
Hari yang dinanti nanti Nayfa tiba,putranya lahir dengan sehat dan selamat.Kirana yang mendampingi Nayfa selama di rumah sakit.
Baru dua bulan Nayfa merasakan kebahagiaannya memiliki dan mengurus buah hatinya.Tiba tiba ibunya di kampung menghubungi Nayfa menyuruh untuk pulang karna ada sesuatu hal yang urgent yang tidak bisa di katakan lewat telepon.
Keesokan harinya Nayfa sudah berada di tanah kelahirannya.
" Nay,besok aja kamu membesuk Amira,sekarang kamu istirahat dulu,kasihan anak kamu masih bayi sudah di bawa perjalanan jauh "Ibunya Nayfa mengambil Arfa anak Nayfa dari gendongannya setelah selesai di beri asi.
" Ga apa apa bu,mba Amira sakit parah,mungkin ada sesuatu yang mau di sampaikan nya pada Nay" Nayfa bersikeras mau langsung menemui Amira istri Aslam.
" Pantesan bu,setiap Nay menghubungi mba Amira hp nya ga aktif,ternyata dia sakit kanker otak stadium akhir,kasihan anaknya padahal masih kecil" Sambung Nayfa.
" Iya Nay,Amira pernah berpesan sama ibu supaya tidak memberi tau kamu tentang penyakitnya.Amira ga mau kamu kepikiran sama dia,karna dia tau kamu juga sedang banyak masalah" Sahut ibu Nayfa.
"Ya sudah bu,Nay jalan dulu ya" Nayfa berangkat menuju rumah sakit tempat Amira di rawat.
Sampai di pelataran rumah sakit ternyata sudah ada Aslam menunggunya.Ternyata ibu Nayfa telah memberi tau pada Aslam kalau Nayfa akan datang untuk membesuk istrinya.
Nayfa sambil menggendong Arfa mengikuti langkah Aslam ke kamar perawatan Amira.Ada perasaan takut untuk bertemu kembali dengan Ammar dan keluarganya.Dalam hati Nayfa mencoba menghadapi kenyataan.
Diruang tunggu telah lengkap keluarga besar Ammar.Nayfa berusaha tenang.Dia berjalan dengan mengangkat kepala,tidak seperti dulu dia selalu takut dan menundukkan kepalanya saat bertemu keluarga besar Ammar.Saat ini dia sudah merasa bukan bagian dari keluarga Ammar.Apalagi dia dan Ammar telah lama berpisah.Ammar sudah hampi setahun tidak pernah menafkahi Nayfa secara lahir dan bathin.Secara agama Ammar telah resmi bercerai dengan Nayfa.
Semua yang ada di ruang tunggu terkejut melihat kedatangan Nayfa.Nayfa yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu.Sekarang Nayfa tampak lebih dewasa,anggun dan berkharisma. Ammar memperhatikan Nayfa,dia langsung bangkit dari duduknya ingin menghampiri Nayfa.Tapi dihalangi oleh bu Nurmala.
__ADS_1
" Aslam buat apa kamu membawa dia kesini!?" Bu Nurmala tetap tidak suka dengan kehadiran Nayfa.
" Ma,Amira yang suruh Nayfa datang ke sini.Nay kamu masuk temui Amira,anak kamu biar saya yang gendong" Aslam mengambil Arfa dari gendongan Nayfa.
Tiba tiba Arfa menangis,mungkin dia terusik dari tidur nyenyak nya.
Semua pandangannya tertuju pada Arfa,dan mereka terkejut saat melihat wajah bayi dua bulan itu sangat mirip dengan Ammar.
Kali ini Ammar menghampiri Nayfa " Nayfa,apa...khabar...siapa bayi ini...kenapa wajahnya...sangat mirip...dengan saya" Sapa Ammar kaku dan terbata bata,Nayfa heran dengan sikap Ammar.
" Ini anak saya,untuk apa kamu tanyakan,bukanya kamu sudah tidak perduli lagi sama saya" Sahut Nayfa ketus.
" Maaf untuk itu...iya saya tau dia anak kamu,tapi saya yakin bahwa saya ayahnya iya kan Nay? Karna dia sangat mirip dengan saya" Desak Ammar.
" Iya memang kamu ayahnya,tapi kamu tidak punya hak atas dia " Tegas Nayfa terus terang.Semua terkejut atas pengakuan Nayfa.Dia tidak ingin menyembunyikan fakta yang akan membuat repot kedepannya.
" Jelaslah kamu ga tau kalau saya mengandung anak kamu,karna kamu sudah tidak perduli lagi sama saya atau mungkin kamu sudah menganggap saya mati!' Tekan Nayfa.
" Mas Aslam,tolong jaga anak saya ya,jangan biarkan siapa pun menyentuhnya!' Nayfa masuk ke kamar perawatan Amira setelah Arfa berhenti menangis yang diangguki oleh Aslam.
Nayfa masuk perlahan,tampak Amira terbaring lemah di temani seorang dokter wanita.
Amira tersenyum dan mengarahkan tangannya pada Nayfa supaya mendekat.Nayfa tidak sanggup melihat keadaan Amira hingga dia langsung memeluk Amira dan menangis.
__ADS_1
" Nay sudah" Amira mendorong pelan tubuh Nayfa yang terus memeluknya.
" Nay kamu apa khabar "
" Baik mba...mba kenapa bisa jadi begini,maaf ya mba,Nay terlambat mengetahui keadaan mba"
" Ga apa apa Nay,namanya juga takdir,kita harus menerimanya dengan ikhlas" Amira kelihatan tegar.
Setelah mereka cukup ngobrol Amira menyuruh Nayfa untuk memanggil semua anggota keluarga Ammar dan keluarganya untuk berkumpul dikamar perawatannya karna ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
" Mas Aslam dan semuanya...sebelum Amira pergi...Amira ingin minta maaf pada semuanya" Semua tegang dan mematung mendengar perkataan Amira.
"Amira sayang,kamu pasti sembuh...mas akan selalu disamping kamu...kita sama sama berjuang ya "Aslam berusaha tegar untuk memberi kekuatan pada istrinya.
" Mas Aslam...waktu Amira sudah dekat...nanti kalau Amira pergi...mas jaga anak kita dengan baik ya!' Amira memegang erat tangan Aslam.
Akhirnya Aslam goyah juga,tangisnya langsung pecah di ikuti yang lain.Suana begitu mencekam dengan suara isak tangis.
" Mas Aslam...sebelum Amira pergi,maukah mas mengabulkan permintaan Amira yang terakhir?" Amira berusaha tersenyum walau hatinya menangis.
" Tentu saja sayang,apa pun akan mas kabulkan...tapi mas yakin kamu akan baik baik saja" Aslam kembali menangis merasakan sesuatu firasat.
"Janji ya mas!'
__ADS_1
" Iya sayang mas janji!'
" Mas...saat nanti Amira sudah tidak ada...Amira menginginkan...mas Aslam menikahi Nayfa !" Semua tersentak dengan permintaan terakhir Amira.