
Anatari meregangkan tubuhnya di atas pembaringan, sudah lama dia tidak merasakan tidur senyenyak ini. Tangannya terentang ke samping, mendarat di atas sesuatu yang hangat dan bergerak lambat. Anatari membuka matanya, mendapati Abinawa masih tertidur di sampingnya. Tangan Anatari yang berada di diafragma Abinawa, merasakan tarikan napas yang teratur. Pria itu tidur dengan tenang dan damai. Anatari memiringkan tubuhnya, menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
Maniknya berbinar menyisir setiap lekuk wajah Abinawa. Bila Anatari Lingga adalah kehidupanku di masa lampau, mungkinkah kau adalah dirinya? Setiap kali melihatmu, aku selalu merindukannya. Semakin merindukannya. Anatari memejamkan mata, mencegah air mata terjatuh tanpa diminta.
Abinawa terbangun segera, merebahkan Anatari di bawah kuasanya. Anatari membelalak saking terkejutnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Anatari tidak begitu jelas sebab suaranya tertahan di esofagus-nya.
"Siapa yang kau rindukan?" Suara Abinawa terdengar lembut.
"Apa maksudmu?" tanya Anatari, suaranya terdengar bergetar. "Kau ... bisa membaca pikiranku?"
Abinawa mengamati wajah Anatari, mencari jawaban dari keingintahuannya. Sebulir air mata terjatuh dari sudut terluar mata sayu Anatari.
"Untuk siapa air mata ini?" tanya Abinawa pelan, rasa tidak suka terlukis di wajahnya. Matanya bergerak menatap manik Anatari yang gugup. "Untuk Mahesa."
Anatari menggeleng, sayang Abinawa tidak melihatnya karena terburu membalikkan badan. Abinawa duduk di tepi pembaringan. Anatari kebingungan untuk memberikan penjelasan. Bagaimana aku harus menjelaskannya?
Air muka Abinawa berubah masam, memilih pergi ke bagian belakang ruang tidur untuk membersihkan diri.
Seorang waracethi memberitahukan bahwa Anatari harus segera menemui Falguni. Anatari mengiyakan dengan sedikit kesal. Bukan kesal kepada Falguni, melainkan kepada dirinya sendiri yang tidak bisa memberikan jawaban dari pertanyaan Abinawa.
Anatari melompat turun dari atas babragan, melesat ke ruangan di belakang kamar. Dilihatnya Abinawa sedang mengenakan aksesorisnya yang melambangkan bahwa dia seorang berkedudukan tinggi dalam struktur sebuah kerajaan. Abinawa telah selesai mengenakan semuanya. Kakinya melangkah mendekati sepasang gamparan yang dihiasi permata merah yang cemerlang. Namun, Anatari buru-buru mengambil sepasang terompah yang terbuat dari kayu dan kulit itu, menyodorkannya di depan kaki Abinawa yang terangkat. Abinawa memakinya dalam kebisuan.
Anatari lekas berdiri, memegang pergelangan tangan Abinawa untuk mencegahnya pergi. "Apa kau marah padaku?" Kakinya berjingjit, berusah menyamai tinggi Abinawa yang menjulang di depannya. Agar matanya bisa mencari tahu jawabannya dari ekspresi sekecil apapun yang diperlihatkan Abinawa.
Abinawa menghindar. Berpikir sejenak sampai akhirnya dia bertutur, "Aku tidak marah padamu. Anatari, seandainya aku yang lebih dulu bertemu denganmu ... apa kau akan menyukaiku?"
Anatari terdiam. Abinawa tersenyum.
"Jika kau tidak menghendaki hubungan ini, aku akan melepasmu."
Anatari kehilangan kata-kata, terpaku di tempatnya berdiri. Menatap kepergian Abinawa yang terasa mengganggu dirinya. Entah perasaan macam apa tepatnya. Air mata bergulir melintasi pipinya, mengalir ke dagunya, dan jatuh ke kakinya.
...***...
Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun, menunggangi kuda jantan cokelat gelap yang memiliki surai panjang mengkilap. Kaki kuda menghentak tanah dengan kuat, meliuk diantara pepohonan yang cukup rapat. Si penunggang kuda memberi aba-aba, membuat tunggangannya membelok dan melompat ke tempat terbuka.
Napas remaja itu memburu dibalik kain biru gelap yang menyembunyikan setengah wajahnya. Manik cokelat gelapnya menelisik ilalang liar di sekitarnya. Jauh di depannya, seekor kancil betina melompat-lompat dari rumpunan ilalang satu ke rumpunan ilalang yang lain. Dia mengangkat busurnya, membidik si kancil bertubuh gempal. Anak panah telah terpasang dan siap dilepaskan. Alih-alih seekor kancil yang dipanahnya, mata panah itu justru menyerempet lengan sebelah kiri seorang perempuan remaja berpakaian katun rami biasa.
Laki-laki itu mengutuk pelan melihat kancil buruannya berhasil meloloskan diri. Tatapannya beralih pada perempuan yang berdiri mematung, menatap darah merembes di kain selendangnya yang sederhana. Dilihat dari posturnya, perempuan itu tidak lebih dari lima belas tahun usianya.
"Maaf sudah membuatmu terluka. Berikan tanganmu biar aku memeriksanya," ujar si laki-laki.
Perempuan itu tidak menggubrisnya, melanjutkan apa yang sedang dilakukannya. Kedua tangannya menarik kuat pohon Mawar yang menyerupai semak belukar yang berbahaya sebab dipenuhi duri.
Laki-laki itu menjulurkan kepalanya, penuh keingintahuan. "Apa yang coba kau lakukan?"
__ADS_1
Perempuan itu tidak menggubris. Lagi.
Merasa ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi, laki-laki itu mencoba menghentikan perbuatan perempuan yang sedari tadi mengacuhkannya. Refleks perempuan itu menyingkirkan tangan si laki-laki yang berani menyentuh tangannya, dia mundur terhuyung hingga hampir terjatuh.
"Siapa yang memberimu ijin menyentuhku?" tegur si perempuan berambut lurus panjang yang setengahnya dibiarkan teturai hingga ke punggung.
Laki-laki itu tersenyum cerah. "Ternyata kau bisa bicara."
"Kenapa mengusikku? Urus urusanmu sendiri."
"Memangnya apa yang sedang kau kerjakan sampai tidak memedulikan tubuhmu yang terluka?"
Perempuan itu melirik lengan kirinya. Dia mengembus napas kasar.
"Aku tidak sengaja melakukannya. Sungguh. Aku hendak memanah seekor kancil, tapi kau muncul tiba-tiba dari dalam rumpunan ilalang, mengagetkan hewan buruanku sampai lari terbirit-birit," ujar si remaja laki-laki. Maniknya melirik kedua telapak tangan si perempuan yang dipenuhi luka goresan duri-duri Mawar. "Apa yang coba kau lakukan pada pohon itu?"
Remaja perempuan itu beralih dari si remaja laki-laki ke semak Mawar dalam tatapan datar. "Aku ingin membawanya ke rumah. Menanamnya di taman agar aku bisa melihatnya setiap saat."
Si remaja laki-laki memperhatikan semak Mawar di hadapannya. "Tanaman ini lebih banyak daun daripada bunganya. Apa yang membuat semak Mawar liar ini begitu menarik di matamu?"
"Mawar liar adalah tanaman yang memiliki bunga indah dan wangi. Dia adalah yang paling kuat dan mampu beradaptasi di daerah yang minim sumber air. Dia juga memiliki duri yang mampu melukai siapapun yang ingin merusaknya. Aku menyukainya karena dia indah, wangi, kuat, dan mematikan," jawab remaja perempuan, tanpa mengalihkan pandangannya dari sekuntum Bunga Mawar berkelopak tunggal yang sedang mekar sempurna.
Remaja laki-laki itu membungkuk, mematahkan batang paling bawah yang sudah cukup keras, lalu memotong ujung batang yang masih terasa lembek di bagian atas. "Tanamlah. Ini akan tumbuh dengan baik." Abinawa memberikan stek batang tanaman Mawar pada si remaja perempuan yang tertegun menatapnya. "Bukankah kau ingin menanamnya di taman rumahmu? Ambillah."
"Gusti! Gusti Putri!" panggil seorang gadis berusia sepuluh tahun.
Remaja perempuan itu meragu. Namun, tetap mengambil pemberian laki-laki misterius di hadapannya, kemudian berlari pergi.
...***...
Anatari melangkah secepat yang dia bisa menuju kediaman Falguni yang berada di belakang Pendopo Utama. Falguni memberi isyarat tangan pada para pelayan begitu Anatari menapaki serambi depan kediaman bibinya. Anatari pun diminta menutup pintu di belakangnya.
"Bibi mencariku?" tanya Anatari dengan napas tersengal.
Falguni mempersilakan Anatari duduk bersamanya di bale-bale. "Bagaimana keadaan tubuhmu saat ini?"
"Baik." Dahi Anatari berkerut. "Bahkan tidak pernah sebaik ini."
Falguni tersenyum senang. Selepas pembicaraannya dengan Abinawa semalam, keduanya menuju kediaman Anatari. Falguni menotok beberapa bagian tubuh Anatari, mulai dari bawah hingga ke atas. Berurutan dan perlahan. Aliran energi dalam tubuh Anatari yang semula tersumbat kini perlahan mengalir.
Falguni mengaku pada Abinawa bahwa dia tidak bisa membebaskan seluruh meridiannya sekaligus. Gelombang besar energi yang datang tiba-tiba akan membuat jantung Anatari berhenti untuk selamanya. Tapi, jika tidak dibuka dalam waktu dekat akan membuat tubuh Anatari luluh lantak sebab hentakan energi besar Mustika Naga yang sudah melebihi batas.
"Aku turut senang mendengarnya," ungkap Falguni, meski hatinya merasakan kebalikannya.
"Bibi, mengenai Mustika Naga --"
"Kita akan melakukannya perlahan. Kita harus bermeditasi, menyeimbangkan cakra-mu agar bisa menyatu dengan jiwamu juga alam. Perlu kau tahu bahwa cakra-mu saat ini tidaklah stabil. Mengenai hal berikutnya akan kita pikirkan setelah ini," jelas Falguni.
__ADS_1
"Baiklah."
Keduanya melakukan Meditasi Kundalini. Falguni, menempelkan telapak tangan kirinya di balik punggung Anatari, membantu mengendalikan energi Anatari agar tetap berpusat di inti jiwanya. Sementara Anatari hanya berfokus pada Meditasi Kundalini-nya untuk mengaktifkan kembali energi metafisk di dalam tubuhnya.
Anatari Kemala tidak tahu persis apa yang membuatnya bisa melakukan meditasi ini. Dia hanya mencoba melakukannya dan semuanya berjalan begitu saja. Setelah bermeditasi beberapa lama, dia merasa ada sesuatu yang menjalar dari ujung jemari kakinya naik perlahan dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Terasa hangat dan menenangkan.
Fajar bertemu siang. Siang bertemu senja, hingga malam yang kini berkuasa, Anatari baru mengakhiri Meditasi Kundalini-nya bersama Falguni. Anatari merasakan tubuhnya jauh berenergi. Dia berpaling pada Falguni yang lemas dan pucat.
"Bibi, apa yang terjadi padamu?"
Falguni membenarkan posisi duduknya dibantu Anatari yang kini berjongkok di hadapannya.
"Bibi ...."
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah." Falguni berujar dengan susah payah. "Kembalilah ke kedimaanmu. Aku akan istirahat sebentar untuk mengembalikan tenagaku."
Anatari meragu, tapi senyum Falguni meyakinkannya.
"Baiklah."
Setelah kepergian Anatari, seseorang muncul dari belakang Falguni, memapah Sang Ratu ke pembaringan.
"Terimakasih, Jalanatra."
Lembu Jalanatra membungkuk hormat.
"Apa kau sudah memberi kabar pada Sri Maharaja?"
"Sudah, Yang Mulia Ratu."
"Baguslah. Aku tidak ingin Raja Tua itu mati karena mengkhawatirkan putranya. Bagaimanapun, aku membutuhkan Abinawa untuk menyelamatkan Anatari."
Lembu Jalanatra kembali mengangguk. "Kondisi Gusti Anatari saat ini begitu lemah. Tidak seperti dirinya yang dulu."
"Itu karena Mustika Naga telah banyak mengambil energi murni dirinya. Seandainya dulu aku tidak menyumbat jalur meridiannya, dia pasti tidak akan ada hingga saat ini. Tidak kusangka selain mengambil energi murni dari Anatari, Mustika Naga itu juga menyerap energi murni diriku. Cakra-ku kini benar-benar tidak seimbang," tutur Falguni.
"Apa yang bisa hamba lakukan untuk Yang Mulia Ratu?"
"Tetap awasi ketiga nagari. Jika sampai kabar mengenai Mustika Naga tersebar keluar, maka bersiaplah untuk yang terburuk," titah Falguni.
Burung elang jambul terbang tinggi di atas kedaton Girilaya, memekik nyaring, meluncur di udara menembus kegelapan malam.
...***...
Mahesa berlatih ilmu kanuragan di tepi pantai. Setiap gerakannya berusaha membelah angin, memecah air. Tekad yang kuat terpancar dari garis-garis wajahnya yang tegas, menyimpan kemarahan.
Seekor burung Elang Jambul terbang mengitari Mahesa di atas langit yang berpendar jingga. Seorang perempuan muda berdiri di dekat pepohonan di sisi luar hutan. Dia merentangkan tangannya, menjadikannya tempat mendarat yang kokoh untuk peliharaannya. "Kau sudah kembali," bisiknya. Setelah berinteraksi beberapa lama dengan burung karnivora itu, dia menghampiri Mahesa. Tubuhnya berlenggak-lenggok setiap kali dia melangkah. Begitu lentur dan gemulai. Bibir di balik cadar sutra tipis yang menyembunyikan separuh wajahnya, melukiskan senyum indah.
__ADS_1
"Kau sudah berlatih terlalu keras, Mahesa." Suara perempuan itu lembut dan ringan. "Fajar sudah tiba. Berhentilah menyiksa fisikmu yang berharga," perempuan itu mengelilingi Mahesa yang keras kepala, "kecuali kau ingin naik takhta tanpa nyawa."
Tinju Mahesa berhenti di depan wajah perempuan bercadar. Bukannya takut, perempuan itu menggenggam tangan Mahesa, menarik pria itu ke arahnya. "Kami menunggu perintahmu, Sri Baginda."