
Elayn melihat Sir Ben yang tidak berdaya, kepalanya menjadi sandaran kaki seseorang.
"Kau benar-benar tidak terduga Tuan Elson." Ucap Elayn menurunkan pistolnya.
Dave yang dalam perjalanan ke basman menghentikan langkanya setelah Elayn menyebutkan nama Elson.
"What Elayn, apakah pria itu bagian dari Sir Ben?" pertanyaan Dave diabaikan oleh Elayn. Padahal pria itu sudah khawatir setengah mati.
"Kau yang tidak terduga Nona Elayn, tidak mencari mu bertahun-tahun ternyata sudah begitu banyak Identitas?" Balas Elson tersenyum.
"Bagaimana kau tahu aku mengejar pria ini?
"Bukankah kamu terus menggoda nya di ruangan? dia pergi kamu juga ikut pergi."
"Kamu tidak berpikir saat itu aku benar-benar menggoda nya kan?"
"Aku akan bodoh jika aku berpikir seperti itu, selera mu tidak mungkin dari aku hingga turun serendah itu." Elson benar-benar menyombongkan dirinya.
"Selera ku sekarang bukan kamu lagi."
"Benar kah?" Ucap Elson tersenyum penuh arti.
Pria itu berjalan menuju Elayn lalu dia dengan tiba-tiba nya menggendong Elayn ala Koala.
"Hey apa yang kamu lakukan. Gendongan macam apa ini." Elayn tidak terima sudah tua dia di gendong seperti saat dia masih kecil dulu.
"Dimana sepatu mu, berjalan begitu lama dilantai apakah nanti tidak sakit, hmm?" Ucap Elson gemas sambil membawa wanita dewasa itu ke dalam mobilnya.
"Itu karena aku berlari di tangga tidak nyaman memakai Highhils, jadi aku membuangnya."
"Sudah lari begitu jauh dan susah-susah ternyata orang nya selesai ditangan kamu. Tahu begitu sejak awal aku tidak perlu berlari." Elayn mengomel mangsanya diselesaikan oleh orang lain.
"Hey Elayn, pembicaraan mu ini bukan kah tidak seperti yang seharusnya?" Komentar Dave ditelinga Elayn yang bingung apa yang terjadi.
"Dimana teman pria mu, suruh dia yang urus mereka, kita pulang." Ucap Elson sambil tangannya melepaskan couch hitam yang dia pakai. Kemudian Elson menyelimuti tubuh Elayn dengan couch nya.
"Dave, Sir Ben ada di basman tolong urus mereka dulu. Aku masih ada beberapa hal yang harus diurus." Ucap Elayn, yang entah kenapa dia menuruti perkataan Elson begitu saja dan melepaskan anting komunikasi ditelinga nya. Sedangkan Elson tersenyum mendengar nya.
__ADS_1
...----------------...
Elson mengendarai mobol Lamborghini Aventador nya keluar dari Basman meninggalkan Sir Ben dan anak buahnya begitu saja tergeletak di latai Basmen tak beraturan dan Bonyok dimana – mana.
Dalam perjalanan, kesunyian menyelimuti dua sejoli yang entah apa yang mereka pikirkan ditambah lalu lintas malam yang cukup sepi menambah kesan sepi dari dua manusia yang bestatus lajang itu.
Diantara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah untuk memulai percakapan. Lalu lintas yang sepi pun memudahkan kendaraan itu menyusuri jalan tanpa adanya halangan.
Dan Elayn, wanita cantik itu akhirnya memilih memulai percakapan;
“Apakah kamu baik-baik saja?” Elayn baru ingat Sir Ben memang telah ditangkap dan itu atas bantuan Elson dan saat itu Elson sendirian disana, apakah pria ini mengalahkan mereka sndirian? Sir Ben dan anak buahnya pasti memiliki pistol bagaimana dengan Elson? Elayn agak khawatir.
“Hm, aku baik – baik saja.” Jawab Elson singkat.
“Kamu mengalahkan mereka sendirian? Atau … ”
“Aku sendiri sudah cukup.”
Pembicaraan selesai dan suasana kembali hening lagi.
Elayn merasa sepertinya dia memang hanya mengenal Elson yang dia panggil kakak EL dimasa lalu bukan Elson yang sekarang.
Mereka jauh berbeda, Elson yang dimasa lalu terlalu lembut dan cerewet padanya sedangakan Elson yang sekarang dia terlihat tegas dan sedikit bicara serta terasa seperti dia agak terlalu bebas dengan beberapa waniita.
Seperti yang dia temui malam ini ada Sonya yang menjadi pasangannya dan sekarang pria ini malah pulang bersamanya bahkan membawanya kerumah pribadi.
Setelah banyak berpikir Elayn merasa tidak nyaman dengan suasana sunyi yang agak canggung ini, dia pun berusaha membuka percakapan. “Ekhm, kamu akan membawa ku kemana?” Tanya Elayn.
“Ke rumah pribadi ku.” Elson hanya menjawab nya singkat.
“Tapi aku ingin pulang kerumah ku sendiri.”
Hening ...
Tidak ada tanggapan dari Elson, pria tampan itu hanya terus menyetir mobilnya menyusuri sepinya jalan kota dibawah lampu jalan yang sudah mulai meremang, tidak ada percakapan lagi, dan kesunyian pun tiba – tiba menyelimuti mereka lagi.
Elayn pun ikut terdiam menatap sepinya jalan kota. Elayn melirik kesamping mendapati Elson yang sedang serius mengemudi, pria yang sangat tampan, dulu pria ini adalah miliknya. Tetapi sekarang entah milik siapa.
__ADS_1
Mobil yang dibawa Elson akhirnya sampai disebuah kompleks perumahan elit yang hanya memiliki lima rumah besar disana tentu saja salah satunya adalah milik Elson.
Pria itu membawa mobilnya masuk ke sebuah rumah yang pagarnya otomatis telah dibuka oleh penjaga yang khusus menjaga rumah megah itu.
Rumah yang begitu megah, tempat Elson menghabiskan waktu dibandingkan di rumah besar ibunya. Di rumah ini lah Elson bebas mengekspresikan setiap emosi yang dia rasakan, rumah paling nyaman untuk melepas penat dan rumah paling nyaman untuk menuangkan hobi melukisnya.
“Ini rumah mu? Megah dan misterius tapi … ” Ucap Elayn keluar dari pintu mobil yang dibuka oleh Elson.
Terasa begitu kesepian seperti rumahku. Elayn tidak berani melanjutkan perkataannya hanya bisa melanjutkan nya dalam hati.
Ya, tidak salah bila Elayn mengatakannya demikian karena memang dari lima rumah yang ada di kompleks ini hanya rumah milik Elson yang gelap tanpa lampu rumah yang lain terang benderang.
“Kenapa, apakah pemilik rumahnya terekesan kesepian?”
“Aku tidak mengatakan nya.” Elak Elayn
Aku hanya mengatakan nya dalam hati kau pun mengetahuinya? Batin Elayn bertanya – tanya.
“Itulah kenapa aku membawamu kesini.” Ucap Elson tiba – tiba.
“Hah, maksud mu?”
Hah, Elayn yang lelet kemana otak pintar mu.
“Tidak ada. Ayo masuk.”
Elson menggenggam tangan Elayn membawa gadis itu masuk kedalam rumahnya. Elayn agak kaget dengan genggaman tiba – tiba itu, tetapi dia tidak menolaknya.
Tangan Elson terasa hangat, pintu rumah terbuka menampilkan kesan mewah dan misterius dari furnitur dalam rumah, lampu rumah dinyalakan tapi itu tidak seperti nyala lampu pada umumnya yang mencolok yang menerangi seluruh rumah.
Nyala lampu dirumah Elson terasa meremang. Kalau saja sedikit memutar musik romantis dijamin ini akan menghanyutkan belum lagi hanya ada mereka berdua dirumah ini, pikiran Elayn mulai kemana – mana membuatnya sedikit tidak nyaman.
Elson tidak tahu apa yang Elayn pikirkan pria itu hanya membawa wanita yang masih digandeng oleh nya itu menuju kamar pribadinya. Elayn bahkan mulai deg – degan melihat Elson membuka pintu kamar.
Bersambung............
Hai readers, seperti biasa setelah bab nya dibaca jangan lupa like, vote, sama hadiahnya yaa. Kalau ada waktu bisa nonton iklan juga hehee, biar author tetap semangat nulisnya, Terimaksihh.
__ADS_1