
Ombak laut menggulung dan pecah menggelegar. Gelap merayap dari batas cakrawala. Angin berdesir melalui celah dedaunan. Kabut pekat menyelimuti tepi pantai hingga ke puncak bukit.
Siluet hitam bergerak gesit di antara bangunan tinggi kedaton. Menyelinap ke salah satu ruang di mana seseorang masih terjaga. Menunggunya di balik kelambu tanpa cahaya.
"Abinawa mengetahui mantera di pedang itu."
"Seperti janjimu. Harus mempertanggung jawabkannya," ucap seorang wanita.
"Sendiko. Mengenai Anatari Lingga, dia terkena luka dari pedang milik Sagara. Dia telah kehilangan ingatannya juga kemampuan kanuragannya."
Wanita itu tertawa bahagia. "Anatari Lingga. Sudah lama aku ingin bertemu dengannya. Katakan pada perempuan dari Girilaya itu untuk keluar dari persembunyian dan bersiap memberikan sambutan pada bekas junjungan-nya."
"Sendiko."
"Untuk Abinawa, jangan lakukan apapun padanya."
"Sendiko dawuh, Gusti."
...***...
Dua orang abdi dalem tergesa-gesa menuju kediaman Anatari. Tiga pengawal mencegahnya di depan pintu gapura.
"Pesan dari Gusti Kangjeng Ratu Indukanti."
"Buka pintu gapura," suruh seorang pengawal pada dua rekannya.
Jiyem yang hendak ke dapur, segera kembali ke dalam rumah begitu melihat kehadiran dua abdi dalem kepercayaan Indukanti. "Ada pelayan Kangjeng Ratu."
Anatari yang baru selesai mencuci muka segera menyambutnya di ruang depan kediaman.
"Pesan dari Gusti Kangjeng Ratu Indukanti untuk Gusti Raden Ayu Anatari Lingga." Seorang pria tua berdiri lebih depan dibanding yang satunya.
Mereka bertiga memberikan hormat.
"Gusti Raden Ayu Anatari Lingga diminta untuk datang ke kediaman Gusti Kangjeng Ratu Indukanti."
"Sendiko dawuh," sahut Anatari.
Tidak lama setelah pelayan itu pergi, Anatari bergegas menyusul ke kediaman Permaisuri yang berada di bagian paling depan lingkungan keputren. Ketika itu, Permaisuri Indukanti berada di halaman belakang kediamannya, sengaja menunggu Anatari di sana.
Anatari berjongkok. Kedua telapak tangan disatukan dengan ujung ibu jari menyentuh ujung hidung. "Hormat hamba kepada Gusti Kangjeng Ratu," sapa Anatari dengan suaranya yang halus.
"Bangunlah. Kita bertemu secara pribadi. Tidak perlu terlalu kaku."
"Te ...." Sayang sekali Anatari tidak bisa mengucapkan satu kata itu. "Hamba bersyukur atas kemurahan hati Anda." Anatari tersenyum lega karena tidak ada yang mencubit jantungnya kali ini.
Baguslah. Mulai sekarang aku bisa memakai kalimat itu.
"Sejak kau memasuki kedaton, aku belum memiliki kesempatan untuk menyambutmu secara pribadi. Aku minta maaf, bila telah membuatmu kecewa."
"Saya tidak merasa kecewa sama sekali. Sejak memasuki kedaton, saya disambut layaknya anggota keluarga sendiri. Keramahan Anda bisa saya rasakan dari orang-orang yang selama ini melayani saya dengan baik. Itu membuat saya merasa bersyukur," bual Anatari.
Indukanti mengerutkan dahi. Menurut laporan Jiyem dan Liyem, sejak Anatari menempati kediamannya yang sekarang, dia selalu membuat rusuh dan jengkel para waracethi dan pengawal dengan segala tingkah polahnya yang tidak memiliki etika seorang keturunan raja. Jangankan bersyukur, Anatari justru terus mengeluh dan mengutuk.
Liyem mengadu pada Abinawa; pernah sekali Anatari memintanya membuatkan ayam goreng, tetapi harus daging ayam hutan. Keterpaksaan menyertai Liyem yang pergi ke hutan di bawah kaki bukit hanya untuk menangkap seekor ayam hutan yang tidak seberapa besar.
Begitu daging ayam hutan goreng sudah tersaji di piring, Anatari berkata dengan entengnya bahwa ayam itu tidak memiliki banyak daging untuk dimakan. Dia bukan hewan yang senang menjilati tulang. Jadi, Anatari menyuruh Liyem untuk membuatkan lagi ayam goreng baru dari ayam yang dipelihara pelayannya di belakang bangunan dapur. Menurutnya mereka lebih gemuk dan bersih.
__ADS_1
Begitu pula dengan Jiyem yang dibuat bolak balik mengambil air dari petirtaan di luar lingkungan keputren ke kediaman Anatari pada dini hari, hanya karena Putri dari Girilaya itu malas untuk berjalan jauh ke area petirtaan. Hal itu tidak terjadi hanya sekali.
^^^(Petirtaan; merupakan tempat pemandian suci yang digunakan oleh kalangan kerajaan)^^^
Para pengawal pun tidak kalah sibuk mengatasi Anatari yang berulang kali mencoba melarikan diri, memanjat benteng keputren setinggi sembilan dpa. Hingga akhirnya Indukanti memberikan instruksi penjagaan di luar dan dalam kediaman Anatari.
Berkat ilmu kanuragan yang dikuasainya, Anatari berhasil kabur, tapi malah tersesat ke kediaman Abinawa. Dia menerobos masuk, memangkas habis bunga-bunga yang ada di sana karena kesal tidak menemukan jalan keluar.
Abinawa yang mendapati kediamannya porak poranda hanya mampu menelan mentah-mentah kekesalannya.
Sri Maharaja II yang sudah lelah mendengar keributan yang dibuat Anatari, memutuskan mengirim utusan ke Girilaya untuk mengadukan kelakuan Tuan Putri mereka.
Bibi Anatari pun tiba tidak lama setelahnya. Entah apa yang menjadi topik perbincangan keduanya, karena setelah itu Anatari menurut dan tak membuat onar lagi. Benar sekali. Tidak bisa membuat onar lagi, sebab hari berikutnya dia dimasukkan ke dalam tahanan setelah tertangkap basah berpelukan dengan Pangeran Mahesa.
Melihat sikap patuh Anatari saat ini, rasanya sulit dipercaya bahwa segala laporan berisi keluhan tentangnya adalah nyata.
"Syukurlah kalau kau merasa kerasan tinggal di kedaton. Ke depannya nanti akan jauh lebih mudah bagimu untuk beradaptasi. Ketahuilah bahwa situasi akan terus berubah. Baik dan buruk tidak akan pernah ada yang tahu," cakap Indukanti.
"Hamba bersyukur bisa mendapat wejangan dari Gusti Kangjeng Ratu."
Mereka berdua menyusuri halaman dalam langkah ringan dan lambat. Sesekali berhenti menatap bunga-bunga Mawar yang mulai bermekaran di bawah limpahan cahaya hangat mentari pagi.
"Anatari. Dulu, aku pernah berada di posisimu saat ini. Aku tahu benar betapa sulitnya melepaskan kehidupan kita yang sebelumnya dan harus menyongsong kehidupan baru yang terasa asing. Terlebih bila itu mengenai orang yang kita cintai."
Apa arah pembicaraan ini mulai memasuki ranah pribadiku? Jika ya, baguslah. Tidak sia-sia aku datang kemari. Silakan bicara agar aku mendapat informasi yang diharapkan.
"Aku jauh lebih muda darimu saat memasuki keputren."
Peradaban awal tanah Jawi dikuasai oleh empat kelompok besar yang paling kuat. Para raja sepakat untuk membagi empat wilayah kekuasaan sesuai arah mata angin.
Seiring berkembangnya peradaban, Banaspati mulai menghasut Sri Maharaja I untuk berperang dengan ketiga nagari agar bisa menjadi penguasa satu-satunya. Menguasai ilmu pengetahuan, militer, dan sumber daya alam.
Bhumi Girilaya dan Bhumi Namaini melawan sekuat tenaga. Pihak Bhumi Acarya yang mengetahui bahwa putra sulung Sri Maharaja I menaruh hati pada putri sulung sang raja dari permaisuri pertama, akhirnya menawarkan perjanjian perdamaian. Dewi Anjani yang dianggap paling menawan dan berbudi, kemudian diangkat menjadi permaisuri pertama Jayaraga. Sebagai hadiah tambahan: Indukanti yang merupakan putri bungsu raja Bhumi Acarya dari selir keempat akan ikut serta ke Bhumi Javacekwara. Indukanti akan menjadi selir ke empat belas dan bila berhasil melahirkan seorang pangeran, maka statusnya akan diangkat menjadi permaisuri ke delapan. Gencatan senjata akhirnya terwujud tanpa harus memakan korban jiwa.
^^^(Banaspati; Makhluk mitos serupa hantu atau roh jahat yang berwujud seperti api dan berelemen utama api)^^^
Indukanti yang belum genap berusia dua puluh tahun, ikut ke Bhumi Javacekwara dan mulai menjalani harinya sebagai selir. Namun, dia tidak bisa melahirkan penerus kerajaan dari rahimnya yang mengalami gangguan.
Hingga akhirnya kejadian naas itu pun terjadi. Permaisuri ke enam memberontak, sebab merasa cemburu pada permaisuri pertama yang akhirnya memiliki seorang putra. Terlebih lagi Sri Maharaja II langsung mengangkat bayi merah itu sebagai Yuwaraja Bhumi Javacekwara. Mengabaikan kehadiran Mahesa yang terlahir beberapa tahun lebih awal dari Abinawa.
^^^(Bayi Merah; bayi yang baru saja dilahirkan)^^^
Garwa padmi, garwa ampeyan, dan gundik dihabisi tanpa ampun. Indukanti berhasil kabur berkat pertolongan seorang waracethi tua dari kediaman permaisuri pertama. Berdua, mereka membawa Putra Mahkota untuk bersembunyi di wilayah Bhumi Acarya.
^^^(Garwa Padmi; Istri utama/Istri sah [Permaisuri]. Garwa Ampeyan; Istri raja yang tidak diangkat menjadi permaisuri/Istri selir/Selir. Gundik; Wanita simpanan yang derajatnya lebih rendah/Budak simpanan dengan tujuan kesenangan semata)^^^
Lima tahun berlalu, karena tidak ada kabar dari Abinawa, Sri Maharaja II pun berencana mengangkat putra satu-satunya yang tersisa dari seorang permaisuri, yakni Pangeran Mahesa—putra permaisuri ke enam—sebagai Yuwaraja. Timbul pertentangan yang terjadi di antara kubu pendukung Abinawa dan Mahesa.
"Paduka. Hamba memohon agar Anda mempertimbangkan kembali keputusan mengangkat Pangeran Mahesa menjadi Yuwaraja Bhumi Javacekwara. Mengingat kekejian yang telah diperbuat Ibunya, posisi itu sangat tidak pantas baginya," tutur Jayendra.
"Paduka. Tidak seharusnya dosa orang tua ditanggung oleh anak-anak mereka. Apa yang dikatakan oleh Bhre Jayendra sangat tidak pantas. Meski permaisuri ke enam melakukan perbuatan keji di masa lalu, tapi Pangeran Mahesa hanya seorang bocah yang tidak berdosa. Dia hanya tidak beruntung karena harus hidup di bawah bayang-bayang dosa Ibundanya. Mohon Paduka berbelas kasih padanya." Mahamantri Adiyaksa berujar setulus hati.
Rangga melangkah maju di antara kedua anggota keluarganya. "Paduka. Kita tidak memiliki pilihan selain mengangkat Pangeran Mahesa menjadi Yuwaraja Bhumi Javacekwara. Bhumi Girilaya dan Bhumi Namaini terus mengganggu kestabilan Bhumi Javacekwara. Bila sampai tersiar kabar ke telinga mereka bahwa Yuwaraja Bhumi Javacekwara berkeliaran bebas di luar sana, saya takut bahwa kita akan benar-benar kehilangan seorang penerus takhta. Tapi, bila kita mengangkat Pangeran Mahesa sekalipun tersiar kabar bahwa Yuwaraja Bhumi Javacekwara berkelana di luar tembok kedaton, hal itu tidak akan menjadi ancaman yang berarti bagi Yuwaraja sendiri dan juga bagi nagari. Semoga Paduka memahami maksud baik hamba."
Setelah mendapat masukan dari para petinggi istana, Sri Maharaja II pun menggelar upacara penobatan Pangeran Mahesa sebagai Yuwaraja Bhumi Javacekwara.
Indukanti yang mendengar berita ini merasa bahwa hal itu tidak adil dan akan membuat jiwa permaisuri pertama tidak tenang. Selain itu, akan timbul ketidakpuasan dari pihak Bhumi Acarya yang berakibat pada goyahnya koalisi yang selama ini sudah berjalan dengan baik. Tahun berikutnya, pada ulang tahun Abinawa yang ke enam, dia membawa anak itu kembali ke Bhumi Javacekwara. Waracethi tua dari kediaman permaisuri pertama pun memberikan kesaksiannya.
__ADS_1
Posisi Yuwaraja dikembalikan pada pemilik sebelumnya, membuat putra permaisuri ke enam kembali menjadi bahan pergunjingan akibat ulah Ibundanya di masa silam.
"Kejadian demi kejadian telah aku saksikan. Hidup-mati. Baik-buruk. Aku sudah melihatnya dan melaluinya. Semua itu memberiku pelajaran yang berharga." Indukanti menghentikan langkahnya, menatap Anatari dengan kesungguhannya. "Kuharap kau bisa memetik pelajaran dari hal ini. Hati akan menuntunmu pada kebenaran. Pikiran akan menuntunmu pada jalan keluar. Ikuti kata hatimu. Buatlah keputusan dengan bijak."
"Saya akan selalu mengingat perkataan Gusti Kangjeng Ratu."
Indukanti tersenyum senang. "Kau tidak perlu menuruti kehendak orang lain. Hidupmu adalah milikmu."
"Saya akan mengingatnya."
Anatari melangkah keluar kediaman Permaisuri diikuti Jiyem dan Liyem.
Di belakang mereka, Indukanti baru saja muncul dari kelokan di ujung jalan bersama para pelayannya.
"Kangjeng Ratu, bukankah itu Gusti Raden Ayu Anatari," ucap pelayan utama.
Indukanti memerhatikan dengan seksama.
"Apa yang dilakukannya di sini?" sambung orang yang sama.
Kala itu, Sagara bergegas keluar dari pintu gapura.
Manik uzur pelayan utama terbuka lebar-lebar. "Bukankah itu Kepala Pengawal Yuwaraja? Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia dan calon Permaisuri Yuwaraja bertemu diam-diam di sini? Kangjeng Ratu ...."
"Kau terlalu ingin tahu, Mbok," ucap Indukanti.
"Hamba mohon ampun, Kangjeng Ratu."
Indukanti tidak ingin memperbesar masalah ini. Dia yakin bahwa Abinawa sedang memainkan trik kecilnya. Urusan pernikahan Sang Putra yang juga melibatkan Mahesa, dia tidak ingin mencampurinya.
"Apa yang kalian lihat tidak semestinya tersiar keluar tembok kediamanku. Mengerti?"
"Hamba mengerti, Kangjeng Ratu."
Sagara tak mengendurkan langkahnya, terburu-buru menuju Pendopo Ageng. Kala itu Sri Maharaja II sedang mengumumkan waktu pernikahan Abinawa dan Gusti Raden Ayu Anatari Lingga dari Girilaya.
"Mengingat pentingnya acara ini, maka semuanya harus berjalan dengan baik. Satu demi satu harus terencana dengan apik. Satu kesalahan kecil akan menjadi hukuman berat bagi yang melakukannya." Sri Maharaja II menyatakan dengan tegas.
Seorang pejabat tertinggi memberanikan diri untuk mempertanyakan hubungan Anatari dan Mahesa, karena telah tersiar kabar bahwa Gusti Kangjeng Ratu Indukanti telah menghukum cambuk Anatari yang kedapatan berpelukan dengan Mahesa.
"Hubungan Gusti Raden Ayu Anatari Lingga dengan Pangeran Mahesa harus diselidiki terlebih dahulu. Hamba berani mengemukakan pendapat ini karena Yuwaraja adalah penerus takhta Bhumi Javacekwara. Bagaimana jadinya bila Yuwaraja memiliki permaisuri yang tidak setia? Awalnya akan berakibat pada hubungan pribadi Yuwaraja, tapi lambat laun akan melibatkan kedua nagari," jelas Mahamantri Adiyaksa.
Sri Maharaja II melirik putranya. "Tidak kah kau ingin menjelaskan sesuatu pada mereka, Yuwaraja?"
"Benar, Paduka. Hamba memiliki satu dua hal yang ingin diutarakan."
Sri Maharaja II memberikan persetujuan melalui anggukannya.
"Mengenai Pangeran Mahesa dan Gusti Raden Ayu Anatari Lingga, saya bisa memastikan bahwa keduanya tidak memiliki hubungan seperti yang kalian pikirkan. Tuan Putri dari Girilaya akan mematuhi segala aturan Javacekwara sebagai keluarga ...."
"Jika di masa depan terjadi kekacauan yang disebabkan oleh Gusti Raden Ayu Anatari Lingga, apakah Yuwaraja bersedia memberikan hukuman dengan tangan Yuwaraja sendiri dan menanggung semua akibatnya?" tantang Mahamantri Adiyaksa, tidak sabar.
Abinawa menangkap keberadaan Sagara di depan barisan prajurit di luar Pendopo Ageng. Sagara mengangguk padanya.
"Aku akan melakukannya."
Para pejabat berkasak kusuk, mempertanyakan sendiri tanggapan yang akan mereka berikan.
__ADS_1