GENIUS DOCTOR & HER PERFECT HUSBAND

GENIUS DOCTOR & HER PERFECT HUSBAND
BAB 37


__ADS_3

Elayn merasa cengo. Seperti, apa yang terjadi? Dia dilarang masuk karena ternyata dia bukan lagi sebagai pewaris? Cepat sekali kakek tua itu menurunkan posisinya.


Apa karena dia tidak menuruti perintahnya untuk mempermalukan keluarga Nerro? Tapi ada bagusnya juga karena ia juga tidak menginginkan posisi itu.


Tetapi masalahnya sekarang dia butuh masuk untuk memastikan kondisi pasien. Kasian juga melihat keluarga pasien yang normal mengkawatirkan anak – anak mereka yang masih ada di UGD tanpa tahu kondisi mereka seperti apa.


Elayn melepaskan pelindung kepala serta maskernya dengan kasar, kakek nya itu benar – benar tidak tahu keadaan, padahal dia tahu betul bagaimana kemampuan Elayn, seharusnya di saat genting seperti ini kakek tua itu tidak boleh mementingkan perasaan pribadinya di atas kepentingan pasien.


“El, maaf aku lupa kasih tahu kalau tadi pagi ketua sudah mengumumkan mencabut posisi kamu sebagai pewaris di rumah sakit.” Ucap Anna menjelaskan dan merasa sedikit bersalah karena lupa memberitahu Elayn mengenai pencabutan posisi pewaris nya mungkin karena Anna tadi terlalu panik dan hanya fokus dengan keadaan pasien hingga meluapakan hal lainnya.


Elayn tidak menghiraukan perkatan Anna, dokter cantik itu terus mondar mandir didepan UGD memikirkan bagaimana cara dia melihat serta memastikan keadaan pasien dan memastikan kondisi para dokter di ruang UGD mereka mampu menanganinya atau tidak.


Melihat Elayn mondar mandir, Anna juga ikut – ikutan mondar mandir hingga gadis itu di kejutkan dengan perbuatan Elayn yang tiba –tiba berlari begitu kencang menjauh dari UGD.


“El, kita mau kemana?” tanya dokter Anna yang mengikuti Dokter Elayn berlari tanpa tahu ada apa dan mau kemana.


Tetapi orang yang ditanya tidak memberinya tanggapan apapun, Elayn hanya terus berlari menuju lantai dua rumah sakit.


Orang – orang kebingungan melihatnya berlari begitu cepat dengan masih menggunakan pakaian pelindungnya. Saking cepatnya Elayn berlari dokter Anna sampai ngos – ngosan dan bahkan ketinggalan di belakang.


“Rumah sakit Bora telah di informasikan memiliki seorang pasien yang terserang virus Nipah salah satu virus mematikan yang berasal dari negeri cina pasien di perkirakan berusia lima puluhan berjenis kelamin wanita.” Media benar – benar bergerak cepat merilis berita pagi.


Berita pasien tereserang Virus Nipah telah menjadi Highlight di sosial media. Karena berita ini pengguna sosial media pun memberikan perhatian mereka pada rumah sakit Bora untuk memastikan para dokter di rumah sakit Bora menangani pasien dengan baik dan memastikan virus itu tidak menyebar keluar.


Elayn yang sudah berlari sampai lantai dua, dia berdiri tepat di depan ruangan khusus CCTV. Sebelum masuk kedalam, dokter Elayn mengatur nafasnya terlebih dahulu baru kemudian dia membuka pintu ruangan dan disambut dengan wajah kaget oleh staf bagian CCTV, karena tumben sekali dokter Elayn datang ke ruangan mereka.


“Dokter Elayn, ada yang bisa kami bantu?” petugas bagian CCTV bertanya dengan sopan.


“Tunjukan keadaan di ruangan UGD.”


“Baik dokter.”


Petugas CCTV menunjukan pada Elayn keadaan di ruangan UGD.


“Bukan yang itu, lihat pasien yang ditangani oleh dokter Marin.”


“Oke yang itu, tolong diperbesar.”

__ADS_1


Petugas CCTV memperlihatkan apa yang diminta oleh Elayn dan memperbesar nya. Oh itu benar – benar keadaan yang kacau.


Pasien yang diduga terserang virus mematikan tiba – tiba terjatuh kelantai. Bahkan Dokter Marin yang ada disana terlihat panik, Karena pasien tiba – tiba muntah darah dan kejang – kejang.


Beberapa dokter diruangan itu pun berusaha mengangkat pasien kembali ke ranjang pasien.


Brak!


Ruangan CCTV dibuka dengan dorongan yang kasar dari luar, petugas CCTV melihat kearah pintu, ternyata itu adalah perbuatan dokter Anna yang datang dengan terburu – buru karena mengejar Elayn dan sekarang dia ngos – ngosan.


“Tolong sambungkan telepon keruagan pasien dokter Marin sekarang.” Perintah Elayn pada staf dan seorang staf CCTV pun menyambungkan interkom diruang UGD.


“Halo.” Seorang dokter di UGD menjawab telepon.


“Dengan dokter Elayn disini.” Ucap petugas yang menyambungkan telepon kemudian dia memberikan telepon kepada Elayn.


“Ah, ya. Halo dokter Elayn.”


“Bagaimana keadaan pasien, kenapa dia pingsan?” tanya Elayn.


Melihat dokter itu tidak segera menjawab dan terlihat bingung Elayn pun bekata; “Saya berada diruangan CCTV.”


Refleks dokter itu pun melihat kearah kamera CCTV.


“Jelaskan bagaimana keadaan pasien sekarang.”


“Sperti yang anda lihat, pasien baru saja terjatuh karena pasien tiba – tiba mengalami kejang dan bahkan muntah muntah.”


“Ok, kalau begitu dari awal. Kenapa pasien datang ke rumah sakit, apa yang dia keluh kan.” Suara Elayn terdengar sangat serius.


Dokter di seberangpun dengan hati – hati mendengar kan pertanyaannya. Mereka terlalu mengenal Elayn, yang kalau dia sudah serius orang – orang pun tidak boleh bermain – main.


“Pasien kehilangan nafsu makan, kelelahan, batuk, muntah, demam, dan sakit kepala kronis.”


“Serta pasien tinggal di daerah perbatasan dengan negara Finlandia yang sedang mengalami wabah Nipah, dokter. Itu memperkuat dugaan sementara bahwa pasien kemungkinan terkena virus Nipah. ” Lanjut dokter itu memberi informasi pasien pada ELayn.


“Sakit kepala, batuk, demam, dan muntah – muntah. Itu memang gejala virus Nipah tetapi tidak dengan kehilangan nafsu makan.”

__ADS_1


“Sudah melakukan tes PCR?” lanjut Elayn bertanya.


“Ya, sudah di lakukan Dokter hasilnya tidak baik.”


“Bagaimana dengan Tes x-rey.”


“Dengan siapa kau bicara.” Tiba – tiba Dokter Marin bertanya kepada dokter yang terus sibuk berbicara di interkom.


“Dokter Elayn, dok.”


Mendengar nama Elayn, Marin merasa terganggu. Dia tidak suka Elayn ikut campur dengan pasiennya apalagi Elayn semua hak istimewanya di rumah sakit telah di cabut semenjak tadi pagi dia bukan pewaris rumah sakit lagi dan posisinya sebagai pewaris telah diberikan kepada Marin oleh kakeknya.


Jadi posisi Elayn sekarang hanya dokter biasa. Marin ingin Elayn mengetahui posisinya sekarang, yang tidak bisa lagi mengacau di rumah sakit.


“Matikan sambungan nya sekarang.” Perintah Marin kemudian kepada dokter yang berbicara kepada ELayn.


Dan tentu saja dokter itu mengikuti perintah nya, bagaimana pun mereka harus mengikuti perintah orang yang menjadi atasan mereka, kalau tidak ingin mendapat masalah di rumah sakit nantinya.


“Haissh orang bodoh itu.” Ucap Elayn setelah menyadari sambungan intercom dimatikan dengan sengaja. Dan tidak diangakat setelah disambungkan lagi.


“Anna, segera telepon nomor handphone siapapun yang ada diruangan itu.” Elayn menyuruh Anna menelpon menggunakan telepon biasa jika tidak bisa melalui interkom, tapi sayangnya Anna tidak memiliki nomor telepon mereka.


Anna pun akhirnya ke luar dari ruangan CCTV berusaha mencari nomor telepon mereka dari teman –teman dokter lain. Dan untung nya dia berhasil mendapatkannya.


Anna memberikan handphone nya kepada Elayn saat pemilik handphone mengangkat telepon dari Anna.


“Halo, dengan dokter Lisa disini. Dengan siapa saya bicara?”


“Berikan teleponnya pada dokter Marin sekarang.”


“Siapa ini, dokter Marin sedang sibuk.”


“Katakan pada dokter Marin, Dokter Elayn ingin bicara, kalau dia tidak bersedia maka aku akan membiarkan rahasianya terbongkar.”


Dokter Lisa agak terkejut ternyata dokter Elayn yang sedang bicara dengannya. Dia pun mengiyakan permintaan Elayn.


Hallo readers Bab baru kembali lagi, terimakasih masih setia menunggu update terbaru dari Author. Oh ya, jangan lupa like, hadiah, vote dan bantu nonton iklan nya yaa hehe. Terimakasihhh.

__ADS_1


__ADS_2