
Keesokan harinya sekitar jam tujuh pagi Elain telah kembali ke rumah besar setelah menginap di rumah pribadinya nya semalam, beruntung anggota keluarga Bora masih berada di kamar mereka masing-masing sedang bersiap-siap untuk memulai aktivitas hari ini.
Jadi Elain pun langsung menuju kamar nya dilantai atas, tanpa ada gangguan dari orang rumah tapi mungkin sebentar lagi dia akan berdebat dengan kakek nya.
Jadi sebelum kakeknya bangun, Elain secepat mungkin bersiap-siap dengan beberapa berkas rumah sakit dan pakaian kerja nya hari ini, dan tidak lupa dia juga memoleskan senatural mungkin make-up ke wajahnya yang memang sudah cantik dari lahir.
Dia berdoa semoga kakek nya belum keluar dari kamar saat dia akan berangkat nantinya agar pagi ini mereka tidak perlu bertemu.
Setelah menyelesaikan semua perlengkapan nya Elain segera turun kebawah sambil berharap tidak bertemu siapapun anggota keluarga dibawah.
Namun keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak padanya, bagaimana tidak ternyata seorang pelayan telah menunggunya di lantai bawah atas perintah kakek untuk membawanya ke meja makan.
"Nona Tuan besar sudah menunggu anda untuk sarapan pagi, mari saya antar, " kata seorang pelayan rumah yang sudah menunggu Elain sejak tadi.
Hais ... Hufff
Elain menghela nafas tidak berdaya, terpaksa bukannya dia berjalan lurus menuju pintu keluar tetapi sekarang kaki cantiknya harus berbalik kanan menuju meja makan. Dalam hati, Elain sudah memastikan pasti akan perang dengan kakeknya dan beberapa orang mungkin akan memanfaatkan momen.
Hah! Yang terjadi biarlah terjadi. Ucap Elain didalam hatinya.
Dan di meja makan ternyata semua anggota keluarga sudah ada di kursinya masing-masing dan mereka rupanya sudah mulai makan. Saat kedatangan Elain muka semua orang sepertinya tidak bersahabat kecuali ayahnya Elain yang bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Duduklah untuk apa kamu berdiri terus." Tuan Samuel ayah Elain memberikan instruksi setelah melihat semua orang diam dengan aktifitas makan mereka.
"Heh! Masih punya muka untuk kembali ke rumah ini? nama keluarga benar-benar tercoreng dimata publik karena mu. Seja awal sudah kubilang Sean itu tidak pantas untuk mu, entah kenapa dulu dia memilih mu." Komentar pedas tiba-tiba datang dari nyonya Mira, dia tidak tahu saja anaknya adalah penyebab dari segalanya.
"Apakah terjadi sesuatu diantara kamu dan Sean? sehingga kamu bahkan tidak memikirkan nama baik keluarga saat mengambil keputusan?" sekarang yang bersuara adalah Marin Bora si sumber dari masalah yang ada. Dia sepertinya belum tahu alasan Elain memutuskan untuk berpisah dari Sean. Rupanya Sean belum memberitahunya apapun.
"Baiklah sudah berhenti, ayah bahkan tidak mengatakan apapun jadi jangan mulai menghakiminya." Samuel Bora menengahi perselisihan.
Sedangkan Elain sama sekali tidak menggubris perkataan Nyonya Mira dan juga kakaknya dia hanya menunggu apa yang akan dikatakan oleh kakek nya bagaimanapun dia sudah tua takut memperburuk kerja tubuhnya.
Walaupun kakeknya itu membenci Elain selama ini, tetapi Elain tidak merasa buruk sama sekali ataupun kembali membenci pria tua itu. Ngomong-ngomong perdebatan di atas meja makan adalah kebiasaan orang di rumah besar ini.
"Apa hubungannya dengan pembatalan pernikahan ku?" Elain balik bertanya.
"Selain keterampilan dokter mu, dengan adanya Sean di sampingmu keberadaannya bisa membuat para direktur di rumah sakit yang ingin memprotes posisi ketua yang kamu ambil tidak berani bersuara. Sekarang bagaimana kamu akan menghadapi mereka." Jawab Kakek Bora.
Nyonya Mira dan Marin melirik Elain menanti jawaban dari gadis itu.
"Aku tidak keberatan mereka protes, pewaris anda hanya ada saya dan kak Marin jadi haruskah saya bersaing dengannya? bukankah mereka sudah tahu siapa yang lebih baik diantara kami berdua." Ucap Elain dengan santai nya dia duduk dengan posisi duduk yang elegan dimeja makan.
"Elain!" Marin memelototi adiknya sambil berusaha untuk tidak meninggikan suaranya didepan sang Kakek. Dia sungguh tidak terima dengan perkataan Elain. Yang mengartikan seakan-akan semua orang juga tahu bahwa soal kemampuan Elain lah yang lebih mampu.
__ADS_1
Namun Elain tidak menggubris, dia hanya tersenyum yang dibuat-buat ke arah kakaknya. Ini membuat Marin semakin jengkel tapi juga tidak bisa berbuat apapun didepan kakeknya. Dia hanya bisa meremas sendok makan yang ada di kedua tangannya.
"Sebenarnya semua keputusan tergantung anda kakek, siapapun di rumah sakit tidak akan berani menentang keputusan mu. Jadi jika anda punya keinginan mengganti pewaris karena masalah saya yang sudah tidak punya dukungan lagi saya sama sekali tidak keberatan tentang itu." Lanjut Elain.
"Bagaimana kamu akan membersihkan nama baik keluarga setelah semua berita diluar sana yang sedang beredar karena ulah mu."
"Tidak ada yang perlu dibersihkan, bukankah mereka hanya mengatakan aku ini anak haram? tidak ada yang salah dari itu. Jadi tidak ada yang perlu dibersihkan." Jawab Elain.
"Memalukan sekali, semuanya karena Ibumu yang hina itu." Sahut Nyonya Marin dengan suara yang terdengar sangat mengejek.
Elain meremas sendok dan garpu yang ada ditangannya, dia sungguh biasa saja dengan banyaknya hinaan semua orang padanya tetapi seseorang benar-benar tidak boleh melewati batas dengan menghina ibunya juga.
"Memalukan? bukankah kamu yang datang setelah mama? kalau bukan karena perjodohan tidak berguna itu, apakah pernikahan itu akan terjadi? dan lagi saat itu Papa dan kamu sudah membuat keputusan untuk bercerai barulah Mama bersedia kembali bersama Papa walaupun belum resmi karena kamu terus menunda-nunda dan akhirnya malah tidak ingin bercerai dari Papa. Nyonya Marin kamu pikir saya tidak tahu semua itu? dari semua kejadian di masa lalu bukankah kamu yang memalukan? untuk mendapat kak Marin saja kamu perlu memberikan obat perangsang kalau tidak memangnya kamu bisa mempertahankan Papa di sisimu? heh! Sungguh tidak tahu malu."
Perkataan Elain benar-benar menusuk fakta di masa lalu, semua kebenaran itu diceritakan oleh pengasuh Elain yang merawat nya di luar negeri sejak kecil. Nyonya Mira wajah nya sudah seperti tomat sekarang, dan dia tidak mungkin bisa membantah karena semua orang rumah tahu fakta rumah rumah tangga nya di masa lalu dan semua orang rumah telah menganggap itu sudah menjadi rahasia umum.
Di masa lalu ayah Elain berpacaran dengan ibunya Elain namun tiba-tiba Ayah Elain dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Mira oleh orang tuanya. Mereka kemudian putus namun Samuel tidak mencintai Mira sehingga setelah satu tahun menikah dia ingin berpisah dari Mira yang memang saat itu belum hamil dan tidak disentuh oleh Samuel.
Bersambung...............
Maaf baru update ya readers, author kemarin kemarin lagi sakit sekarang sudah mendingan jadi bisa pelan pelan nulis lagi. Semoga tulisan nya tidak mengecewakan yaa. Dan seperti biasa tolong jangan lupa like subscribe, hadiah dan Vote nya yaaa. Terimakasih 🙏
__ADS_1