Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 29. Harapan Ditelan Kegelapan


__ADS_3

Keputusan Abinawa meninggalkan Anatari berbuah tamparan keras yang meninggalkan jejak merah di pipi yang terasa panas. Anatari tidak menggunakan tenaga dalamnya, tapi kemarahannya. Dia meluapkan semua perasaan marahnya pada Abinawa melalui tamparan itu. Walau tidak terasa benar. Dia kecewa pada Abinawa yang meninggalkannya begitu saja. Sedangkan dirinya saat itu membutuhkan seseorang yang bisa menguatkannya. Yang akan menghiburnya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Anatari mengharapkan orang itu adalah Abinawa. Tapi ... kenyataannya dia sendirian. Selalu.


Anatari merapatkan diri, menepis jarak diantara keduanya. Kepalanya menunduk di dada Abinawa, terisak dalam dekapan kedua tangan milik seorang pria yang dirindukannya. Entah kapan rasa itu tumbuh dalam dirinya. Anatari tidak pernah menyadarinya. Perasaannya juga tidak diketahui pasti apakah untuk Abinawa ataukah Anzel.


"Menangislah jika itu membuatmu tenang," ucap Abinawa, terdengar hampir bergumam.


Anatari mengeratkan pelukannya. Dia tidak ingin Abinawa menghilang lagi dari sisinya.


...***...


Sinar mentari menyapa Bhumi Javacekwara. Namun, tidak secerah biasanya. Angin jauh lebih tenang. Cuaca panas membuat keringat bercucuran. Penduduk Javacekwara menjalani aktifitas dalam keadaan tenang dan damai. Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui kekisruhan yang telah terjadi di dalam lingkungan keluarga kerajaan. Mereka memang penasaran melihat keberadaan pasukan Bhumi Namaini yang berpatroli dalam kelompok-kelompok besar.


"Ke mana perginya pasukan kita?" tanya seorang pedagang sayur yang kiosnya baru saja dilalui pasukan Bhumi Namaini yang berpatroli.


"Pasukan kita? Sejak kapan Sri Maharaja jadi Bapakmu?" sahut pedagang kain yang lebih tua.


"Tidak perlu marah, Kek. Nanti umurmu pendek," sahut istri si pedagang tua.


"Memangnya Gusti Janardana belum kembali, sampai-sampai pasukan Bhumi Namaini harus turun tangan menjaga Javacekwara?" tanya pedagang buah yang seorang perempuan muda.


"Sepertinya belum," jawab si pedagang sayur.


"Mungkin saja akan ada acara pernikahan lagi," ujar si istri pedagang tua. "Sri Maharaja senang sekali menikahi perempuan-perempuan muda. Bisa jadi sekarang adalah pernikahan Yuwaraja Abinawa dan Gusti Putri dari Namaini yang kabarnya sangat cantik. Dia pasti menurunkan kebiasaan itu pada Yuwaraja."


"Nah, itu kemungkinan yang paling masuk akal," sahut si pedagang sayur.


Kelompok patroli pasukan Bhumi Namaini kembali, kali ini mereka membagikan selembaran yang menyatakan kesalahan fatal Abinawa sebagai Yuwaraja. Pun, kesalahan yang dilakukan Anatari. Keriuhan mulai terjadi di mana-mana, mempertanyakan kebenaran berita yang dikeluarkan pihak kedaton. Pro kontra dan adu argumen melanda semua kalangan penduduk Javacekwara.


...***...


Anatari dan Abinawa dijemput satu regu pasukan dari kediaman masing-masing. Keduanya dikawal ketat menuju penjara, melewati ribuan pasang mata yang penuh keingintahuan. Pasukan Bhumi Namaini membuat pagar manusia di kedua sisi jalan yang ramai dipadati penduduk.


Inilah kesepakatan yang telah dibuat Abinawa dan Mahesa. Abinawa memang diberikan kesempatan bertemu dengan Anatari, imbalannya, dia harus menyerahkan diri. Pun sebagai tebusan bagi nyawa kedua orangtuanya.


Anatari melirik ke arah barak prajurit. Pasukan Bhumi Namaini sedang menggiring pasukan Bhumi Javacekwara yang tersisa menuju entah ke mana.


Di sepanjang jalan, para penduduk mengulurkan tangan, mencoba menyentuh Abinawa.


"Yuwaraja."


"Yurajawa, apa yang terjadi?"


"Ini tidak benar. Yuwaraja!"


"Yuwaraja kami."


"Yuwaraja."


Wajah Abinawa datar tak terbaca. Anatari tidak tahu apa yang dipikirkan ataupun dirasakan pria itu kala dirinya dalam mode manekin. Anatari sesekali terseok karena tubuhnya masih belum pulih. Abinawa menoleh setiap kali Anatari menunjukkan tanda-tanda akan jatuh. Namun, dia tahu bahwa saat ini dirinya tidaklah berguna sebab kedua pergelangan tangannya dirantai. Begitupun Anatari.


Ratapan kesedihan dari para penduduk mengiringi di sepanjang perjalanan kami. Anatari tidak pernah menyadari seberapa berartikah Abinawa bagi rakyat Javacekwara, sebelum ini. Kesedihan dan ratapan yang diperlihatkan mencerminkan isi hati mereka.


Abinawa, andai saja aku memiliki lebih banyak waktu bersamamu, aku akan mengajukan ratusan bahkan ribuan pertanyaan hanya tentang dirimu. Setiap hari. Sampai aku benar-benar puas dan yakin bahwa hanya akulah yang paling mengerti dirimu. Aku berharap malaikat maut sedikit terlambat menjemputku.


Abinawa berpaling pada Anatari setelah mengetahui isi pikiran perempuan itu. Ingin sekali rasanya mendekap Anatari, tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia memalingkan wajah, membiarkan angin menyapu kesedihan di matanya yang berembun. Tapi angin telah menghilang dari Javacekwara, meninggalkan Abinawa dan genangan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.


Seorang prajurit dari Bhumi Namaini menarik tangan Anatari, mendorongnya masuk ke sebuah ruang tahanan beralas jerami.


Abinawa mendelik galak ke arah si prajurit yang justru dibalas senyum pongah.


"Gusti Putri!" seru Lavi. Si Kepala Pengawal memeluk erat junjungannya.


Anatari tersenyum lega tanpa mampu berkata-kata.


Abinawa dimasukkan ke dalam ruang tahanan yang bersebrangan dengan ruang tahanan Anatari.

__ADS_1


"Yuwaraja." Sagara dan Taruna memberi hormatnya.


"Syukurlah aku masih bisa melihat kalian. Bagaimana dengan Tambir dan Wiba? Ada kabar dari mereka?" tanya Abinawa.


"Maaf, Gusti. Kejadiannya begitu cepat sehingga kami tidak sempat saling mengabari," sesal Sagara.


"Tidak apa-apa." Abinawa berusaha menunjukkan senyumnya. "Lalu, Sri Maharaja dan Permaisuri Indukanti ... apa mereka selamat?"


Sagara menunduk dalam.


"Kami tidak tahu, Gusti. Kami dan tujuh prajurit telah tertangkap sejak masih berada di Kertarta," jawab Taruna.


"Apa Bhre Jayendra dan para penduduk Kertarta berhasil menyelamatkan diri?"


"Ada apa denganmu, Kangmas?" sela Sagara, kesal. "Kau hanya memedulikan orang lain. Selalu begitu. Lihat dirimu sekarang. Kangmas Mahesa telah merebut semuanya darimu. Sudah kuperingatkan untuk waspada padanya, tapi kau selalu saja bersikap naif."


Anatari dan Lavi mendengarkan, lebih tepatnya, memerhatikan dari balik jeruji kayu ruang tahanan mereka.


"Sagara, tenanglah. Yuwaraja bersikap begitu karena dia memikul tanggung jawab yang lebih besar daripada kita," ucap Taruna.


"Aku mengerti. Tapi ... tetap saja. Menurutku ini tidak benar." Sagara kesulitan menemukan kata-kata untuk diucapkan. Isi kepalanya terlalu lelah memikirkan semua rentetan peristiwa yang terjadi begitu cepat.


Abinawa duduk di ubin beralas jerami tanpa sungkan dan risih. "Kau terlalu banyak bicara, Dimas. Simpan tenagamu. Karena di sini, hari bisa terasa amat panjang." Abinawa menutup matanya.


Anatari memunggungi Abinawa. Apa yang Abinawa ucapkan memang benar. Anatari pernah merasakannya ketika kebebasannya dikorbankan demi keselamatannya. Sejak saat itulah, selama belasan tahun lamanya, Anatari menjadi seorang Putri Terkurung. Hingga jiwanya terombang ambing di tengah lautan kehampaan. Mempermainkan mental dan pikirannya dalam kemarahan.


Waktu terus bergulir. Tak tahu siang atau malam. Mereka berlima duduk dalam kebisuan, saling menjauh, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Makanan dan minuman tak lagi disuguhkan selama dua malam. Kondisi Anatari semakin lemah dan pucat. Dia berpaling pada Abinawa yang terus mengawasinya dari balik jeruji kayu pintu ruang tahanannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Abinawa. Meski suaranya tenang, sorot matanya begitu mencemaskan kondisi Anatari.


Anatari yang hendak tidur, segera membuka kelopak matanya yang berat. "Aku masih bisa bernapas."


"Masih memiliki tenaga untuk bercanda?" goda Abinawa.


"Bu-Bukankah itu memang benar. Jika di antara kita masih ada yang berada di luar istana, harapan masih terlihat jelas. Tapi melihat kenyataan sekarang, siapa yang bisa kita harapkan untuk datang menolong," ucap Lavi, putus asa.


"Kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk datang menolong. Harapan datang dari dalam diri. Kitalah yang harus menciptakannya. Di mana kita memiliki harapan tinggi akan sebuah kebebasan, maka Acintya akan menunjukkan jalannya sekalipun itu berupa celah sebesar lubang jarum," tutur Anatari, menyemangati.


"Bagaimana dengan Kangjeng Ratu? Apa harapan terbesar Anda dalam situasi seperti sekarang ini?" tanya Taruna.


"Aku tidak berani berharap lagi. Sekalipun aku memilikinya. Aku takut tidak bisa meraih kesempatan yang diberikan Acintya. Meridianku telah rusak. Hanya tinggal menunggu waktu --" ucap Anatari, lemah.


"Tidak perlu diteruskan," larang Abinawa. Apa yang akan Anatari ucapkan selanjutnya, Abinawa sudah dapat menebaknya. Karena itulah dia tidak ingin mendengarnya.


Lavi merasa bahwa pertanyaan Taruna terlalu sensitif, sehingga membuat junjungannya bersedih hati. Dia menggerakkan tangannya seolah ingin mencakar Taruna yang duduk bersandar di jeruji kayu ruang tahanannya. Taruna membalasnya dengan tatapan mengejek.


Sagara melayangkan bogem mentah ke kepala Taruna, membuat sang Wakil Kepala Pengawal mengacuhkan ajakan berkelahi dari Lavi.


Anatari duduk di tempat yang sama dengan Abinawa, hanya saja berada di ruang yang berbeda. "Kenapa kau kembali seorang diri? Bukankah sangat berbahaya. Apa kau memiliki rencanamu sendiri, Abinawa?"


"Tujuanku kembali ke Javacekwara adalah untuk pulang setelah melakukan tugas. Jadi, untuk apa aku harus membawa pasukan," jawab Abinawa, ringan.


Anatari terkekeh. "Bisakah memberitahuku ke mana kau pergi selama beberapa hari ini?"


Abinawa terdiam.


"Apa kalian mengetahui ke mana dia pergi selama beberapa hari ini?" tanya Anatari.


Sagara dan Taruna kompak menggeleng.


"Yuwaraja merahasikannya dari kami. Karena itu kami tidak berani bertanya lebih lanjut," sahut Sagara.


Seorang prajurit membuka kunci pintu ruang tahanan Anatari. Anatari bergegas berdiri dibantu Lavi. Dua prajurit lain beringsut masuk, menarik Lavi keluar.

__ADS_1


"Tunggu. Apa yang terjadi?" cegah Anatari.


"Dia akan dieksekusi hari ini," sahut prajurit yang membuka kunci pintu. "Bawa juga junjungannya keluar."


"Eksekusi," pekik Anatari.


"Kesalahan apa yang telah dia lakukan?" teriak Taruna. "Lavi!"


Lavi berpaling pada Taruna. Bingung dan panik terpancar di wajahnya.


Kedua prajurit menyeret Anatari dan Lavi keluar ruang tahanan. Keduanya digiring ke alun-alun kota yang telah disesaki seluruh penduduk Javacekwara. Rantai yang mengikat pergelangan tangan dan kaki dilepaskan.


"Berlutut," suruh si prajurit.


Keduanya berlutut di tengah lapangan tanah di bawah teriknya matahari. Di sebelah utara mereka terdapat panggung kayu yang telah dihias sedemikian rupa. Kain-kain sutra dalam gradasi warna ungu dibentangkan di atasnya. Mahesa, Jiera, Partha, dan ... orang yang memakai topi caping yang dikelilingi kain hitam, berada di sana. Di bawah bayang-bayang kenyamanan.


Partha turun. Menghampiri Anatari dan Lavi. Sebuah gulungan perkamen dibentangkan vertikal di depan wajahnya. Semua penduduk berlutut, memberikan hormat begitu menyadari perkamen yang berada dalam genggaman Partha adalah dekrit yang biasa dikeluarkan Sri Maharaja II.


"Lavi Kana. Sri Maharaja telah memutuskan bahwa kau bersalah telah melakukan persekongkolan dengan sekelompok perewa bertopeng. Dan, melakukan pemusnahan para penduduk Keharyapatihan Kertarta. Maka dari itu, Lavi Kana dijatuhi hukuman mati."


Lavi menggeleng keras-keras. Lavi bukan seorang pecundang yang akan lari dari tanggung jawab. Tapi, kini Lavi tidak ingin bertanggung jawab terhadap sesuatu yang jelas-jelas tidak dilakukan olehnya.


"Dia tidak melakukannya," bela Anatari.


"Mengingat Lavi Kana adalah Kepala Pengawal Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga, maka Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga yang akan melakukan proses eksekusinya," sambung Partha. Partha menggulung perkamen dan kembali ke atas panggung.


Anatari memeluk erat Lavi yang terkulai di bahunya. "Dia tidak melakukannya. Ini fitnah. Dia tidak melakukan apapun!"


"Kalau dia tidak melakukannya? Maka siapa pelaku sebenarnya?" tanya Jiera.


Anatari melirik Mahesa yang mengacuhkannya. Anatari mendengkus. "Kalian menjalankan rencana busuk untuk menjebak kami?"


"Kami tidak melakukan apapun, Kangjeng Ratu. Kami hanya menjalankan perintah Sri Maharaja berdasarkan laporan yang telah diberikan oleh seorang saksi," turur Jiera, memainkan nada suaranya.


"Saksi? Saksi yang telah kalian suap atau ancam?" tuduh Anatari.


"Jangan melemparkan tuduhan yang tidak berdasar, Kangjeng Ratu. Tapi jika kau memaksa, kau bisa mendengar sendiri kebenaran yang telah kau sembunyikan." Jiera memberi isyarat pada prajurit di belakang Anatari.


Penduduk yang berkerumun di sana menepi, memberikan jalan pada orang yang Anatari kenal.


"Bhre Jayendra, bersediakah kau mengulang apa yang telah kau katakan pada Sri Maharaja mengenai kejadian di Kertarta? Aku ingin menjernihkan tuduhan Gusti Kangjeng Ratu Anatari Lingga yang tidak berdasar, " tutur Mahesa.


"Bersedia, Pangeran." Bhre Jayendra menatap lurus Anatari. "Aku tidak menyukai perempuan ini. Itu adalah kenyataan. Aku selalu merasa bahwa kehadirannya di Javacekwara hanya akan mendatangkan bencana. Dan itu benar. Malam itu, dia memakai kembali topeng terkutuknya, memimpin dedemit Canggal dan para Pendekar Tersumpah untuk membuat kehancuran di Keharyapatihan Kertarta. Seluruh rumah hangus terbakar. Tua-muda dihabisinya tanpa pandang bulu. Perangainya malam itu tidak ubahnya seperti iblis yang mengamuk. Dan perempuan disampingnya, dia tangan kanannya."


"Cukup, Bhre Jayendra," suru Mahesa. "Kau boleh pergi."


Satu tangan Anatari memegnag pergelangan kaki Jayendra, sedang satu lagi memeluk Lavi yang terisak. "Itu bohong. Kakek! Katakan yang sebenarnya. Aku mohon!"


Bhre Jayendra memalingkan wajahnya dari Anatari. Lavi tersedu-sedan di pelukan Anatari, memeluk dengan sangat erat pinggang junjungannya.


"Laksanakan proses eksekusinya," titah Jiera.


"Aku mohon biarkan kami membuktikan bahwa kami tidak bersalah," ratap Anatari.


Empat orang prajurit memisahkan keduanya. Tubuh lemah Anatari dipaksa berdiri. Lavi diseret dan dipaksa berlutut. Orang yang memakai topi caping turun dari panggung, mengeluarkan kerisnya. Diberikannya keris itu pada Anatari.


"Gusti Putri," isak Lavi.


"Dia layak mati."


"Dia pantas mati."


"Hukum perempuan itu."


Tubuh Anatari gemetar mendengar seruan ribuan orang menyuruhnya melakukan sesuatu yang jelas tidak ingin dilakukannya. Keris dalam genggaman tangannya hampir terlepas. Orang bertopi caping memegang tangan Anatari dengan sigap. Kini tangan yang gemetar memegang keris itu sudah lebih dari siap untuk melakukan serangan.

__ADS_1


"Lemaskan," bisik orang itu.


Manik gelap Anatari melebar. Napasnya berhenti seketika. Darah menciprat ke wajah Anatari.


__ADS_2