
"Bang maaf,tadi ada insiden sedikit.Nona Nayfa terjatuh saat menuruni tangga ruang bawah tanah" Leon menelepon Roland.
"Dasar bodoh,menjaga satu orang saja kau tak becus!" Sahut Roland di ujung telepon.
"Iya bang maaf,tadi semuanya berebutan ingin duluan masuk jadi nona Nayfa terdorong."
"Tunggu aja dua jam lagi saya sampai,siap siap aja kau ya?!"
Leon kembali ke ruang bawah tanah dengan wajah lesu.
Rose memperhatikan wajah Leon yang tampak lesu dan tak bersemangat.Rose menghampiri Leon dan berdiri dihadapannya.Tapi Leon tidak memperdulikan Rose,seolah Rose tidak ada dihadapannya.
Roland turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa dan setengah berlari menuju ruang bawah tanah.Dan langsung menemui Nayfa yang sedang duduk di bangku panjang.Disampingnya Leon berdiri siap siaga.
Dengan penuh kekuatiran Roland memeluk Nayfa,"Kamu kenapa bisa sampai terluka?"
Nayfa menyambut hangat pelukan Roland yang memang mulai dia rindukan.
"Tadi aku terjatuh saat menuruni anak tangga,aku kurang hati-hati.Tapi sekarang sudah nggak apa-apa kok,kamu nggak perlu kuatir."
"Yasudah kamu istirahat saja,saya mau bicara dengan Leon sebentar" Roland menarik Leon keluar dan membawanya kejalan menuju pertambangan.
"Bugh-Bugh!"
Roland melayangkan pukulan ke tubuh Leon hingga terhuyung huyung dan jatuh ketanah.Leon pasrah tak berani melawan,sebab dia menghormati Roland yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya.
Tak berhenti sampai disitu,Roland mengambil ancang-ancang hendak menendang Leon.Tiba-tiba dihentikan teriakan Rose.
"Hentikan tuan Roland!" Teriak Rose yang ternyata mengikuti diam-diam dari belakang.
Roland dan Leon terkejut dengan kehadiran Rose yang tak terduga.
Roland menghampiri Rose dengan wajah merah padam oleh amarah.
__ADS_1
"Siapa kau,berani memerintah saya!" Bentak Roland dengan kasar.
"Maaf tuan bila saya lancang,saya memang bukan siapa-siapa dimata tuan.Saya hanyalah budak yang telah tuan selamatkan nyawanya.Tapi saya juga manusia yang punya perasaan.Sama seperti tuan,merasa marah bila orang yang tuan sayangi disakiti.Begitu juga dengan saya.Saya marah melihat tuan menyakiti Leon" Rose memandang pada Leon.
Roland tampak terkejut dengan pengakuan Rose,begitu juga dengan Leon.
"Saya menyayangi Leon,seperti tuan menyayangi nona Nayfa" Rose mendekat pada Leon dan mengulurkan tangannya untuk membantu Leon berdiri.Diluar dugaan Leon menepis tangan Rose,memilih berdiri sendiri dan pergi dari situ.
Rose terdiam ditempatnya,merasa sedih dan terpukul dengan sikap Leon.
Roland meninggalkan Rose yang masih mematung ditempatnya.Merasa malu dan tersentuh atas perkataan Rose,tapi dia berusaha mengingkarinya.
Roland kembali menemui Nayfa di bawah ruang tanah.
***
"Apa kau nggak marah dan sakit hati diperlakukan begitu oleh si Roland itu?" Bang Ramos tiba-tiba muncul dibelakang Leon yang sedang berdiri dipinggir hutan.
Leon memutar badannya menghadap bang Ramos."Mau bagaimana lagi bang,dia yang sudah menyelamatkan nyawa saya."
"Bukannya abang juga sama dengan saya?" Leon balik nanya.
"Untuk itulah saya temui kau Leon.Saya sudah bosan diperlakukan seenaknya oleh Roland.Sampai kapan kita begini terus.Mungkin dengan kerjasama,kita bisa melawan Roland" Tawar bang Ramos.
Leon tampak diam dan memikirkan ucapan bang Ramos.Leon menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan bang Ramos.
"Apa rencana abang?"
"Kita hasut semua orang-orang Roland untuk balik membenci dan melawan dia dan saya juga telah membocorkan tempat ini pada aparat keamanan,biar Roland hancur sekalian!" Rahang Ramos mengeras dan kedua tangannya mengepal menahan kebenciannya pada Roland.
"Sepertinya abang sangat membenci bang Roland" Leon menarik sudut bibirnya sedikit melihat amarah di wajah Ramos.
"Bukan benci lagi,abang sangat membenci dia.Sudah lama abang ingin menghabisi nyawanya!"
__ADS_1
"Memang kenapa bang?'
"Dia seenak jidat ngatur-ngatur abang,belum lagi perkataannya selalu kasar.Setiap ada perempuan yang abang suka di sini pasti diambil sama dia.Kesabaran abang sudah habis!' Gigi Ramos sampai bergemeretak mengingat perbuatan Roland padanya.
"Ok bang,saya setuju dengan abang" Leon menjabat tangan Ramos.
***
Umur Arfa telah menginjak satu tahun lebih,dia tumbuh menjadi anak pintar,lucu dan menggemaskan.Raisya membawa Arfa dan merawatnya dirumah.Raisya sangat menyayangi Arfa seperti anak kandungnya sendiri.Ternyata seorang anak kecil bisa merubah sifat Raisya.Begitu juga dengan papanya,sir Lukas sangat bahagia dengan kehadiran Arfa di tengah usianya yang mulai menua.Rumah besar itu kini penuh kegembiraan dan kebahagiaan oleh tingkah lucu Arfa.
Hubungan Raisya dan Ammar pun kian membaik dan semakin hangat.
Ditengah kebahagiaannya itu ada kekuatiran bila suatu saat tiba-tiba ada yang mengambil Arfa darinya.Seperti ibu mertuanya,bu Nurmala.Bu Nurmala sendiri sudah mulai menyayangi Arfa.Terkadang dia iri,Raisya selalu menguasai Arfa,seolah Raisya akan menjauhkan bu Nurmala dari cucunya.
"Mas Amar,bagaimana kalau kita pindah keluar negri' Raisya kepalanya di bahu Amar yang sedang pantengin mac book nya sambil santai diatas kasur.
"Memangnya ada apa,tiba-tiba kamu mau pindah keluar negri?" Tanya Amar tanpa mengalihkan perhatiannya dari mac booknya.
"Sebenarnya sih bukan tiba-tiba,dari dulu aku sudah merencanakannya.Aku ingin hidup bahagia bersama dengan orang-orang yang kucintai di Austalia.Aku sangat menyukai negara itu" Raisya mengecup sepintas pipi Amar.
Amar memandang Raisya,dia sangat suka dengan sikap Raisya yang manja.
"Tapikan,perusahaan kita disini sedang maju-majunya."
"Nanti akan ada orang kepercayaan papa yang mengurusnya.Kita akan buka cabang baru di Australi."
"Ok,sebaiknya kita bicarakan dulu dengan papa.Terus bagaimana dengan Arfa?"
"Arfa sudah ku anggap seperti anakku sendiri,jadi kita harus membawanya."
"Tapi,apa mama mengizinkannya ya,karna akhir-akhir ini mama sangat menyayangi Arfa."
"Aku sudah bilang sama mama,boleh kok sayang" Raisya tidak ingin bu Nurmala mengetahui rencananya.
__ADS_1
"Baiklah,kamu atur saja."