
Mahesa berusaha menahan kemarahan yang merangkak menuju ubun-ubun. Sekuat tenaga tetap mempertahankan segala pemikiran positif mengenai keputusan Ayahandanya -- walau itu sulit. Pada akhirnya dia yang selalu tidak beruntung.
Ibundanya memberontak karena gelap mata, terdorong kecemburuan pada permaisuri pertama yang akhirnya memiliki seorang putra. Posisi Yuwaraja yang pernah disandangnya harus dia relakan kembali pada pemiliknya, meski kepadanyalah awal posisi itu dijanjikan. Tugas-tugas Yuwaraja di luar Bhumi Javacekwara selalu dibebankan padanya sebab tubuh lemah Abinawa, sedangkan semua hasil kerja kerasnya diatasnamakan Yuwaraja. Sekarang pun, sesuatu yang paling berharga juga direnggut darinya. Haruskah dia tetap menahan diri melihat jantung hatinya dialihtangankan pada adiknya?
Kecewa, sedih, dan amarah menjalari aliran darahnya. Menyerap ke dalam hati, menjadi racun yang mengebaskan dirinya dari segala rasa sakit.
Cengkraman tangan Mahesa mengendur. Perlahan mengangkat kepala dengan wajah penuh senyum. Seulas senyum yang menyakitkan hatinya. "Tidak ada yang dapat hamba katakan. Petuah dari Ayahanda sudah hamba pahami dan akan hamba ingat dalam hati."
Sri Maharaja II tidak menanggapi.
Manik gelap Indukanti mengunci sosok Mahesa. Naluri keibuannya tergerak untuk berkata, "Putraku Mahesa .... Aku berdoa semoga Acintya memberikan yang terbaik untukmu."
Mahesa tertohok mendengar Indukanti memanggilnya, "Putraku". Sebuah panggilan yang teramat diinginkan olehnya selama ini. Sebuah panggilan yang membuatnya merasa nyaman dan dipedulikan. Tetapi ... kini kata "Putraku" terasa menakutkan. Terdengar seperti bujukan untuk mengalah, menyerahkan sesuatu yang Mahesa sukai kepada orang lain.
Menganggapnya sebagai putra ... bukankah sudah terlambat.
Mahesa meminta undur diri dengan sopan, merasa tidak ada gunanya lagi terus berdiam diri di sana, hanya menambah luka di hati. Beruntung Ayahandanya memberikan widi.
Anatari hendak berdiri, tetapi tangan Abinawa memegangi selendangnya.
"Hindari masalah," gumam Abinawa.
Anatari melirik Abinawa yang tak terpengaruh oleh suasana. Sikapnya tenang dan ekspresinya elusif. Pandangannya tertuju pada lantai kayu, seakan lantai kayu dengan pernis mengilat itu teramat sedap dipandang.
Anatari menahan diri. Gerakan matanya terus mengikuti Mahesa hingga pria itu menghilang di balik gapura pura.
Diskusi berlanjut mengenai pembicaraan upacara pernikahan dan pemberian gelar baru bagi Anatari. Para dharmmadyaksa memberikan saran-saran terbaiknya demi kelancaran semuanya.
Anatari tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Dia merasa bersalah karena ikut menyakiti hati Mahesa. Seandainya ada pilihan yang lebih baik untuk mereka berdua, Anatari ingin sekali melakukan yang terbaik untuk pria itu.
Ingatannya yang telah kembali mengenai Mahesa juga membangkitkan kenangan indah masa-masa mereka menjalin kisah kasih. Walau jantungnya kini tak berdebar kencang kala bibirnya mengucap nama pria itu, tetapi Anatari tidak dapat memungkiri bahwa semua kenangan indah bersama Mahesa akan selalu menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Setelah cukup lama membicarakan upacara adat bersama para dharmmadyaksa, Anatari mengejar langkah Abinawa di tengah cuaca terik musim kemarau.
"Kita harus bicara," teriak Anatari.
Beberapa abdi dalem dan pengawal melirik ke arah keduanya.
Tubuh Abinawa hanya berbalik setengah gerakan. Matanya tertuju pada selendang yang terentang, berkibar disapu angin. Tatapannya menerus pada ujung selendang yang dipegang jemari lentik Anatari.
"Kau ... menginginkan selendangku?" canda Abinawa.
Anatari menghempaskannya. "Tidak lucu. Kita harus bicara, Abinawa."
"Perihal?"
"Banyak hal."
Abinawa mengehembus napas, melangkah malas-malasan. "Besok, kita akan menikah. Menghabiskan waktu berpuluh tahun hidup bersama. Saat itu, kau bisa menanyakan satu hal satu hari. Tidak perlu terburu-buru."
"Banyak hal dalam satu hari, karena aku takut keburu mati. Mengingat dekat denganmu sepertinya akan mengundang banyak bahaya," tawar Anatari.
Abinawa terkekeh, tapi tidak terpengaruh. "Satu hal satu hari. Tidak ada kompromi," tegas Abinawa, "atau aku tidak akan menjawabnya sama sekali."
Anatari menunjuk Abinawa dengan kesal. "Kau --"
Abinawa menurunkan jari telunjuk Anatari. "Ya. Ya. Ini aku. Aku harus pergi, masih ada hal mendesak yang menuntut segera diselesaikan."
Anatari menatap punggung Abinawa dengan seribu tanya dalam benaknya, Seperti apa dirimu yang sebenarnya, Abinawa?
__ADS_1
Abinawa mempercepat langkahnya menuju ke tempat terpencil di halaman paling belakang lingkungan kedaton.
Sagara memberikan hormat kala melihat kedatangan Abinawa. Dari balik pohon Angsana muncul si prajurit pengkhianat. Kedua lututnya mendadak lemas, terjatuh seketika membentur tanah.
"Terimakasih atas belas kasih Yuwaraja," lirihnya.
"Tidak perlu berterimakasih sekarang karena jalanmu di depan akan penuh bahaya dan mungkin kau bisa tewas kapanpun," tolak Abinawa.
"Hamba siap menghadapi marabahaya demi menebus kesalahan besar hamba kepada Yuwaraja." Ekawira berujar penuh tekad.
"Sudah. Sudah. Jangan terlalu berlebih. Kau masih harus tetap hidup sebagai Ekawira demi nenekmu. Saat dia kembali pada Acintya, dia akan membutuhkan cucu satu-satunya untuk membakar jenazahnya," ujar Abinawa.
"Jadi namanya Ekawira."
Ketiga pria itu terlompat. Anatari menampakkan dirinya setelah diam-diam mengikuti Abinawa.
Abinawa memutar badannya pelan, memunggungi Anatari.
Anatari bersedekap, mengamati perawakan Ekawira yang sebaya dengan Sagara -- sekitar dua puluh tahun usianya.
"Apa kau memiliki sembilan nyawa? Apa kau sudah mengunjungi akhirat? Bagaimana caramu kembali dari kematian? Ah, bukan. Bagaimana cara Yuwaraja mengembalikanmu dari kematian?" cerocos Anatari.
Ekawira menatap Abinawa dengan raut memohon. Abinawa memberikan isyarat tangan agar Ekawira lekas meninggalkan tempat itu.
Anatari menyusul langkah Ekawira yang berlari cepat, memanajat pohon Angsana dengan mudah, lalu melompati tembok tinggi kedaton, lantas menghilang entah ke mana tujuannya.
Anatari berdecak kesal karena tidak mampu mengikuti Ekawira yang dapat memanjat pohon tinggi di hadapannya. Dia mengangkat sinjangnya setinggi lutut dan bertekad untuk memanjat.
"Jangan lakukan!" cegah Abinawa.
Anatari berkacak pinggang, mengernyit pada Abinawa.
Sagara melayangkan serangan ke arah Anatari. Perempuan itu bergegas menunduk, menggeser kakinya ke samping, lantas memukul lengan Sagara yang terulur. Sagara melayangkan pukulan dengan satu tangan lainnya. Anatari berhasil menangkis, lantas melompat mundur.
"Kenapa kau menyerangku?" tegur Anatari, kesal.
Sagara terdiam. Anatari melirik Abinawa yang mengangkat bahu dengan tak acuh.
"Kenapa kau menyuruhnya menyerangku?" hardik Anatari.
"Aku tidak tahu apa-apa. Tanyakan padanya."
Sagara lekas menjawab, "Untuk menguji kewaspadaan Gusti Raden Ayu Anatari. Mohon maafkan kelancangan hamba."
"Menguji kewaspadaanku agar lain kali bisa lebih berhati-hati menyerangku dengan senjata yang telah dimanterai!" pancing Anatari.
Mata Abinawa memicing. "Seingatku, kau melukai dirimu sendiri."
"Begitu juga dengan ingatanku! Yang membuatku kesal, kau tidak memberitahuku tentang mantera itu. Kenapa? Kau memiliki rahasia kelam yang harus ditutup rapat-rapat?" omel Anatari.
Abinawa melangkah dengan pembawaannya yang tenang dan karismatik. Udara yang bergerak di sekitarnya memainkan selendangnya yang dibiarkan menjuntai di belakang tubuhnya.
Anatari goyah melihat seorang pria yang selama ini didambanya. Yang selalu mengerti akan dirinya. Yang selalu mendengar semua keluh kesahnya yang membosankan. Yang selalu menyuruhnya bertahan. Yang selalu menawarkan senyuman di setiap jam makan siang. Anatari tahu Abinawa bukanlah pria itu, tetapi apa yang ditampilkan oleh fisik Abinawa dan Anzel .... Anatari tidak melihat bedanya.
Tidak. Jelas ada yang berbeda. Bagian atas tubuh Abinawa selalu terbuka, hanya sedikit yang tertutup selendang sutra berwarna krem dengan bordiran benang emas berbentuk lidah api. Dari balik selendang itu Anatari masih dapat melihat bahu pemiliknya yang tegap, dadanya yang bidang, serta otot abdomen yang terpeta dengan baik. Bentuk dan warnanya terlihat menggoda, coklat keemasan ibarat permukaan roti yang hampir matang. Namun, wanginya berbeda. Aroma cendana yang dingin menguar dari arah Abinawa yang kini berdiri tepat di depan Anatari.
"Sepertinya diriku sangat menggoda pandanganmu," goda Abinawa.
"Huh?"
__ADS_1
"Air liurmu menetes."
Anatari buru-buru memegang bibirnya. Abinawa tampak puas mengerjai Anatari, dia menoleh pada Sagara yang ikut tertawa. Sagara segera mengulum bibirnya.
Dahi Anatari berkerut, bibirnya mengerucut. "Jangan mengalihkan topik permasalahan. Lagipula yang kau ucapkan tidaklah pantas."
"Memangnya ada masalah di antara kita? Katakanlah, aku ingin tahu."
Anatari memutar matanya, kesal, karena sikap Abinawa yang malas-malasan dan cenderung menghindari topik pembicaraan yang perempuan itu inginkan.
"Sandiwara apa yang kalian lakukan bersama Ekawira? Apa ada hubungannya dengan pedang Sagara yang dimanterai? Aku berhak tahu. Aku adalah korban salah sasaran. Kau beruntung karena itu. Seandainya bukan aku yang dengan bodohnya menghunuskan sendiri pedang itu ke tubuhku, maka esok atau lusa pedang itu akan menghunus tubuhmu atau atau dia." Anatari menunjuk Sagara.
Abinawa merenungkan ucapan Anatari. "Jadi, sasaran sebenarnya adalah aku."
"Benar. Kau berhutang nyawa padaku, tapi aku tidak menginginkan nyawamu sebagai balasannya. Aku hanya ingin kau menjelaskan semuanya padaku. Aku memiliki kredibilitas dalam hal ini!" tegas Anatari.
"Situasinya sudah seperti ini. Disembunyikan pun pada akhirnya akan tetap kau ketahui. Tapi, apakah ini semua sandiwara? Aku tidak tahu siapa yang bersandiwara. Musuh ataukah aku? Aku hanya menjalankan bagianku. Itu saja. Ekawira memang tidak mati, tapi darah yang kau lihat malam itu memang benar darahnya. Dia yang menyerahkan pedang Sagara pada musuh untuk dimanterai. Saat itu aku tidak tahu siapa yang menjadi lawanku. Jadi, aku meminta Ekawira untuk melakukan sedikit pengorbanan demi memancing kehadiran lawan. Sepertinya aku tidak perlu memberikan penjelasan mengenai mantera itu ... seseorang pasti sudah memberitahumu," jelas Abinawa.
Petang itu, sebelum Abinawa menghadiri pertemuan di Pendopo Ageng, Ekawira meminta bertemu dengannya. Ekawira mengatakan dengan sejujurnya bahwa dia tidak mengetahui identitas musuh dan meminta pengampunan Abinawa.
Sagara muncul dari arah pintu dengan napas tersengal. Dia melaporkan bahwa ada seorang penyusup yang berhasil masuk ke lingkungan kedaton. Mendapati musuh yang begitu berani memasuki wilayah di luar kekuasaannya, sudah pasti dia bukan orang sembarangan yang menguasai ajian Malih Rupa.
^^^(Malih Rupa; Ajian/Ilmu merubah wujud)^^^
Abinawa memberikan satu kesempatan untuk menebus kesalahannya, dengan satu syarat yang harus dipenuhi. Ekawira menyetujui tanpa banyak berkata-kata lagi.
Abinawa merentangkan jemarinya, sebilah keris muncul entah dari mana. Cahaya keemasan yang menyilaukan menarik perhatian Sagara dan Taruna. Keduanya mempertanyakan kehadiran benda itu. Sementara Ekawira gemetaran sekujur badan.
Abinawa terkejut melihat kemunculan Keris Amrta dalam genggamannya. Dengan ringan berkata salah memanggil pusaka. Meski tujuannya untuk sedikit mengintimidasi Ekawaira. Jantung Ekawira mencelos lega, sempat dikira akan menjadi korban senjata pusaka Sang Yuwaraja. Abinawa mengulurkan tangannya pada Sagara yang membawa pedang pendek di pinggangnya.
Begitu pedang beralih ke tangannya, dia mengarahkan ujungnya ke sisi terluar perut sebelah kanan Ekawira. "Jika kau bertahan, aku anggap kesalahanmu terampuni. Bila tidak, itu bayaran setimpal atas pengkhianatanmu."
Taruna menotok beberapa titik di tubuh Ekawira, paling banyak di dekat perut sebelah kanan. Ujung tajam pedang menembus daging dalam gerakan cepat. Ekawira meringis. Darah segar membasahi pakaian prajurit yang dibanggakannya.
Abinawa menyeringai. "Kita tinggal tunggu dan lihat apa yang akan orang itu lakukan."
Semuanya berjalan sesuai rencana, musuh memasuki gudang kayu, meraung marah karena Ekawira telah tak bernyawa dan dia gagal mendapatkan informasi apapun dari pemuda itu. Itu melukai harga dirinya. Dengan kesal dia tinggalkan pesan yang ditulis menggunakan darah Ekawira.
Anatari memijit dahi. Meminta sedikit pengorbanan yang membahayakan nyawa seseorang. Abinawa ternyata tidak waras.
"Pesan di dinding, apa itu juga perbuatanmu?" tanya Anatari.
"Satu hal satu hari." Abinawa mengingatkan.
"Ini masih berkaitan! Satu hal yang memiliki banyak cabang permasalahan," protes Anatari.
Abinawa berlagak malas-malasan, tapi tetap terlihat percaya diri. "Aku tidak seiseng itu, melakukan sesuatu dengan darah." Pada akhirnya dia melupakan satu hal, satu hari.
"Yuwaraja tidak suka terkena cipratan darah," kibul Sagara.
Abinawa mengangguk ke arah Anatari. "Kau dengarkan itu."
Anatari menelisik perawakan Abinawa, lantas menghela napas pelan. Penampilan sebersih dan serupawan Abinawa memang tidak cocok berlumuran cipratan darah musuh-musuhnya. Anatari juga tidak pernah melihat Abinawa berkelahi dengan siapapun. Semua tugas ketangkasan seni bela diri selalu dialihkan pada Sagara, Taruna, dan para pengawalnya.
"Orang yang menyelamatkannya memiliki ilmu Panglimunan. Pengguna ilmu itu biasanya tidak berada begitu jauh dari tempat kejadian perkara. Kau menyelidiki hal itu juga, kan?" tutur Anatari.
Sagara mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Bibirnya mengulang tiga kata yang baru didengarnya, "tempat kejadian perkara".
"Aku sudah memeriksanya. Nihil." Abinawa menatap Anatari dengan penuh minat. "Aku dengar saat berada di Girilaya, kau banyak mempelajari jenis ajian kanuragan, dan berhasil mengalahkan Para Pendekar Tersumpah dalam usahamu melarikan diri dari kedaton-mu sendiri, tapi dari duel yang kusaksikan tadi, kau sama sekali tidak memiliki tenaga dalam. Aku jadi berpikir yang bukan-bukan. Mungkinkah kabar yang kudengar hanya isapan jempol belaka atau bisa juga seseorang telah menghambat jalur meridianmu."
__ADS_1
Anatari tercenung. Anatari Lingga memiliki ajian kanuragan? Kenapa itu tidak terpikirkan olehku? Jalur meridian apa yang Abinawa maksudkan? Ilmu Kanuragan .... Apa Anatari Lingga benar-benar menguasai banyak ajian? Jika dia begitu hebat, kenapa jiwaku tidak dapat merasakan 'hal yang tak biasa' yang ada di dalam tubuh Anatari Lingga?