
Anatari menarik napas dalam-dalam, meraup ketenangannya yang berhamburan. Perutnya terpilin-pilin melihat darah masih merembes kaluar dari sisi kanan perut si pria naas, menggenang ke bawah bokongnya. Tatapannya naik pada dindng kayu di belakang mayat pria itu. Mulut Anatari bergerak sedikit terbuka, melafalkan setiap satu huruf yang dibacanya tanpa mengeluarkan suara. Mulanya dia tidak mengerti, mengulanginya hingga dua kali, barulah dia memahaminya.
Walau ditulis menggunakan Aksara Kawi, akan tetapi jika dibaca dengan teliti akan membentuk sebuah kalimat yang mudah dimengerti: Manusia yang bersembunyi dibalik topeng tidak akan pernah menjadi utusan Dewata. Sederhananya, itu adalah kalimat dalam Bahasa Indonesia yang ditulis menggunakan Aksara Kawi.
"Apa maksud pesan di dinding? Kepada siapa pesan itu ditujukan? Siapa pria yang terbunuh itu? Atas alasan apa dia dibunuh?" tanya Anatari, lambat-lambat.
Abinawa menghalangi sumber keingintahuan Anatari dengan tubuhnya seraya berkata, "Aku akan mengantarmu kembali ke keputren."
"Aku belum mendapat menjawab atas pertanyaanku."
Manik cokelat terang Abiwana tak lagi menunjukkan keramahan. "Kau tidak memiliki krediblitas untuk mengetahui jawabannya."
Tak.
Perhatian keempat orang yang berada di dalam ruangan teralihkan oleh suara yang berasal dari atap. Abinawa memberi isyarat mata agar Sagara lekas memeriksa keadaan di luar. Selang beberapa saat kemudian, terdengar suara perkelahian dari sisi kiri di luar bangunan. Bunyi debam keras menggetarkan dinding kayu gudang tua, instingtif membuat Anatari tersentak ke balakang Abinawa.
"Taruna. Antar Gusti Raden Ayu kembali ke kediamannya," suruh Abinawa.
"Sendiko."
Abinawa berkelebat cepat menysusul Sagara yang sibuk meladeni jurus-jurus seseorang yang wajahnya tersembunyi di bawah topi caping yang dikelilingi kain hitam. Abinawa mengamati perkelahian keduanya dari tepi lapangan berpasir di belakang kediamannya. Dahinya berkerut. Tangan kananya mengepal di depan pinggang, yang kiri mengepal geram di samping tubuhnya.
Tenaga dalam orang itu jauh lebih baik dari Sagara. Dia tidak akan mampu menahannya cukup lama. Jika memaksakan diri, takutnya orang itu akan mengeluarkan jurus yang tidak dapat dihalau oleh Sagara.
Abinawa menjejakan satu kakinya ke depan, mendorong tubuhnnya meluncur ke udara. Teriakan Anatari terdengar santer seketika, membuat Abinawa mengurungkan niat untuk membantu Kepala Pengawal Pribadinya. Konsentrasinya terpecah. Tubuhnya terbanting ke atas tanah.
Pria bertopi itu mengulurkan tangannya pada Anatari. Taruna menghalau serangannya, mengakibatkan tubuhnya terpental ke belakang, melewati perempuan yang berdiri gemetar melihatnya. Anatari pernah menyaksikan pertarungan sengit yang serupa sebelumnya. Dia selalu merasa bersemangat juga gemas kala para pendekar sakti mandraguna beradu jurus yang mereka kuasai, berusaha saling melukai, mengalahkan, bahkan membunuh. Dia akan ikut merasa puas kala penjahat dibuat bertekuk lutut meminta pengampunan. Tetapi, semua itu disaksikannya melalui layar kaca. Sementara, sekarang, dia menyaksikan secara live, real time, nyata, di depan mata, dan ... rasanya ... sangat berbeda.
Abinawa mengambil beberapa batu putih di dekatnya, melemparnya pada si penyerang dengan kekuatan penuh. Tiga batu itu mengenai titik vital di leher, pelipis, dan belakang telinga. Saat perhatian musuhnya teralihkan, Sagara memukul punggung lawannya dengan tenaga dalam yang terpusat pada telapak tangannya.
Pria itu berguling ke depan. Taruna merentangkan tangannya di depan Anatari agar perempuan itu mundur beberapa langkah dari orang yang telah mencoba menyerangnya.
"Siapa kau?" Ucapan Abinawa terdengar tenang. Namun, tidak dengan matanya yang berkilat tajam dan dingin.
Anatari merasakan dalam beberapa kali pertemuannya dengan Abinawa, pria itu memiliki aura putra bangsawan dengan etika sempurna, ramah, dan tenang. Berbanding tiga ratus enam puluh derajat dengan apa yang dilihatnya malam ini; dingin, tegas, dan sedikit kilatan mata yang kejam.
Seketika muncul bayangan hitam yang wujudnya tidak begitu jelas. Sosok itu memegang satu sisi bahu si pria bertopi. Kejadiannya begitu cepat, sampai-sampai Abinawa sendiri tidak sempat menghalau raibnya kedua makhluk misterius itu.
"Panglimunan," gumam Anatari, tanpa dia sadari.
Abinawa melirik Anatari dari sudut matanya.
^^^(Panglimunan; Salah satu ilmu/ajian gaib yang dikenal di nusantara, yang dipercaya memiliki kemampuan agar tidak terlihat di mata orang lain)^^^
Anatari memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang sebenarnya telah terjadi di kediamanmu?"
Abinawa menghadapi Anatari, Sebelah wajahnya diterangi cahaya obor dan sisi lainnya tersembunyi dalam kegelapan, membuat Anatari tidak dapat membaca dengan pasti ekspresi macam apa yang Abinawa tunjukkan. Bagai dua sisi yang mewakili identitas sang Putra Mahkota.
"Kembalilah ke keputren. Aku tidak mengantarmu." Abinawa yang terbiasa bicara tenang dan banyak basa-basi kini tegas dan lugas, menunjukkan superioritasnya.
Tidak dapat dipungkiri memang sikapnya sepadan dengan perawakannya yang kharismatik.
Aku tidak sedang memujinya.
Anatari merintangi jalan Abinawa. "Kau melakukan kejahatan?"
Otot dahi Abinawa berkedut, marah, tapi berusaha menahan diri. Bertengkar dengan perempuan hanya akan menghabiskan tenaganya dalam adu argumen tanpa ujung, karena bagaimanapun perempuan akan selalu benar. Kala terpojok, mereka akan mengakhirinya dengan limpahan air mata. "Pulanglah." Ada penekanan yang dipaksakan dalam intonasi suaranya.
Anatari bergantian menatap ketiga pria di dekatnya. Bersikap keras kepala tidak akan menghasilkan apapun. Ditambah lagi dia masih terguncang setelah melihat mayat berdarah-darah untuk kali pertama dalam hidupnya. Dia juga tidak bisa mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri yang pasti hancur lebur setelah terjun bebas dari gedung sembilan belas lantai. Anatari bergidik ngeri membayangkan tubuhnya yang telah tak bernyawa berenang di kolam darahnya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan melakukan yang kau perintahkan." Anatari mengangguk pada kedua dayangnya yang sedari tadi mengawasi di pinggir lapangan.
Anatari memang keluar dari kediaman Abinawa, tetapi tidak kembali ke keputren. Dia meminta bertemu dengan Janardana di kala pria paruh baya itu hendak beristirahat di atas pembaringannya.
"Apa yang membuatmu datang bertamu malam-malam begini? Kuharap kau memiliki alasan yang bagus untuk ini." Janardana berujar malas di tengah rasa kantuk yang melanda.
"Ada sesuatu yang harus Anda lihat," sahut Anatari.
Di dunia modern, setiap kasus kriminal hanya dapat ditangani oleh polisi, maka di dunia antah berantah ini, Janardana-lah yang memiliki hak istimewa untuk mengurus seluruh kasus kriminal. Paman Abinawa yang satu ini adalah orang penting yang mengurus hukum dan kemiliteran Bhumi Javacekwara.
"Apa tepatnya? Jika tidak penting, sebaiknya lupakan."
"Saya berharap Anda mencegah penerus nagari ini terjerumus kedalam kesesatan."
Janardana membelai janggutnya yang tak seberapa panjang. "Uhm? Penerus Nagari?"
Anatari mengangguk yakin.
Kedua orang itu berangkat menuju kediaman Abinawa bersama empat orang prajurit keamanan kedaton yang mengekor di belakang dengan membawa serta obor di tangan.
Setibanya di depan gapura kediaman Yuwaraja, mereka bersitegang dengan pengawal keamanan kediaman Abinawa yang tegas melarang kunjungan dadakan, terlebih disertai kehadiran prajurit keamanan kedaton. Sebenarnya yang mereka lakukan melanggar aturan, yang menyatakan bahwa tidak dibenarkan bagi siapapun untuk mengunjungi kediaman raja, permaisuri, dan putra mahkota dengan membawa serta prajurit keamanan kedaton. Dikhawatirkan akan menimbulkan anggapan adanya upaya perebutan kekuasaan secara paksa.
Abinawa, Sagara, dan Taruna dikejutkan oleh suara Anatari dan Janardana.
"Anatari membawa Ayahku kemari," terang Sagara.
"Yuwaraja. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Taruna.
"Taruna, cepat bereskan gudang kayu. Sagara ... kau bukakan pintu," perintah Abinawa.
"Sendiko."
Anatari, Janardana, dan tiga pengawal kediaman Abinawa terlibat aksi dorong. Anatari bertekad untuk masuk ke dalam kediaman Abinawa dengan cara apapun demi mendapatkan jawaban atas keingintahuannya. Mereka semua membeku begitu mendengar suara pintu kayu tinggi terbuka.
"Yuwaraja memerintahkan para tamu untuk masuk," ucap Sagara.
Janardana masuk lebih dulu disusul Anatari. Manik hitam Sagara mengilat tajam begitu ada pergerakan dari empat prajurit keamanan kedaton hendak mengekor ke dalam. Dia memasang badan di tengah-tengah pintu, menatap garang keempat prajurit yang bersikap siaga.
Abinawa tersenyum menyambut kehadiran tamu tidak diundangnya. "Sugeng dalu, Paman, dan ... kau lagi."
^^^(Sugeng dalu; Selamat malam)^^^
Anatari memalingkan wajah ke arah lain. Panggilan macam apa itu!
Aku belum tahu harus memanggilmu apa, jawab Abinawa dalam pikirannya.
Tentu saja Anatari tidak dapat mengetahui pemikiran pria itu, karena hanya Abinawa yang memiliki kemampuan membaca pikiran lawan bicaranya.
"Aku tidak menyangka Paman sudi mampir ke kediamanku pada larut malam begini sampai membuat kegaduhan yang tidak diperlukan. Apakah memang ada hal yang begitu mendesak untuk dibicarakan?" Abinawa bersikap dengan hormat, tidak dengan ucapannya.
"Aku mendengar ada seorang perewa yang berhasil menerbos masuk ke kediamanmu. Sudah tugasku untuk memastikan kebenaran hal itu. Semoga Yuwaraja tidak tersinggung karena aku harus memeriksa seluruh lingkungan kediaman dengan seksama. Ini semua demi menjaga keamanan dan keselamatan penerus takhta Javacekwara," alasan Janardana.
Abinawa melirik Anatari. "Itu hanya kericuhan kecil yang dibuat salah satu pengawal kediamanku yang mabuk." Perhatian Abinawa kembali pada Janardana. "Aku baik-baik saja. Silakan Paman kembali untuk beristirahat."
"Aku sudah di sini. Kembali begitu saja hanya akan mencoreng kehormatanku sebagai Rakryan Tumenggung. Lantas apa yang harus aku katakan pada Sri Maharaja ketika tuduhan pengabaian keselamatan Yuwaraja dilemparkan padaku? Andaikata Yuwaraja memiliki jawabannya, aku akan kembali seperti yang diperintahkan." Janardana bersikukuh.
^^^(Rakryan Tumenggung; Pejabat pelaksana pemerintahan yang bergerak di bidang keprajuritan)^^^
Anatari sangat mengharapkan kekejian apapun yang telah dilakukan Abinawa akan terungkap dan dihentikan sesegera mungkin. Ini menyangkut keputusan yang akan diambilnya dalam rangka mengurangi segala dosanya. Selain itu, Abinawa adalah Putra Mahkota dan Anatari ... calon istrinya. Dia ingin memastikan bahwa calon suaminya bukanlah seorang pelaku kriminal yang tak tersentuh hukum mengingat silsilah keluarga dan statusnya di nagari Javacekwara berada di urutan puncak klasemen yang dianggap perwakilan dari Dewata.
__ADS_1
Tunggu. Apa ini berhubungan dengan sesuatu?
Abinawa menarik naik satu sudut bibirnya. "Paman memang tidak akan pernah puas dengan alasan apapun yang akan aku berikan. Baiklah. Silakan periksa sesuka Paman."
Janardana menoleh ke arah gapura.
"Biarkan mereka masuk," izin Abinawa.
Sagara merespon dengan menepi dari tempatnya berdiri, memberi akses lewat pada empat prajurit bawahan Janardana.
"Periksa seluruh lingkungan kediaman Yuwaraja. Laporkan bila sekiranya ada yang mencurigakan," perintah Janardana.
"Sendiko," sahut keempat prajurit, serempak.
Abinawa terus menatap ke arah Anatari. Lembut dan dalam, tapi bibirnya menyunggingkan seringai sinis. Anatari bukan pakar ekspresi. Tatapan mata dan senyum yang bertolak belakang itu sungguh tidak dimengerti olehnya. Tapi, ya, berhasil membuat wajah Anatari memanas dan merona merah.
Janardana menyadari ada sesuatu di antara keduanya. "Kalian--"
"Apa yang dikatakannya pada Paman?" potong Abinawa.
"Maksudmu ... yang dikatakan Anatari?"
Abinawa tidak memberikan respon.
"Dia mengatakan padaku bahwa aku mesti mencegah penerus nagari ini terjerumus dalam kesesatan. Itu merujuk pada dirimu. Tapi, kesalahan apa yang sudah kau lakukan? Untuk itulah aku berada di sini. Kau tidak perlu cemas. Aku akan bersikap adil," imbuh Janardana.
Janardana tidak dapat dipercaya. Seharusnya dia merahasiakan narasumbernya. Sungguh tidak sesuai dengan posisinya sebagai Rakryan Tumenggung. Bila suatu saat Javacekwara terlibat peperangan, dikhawatirkan bukannya membantu nagari untuk menang perang, malah membocorkan siasat pasukannya sendiri pada musuh. Ck. Ck. Ck. Javacekwara bukan hanya akan mudah ditaklukkan, tapi juga dihancurkan, sebab kecerobohan pimpinan militernya yang bermulut besar.
Anatari tiba-tiba teringat sesuatu. Penerus nagari. Itu memang Abinawa. Lalu, manusia yang bersembunyi di balik topeng. Topeng? Bukankah itu merujuk pada wajah palsu? Pertunjukan? topeng. Dan utusan Dewata ... sepertinya merujuk pada posisi raja atau ratu yang selama ini diagungkan sebagai manusia terpilih utusan Dewata yang dharapkan dapat membawa kemakmuran, kemuliaan, dan kejayaan nagari yang dipimpinnya. Bila dipikirkan lagi, pesan berdarah itu: Manusia yang bersembunyi dibalik topeng tidak akan pernah menjadi utusan Dewata. Anatari melirik curiga sosok Abinawa yang tampak acuh tak acuh dengan situasi di sekitarnya pada saat ini. Apa tujuan Abinawa bersandiwara?
"Lapor, Gusti. Kami menemukan seseorang tergeletak tak sadarkan diri di gudang kayu," lapor satu bawahan Janardana.
"Antar aku ke sana."
"Lewat sini, Gusti."
Anatari hendak melangkah mengikuti Janardana, tetapi lengannya dicengkram. Perempuan itu memekik nyeri. Abinawa tampak tak peduli. Tangan pria itu terasa panas, menimbulkan rasa sakit pada lengannya. Anatari berusaha melepaskan diri dari cengkramannya. Namun, Abinawa menariknya semakin dekat.
"Gegabah," desis Abinawa.
Anatari terkesiap menatap wajah Abinawa dalam jarak yang begitu dekat, sebelum akhirnya memberanikan diri berkata, "Aku tidak akan bertindak gegabah seandanya kau memberitahuku kebenarannya."
"Oh. Seperti ini caramu mencari tahu? Ternyata kau orang yang suka mengadu," cibir Abinawa.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa pria yang akan aku nikahi bukanlah seorang kriminal. Dan, Gusti Janardana memiliki posisi yang tepat untuk membantuku mencari tahu."
Dahi Abinawa berkerut dalam. "Kriminal? Apa maksudmu?"
"Seorang penjahat yang tak segan melakukan segala upaya demi mencapai tujuannya," sahut Anatari.
Abinawa tidak habis pikir bahwa pikiran buruk Anatari padanya begitu kuat. "Seorang penjahat. Aku? Wah. Kalau begitu, bisakah kau menebak apa tujuanku?"
"Aku belum mengetahuinya." Anatari terlalu cepat memberikan jawabannya.
Abinawa mencibir.
Janardana merasa canggung melihat kedekatan Anatari dan Abinawa di tempat yang tidak terlalu terang pencahayaannya. Dia berdeham, mendekati keduanya, bersama empat bawahannya ditambah seorang pemuda yang Anatari kenal.
Perempuan berlesung pipi itu menoleh pada rombongan Janardana dan hampir pingsan dibuatnya. Abinawa meraih pinggang Anatari dengan sigap, menahannya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Bagaimana mungkin dia hidup kembali?