GENIUS DOCTOR & HER PERFECT HUSBAND

GENIUS DOCTOR & HER PERFECT HUSBAND
BAB 38


__ADS_3

Diruang UGD


“Dok, dokter Elayn ingin bicara.” Dokter Lisa mendekati dokter Marin yang sedang memeriksa pasien.


“Katakan padanya saya sedang sibuk. Tidak ada waktu untuk berbicara dengan dokter yang sedang santai.” Jawab Marin.


“Matikan telepon nya kita sedang menangani pasien yang diduga terkena Virus Nipah. Hal yang tidak perlu jangan dilakukan fokus saja pada pasien kita.” Lanjut Marin.


“Dokter Elayn bersikeras dok, katanya rahasia anda akan terbongkar jika anda tidak bersedia berbicara.”


Marin menghembuskan nafas kasar dan mengeraskan rahangnya, dia berpikir beraninya Elayn mengancamnya setelah dia tidak memiliki kekuatan apapun sekarang.


Tapi bagaimana pun dengan gerakan yang kasar dia tetap mengambil handpone dokter Lisa dan bersedia bicara.


“Katakan ada apa.”


“Kenapa? Sekarang sudah mau bicara?”


“Elayn, kita tidak sedang berada dalam kondisi untuk membuang waktu sekarang.”


“Maka jangan menghalangiku untuk mecaritahu kondisi pasien. Ingat Marin, jangan coba – coba bermain – main dengan ku kalau tidak kau akan segara menerima konsekuensinya. Sekarang berikan handphone nya ke dokter Lisa biarkan dia memberikan informasi pasien pada ku.”


Elayn berbicara dengan Marin dengan suara rendahnya yang terdengar mengintimidasi. Itu membuat Marin jengkel, padahal posisi pewaris sudah menjadi miliknya tapi kenapa dia masih harus mendengarkan perintah Elayn.


Itu memang sangat tidak menyenangkan tetapi Marin tetap melakukan sepeti yang Elayn inginkan. Dia memberikan Handphonenya kepada dokter Lisa dan membiarkan dokter itu memberikan informasi apapun mengenai pasien.


Sementara dokter Marin sibuk memeriksa kondisi pasien dokter Lisa pun sibuk memberitahu Elayn kondisi terkini pasien.


“Bagaimana kondisinya sekarang?”


“Denyut nadi pasien naik hingga 200. Dokter Marin sedang memberinya breviclok.”


“Oke.”


“Pasien sekrang memiliki perasaan tertekan di dada, dokter marin memberinya rontgen.” Dokter Lisa sedikit agak panik.


“O oOoh pasien mengalami Caesar dok! Ahh sekrang pasien mengalami takikardia dok.”


“Uffhh sekarang pasien sudah stabil.”


“Oke sekarang karena pasien sudah stabil dokter Lisa tolong jelaskan secara rinci gejala ataupun penyakit pada pasien yang tim kalian temui sejauh ini.”


“Baik dok. Pasien usianya 58 tahun, mengalami sakit kepala kronis, kehilangan nafsu makan, nyeri dada, demam, muntah, dan sekaraang ia mengalami takikardia, disorientasi, caesar, palpitasi. Dugaan awal pasien terserang Virus Nipah, dugaan diperkuat mengingat pasien datang dari daerah perbatasan dengan daerah negara tetangga yang sedang terserang virus Nipah, tetapi tidak menutup kemungkinan juga pasien bukan terkena virus Nipah. Sekarang dokter Marin dan tim kami sedang mencari tahu kemungkinan penyakit lain dari pasien.”

__ADS_1


“Oke. HM kehilangan nafsu makan, pasien mengatakan mengapa dia kehilangan nafsu makan?”


“Tidak dokter, pasien juga tidak tahu mengapa dia kehilangan nafsu makan. Dokter Marin sedang mencari tahu hal itu juga.”


“Bagaimana dengan catatan resep pasien, apakah menemukan pasien mereskan obat tertentu?”


“Tidak ada catatan resep yang mengindikasikan pasien meresepkan obat tertentu yang menyebabkan pasien kehilangan berat badannya dokter.”


“Tidak ada catatan resep?”


“Ya dokter.”


Hm ini memang sedikit sulit bagi dokter untuk menemukan penyebab nya jika seperti yang dikatakan dokter Lisa.


Elayn berpikir didalam otak nya. Kira – kira obat apa yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nafsu makan dan muntah muntah.


Otak Elayn seperti mesin, didalam otak nya begitu banyak nama obat yang tiba – tiba muncul dan bagaimana efek mereka jika di konsumsi berlebihan.


Elayn berpikir serius, Anna juga demikian. Jari tengah Elayn mengetuk – ngetuk meja dan terus berpikir sambil memejamkan mata. Dan tak! Jari tengahnya berhenti mengetuk.


“Dokter Lisa pasien sudah sadar bukan?” tanya Elayn kemudian.


“Ya, dokter.”


“Obat tidur?” dokter Lisa agak terkejut tetapi dia kemudian dia berpikir pasien tidak memiliki catatan resep obat tidur.


“Tapi dok, pasien tidak – ”


“Tanyakan saja pada pasien.” Potong Elayn.


Dokter Lisa pun mendekati pasien yang sedang ditanyai oleh Marin juga.


“Ada apa?” tanya Marin pada dokter Lisa.


“Dokter Elayn bertanya dok, apakah pasien sering mengonsumsi obat tidur?”


“Obat tidur?” Marin berpikir obat tidur tidak menyebabkan kehilangan nafsu makan kecuali …


“Saya memang mengonsumsi nya dokter.” Sahut pasien tua itu dengan suaranya yang lemah.


“Tapi kenapa tidak ada catatan resepnya?” tanya dokter Marin.


“Saya mengumpukan mereka sendiri dokter … itu sudah beberapa dekade saya lakukan.”

__ADS_1


“Ini … Huff Overdosis obat tidur. Satu masalah selesai.”


Di saat – saat mereka lega satu masalah sudah di selesaikan pasien tiba – tiba sedikit kejang lalu tidak bisa mendengarkan apa yang mereka katakan dan pingsan.


“Dokter Pasien mengalami gangguan pendengaran.” Lapor dokter Lisa pada Elayn.


Gangguan pendengaran …


Elayn mulai lagi dari awal, dia memproyeksikan secara visual organ tubuh manusia ke dalam otaknya menganalisis mereka sesuai dengan kondisi pasien satu persatu.


Dia mulai menganalisis dari paru – paru, hati, penyakit metabolik, otak, dan pencernaan. Elayn menganalisis dalam otaknya semua penyakit yang berkemungkinan menyebabkan pasien mengalami sakit kepala kronis, kehilangan nafsu makan, nyeri dada, demam, muntah, dan sekaraang ia mengalami takikardia, disorientasi, caesar, palpitasi, dan juga gangguan pendengaran.


Begitu banyak penyakit yang muncul di otak Elayn tapi yang mana yang kira – kira mendekati yang di alami oleh pasien. Elayn berpikir keras, dia mulai lagi mengetuk jari tengahnya di meja.


Elayn sedang berpikir keras, Marin dan tim nya juga bekerja keras mencaritahu penyakit pasien. Marin menulis begitu banyak kondisi pasien di papan, mencari kesinambungan diantara semua gejala yang dialami oleh pasien.


“Dokter Lisa, beritahu tim kalian pasien mengalami penyakit Melioidosis, itu bukan virus Nipah. Segera tangani pasien dengan cepat.” Ucap Elain tiba tiba mengejutkan dokter Lisa yang sedang memperhatikan Papan tilisan prnjelasan dokter Marin.


Tut … tut … tut …


Sambungan terputus


Dokter Lisa menghembuskan nafas pelan. Melioidosis? Bukan apa – apa hanya saja bagaimana dokter Elayn bisa begitu yakin itu adalah Melioidosis? mengingat banyak detail informasi pasien yang tidak semuanya dia beritahu pada Elayn sejak awal.


Masalahnya dokter Lisa terlalu meremehkan otak jenius Elayn selain itu masih ada Anna di samping Elayn yang mampu memberikan informasi apapun mengenai pasien.


Anna, gadis itu sejak awal sudah berkutat dengan laptop nya diruang CCTV untuk mencaritahu aktifitas apa yang dilakukan oleh pasien selama hidupnya.


Misalnya saja pasien yang ternyata tiga puluh tahun yang lalu pernah mengikuti perang di daerah bagian selatan negara mereka yang menyebabkan pasien meminum obat tidur karena ingatan buruk selama perang.


Bagaimana pun dokter Lisa bersyukur itu bukan virus Nipah.


Marin yang sedang bekerja keras mencaritahu penyakit pasien tiba – tiba berhenti ketika mendengar suara dokter Lisa.


“Melioidosis.” Dokter Lisa berkata dengan gugup.


“Melioidosis?” Marin mengulangi perkataan Dokter Lisa.


“Dokter Marin, ku rasa itu benar Melioidosis. Penyakit ini sesuiai dengan keluhan yang diderita pasien.” Dokter Lisa mengungkapkan pendapatnya.


Bersambung ................


Hai readers, setelah baca jangan lupa like, hadiah sama vote nya yaa. Kalau bisa nonton iklan juga hehe Terimakasihhh.

__ADS_1


__ADS_2