
Sri Maharaja berdiri dari tempat duduknya diikuti Abinawa dan Anatari serta Indukanti yang berada satu meja dengannya.
"Hari ini adalah hari paling penting bagiku, bukan hanya karena pernikahan putraku, Yuwaraja Abinawa Wiradharma dengan Gusti Raden Ayu Anatari Lingga. Tetapi, juga, atas bersatunya dua nagari. Javacekwara dan Girilaya. Aku patut bersyukur atas kemurahan hati Ratu Falguni dari Girilaya yang telah menyetujui perjanjian kerjasama dengan Javacekwara. Oleh karena telah selesainya upacara pernikahan dan pemberian gelar baru kepada Gusti Raden Ayu Anatari Lingga, maka mulai malam ini gelar Gusti Kangjeng Ratu resmi disematkan di depan nama menantuku, Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga." Sri Maharaja II mengumumkan penuh kebanggaan.
Ratu Falguni berdiri, membawa serta gelas keramik dalam genggamannya. "Mari kita lupakan cerita lalu, membuka halaman baru, dan, mengisinya dengan cerita-cerita penuh kedamaian. Ratu Falguni mengangkat gelasnya ke arah Abinawa dan Anatari. "Semoga Yuwaraja Abinawa Wiradharma dan Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga dianugerahi kemuliaan dan kebahagiaan."
Sri Maharaja melakukan hal yang sama, diikuti para tetamu yang serempak berdiri seraya berujar, "Semoga Yuwaraja Abinawa Wiradharma dan Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga dianugerahi kemuliaan dan kebahagiaan."
Bersama, meminum tuak dari gelas keramik dalam genggaman.
Tujuh orang penari memasuki Pendopo Ageng diiringi tabuhan gamelan, menempati formasi di tengah ruangan. Hadirin undangan duduk bersila di pinggiran, dibalik meja kayu panjang yang dipenuhi aneka rupa hidangan dan minuman. Vas-vas keramik yang berada di beberapa titik tertentu di dalam pendopo yang berbentuk memanjang, menampung banyak kuntum bunga sedap malam. Tak lupa di halaman luar digelar permadani-permadani indah dan tebal sebagai alas duduk bagi mereka yang tidak kebagian tempat di bawah naungan atap Pendopo Ageng. Meski begitu, tidak mengurangi sedikitpun suka cita yang mereka rasakan.
Tarian. Alunan laras slendro. Wangi sedap malam yang berbaur mesra dengan melati, tak pernah gagal menghadirkan kedamaian dan ketenangan yang menghipnotis jiwa dan pikiran. Membuat suasana menjadi khidmat berselimuti aura mistis seketika.
Baik di Kuthanagara maupun di desa-desa yang tersebar dipisahkan hutan, sungai, dan pegunungan, nuansa kebahagiaan tetaplah terasa. Para pria menenggelamkan kesadaran mereka dalam nikmatnya tuak beras dan aren. Para wanita yang memiliki kemampuan menari, menunjukkan keahlian gerak lembut anggota tubuhnya diiringi tetabuhan gamelan.
Kebahagiaan yang tak terkira membelokkan waktu demi waktu tanpa terasa. Pertunjukkan Wayang Beber menghibur tepat di pergantian malam. Sang dalang membawakan kisah perjalanan kehidupan manusia dari mulai bayi merah hingga siap dijemput ajal. Sedih, susah, senang, diceritakan dengan apik, membawa emosi kuat kepada penonton. Gelak tawa sesekali terdengar kala sang dalang menunjukkan sisi humornya.
Abinawa mulai merasa pening sebab menghabiskan beberapa kendil tuak yang seharusnya dipantangnya. Meski sudah menolak, Janardana dan Rangga tetap memenuhi cangkir Abinawa begitu isi didalamnya telah habis tak bersisa. Kini, dia memerhatikan dua makhluk di hadapannya di mana Janardana dan Rangga sedang beradu argumen mengenai pengalaman malam pertama. Abinawa menenggelamkan kepalanya ke dalam telapak tangan penuh putus asa. Dia tidak bisa melakukannya. Dia pria sejati.
Mabuk adalah satu-satunya momen yang tidak pernah memandang jabatanmu, dari keluarga mana kau berasal, atau bahkan siapa dirimu, setegas apapun sikapmu, sekuat apapun kesaktianmu. Di saat mabuk, kau hanya akan menjadi dirimu sendiri. Berada di ambang batas sadar dan tidak, menarik wujud aslimu yang takkan mampu terus bersembunyi.
Seperti halnya Janardana dan Rangga. Ketika mereka mabuk, sifat mata keranjang keduanya mulai nampak. Abinawa melirik Ayahandanya yang juga berada di bawah pengaruh alkohol. Sri Maharaja II masih duduk dengan tenang, tetapi matanya yang serupa elang, mengunci Falguni yang sedang berbicang dengan Dyah Candrawati dan Jayendra.
Abinawa mengedarkan pandangannya, mencari-cari keberadaan Anatari yang tak nampak lagi. Baru saja dia mengangkat pinggulnya, Rangga dan Janardana menarik tangannya.
"Aku tahu hendak ke mana kau akan pergi, heh." Nada bicara Janardana sudah tak karuan didengar.
Rangga menjejalkan paksa secangkir tuak ke dalam genggaman Abinawa. "Minum. Minum. Habiskan agar kau memiliki keberanian lebih dalam menghadapi Anatari."
Abinawa menerima tawaran kedua Pamannya dengan seulas senyum keengganan. Lantunan kidung tentang kehidupan mulai terdengar. Abinawa mengedikan kepalanya ke arah seorang pesinden muda. "Bukankah itu sinden yang akhir-akhir ini ramai diperbincangankan kaum pria di Javacekwara?"
Janardana dan Rangga menoleh secepat kilat. Abinawa buru-buru menuangkan tuak dari dalam cangkirnya ke dalam cangkir Janardana yang telah kosong.
"Matamu sungguh jeli, Keponakanku." Rangga tersenyum berseri-seri, menepuk-nepuk bahu Abinawa.
Abinawa menjulurkan lehernya di atas meja. "Nikmati pertunjukkannya. Aku pamit." Dia menunjukkan cangkirnya yang sudah kosong, lantas pergi.
Janardana dan Rangga si pria berkumis tipis, membiarkan Abinawa melenggang bebas menuju kediamannya. Abinawa sempat berhenti di tengah jalan, berpikir sejenak arah tujuannya. Perlukah dia pergi ke kediaman Anatari di keputren atau langsung menuju ke kediamannya saja. Malam ini dia harus menjernihkan satu hal dengan Sagara. Abinawa sudah harus menyudahi penyamaran Sagara sebagai Anatari Lingga.
__ADS_1
Abinawa memasuki kediaman Anatari yang pintu gapuranya terbuka tanpa penjagaan. Abdi dalem dan pengawal sedang makan dan minum bersama di gazebo dekat kolam. Pintu kediaman Anatari pun terbuka lebar, terlihat rapi setelah dibereskan.
Abinawa tertegun. Sepertinya dia tidak kembali.
Abinawa kembali ke kediamannya. Langkahnya terhenti di tengah halaman depan. Api penerangan di sekitarnya menyala, tetapi di dalam rumah begitu gelap gulita dengan pintunya yang tertutup rapat. Suasana di sekitarnya hening. Tak ada satu pun suara abdi dalem dan pengawal yang ikut bersuka ria.
Abinawa melangkah waspada, membuka pintu gebyok tanpa menimbulkan banyak suara. Di tengah ruangan tampak seseorang sedang duduk, menunggunya. Anatari. Abinawa memicingkan mata. "Sagara."
"Sagara?" Orang itu menatap tajam Abinawa. "Apa kalian begitu tidak terpisahkan?"
"Anatari," gumam Abinawa.
"Sagara," panggil Anatari.
Sagara muncul dari arah belakang Abinawa dengan pakaian yang biasa dikenkaannya."Hamba, di sini, Kangjeng Ratu."
Anatari meniup lampu minyak kecil di hadapannya, api seketika muncul entah dari mana, lalu dia mengibaskan tangannya. Angin berhembus lembut, menyebarkan percikan api ke seluruh lampu minyak yang berada di ruangan.
Dia sudah mengingat ajian kanuragan yang dikuasainya? batin Abinawa.
Anatari menuangkan teh hangat yang masih berasap, menyorong cangkir keramik ke arah Abinawa yang masih tertanam di tempatnya berdiri. "Kau pasti telah banyak menikmati tuak di perjamuan makan. Masih maukah minum teh bersamaku?" tanya Anatari, memamerkan sebaris gigi putih yang rapi saat kedua sudut bibirnya terangkat.
Perempuan itu tidak memakai pakaian pengantin, tidak juga ada jejak tata rias yang tertinggal di setiap lekuk kontur wajahnya. Dia terlihat anggun tanpa polesan bedak dan gincu tebal. Wajahnya yang sendu cenderung pucat. Namun, memancarkan aura cemerlang keemasan yang terkesan dingin.
"Aku memang kembali, tapi terlambat untuk mengikuti upacara pernikahan. Mohon maafkan aku. Aku tidak bisa mempertanggungjawabkan keputusanku," sesal Anatari.
Dahi Abinawa berkerut dalam. Tangan kanannya menggenggam cangkir di atas meja, yang kiri mengepal erat di atas pukang. "Kenapa kau memilih kembali?"
"Aku bukan orang yang tidak tahu diri. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Baik-buruk sesungguhnya aku sendiri tidak tahu. Yang aku yakini bahwasanya setiap manusia tidak dapat lari dari takdir yang telah digariskan untuknya. Aku memang mencoba mengkhianati takdirku, tapi tali jodoh berhasil membawaku kembali ke tempat ini," tutur Anatari.
"Bagaimana dengan Mahesa?"
"Kau tidak perlu mencemaskannya. Hanya itu yang dia katakan. Hanya itu juga yang bisa aku beritahukan." Anatari melirik Abinawa dan Sagara bergantian. "Sekarang keadaannya sudah seperti ini. Untuk kedepannya, aku ikut rencanamu saja. Gelar Gusti Kangjeng Ratu aku anggap sebagai hiasan karena sepertinya ada yang lebih berhak menyandangnya daripada diriku."
Sagara menunduk dalam, mengutuk dirinya dalam bungkam, pun menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
"Mengenai tempat tinggal, aku ingin tetap berada di keputren."
"Tidak bisa," tolak Abinawa, segera.
__ADS_1
Satu alis Anatari meninggi. "Mengapa? Bukankah seharusnya memang begitu?"
"Apa kau sudah lupa dengan apa yang pernah kau katakan padaku beberapa waktu silam?" Abinawa memerhatikan raut wajah serius Anatari. "Selama aku bisa melindungimu dan juga tidak berencana menambah permaisuri, selir, juga gundik ... kau bersedia menjadi permaisuriku. Itulah yang kau katakan dulu. Aku sudah menikahimu dan menerima persyaratanmu. Oleh karenanya, aku menyampaikan permintaan kepada Sri Maharaja untuk menempatkanmu di dalam kediamanku. Mulai detik ini sampai batas waktu tak terhingga sepanjang pernikahan kita."
"Hal itu tidak termasuk dalam perjanjian kita."
Abinawa menyesap tehnya diliputi rasa senang. "Itu hanya sebuah improvisasi dariku agar persyaratanmu mendapat persetujuan Sri Maharaja. Dan berhasil."
"Tapi yang berada di sisimu sepanjang upacara pernikahan adalah Sagara, bukan aku," kilah Anatari.
"Janji pernikahan diucapkan atas namamu dan namaku. Yang selama ini bersamaku, bukanlah Sagara, melainkan perwujudan Anatari. Orang lain tidak akan ada yang tahu atau bahkan mencurigai sosok siapa yang sebenarnya ada di sana. Sekalipun kau berkilah, pernikahan kita tetap sah, sebab yang membuat kita bersatu adalah sumpah yang atas namaku dan juga namamu," sanggah Abinawa dengan gayanya yang malas-malasan.
Anatari menarik satu sudut bibirnya. Dahinya berkerut dalam. Pria ini memiliki banyak akal bulus. Rupawan sih rupawan, tapi kalau selicin ular, tetap saja terasa menakutkan.
Abinawa tersenyum pongah mengetahui pemikiran Anatari. Namun, senyumnya langsung pudar begitu merasakan ketidaknyamanan di dalam perutnya. Dia pun bergegas pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Anatari menatap keheranan. "Kenapa dengannya?"
"Yuwaraja terlalu banyak minum tuak di acara perjamuan sehingga memengaruhi lambungnya." Sagara melirik Anatari dengan was-was. "Kenapa Anda tidak mengatakan yang sebenarnya?"
"Aku tidak akan melakukannya semudah itu. Aku mencoba yang terbaik untuk membalasnya, tetapi, aku seolah termakan rencanaku sendiri. Dia pandai bersiasat. Kau pasti sering terjebak dalam rencananya, kan?"
Sagara tersenyum. "Cukup sering, tapi tidak masalah. Yuwaraja memang seperti itu. Meski dia banyak bersiasat, tapi semua itu dimaksudkan untuk melindungi orang-orang disekitarnya. Jadi saya tidak pernah keberatan dengan sikapnya itu. Mohon Kangjng Ratu memaafkannya dan bersedia mengatakan yang sebenarnya."
"Aku bisa memaafkannya, tetapi mengatakan yang sebenarnya .... Hemph, siapa suruh dia menyuruhnu menggantikanku."
Anatari termangu. Dia mengingat pembicaraannya dengan Mahesa di dalam kereta kuda. Sebenarnya Anatari tidak berniat melarikan diri dengan sang Pangeran. Anatari memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara empat mata dengan Mahesa.
Anatari menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan tugas dari Falguni untuk menggerogoti Bhumi Javacekwara dari dalam, membuat Anatari harus menikah dengan Abinawa, sebab posisinya sebagai Permaisuri akan memberinya wewenang lebih dalam menjalankan rencananya.
Mahesa menentang. Dia mengancam akan melakukan kudeta, mengambil alih posisi penguasa Bhumi Javacekwara, sehingga Anatari tidak perlu menikah dengan adik tiri Mahesa.
Anatari menolak. Dia ingin, sekalipun Mahesa pada akhirnya akan mengambil alih kekuasaan, Mahesa harus tetap bersih dari segala skandal. Dengan demikian, rakyat dan para petinggi kerajaan akan menganggapnya sebagai calon penerus takhta yang layak.
Seperti yang sudah diperkirakan oleh Falguni, bahwa Mahesa jauh lebih mudah dikendalikan. Sang Pangeran menyatakan persetujuannya. Dia melepas Anatari untuk menikahi Abinawa. Namun, dengan satu syarat yang tak boleh dilanggar: Abinawa tidak boleh sampai menyentuh Anatari.
Anatari diturunkan dari kereta kuda di sisi luar hutan. Langkahnya tersuruk-suruk menapaki tanah merah lembab yang jarang-jarang ditumbuhi rerumputan. Dia berpaling sejenak ke balik bahunya, menatap kereta kuda yang berjalan menjauh.
Maafkan atas kebohonganku, Mahesa. Aku hanya ingin bertahan hidup demi menyelesaikan tugasku. Mengenai Abinawa ... aku tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1