
"Kamu nggak ikut kerumah mama?"
"Nggak mas,kamu aja.Bilang sama mama kita mau jalan-jalan ke Australi bukan pindah.Nanti kalau mas Ammar bilang pindah,bisa-bisa dilarang sama mama nanti."
"Tapi kata mama dia kangen sama Arfa,terus mas bilang apa sama mama?"
"Bilang aja Arfa sedang kurang fit badannya."
"Ok,mas jalan dulu ya" Ammar mengecup pipi Raisya sekilas kemudian berjalan menuju mobilnya.
***
"Leon,kau kumpulkan semua orang yang ada di pertambangan.Suruh semua berkumpul di depan gerbang pertambangan,jangan sampai ada yang ketinggalan!"
"Baik bang!" Leon langsung menjalankan perintah Roland.
"Dan kau Ramos,suruh pekerja yang di kebun dan hutan berkumpul di depan pintu gerbang pertambangan!" Dengan sinis Ramos melaksanakan perintah Roland.
Setelah hampir satu jam semua sudah berkumpul,Roland mulai memberitahu bahwa ada penghianat diantara mereka.
"Jangan kalian pikir saya tidak tahu,lebih baik mengaku sekarang daripada saya yang langsung menangkap si penghianat itu!" Roland merasa geram karna tak ada satupun yang bersuara.
"Sebelum saya bertindak lebih baik mengaku dan maju kehadapan saya!" Teriak Roland tapi tak satupun ada yang merasa sebagai penghianat.Sebenarnya dia sudah tau siapa yang mengkhianatinya tapi dia menunggu sampai si penghianat itu mengaku sendiri.
Tiba-tiba Kemala datang dengan nafas tersengal sengal."Tuan Roland,nona Nayfa tadi muntah-muntah,saya takut dia kenapa napa tuan."
Roland menatap sadis pada semua pengikut dan orang-orangnya,tanpa berkata lagi kemudian dia berlari menuju kamar Nayfa.
__ADS_1
"Huh...bubar semua!" Usir Ramos merasa kesal dengan kediktatoran Roland.
"Nay,kamu kenapa?" Roland tampak cemas dan mengusap wajah Nayfa yang dipenuhi keringat dengan tangannya.
"Nggak tau nih tuan,perut saya terasa mual dan kepala saya pusing" Nayfa memegang perutnya yang terasa sakit.Tubuhnya terasa lemas.
"Rose,cepat suruh Ramos memanggil tabib kesini !" Rose yang dari tadi menemani Nayfa,terasa agak enggan melangkahkan kakinya.
"Baik tuan" Dengan terpaksa dia mencari Ramos keperkebunan tempat bisa Ramos memandori pekerja.
"Sialan,apa sih istimewanya si Nayfa itu! Sakit begitu aja tuan Roland kuatir nya minta ampun,kaya Nayfa mau mati aja.Kenapa nggak sekalian aja mati dia,dasar manja!" Rose terus mengumpat.
"Bang Ramos! Di suruh tuan Roland untuk memanggil tabib,nona Nayfa sedang sakit" Nayfa mendapati Ramos sedang menelepon seseorang.
"Iya,kau kembali aja,saya akan jemput langsung tabibnya" Ramos menutup ponselnya dan memasukkan ke saku celananya dan berjalan meninggalkan Rose yang tampak curiga padanya.
Rose kembali kekamar Nayfa,dia dan Kemala harus selalu stand by untuk Nayfa terlebih disaat sakit.
Roland menyuruh Rose dan Kemala untuk menunggu diluar.
"Kapan terakhir nona Nayfa datang bulan?" Tabib itu memandang wajah Nayfa.
"Saya nggak ingat sama sekali" Nayfa merasa deg degan.
"Dilihat dari payudara nona yang terlihat keras dan membesar,sepertinya nona Nayfa sedang mengandung.Ditambah lagi ada bercak-bercak hitam dileher dan di ketiak nona.Saya sangat yakin nona sedang mengandung" Perkataan tabib itu membuat Nayfa terdiam,dia bingung harus senang atau sedih.
Nayfa teringat dengan putranya Arfa,entah seperti apa wajahnya sekarang,apakah keadaannya baik-baik saja.
__ADS_1
Roland mendengar perkataan tabib itu sangat bahagia.Akhirnya impiannya untuk punya anak terwujud.
"Berapa bulan usia kandungan istri saya saat ini?" Tanya Roland dengan wajah berbinar,kelihatan sekali dia sangat bahagia.
"Untuk mengetahui berapa bulan usia kandungan istri tuan,harus diperiksa ke dokter kandungan."
Roland memandang wajah Nayfa yang tampak muram,dia tau Nayfa tidak begitu bahagia akan mempunya anak darinya.Roland sebenarnya ingin meluapkan kegembiraannya dengan memeluk Nayfa.Tapi dia urungkan untuk sementara.
"Baik tuan Roland,saya pamit untuk pulang.Tolong jaga kondisi istri tuan,jangan banyak pikiran biar tidak stres.Istirahat yang cukup dan makan makanan yang sehat dan bergizi."
Setelah tabib itu pulang,Nayfa memberanikan diri untuk bicara pada Roland.Dia menagih janji Roland dulu.
"Tuan,anda harus menepati janji untuk mencari anak saya setelah saya hami anak tuan.Dan akan mengeluarkan bapak saya dari pertambangan." Tagih Nayfa.
"Baik,saya akan segera memerintahkan Leon atau Ramos untuk mengeluarkan bapak kamu dari pertambangan.Dan saya akan tempatkan dia di satu rumah khusus lengkap dengan pelayannya" Nayfa tersenyum mendengarnya.
"Untuk mencari anak mu,saya berubah pikiran.Saya akan mencari anakmu bila kamu sudah melahirkan anak saya" Sambung Roland,membuat Nayfa terkejut dan marah.
"Bila tuan tidak menemukan anak saya segera,saya tidak akan mau melahirkan anak ini!" Nayfa pura-pura mengancam Roland.
Roland kaget dan marah,tapi dia mencoba untuk menahannya karna teringat perkataan tabib tadi agar istrinya jangan sampai banyak pikiran dan stres.
Roland sangat ingin membesarkan anak mereka bersama-sama hingga anak itu dewasa.
"Baik,saya akan mencari anakmu dan menemukannya.Tapi ingat,tolong jaga anak saya dengan baik.Kalau sampai terjadi sesuatu padanya,kamu tanggung akibatnya" Roland benar-benar kesal dengan perkataan Nayfa.
Roland mendekat pada Nayfa kemudian mengelus dan mencium perut Nayfa sebelum dia keluar.Ada perasaan hangat mengalir diseluruh tubuh Nayfa mendapat perhatian dari Roland.Ada sesuatu yang bergejolak aneh diperutnya.Karna dulu saat mengandung Arfa,dia telah pisah dengan Ammar.Dan tak pernah merasakan dimanja oleh suami.
__ADS_1
Roland dengan cepat keluar dari kamar Nayfa menuju ruang kerjanya.Dia melampiaskan seluruh emosinya yang tadi dia tahan saat dikamar Nayfa.
"Sialan! Dia ternyata tidak mengharapkan anak dari saya!' Roland meninju dinding kamarnya disertai tangis dan amarah.