
Ammar masuk ke kamar Raisya,kamar yang sudah beberapa minggu dia tidak masuki.
Raisya sedang tidur dengan nyenyak.Ammar memandang wajah Raisya,kelihatan agak pucat dan tirus.
Penyakit apa gerangan yang di alami seorang Raisya.Padahal sehari harinya Raisya hidup sehat.Rajin berolahraga,makan makanan bergizi.Begitu pikir Ammar.
Sir Lukas yang mengetahui kedatangan Ammar,memanggilnya untuk berbicara di ruang kerjanya.
"Ammar,kata Raisya mamamu sedang sakit di kampung? Mengapa kamu tidak memberitahu pada papa.Papakan bisa ikut lihat mama kamu"Sir Lukas membuka pembicaraan.
Ammar terkejut Raisya mengatakan kalau mamanya sedang sakit.Ini pasti akal akalan Raisya supaya sir Lukas tidak curiga bila hubungan mereka sedang tidak baik.Bahkan di ambang kehancuran.
"Maaf pa,waktu itu Ammar panik dan buru buru jadi lupa memberitahu papa" Ammar mengikuti cerita karangan Raisya.
"Oiya papa ngerti,bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sudah baikan pa,Makanya Ammar sudah ada di sini."
"Mar...apa kamu sudah tau Raisya mengalami penyakit serius?" Wajah sir Lukas tampak buram.
"Raisya sudah memberitahunya pa,tapi belum bilang sakit apa."
"Raisya mengalami sakit kanker rahim" Mata sir Lukas mulai berkaca kaca.
__ADS_1
Ammar terkejut,tidak menyangka istrinya mengidap penyakit berbahaya.
"Papa berharap kamu tetap setia mendampinginya beri dia semangat supaya mau berusaha untuk sembuh" Sir Lukas menahan sesak di dadanya.Mengingat sepuluh tahun yang lalu istri tercintanya juga meninggal akibat kanker rahim.
"Baik pa,Ammar akan selalu ada di samping Raisya" Ammar menggenggam erat tangan papa mertuanya itu seakan memberi kekuatan.
Ammar kembali ke kamar Raisya,ternyata dia sudah bangun.Raisya memandang Ammar yang telah berdiri di depannya.
Bibirnya tersenyum tapi matanya menangis,rasa bahagia dan sedih bercampur jadi satu dalam hati Raisya.
Raisya segera memeluk Ammar,tangisnya pecah di pelukan Ammar.Tidak menyangka Ammar mau menerimanya kembali.
Ammar tersentuh dengan perubahan sikap istrinya itu.Dengan lembut mengusap kepala Raisya.
Keesokan harinya Ammar mengantarkan Raisya untuk berobat kerumah sakit.Dan dokter menyarankan agar rahim Raisya segera diangkat.
"Mas,bila rahim aku diangkat,aku ga akan bisa hamil.Kita ga akan bisa punya anak" Tangis Raisya tumpah saat tiba dirumah.
"Kamu akhirnya pasti akan meninggalkan aku mas.Kamu pasti akan kembali kepada mantan istri mu itu."
"Cukup Raisya,tenangkan dirimu.Jangan berprasangka buruk terus,itu akan memperburuk kondisimu.Aku janji tidak akan meninggalkan kamu apa pun yang terjadi" Ammar menghapus air mata Raisya yang tak berhenti menangis.
Ammar bertekad akan menjadi suami yang baik.Dia tidak ingin menyakiti Raisya seperti dulu dia menyakiti Nayfa.Cukup sekali dalam hidupnya menjadi suami yang gagal.
__ADS_1
Tiba tiba hp Ammar berbunyi ada panggilan masuk dari Aslam dikampung.
"Cha,aku izin untuk pulang ke kampung lagi ya.Mungkin dua atau tiga hari" Kata Ammar setelah menjawab panggilan Aslam.
"Ada apa mas...sepertinya ada yang penting?" Raisya tak ingin di tinggal Ammar lagi.
"Mba Amira istrinya mas Aslam meninggal dunia tadi karna sakit kanker otak.Jadi kami harus pulang" Terang Ammar.
Raisya kaget dan mulai ketakutan nasibnya sama dengan Amira.
"Mas,aku pasti akan mati sama seperti mba Amira" Raisya mulai menangis lagi.
"Cha,umur manusia hanya Allah yang tau,jadi kamu ga usah berpikir yang aneh aneh " Ammar mulai jengah juga dengan sikap Raisya.
"Aku mau kerumah mama dulu,untuk memberitahu berita meninggalnya mba Amira.Mungkin aku akan berangkat dari sana bersama yang lainnya ke kampungnya."
"Aku ikut ya mas?" Lagi pula aku belum pernah ke kampung kamu."
"Yasudah kamu siap siap!"
Di rumah bu Nurmala,Raisya terkejut melihat seorang anak bayi laki laki yang sangat mirip dengan Ammar.Raisya langsung suka dan jatuh cinta pada Arfa
"Ini anak aku dan Nayfa" Kata Ammar sebelum Raisya bertanya.Ammar menceritakan bagaimana Nayfa memiliki anak darinya.Dan bagaimana kondisi Nayfa sekarang.
__ADS_1
Raisya tersenyum sinis dan licik.Dalam hatinya berniat untuk memiliki Arfa sebagai anaknya.