Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara

Gadis Yang Terlempar Ke Bhumi Javacekwara
Chapter 11. Kenyataan


__ADS_3

Anatari membeku. Ngeri.


Janardana kembali berdeham. Manik kelabunya melirik tangan Abinawa yang tak kunjung melepaskan Anatari. Janardana adalah adik Sri Maharaja, tapi rambutnya telah banyak berubah warna melampaui sang kakak, alih-alih warna putih uban yang muncul justru warna keperakan. Kontras dengan kulit cokelat eksotis yang membungkus musculus-nya dengan apik.


Wajah Anatari memanas disertai rona merah di pipi, kala tatapan Janardana menghujani dirinya dan Abinawa yang berdiri dalam posisi begitu dekat. Sialnya, Abinawa malah tidak berniat membuat jarak antara mereka berdua.


"Aku menemukannya tertidur di antara beberapa kendi tuak di dalam gudang kayu. Aku akan membawanya untuk didisiplinkan. Bagaimanapun ini masih menjadi tanggung jawabku. Kuharap Yuwaraja tidak keberatan." Janardana melirik Anatari, ada rasa kesal yang tersirat karena merasa dibohongi oleh perempuan muda yang ceroboh. Seandainya Janardana tidak menemukan prajurit mabuk itu, niscaya dia tidak akan punya muka untuk menatap Abinawa.


Abinawa mengangguk. "Silakan."


Dalam jarak sedekat ini, mendengar suara Abinawa yang dalam, membuat bulu halus di seluruh tubuh Anatari berdiri. Bukan takut atau kedinginan. Lebih pada sesuatu yang mengaduk-aduk perutnya dan itu menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Bawa dia." Janardana melangkah pergi, dari kejauhan dia berseru, "Kalian mau terus beku seperti itu sampai jadi arca?!"


Anatari menarik kasar tangannya. Sebelum berhasil menjauh dari Abinawa, Sagara menotok bagian punggung perempuan itu. Tubuh Anatari langsung lemas tak sadarkan diri. Abinawa mengeratkan tangan kanannya di pinggang Anatari, menahannya agar tetap berdiri, bersandar padanya.


"Maaf, Yuwaraja. Saya terpaksa melakukannya," ungkap Sagara.


"Sudahlah," tanggap Abinawa. "Ada petunjuk mengenai siapa yang menyerangmu?"


"Belum. Saya sempat mengira kalau orang itu adalah Partha. Tapi, saat merasakan tenaga dalamnya jauh lebih baik dari ...," ada sedikit rasa kecewa dan malu dalam diri Sagara akan hal itu, "saya meragukannya." Bila musuh memiliki kekuatan yang jauh lebih mumpuni daripada dirinya, bagaimana dia dapat melindungi Abinawa ke depannya? Kejadian ini menohok dirinya. Jemarinya mengepal di samping tubuhnya.


"Uhm, Mahesa tidak akan berani melangkah terlalu jauh. Itu bukan perangainya. Selain itu, ilmu kanuragan Partha tidak lebih baik darimu. Tidak perlu cemas," hibur Abinawa.


Ucapan Abinawa berhasil membuat seulas senyum muncul di bibir Sagara, meski terkesan kaku. "Tapi ... bisa saja dia memanfaatkan pihak ketiga."


Abinawa menepuk pundak Sagara. "Tidak perlu terlampau curiga padanya. Selama ini dia sudah banyak menderita. Biarkan dia hidup dengan tenang." Abinawa mengangkat tubuh Anatari ke depan dadanya. "Aku harus mengantarnya ke keputren."


"Yuwaraja."


"Mm?"


"Meski identitas orang itu belum kita ketahui, setidaknya sudah berhasil memancing kemunculan lawan. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya Sagara masih bersemangat.


"Tidur. Itu yang harus kau lakukan," sahut Abinawa.


"Eh?"


...***...


Hari masih pagi. Embun belum reda menyapa dedaunan. Angin masih tertidur di tengah udara yang beku. Asap Wedang Jahe sudah mengepul dari puluhan cangkir yang ada di atas jejeran meja di dalam Pendopo Ageng, menghangatkan udara di sekitarnya. Ramai orang berbincang diselingi tawa senda gurau. Suasana nampak harmonis, meski di dalam hati masih menyimpan segaris dendam dari masa lalu yang bengis.


Sri Maharaja II dan Gusti Kangjeng Ratu Indukanti menyambut tetamu dari Bhumi Girilaya. Ketiganya duduk bersama mengelilingi sebuah meja.


"Aku mendengar putriku sempat terluka oleh pedang Yuwaraja, benarkah itu? Tidak sempat menjenguknya selama terluka, aku takut dia begitu menderita," sesal Falguni sepenuh hati.


"Kabar yang Anda dengar memang benar adanya," sahut Indukanti

__ADS_1


Ratu Falguni membelalak siap meledak.


Indukanti segera menyambung ucapannya. "Bukan Yuwaraja yang melakukannya. Anatari melakukannya sendiri. Dia merasa sedih dan putus asa karena hubungannya dengan Mahesa harus diakhiri dengan segera," jelas Indukanti. "Sekarang kondisinya sudah membaik seperti sebelumnya. Siang nanti, kita akan mengadakan pertemuan resmi untuk mendengar keputusan Yuwaraja dan Anatari. Bila keduanya sudah sepakat untuk menikah, maka rangkaian upacara pernikahan akan dimulai esok hari."


"Bila mereka tidak setuju, apa itu akan memengaruhi perjanjian kita sebelumnya?" Falguni merasa sedikit cemas.


"Perjanjian akan tetap berjalan seperti yang telah kita sepakati. Namun, Anatari masih harus tetap di sini. Bila putraku Abinawa dan Anatari memang tidak berjodoh, terlepas dari siapa di antara mereka yang tidak menghendaki pernikahan ini, aku akan tetap menggelar pernikahan Anatari ... dengan Pangeran Mahesa," terang Sri Maharaja II.


Ratu Falguni mendecak. "Yang kau janjikan padaku adalah posisi Permaisuri. Itu yang sepadan dengan kesepakatan kita. Lagipula putriku bukan barang taruhan yang mudah dialihtangankan."


"Mohon Ratu Falguni memaklumi keputusan kami. Anda juga harus tahu bahwa Anatari dan Mahesa masih saja menjalin hubungan. Kami sebenarnya tidak masalah bila harus menutup mata akan hal itu, tapi tidak dengan Yuwaraja. Kondisi pernikahan yang tidak sehat akan sangat memengaruhi kondisi mentalnya. Lambat laun akan memengaruhi kebijakan Yuwaraja dalam menjalankan pemerintahan. Fatal akibatnya bila kehendak kita terlalu dipaksakan, karena seorang Permaisuri yang tidak kompeten hanya akan mendatangkan bencana," terang Indukanti.


Ratu Falguni mendesah lemah. "Ucapanmu benar adanya. Kalau begitu bisakah aku bertemu dengan putriku. Aku ingin sekali bertemu dengannya."


"Tentu saja, Anda boleh menemuinya," ucap Indukanti, mempersilakan dengan senang hati.


...***...


Di dalam kamar, Anatari sedang didandani oleh Jiyem dan Liyem. Perempuan itu tidak begitu kurus ataupun gemuk, tulang selangkanya masih terlihat tegas dan indah di balik kalung emas yang menggantung hingga ke bawah dadanya. Kemban beludru berwarna hijau emerald dibordir benang emas membentuk sulur-sulur dedaunan ke arah atas. Sinjang motif parang barong -- didominasi warna cokelat tua, berpadu cokelat muda, dan emas -- membalut bagian bawah tubuh Anatari. Di bagian belakang sinjang terdapat belahan tinggi sebatas lutut. Ujung bagian bawah yang masih terasa cukup longgar, memberi kemudahan pada Anatari untuk melangkah dengan leluasa. Tak hanya sampai di situ, beragam aksesoris mulai dari selendang, sabuk, dan pernak pernik emas ditempelkan ke beberapa bagian tubuhnya.


Tak lupa sepasang alas kaki yang dihiasi batu zamrud diselipkan Jiyem di bawah kaki Anatari. Jiyem dan Liyem serta merta mundur setelah menunaikan tugas mereka.


Anatari mengamati tubuhnya sendiri dengan amat serius. Saat ini, dari apa yang dapat dilihatnya, dia merasa bagai toko emas berjalan. Jika harus mengenakan semua ini di kehidupan modernnya untuk kegiatan sehari-hari, dia yakin seratus persen untuk menolaknya tanpa harus berpikir terlebih dahulu. Untuk alasan keselamatan, tentu saja. Tetapi, sekarang dia berada di sini, hidup beratus-ratus tahun, atau mungkin beribu-ribu tahun sebelum kehidupan modernnya dimulai, dan sah-sah saja. Dia adalah putri dari raja Bhumi Girilaya terdahulu, bagaimanapun juga, apa yang dikenakannya adalah cerminan dari statusnya. Dan itu harus, karena di sini, kasta menentukan segalanya.


Pintu utama kediaman Anatari yang tidak tertutup memberikan akses masuk yang leluasa kepada Falguni yang sudah tidak sabar untuk segera bersitatap dengan keponakannya.


"Di mana putriku?" tanya Falguni tanpa beramah-tamah.


Anatari yang mendengar suara itu dengan sangat jelas, bergegas datang menghampiri. Dia berdiri di sebelah Jiyem, mengamati perempuan jangkung yang mengenakan pakaian kebesaran dalam nuansa ungu pekat dan hitam yang dihiasi bordiran benang perak di bagian tepinya. Anatari dapat mengenali statusnya dari sinjang yang dipakainya yang memiliki motif huk bergambar kerang.


Hanya para raja dan putra mahkota yang berhak memakainya. Jika dia bukan keduanya, berarti ....


"Hamba memberi hormat pada Ratu Falguni." Liyem melirik Anatari selagi membungkuk.


Ratu Falguni?


"Ib ...."


"Bibi Anda sudah ada di sini. Hamba dan Jiyem akan menyiapkan teh dan beberapa camilan." Liyem mengingatkan. Lagi.


Hampir saja. Kupikir dia ibuku. Seandainya ada cara untuk mengembalikan memori Anatari Lingga, aku tak akan segan untuk melakukannya. Apapun itu.


"Tidak mempersilakan aku duduk?"


"Ah, ya. Seharusnya itu tidak perlu. Ini adalah kediamanku dan kau adalah bibiku, kan. Jadi, ya, anggap saja rumah sendiri." Anatari melirik kedua dayangnya yang ngeloyor pergi.


Bibi dan keponakan itu duduk di sebuah bale-bale kayu jati dengan ukiran bergambar tumbuhan. Beberapa bantal beludru berwarna emas dan hijau emerald disimpan di atasnya. Dinding di belakangnya menyediakan bukaan besar yang membingkai keindahan halaman samping, di mana pohon Angsana tumbuh tinggi dan sedang mengeluarkan bunga kuning kecil yang amat ramai.

__ADS_1


"Beberapa hari kemarin kudengar kau terluka, bagaimana sekarang? Apa kau masih sakit? Katakan dengan jujur padaku."


"Lukaku sudah sembuh. Aku baik-baik saja sekarang."


"Ah, syukurlah."


Falguni menatap Anatari sesaat, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, segera kembali terpaku pada Anatari. "Bagaimana keadaannya sejauh ini? Informasi apa saja yang sudah kau dapatkan?"


Anatari mengangkat kedua alisnya. Dia tidak mengerti maksud pertanyaan Ratu dari Bhumi Girilaya itu. Dia menelaah air muka Falguni yang terlihat was-was.


"Apa yang bibi cemaskan?" Anatari mencoba mengorek informasinya sendiri, dengan hati-hati.


"Kau bertanya apa yang aku cemaskan?" Falguni tersenyum mengejek. "Aku mencemaskan semuanya. Keadaanmu dan semua rencana yang telah kita susun untuk dapat sampai ke tahap ini. Jangan katakan kalau kau sudah lupa dengan semua yang telah kita rencanakan!"


Mohon maaf, aku memang sudah lupa.


Anatari menyentuh tangan kiri Falguni yang diletakkan di atas meja. Dia merasa ada serangan mendadak yang menghantamnya. Sebuah penglihatan muncul, menarik Anatari ke dalam situasi yang paling Falguni cemaskan.


Malam itu, setelah kepergian Sri Maharaja II beserta seluruh rombongan Bhumi Javacekwara, Falguni mendatangi kediaman Anatari. Dia mendapati Anatari sedang tersedu-sedan di pojok ruangan yang gelap. Anatari terpuruk dalam amarah, kecewa, dan sedih karena Falguni tidak merestui hubungan Anatari dengan Mahesa, dan lebih memilih menikahkannya dengan seorang pria asing yang tidak dicintainya.


Beribu alasan sudah Anatari tumpahkan untuk menolak perjodohan, tapi Falguni bergeming. Falguni mengecap, menimang penuh keraguan akan apa yang hendak diutarakan. Namun, dia harus mengatakannya karena Anatari juga merupakan bagian terpenting dari rencananya. Falguni duduk di samping Anatari, mendesah lemah. Dia berkata bahwa apa yang menjadi keputusannya telah dia pertimbangkan dari segala aspek.


Empat nagari di Tanah Jawi tidak pernah berhenti mengincar Mustika Naga. Mereka hanya menunda penyerangan karena tidak ingin menjadikan bocah suci sebagai tumbal dari keserakahan. Tapi, kini Anatari bukan lagi bocah yang dianggap suci. Dia sudah dewasa, memiliki banyak dosa, yang jika ditumbalkan pun tidak menjadi masalah.


Bagi Bhumi Girilaya, hal itu merupakan masalah besar.


Selama ini, Falguni menjadikan Bhumi Girilaya sebagai pusatnya para pendekar sakti mandraguna tak lain merupakan sebuah bentuk pengamanan terselubung teruntuk Anatari. Para Pendekar Tersumpah adalah pendekar yang dilatih khusus untuk menjaga keselamatan Putri Mahkota Bhumi Girilaya. Jadi, sebelum dapat menjangkau Anatari, semua musuh Bhumi Girilaya harus bersusah payah berhadapan dengan para pendekar sakti mandraguna demi bisa membawa Tuan Putri Bhumi Girilaya, dan membedah dadanya untuk mengeluarkan Mustika Naga dalam tubuhnya, tapi sampai kapan hal itu mampu Falguni lakukan?


Manusia memiliki hati yang lemah, mudah menyerah dalam bujuk rayu iblis yang menyesatkan. Para Pendekar Tersumpah juga tidak akan menjamin bahwa mereka tetap memiliki pemikiran yang tidak menyimpang. Terkecuali jika mereka berani melanggar sumpah, maka nyawa mereka sebagai gantinya.


Mati mendadak. Apakah itu mungkin dilakukan? Harus dengan cara apa?


Selama Anatari bertumbuh dalam pengasuhannya, entah sudah berapa nyawa yang telah direnggutnya dari mata-mata Bhumi Acarya, Bhumi Namaini, dan Bhumi Javacekwara yang selalu memulai pengintaian di tepi perbatasan. Satu yang membuat Falguni murka adalah mata-mata yang berasal dari Bhumi Acarya. Dia berhasil memasuki wilayah Bhumi Girilaya dengan menyamar sebagai cendekiawan muda, yang ternyata bertugas menghasut putri Kepala Pengawal Anatari agar menyebarkan isu pada para pendekar mengenai kesaktian Mustika Naga.


Desas-desus mengenai Mustika Naga yang berada di dalam diri Anatari mulai tak terbendung, menjadi kisah liar yang akan memberikan keabadian pada siapapun yang berhasil memiliki benda bertuah tersebut. Kekhawatiran Falguni akan keselamatan Anatari membuatnya mengambil keputusan ekstrim. Dia terpaksa mengurung Anatari yang kala itu masih belia untuk tetap berada di dalam lingkungan keraton demi keamanan keponakannya.


Falguni menyadari bahwa apa yang dilakukannya saat itu hanya sebuah usaha jangka pendek. Kegelisahan Falguni terus menjadi setiap harinya dan sedikit mereda begitu melihat kedekatan Anatari dan Mahesa. Namun, belum sempat dia menanyai kedekatan keduanya, Sri Maharaja II datang ke Bhumi Girilaya beserta rombongan dari Bhumi Javacekwara.


Jayaraga mengajukan diri untuk menebus dosa ayahandanya -- Sri Maharaja I -- dengan bersedia melindungi Anatari. Dia menawarkan sebuah pernikahan dan posisi sebagai Permaisuri teruntuk Anatari. Falguni menolak karena Anatari sudah dekat dengan Mahesa. Namun, Jayaraga menjanjikan untuk memberikan bantuan seumpama terjadi kekacauan di Bhumi Girilaya yang disebabkan oleh Mustika Naga, dan Bhumi Girilaya akan tetap berdiri sebagai satu nagari utuh tanpa intervensi Bhumi Javacekwara dalam semua urusan kepemerintahan.


Ratu Falguni goyah. Dalam hatinya juga memendam rasa gundah bila sewaktu-waktu terjadi kekacauan yang disebabkan ulah para pendekar. Para Pendekar Tersumpah ibarat mata pisau ganda. Satu sisi akan menguntungkan bila mampu menjaga mereka untuk tetap setia. Sisi lainnya akan merugikan bila mereka melakukan perlawanan akibat terhasut iblis.


Manusia adalah makhluk yang paling tidak dapat dipercaya, karena hatinya yang mudah berubah-ubah.


Tawaran baik Sri Maharaja II diterima setengah hati oleh Falguni, karena sebenarnya dia memiliki tujuan lain yang ingin dicapainya. Dia meminta Anatari untuk menerima tawaran pinangan itu dengan senang hati. Masuk ke Bhumi Javacekwara, menduduki posisi Permaisuri, dan setelahnya mulai menggerogoti Bhumi Javacekwara dari dalam. Hanya itulah cara untuk membalaskan dendam kematian ayah Anatari yang dibunuh oleh Sri Maharaja I. Membalaskan rasa sakit hati yang dibawa ibunya hingga ke liang lahat. Membalaskan ribuan nyawa penduduk Bhumi Girilaya dan prajurit kerajaan yang tewas di tangan pemimpin tiga nagari yang saling memperebutkan Mustika Naga.


Namun, ada satu hal yang harus dilakukan Anatari lebih dulu ... menaklukkan Yuwaraja Abinawa Wiradharma.

__ADS_1


Anatari menarik tangannya dari sang bibi. Hentakan keras membuat tubuhnya terdorong ke belakang.


__ADS_2