sebab seekor katak melompat ke dalamnya. "Satu-satunya yang bisa melakukan hal itu hanya Banaspati."
"Banaspati? Bukankah dia terkurung di Celah Mrapen?"
__ADS_1
"Dia iblis licik yang mampu memanipulasi apapun yang dikehendakinya. Masih banyak pengikutnya yang tercerai berai di seluruh nagari, bersembunyi dari pemusnahan yang pernah terjadi tujuh puluh tahun silam. Memanggil kembali pengikutnya bukanlah hal yang sulit baginya. Segel yang mengurungnya juga bukan sesuatu yang dapat bertahan sangat lama. Tidak menutup kemungkinan dia akan kembali lagi membuat kekacauan di Tanah Jawi."
"Apakah segel kurungannya bisa diperkuat kembali?"
Abinawa berpikir cukup lama, sebelum menjawab, "Itu ... sepertinya akan sangat rumit, sebab hanya raja terdahulu yang mengetahui mantranya."
"Gendam yang Anda bilang ... menjadikan Anatari sebagai sasarannya. Aku tidak melihat ada kaitannya. Untuk apa Banaspati menargetkan Anatari? Apa mungkin berkaitan dengan segel kurungan?"
"Sepertinya aku belum memberitahumu tentang sesuatu. Kurasa hal itu akan dibahas pada pertemuan pagi ini. Aku penasaran apakah perempuan itu masih hidup di hari pernikahannya."
Sagara melepaskan tatapan penuh tanya.
...***...
Pagi masih buta, tapi empat anggota Pahom Narendra berduyun-duyun memasuki Pendopo Ageng. Kantuk masih jelas terlihat di mata mereka. Namun, mulut sudah tidak tahan untuk dapat berkata-kata.
^^^(Pahom Narendra; Dewan/lembaga pertimbangan agung yang dijabat oleh tujuh orang keluarga dekat atau kerabat lingkaran darah terdekat dari raja yang memerintah)^^^
Riuh suara saling bersahutan memperbincangkan kejadian penyerangan tadi malam. Tinggi rendah nada bicara mereka menggambarkan suasana hati yang dipenuhi kekalutan.
Sri Maharaja II memasuki Pendopo Ageng diikuti Abinawa, disambut hormat dari para petinggi yang sudah tidak sabar hendak berdiskusi.
"Tidak perlu berbasa basi lagi. Aku tahu kalian akan membicarakan kejadian penyerangan tadi malam. Jadi, katakan saja pendapat kalian." Lingkaran hitam tergambar jelas di bawah mata Sri Maharaja II. Sepertinya dia juga tidak tidur semalaman, memikirkan hal yang sama.
"Kejadian semalam sungguh sangat disayangkan. Bhumi Javacekwara yang sebelumnya tenang dan tentram harus dilanda kekisruhan yang menimbulkan dua korban jiwa dari penduduk yang tidak berdosa. Kejadian itu mengusik ketenangan kami." Dyah Candrawati membuka diskusi dengan nada suaranya yang mendayu.
Janardana menambahkan dengan berkata, "Setelah melalui penyelidikan, hamba menemukan hal yang sedikit mencurigakan. Sekelompok perewa itu menargetkan Gusti Putri Anatari. Salah satu dari para penari bahkan berani menyerang Gusti Putri Anatari dengan ilmu gendam. Namun, motif dibaliknya belum diketahui, sebab penari itu masih tetap bungkam. Sedangkan para perewa telah tewas sebelum kedatangan pasukan keamanan. Hanya meninggalkan pakaian dan topeng mengerikan."
^^^(Perewa; Orang yang buruk kelakuannya [pengacau]) ^^^
Kepala Pasukan Keamanan Kedaton memasuki Pendopo Ageng dengan membawa pakaian merah marun yang dilipat rapi dan sebuah topeng yang dikenakan oleh kawanan perewa. Kedua benda itu diletakkan di atas meja di tengah ruangan.
Janardana mengulurkan tangan kanannya ke arah meja. "Ini adalah apa yang mereka kenakan di malam penyerangan."
Ke enam orang itu mengelilingi meja kayu. Apa yang dilihat kini membuat mereka teringat pada satu perkara yang sama: Pasukan Banaspati.
"Tidak mungkin dia bisa meloloskan diri dari kurungan gaib di Celah Mrapen," ujar Rangga.
"Cepat atau lambat, makhluk itu akan keluar juga dari kurungan. Kita semua tahu bahwa semakin lama, segel gaib akan kian lemah. Yang dikhawatirkan adalah akibat dari terlepasnya Banaspati. Keberadaan Anatari telah diketahui dan memancing para pengikut Banaspati hingga sampai ke sini. Mengenai kelemahan segel kurungan ... para pengikutnya pasti sudah mengetahui hal ini. Kurasa hal itu menimbulkan sedikit keberanian pada diri mereka untuk kembali berulah. Kurasa, niat Ratu Girilaya mengizinkan adanya pernikahan ini juga patut dicurigai," timpal Dyah Candrawati.
"Apakah Sri Maharaja melewatkan sesuatu mengenai latar belakang Gusti Raden Ayu Anatari Lingga sebelum memutuskan untuk menikahkannya dengan Yuwaraja?" Rangga si adik sepupu bertanya dengan hormat.
Sri Maharaja II mendesah. "Aku mengetahuinya."
"Lantas kenapa kau memaksakan hal ini? Mengundang musuh masuk ke rumah, sama saja mencari mati," omel Jayendra.
Sri Maharaja II terdiam. Air mukanya masam. Ingatan masa lampau membawanya mundur jauh pada kejadian berpuluh tahun silam, saat dirinya masih menjadi Yuwaraja dan ditugaskan memimpin pasukan.
Tepatnya dua puluh tahun setelah pemusnahan Banaspati berserta seluruh kerajaannya di Dataran Tengah. Javacekwara memimpin penyerangan ke Bhumi Girilaya. Tindakan itu bertujuan untuk merebut Mustika Naga yang berada di tangan Nyai Chandra Kirana.
Nyai Chandra Kirana bersikukuh tetap mempertahankan Mustika Naga dalam tubuhnya. Tak sedikitpun berniat untuk menghancurkannya. Ketiga raja menjadi kecewa dan marah. Ratusan prajurit kerajaan meringsek masuk ke wilayah kedaton Girilaya. Mengakibatkan Raja Girilaya tewas di tangan Sri Maharaja I, menyulut amarah Nyai Chandra Kirana, bahkan sampai membuatnya hilang kendali.
Dia mengeluarkan Mustika Naga dari tubuhnya, lantas menyeret Anatari yang masih berusia dua tahun ke hadapan ketiga lawannya.
"Tidak ada satupun dari kalian yang akan memiliki Mustika Naga." Nyai Candra Kirana memasukkan Mustika Naga itu ke dalam tubuh Anatari. Kemudian mendorong tubuh putri kecilnya ke bawah gunung dalam keadaan tak sadarkan diri.
Ratu Namaini melakukan pergerakan secepat kilat, menghunus pedangnya ke punggung Nyai Candra Kirana hingga menembus ke depan dada.
Sri Maharaja I dan Raja Acarya segera mengutus para prajurit untuk mengangkat tubuh Anatari dari dasar jurang.
Malam bertemu pagi. Pagi bertemu siang hingga kembali menjumpai rembulan pada hari berikutnya, tubuh Anatari kecil tidak pernah ditemukan.
"Pengawal," panggil Jayendra.
"Hamba di sini."
"Bawa Anatari kemari."
"Sendiko dawuh."
Sagara mendekati Abinawa dari belakang. "Yuwaraja. Jika Anatari terbukti bersalah karena memiliki hubungan dengan Banaspati, apa yang mungkin bisa terjadi padanya?"
__ADS_1
"Hidupnya bukan miliknya lagi."
"Anda tidak akan melalukan apapun untuknya?"
"...."
"Kalau Anda tidak melakukan sesuatu, saya takut Mahesa akan lebih dulu bertindak."
Abinawa mengerutkan dahi. "Kau berpikir terlalu jauh."
"Perkelahian tempo hari di kedimaannya. Dia melakukannya dengan serius. Hamba bisa merasakan tenaga dalamnya."
"Baik. Baik. Aku akan lebih waspada padanya." Abinawa menggeleng. "Kau cerewet sekali."
"Itu tugas saya untuk memastikan Yuwaraja tetap aman."
"Aku menurut. Aku menurut."
"Sedang apa kalian di sana. Kenapa harus berbisik-bisik?" tegur Jayendra.
Keduanya berbalik dengan senyum yang mengembang.
"Perut saya sedikit tidak nyaman, Kakek. Saya meminta Sagara untuk mengambilkan beberapa makanan," bual Abinawa.
Abinawa mengibaskan telapak tangannya di balik punggung. Satu isyarat itu membuat Sagara bergegas keluar Pendopo Ageng.
"Huh, dalam situasi yang tidak pasti seperti ini kau masih memiliki selera makan? Luar biasa tidak pekanya!" kritik Jayendra.
"Mohon Paman mengerti. Tubuh Abinawa lemah sejak kecil. Penyakit perutnya juga masih belum dapat disembuhkan. Jadi, dia harus menjaga asupan makanannya," bela Sri Maharaja II.
"Penyakit perutmu sudah bertahun-tahun diobati, tapi mengapa belum menunjukkan hasil yang baik? Kurasa, kita harus memanggil para tabib untuk diinterogasi," saran Janardana.
"Huh! Kau ini tahunya hanya menginterogasi dan menyelidiki. Dari pengamatanku, satu kasus pun tidak pernah ada yang diselesaikan dalam waktu singkat hingga detik ini. Kurasa kau pun harus diinterogasi," sentil Jayendra.
"...." Janardana melirik Jayendra dengan kesal. Namun, tidak berniat untuk melanjutkan adu argumen yang pasti akan berakhir dengan dentangan suara pedang.
"Gusti Raden Ayu Anatari sudah tiba," kata pengawal, memberitahukan.
Keenam orang di dalam Pendopo Ageng sudah berada di tempatnya masing-masing.
Anatari melangkah dengan anggun, mengabaikan ketidaknyamanan yang menyelimuti perasaannya. "Hamba menghadap Sri Maharaja."
Anatari menatap sesaat ke arah Abinawa yang terlihat serius. Lantas beralih pada orang-orang yang duduk di sisi kanan dan kirinya.
"Kau tahu siapa kami?" tanya Jayendra.
"Setahu hamba, Anda semua adalah anggota Pahom Narendra. Mohon maaf bila hamba salah mengenali," jawab Anatari.
"Aku memanggilmu kemari untuk meluruskan beberapa hal menyangkut penyerangan kemarin malam." Sri Maharaja II mengambil alih pembicaraan. "Dari penyelidikan yang telah dilakukan, sekelompok perewa itu menjadikanmu sebagai sasaran. Apa kau tahu siapa mereka?"
"Hamba tidak mengetahui hal itu. Seingat hamba, hamba merasa pusing ketika menyaksikan pertunjukan tari topeng. Setelahnya, hamba tidak mengingat apapun lagi."
"Menurut penjelasan Yuwaraja, kemungkinan besar kau terkena gendam. Bisakah kau menjelaskannya pada kami, Yuwaraja?" Sri Maharaja II mengangguk pada Abinawa.
"Malam itu sebelum acara pertunjukan tari, Anatari berada dalam keadaan baik-baik saja. Namun, begitu pertunjukan dimulai, Anatari menunjukkan gejala yang mengarah pada keadaan seseorang yang terkena gendam. Itu sepengetahuan saya. Setelah itu saya memerintahkan untuk kembali ke kedaton. Tapi, jumlah mereka terlalu banyak hingga mampu mengarahkan saya memasuki hutan," tambah Abinawa.
"Setahuku, yang mampu merasakan getaran tenaga dalam ilmu kanuragan hanya para pendekar. Bagaimana kau bisa yakin bahwa itu adalah ilmu gendam? Bukankah kau tidak menguasai ilmu kanuragan? Jika itu orang biasa, tentu tidak akan menyadarinya," cecar Rangga.
Abinawa tersenyum kecil. "Paman, sepertinya kau tidak mencermati perkataanku. Aku memang tidak menguasai ilmu kanuragan. Bukan berarti tidak mengerti dengan ciri-ciri seseorang yang telah diserang ilmu tertentu," bela Abinawa.
Janardana menoleh pada Rangga yang duduk di sampingnya. "Berpikirlah sebelum mengeluarkan kata-kata." Ia lantas memusatkan perhatiannya pada Abinawa. "Yuwaraja. Jelaskanlah apa yang telah terjadi di dalam hutan ketika itu?"
"Salah satu dari mereka menyerang dari belakang. Membuat saya tidak sadarkan diri. Saya tidak tahu apa yang terjadi setelahnya atau berapa lama saya tidak sadarkan diri. Untunglah Paman Janardana datang membawa saya dan Anatari kembali ke kedaton. Saya sangat berterimakasih atas jasa Paman," terang Abinawa.
Janardana menegakkan bahu, merasa bangga pada diri sendiri yang berjasa menyelamatkan penerus takhta Bhumi Javacekwara. Mata Jayendra memicing ke arah Janardana.
"Ehem. Ketika saya tiba, Yuwaraja dan Gusti Putri Anatari terbaring tak sadarkan diri. Saya tidak melihat mayat para perewa itu hingga Sagara muncul dari dalam hutan dengan membawa pakaian dan topeng menyeramkan itu," tutur Janardana.
Anatari menundukkan pandangannya. Menatap lurus ke arah topeng putih yang memiliki senyum begitu nyata. Seketika pupilnya melebar. Jantungnya berdebar tak menentu. Berdirinya pun mulai goyah.
Sepasang mata kelam dikelilingi warna jingga menyala, perlahan terbuka dalam kabut ungu kehitaman yang tebal. Menatap tajam ke depan. Anatari mundur selangkah.
__ADS_1
Abinawa mengawasinya dalam diam.
Seringai buas dari makhluk bertaring muncul di hadapan Anatari. Membuatnya terjatuh seketika.