Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 13 ~ Putus


__ADS_3

Rasa lelah usai membersihkah toilet, tidak membuat Keisha menyerah untuk berlarian di pinggir lapangan. Ini semua karena gadis itu melihat kekasihnya sedang berbicara dengan teman-temannya di pinggir lapangan.


"Kak Mahesa!" panggil Keisha. Berlari semakin dekat, melap keringat dikeningnya menggunakan punggung tangan.


"Kalian duluan aja, gue ada urusan bentar," ucap Mahesa pada teman-temannya.


Pria itu duduk di tribun penonton diikuti oleh Keisha. Melirik gadis bodoh yang sering kali dia manfaatkan rasa cintainya.


"Kenapa?" tanya Mahesa dengan alis terangkat.


"Ummhh, kak Mahesa masih marah sama gue? Maaf karena nggak nepatin janji malam itu. Ntar malam gimana? Gue janji!" Keisha dengan berani mengenggam tangan kekasihnya. Toh tidak ada yang marah bukan? Apalagi Mahesa adalah pacarnya.


Namun, respon yang Mahesa berikan diluar prediksi Keisha. Pria itu menarik tangannya cukup kasar, lalu berdiri. Keisha ikut berdiri, menatap heran pada pria yang dulunya terlihat sempurna di matanya.


"Kita liat nanti malam. Kalau lo sampai ingkar janji, kita putus!" ucap Mahesa penuh tekanan, kemudian berlalu tanpa memperdulikan perasaan Keisha.


***


Tidak ingin putus dari pria yang dia cintai, Keisha memutuskan untuk nekat keluar malam ini. Ada atau tidaknya persetujuan dari papah atau pun pak Ricky sebagai suaminya. Gadis itu telah rapi dengan setelan sederhana tapi terlihat rapi nan cantik. Polesan liptin di bibirnya semakin menambah kesan manis di wajah gadis bar-bar itu.


Dia mengendap-endap secara perlahan setelah berhasil keluar dari kamar. Berjalan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara apa pun yang bisa saja mengambil perhatian Ricky. Untung saja suaminya sedang berada di kamar, jadi Keisha bisa kabur dengan tenang.


"Untung punya suami hobinya tidur, kalau nggak gue bakal ...."


"Mau kemana?" Suara deep terdengar begitu dekat dengan Keisha, ketika gadis itu hendak melewati ambang pintu.


Keisha dengan sigap berbalik, menyengir tanpa dosa pada pria yang bersedekap dada di hadapannya. Rambut pria itu tampak basah, sepertinya habis mandi. Jujur saja malam ini Ricky terlihat sangat tampan, hanya saja belum bisa mengalahkan pesona Mahesa.


"Mau jalan-jalan, kenapa memangnya?"


"Sama siapa?"


"Ya bukan urusan Bapak lah! Kita kan udah janji nggak bakal ngurusin privasi masing-masing!"


"Sama siapa?" Ulang Ricky. Pria itu melangkah semakin dekat, sehingga mau tidak mau Keisha harus mundur beberapa langkah. Betapa terkejutnya gadis itu saat pinggangnya malah ditarik lalu di hempaskan ke daun pintu. Untung saja ada tangan Ricky sebagai penyanggah antara pintu dan punggungnya, atau dia akan kesakitan.

__ADS_1


"Mahesa?" Ricky melayangkan tatapan mengintimidasi.


"Apa sih, Pak! Bisa nggak jauhan dikit? Saya nggak bisa nafas!" Keisha berusaha mendorong dada Ricky, tetapi bukannya menjauh, pria itu malah semakin mengikis jarak.


Keisha dapat merasakan hembusan nafas segar di keningnya. Percayalah jantung gadis itu tidak bisa dikendalikan, padahal hanya posisi seperti ini.


"Mahesa atau yang lainnya?"


"Kak Mahesa, bapak puas?"


"Masuk!" Ricky menarik tangan Keisha ke dalam rumah. Mengunci pintu lalu mengambil kucinya. Ini semua pria itu lakukan agar Keisha tidak keluar malam-malam.


Keisha itu gadis bodoh dan polos yang tertutupi dengan ke bar-barannya, sehingga mudah ditipu oleh siapapun. Sebagai suami, Ricky akan menjaga istrinya.


"Pak Ricky jahat banget sih! Kenapa saya harus dengerin omongan Bapak? Kita nikah juga karena dipaksa, harusnya Bapak bebasin saya pergi sama siapa aja!" pekik Keisha masih berdiri di depan pintu.


Sementara Ricky terus berjalan menapaki anak tangga tanpa peduli pada istri kecilnya. Biarkan Keisha berpikir apapun tentangnya.


"Pak Ricky jelek, jawab saya ih!"


"Dih, nggak ada yang tau kita udah nikah! Pokoknya saya mau jalan sama Mahesa!" teriak Keisha.


"Ya sudah!"


Keisha semakin mencak-mencak melihat Ricky yang benar-benar meninggalkannya. Mata gadis itu memerah. Rasa marah dan kesal bercampur menjadi satu. Tidak tahuka Ricky, bahwa malam ini adalah penentuan hubungannya dengan Mahesa?


"Saya benci sama pak Ricky! Dasar Egois!"


Keisha berlari ke kamarnya. Menutup pintu sangat keras, sehingga terdengar sampai ke kamar Ricky. Ingin rasanya dia memukul wajah pria itu untuk melampiaskan rasa kesalnya malam ini. Dia terus misu-misu sendiri di dalam kamar, sampai akhirnya ponsel yang berada di tas selempangnya berdering.


Keisha lantas menjawab panggilan dari Mahesa. Mengigit bibir bawahnya, menunggu pria itu berbicara lebih dulu. Tidak lupa Keisha memikirkan kata-kata manis untuk meluluhkan hati Mahesa agar tidak putus. Masa dia hanya pacaran kurang dari satu bulan? Yang benar saja.


"Di mana? Gue udah ada di lokasi, Kei," ucap Mahesa di seberang telpon.


Keisha seketika memejamkan matanya, berpikir keras kalimat apa yang harus dia keluarkan.

__ADS_1


"Kei?"


"Ah iya kak. Ma-maaf sekali lagi, malam ini gue nggak bisa keluar karena papah nggak ngizinin. Jangan putusin gue ya kak?"


"Lo gimana sih? Lo yang janji lo juga yang ingkar! Ini anak-anak udah pada nungguin masa gue yang bayar lagi! Dahlah lo emang nggak guna! Putus aja kita!"


Mahesa memutuskan telpon sepihak setelah mengomel habis-habisan. Itu semakin membuat Keisha cemberut bukan main. Merelakan begitu saja? Oh tentu tidak. Besok Keisha akan menemui Mahesa lagi dan memohon agar kembali menjadi pacar kapten basket itu.


"Kei?"


"Nggak ada orang!" sahut Keisha.


"Saya mau bicara sebentar! Papah kamu nyuruh saya nyampaiin sesuatu!" ucap Ricky di ambang pintu.


Keisha mendengus kesal, segera membuka pintu dan wajah masamnya. "Bapak puas buat saya putus sama kak Mahesa? Kalau Bapak ngizinin saya keluar malam ini, saya nggak mungkin jadi jomblo. Bapak tuh maunya apa sih? Nggak nyuruh jatuh cinta satu sama lain, tapi batasin pergaulan saya! Egois banget!" Keisha mengomel tepat di hadapan Ricky, sama sekali tidak memberi celah untuk suaminya bicara.


"Baguslah," batin Ricky, tapi wajahnya tetaplah datar.


"Bapak lewatin garisnya!" Menunjuk garis merah, setelah sadar Ricky ada di depan kamarnya.


"Udah masukin uang 50 ribu. Saya mau bicara!" Menarik Keisha agar keluar dari kamar. Duduk berdua di sofa depan Tv.


Sebenarnya bukan pak Wilson yang menelpon Ricky, tapi pria itulah yang menelpon papah mertuanya. Ricky sedang mendiskusikan sesuatu untuk mendesiplikan Keisha mulai dari sekarang. Bahkan dia rela mengeluarkan uang 50 ribu karena harus melewati garis merah. Ini semua karena Keisha terus saja berada di panggilan lain sejak tadi.


"Mau ngomong apa?" tanya Keisha dengan nada ketusnya.


"Malam pertama!"


*


*


*


Agak lain pasangan satu ini. Oh iya, kalau novel babang Iky dijadiin buku, kalian bakal meluk nggak?

__ADS_1


__ADS_2